Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Ucapan Dan Ancaman Sarga


__ADS_3

Mendengar pertanyaan dari Gavin yang ditujukan kepada dua perawat palsu tersebut membuat Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa terkejut. Begitu juga dengan Kenzo, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon.


Baik Daffa dan adik-adiknya maupun Brian dan sahabat-sahabatnya langsung melihat kearah Gavin yang saat ini tengah menatap tajam dua perawat palsu itu.


"Gavin, katakan kepada kakak. Apa maksud dari pertanyaan kamu barusan?" tanya Daffa.


Mendengar pertanyaan dari kakak ketujuh dari sahabat kelincinya membuat Gavin melihat kearah Daffa. Kemudian Gavin mengalihkan pandangannya menatap kakak-kakaknya Darel yang lainnya dan sahabat-sahabatnya.


Setelah menatap satu persatu kakak-kakaknya Darel dan sahabat-sahabatnya, Gavin kembali menatap kearah dua perawat tersebut.


"Mereka berdua adalah orang suruhan dari seorang pria. Pria itu berstatus saudara sepupunya perempuan bernama Paula." Gavin menjawab pertanyaan dari Daffa dengan tatapan matanya menatap tajam kearah dua perawat tersebut.


Deg..


Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Gavin membuat Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa. Begitu juga dengan Kenzo, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon.


"Maksud kamu Paula Rocio, perempuan yang menyukai kakak Ghali?" tanya Vano.


"Iya," jawab Gavin.


"Vin, kamu tahu dari mana?" tanya Evano.


"Aku mendengar langsung dari seorang pria yang sedang berbicara di telepon ketika di Cafe. Aku mendengar dengan sangat jelas apa yang pria itu bicarakan dengan seseorang di telepon. Orang itu akan datang ke rumah sakit untuk membunuh Darel," jawab Gavin.


Deg..


Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa kembali terkejut ketika mendengar ucapan Gavin, apalagi ketika Gavin menyebut kalau pria yang Gavin dengar obrolannya ingin membunuh Darel. Begitu juga dengan para sahabat Darel. Mereka semua tampak syok.


"Jadi ini alasan lo tiba-tiba ngajak kita buru-buru meninggalkan Cafe dan bergegas ke rumah sakit?" tanya Azri.


"Hm." Gavin berdehem sebagai jawaban dengan tatapan matanya masih menatap tajam kearah dua perawat tersebut.


Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa menatap penuh amarah kearah dua perawat tersebut sehingga membuat keduanya ketakutan.


Detik kemudian..


Duaaghhh...


"Aakkhhh!"


Bruukkk..


Vano seketika langsung memberikan tendangan keras tepat di perut perawat laki-laki itu sehingga membuat perawat laki-laki berteriak kesakitan bersamaan tubuhnya tersungkur di lantai.

__ADS_1


Sementara untuk perawat perempuan? Perempuan itu kini benar-benar ketakutan. Tubuhnya menegang dan bergetar di tempat.


Raffa berjalan mendekati perawat perempuan itu dengan tatapan penuh amarah. Dia tidak akan memaafkan orang-orang yang hendak menyakiti adik kesayangannya.


Sreekkk..


"Aakkhhh!" teriak perawat perempuan itu ketika rambutnya ditarik kuat oleh Raffa.


Ya! Raffa tanpa perikemanusiaan menarik kuat rambut perawat perempuan itu sehingga membuat kepala perempuan itu mendongak keatas.


"Le-lepas-kan aku."


"Lepas lo bilang! Lo udah berani masuk ke ruang dimana adik kesayangan gue dirawat. Lo dan laki-laki brengsek itu ingin nyakitin adik gue. Sekarang lo dengan mudahnya nyuruh gue lepasin lo!" bentak Raffa dengan semakin menarik rambut perawat perempuan itu.


"Aakkhhh!" perawat perempuan itu berteriak kesakitan.


Brian menatap kearah Daffa. "Kak Daffa."


"Iya, Brian!"


"Lebih baik kakak hubungi salah satu tangan kanannya Darel. Dan minta dia untuk datang kesini."


"Ide bagus. Baiklah."


***


[Sekolah]


Sarga saat ini sedang menikmati makan siang di kantin. Dia bahkan sangat fokus dengan makanannya sehingga tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya.


Ketika Sarga sedang menikmati makan siangnya, tiba-tiba datang seorang siswi cantik menghampiri dirinya. Siswi itu adalah Mindy Anderson. Mindy langsung memberanikan dirinya duduk di hadapan Sarga.


Sarga yang menyadari kehadiran Mindy, gadis yang tidak dia pedulikan, tidak pernah dia harapkan dan tidak pernah dia sukai keberadaannya hanya bersikap acuh. Sarga masih fokus dengan makanannya.


"Sarga." Mindy memanggil Sarga dengan lembut sembari tersenyum.


