
Mereka semua terdiam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Lalu Davian teringat akan pertengkaran di meja makan saat itu dan juga keluhan Darel saat ia ada di kamar adiknya.
"Kalian ingin sekali aku dan keluargaku pergi dari rumah ini, hah?! Apa kalian tidak sadar dan tidak berpikir apa status kalian di rumah ini? Aku dan kakak-kakakku lebih berhak tinggal di rumah ini dari pada kalian semua. Dalam tubuh kami mengalir darah keluarga Wilson. Aku cucu kandung dari Antony Wilson. Sedangkan kalian!" tunjuk Darel dengan wajah emosinya. "Kalian buk..." perkataan Darel terhenti.
"Fluffy!" Darel menatap kucing itu, lalu sikucing itu menjilati wajah Darel kembali. "Aku sedih nih. Apa benar ya kalau aku ini jahat? Apa benar ya kalau aku ini serakah akan hartanya Kakek? Apa yang harus aku lakukan Fluffy? Apa aku mundur saja? Tapi kalau aku mundur. Bagaimana dengan Kakek? Padahal Kakek sudah berharap banyak padaku. Kakek memberikan kepercayaan lebih padaku. Tadi saja saat di meja makan aku hampir saja keceplosan. Tapi untungnya Kakek berteriak memanggil namaku. Kalau tidak semuanya pasti sudah terbongkar." Darel berbicara dengan menatap kucing itu.
"Apa ada sesuatu yang disembunyikan kakek dari kita?" tanya Davian tiba-tiba.
Semua anggota keluarga menatap Davian.
"Kalau masalah itu. Aku pribadi sudah curiga dari awal. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Kakek dari kita. Dan kemungkinan besar Kakek sudah menceritakan semuanya pada Darel. Makanya, kenapa Kakek bersikeras meminta Darel untuk menerima semua keputusan Kakek dan menjadi ahli warisnya Kakek." Axel bersuara.
"Tapi kenapa Papa hanya menceritakan semuanya pada Darel. Kenapa pada kita tidak?" tanya Sandy selaku putra kedua.
"