Sementara Sarga sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari Mindy. Dia masih fokus pada makanannya dan sesekali menatap layar ponselnya. Baginya menatap layar ponselnya lebih menarik ketimbang menatap wajah Mindy.


Tidak mendapatkan reaksi apalagi jawaban dari Sarga membuat Mindy mengumpat kesal di dalam hatinya. Namun bukan Mindy namanya jika dia akan menyerah begitu saja.


"Sarga, lo dengar gak gue manggil?"


Sarga melirik sekilas menatap wajah Mindy sehingga membuat Mindy tersenyum di dalam hatinya karena berpikir bahwa Sarga mendengarkan panggilan darinya.

__ADS_1


Detik kemudian, Sarga kembali pada posisi semula yaitu menikmati makan siangnya sembari menatap layar ponselnya.


"Mending lo pergi dari sini. Gue enek lihat muka lo. Jangan buat selera makan gue hilang hanya melihat wajah lo."


Deg..


Hati Mindy seketika merasa tercubit ketika mendengar ucapan kejam yang keluar dari mulut Sarga. Dirinya tidak menyangka jika Sarga akan berbicara seperti itu padanya.


"Sarga, kenapa lo bicara seperti itu sama gue? Apa salah gue sama lo?"


Sarga kembali menatap wajah Mindy. Bukan merasa kasihan ketika melihat wajah sedih Mindy, justru sebaliknya. Sarga merasa jijik karena wajah yang Sarga lihat adalah hanya topeng belaka.


"Salah lo adalah karena lo selalu gangguin gue. Selalu ngusik hidup gue. Selalu berusaha mendekati gue. Gue merasa terganggu dan gue nggak nyaman dengan hal itu. Sekarang lo ngerti kan?!" Sarga berucap dengan kejamnya dan disertai dengan tatapan dingin dan tajam.


Mindy seketika terkejut ketika mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Sarga. Dirinya tidak menyangka jika Sarga merasa terganggu akan kehadirannya selama ini.


"Kenapa lo jahat banget sama gue, Sarga! Apa karena murid baru itu sampai lo bersikap seperti ini?"


"Lo dulu nggak pernah berbicara seperti ini sama gue. Sejak ada murid baru itu, sejak lo berdekatan dengan dia. Lo seketika berubah."


Sarga seketika menggeram marah dengan kedua tangannya mengepal kuat ketika mendengar ucapan dari Mindy, apalagi Mindy sampai membawa-bawa nama orang lain.


Braaakkk..


Sarga tiba-tiba menggebrak meja dengan keras bersamaan dirinya beranjak dari duduknya. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap tajam Mindy sehingga membuat Mindy ketakutan.


Sementara para penghuni kantin yang tadi makan dengan tenang, seketika terlonjak kaget akibat mendengar pukulan keras yang dilakukan oleh Sarga.


"Gue kasih tahu sama lo, Mindy Anderson! Gue Sarga Ramero selama ini tidak menyukai lo. Gue nggak cinta sama lo. Gue nggak ada sedikit pun memiliki perasaan apapun sama lo, selain sebatas teman satu sekolah dan satu kelas. Gue mau dekat sama lo... ach... Lebih tepatnya gue yang biarin lo dekati gue karena gue nggak mau nyakitin perasaan lo. Gue berusaha bersikap baik sama lo dengan mendengarkan semua ocehan murahan lo itu. Tapi nyatanya lo makin ngelunjak."


Sarga menatap makin tajam kearah Mindy. Dirinya benar-benar tak nyaman dan benar-benar tak suka akan keberadaan Mindy di sekitarnya.


"Satu lagi. Gue nggak pernah berubah. Gue tetaplah gue, Sarga Ramero! Gue seperti ini juga karena sikap lo yang selalu gangguin hidup gue. Masalah Alisha! Lo jangan bawa-bawa dia. Gue seperti ini bukan karena Alisha."


Setelah mengatakan itu, Sarga pun pergi meninggalkan Mindy sendirian. Namun baru beberapa langkah, Sarga menghentikan langkahnya. Tanpa membalikkan badannya, Sarga berucap.


"Jauhi Alisha. Jangan ganggu dia. Gue tahu apa yang sudah lo lakuin ke dia ketika lo bertemu dengan dia di Cafe beberapa hari yang lalu. Bahkan saat di Cafe itu lo langsung mendapatkan balasan dari kakak laki-lakinya."


"Jika lo masih mencari masalah dengan Alisha bahkan lo nyakitin dia. Maka gue orang pertama yang bakal balas lo."


Setelah itu, Sarga benar-benar pergi meninggalkan Mindy untuk menuju kelasnya.


Sementara Mindy seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Sarga yang mengatakan bahwa Sarga mengetahui kelakuannya menyakiti Alisha ketika di Cafe beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2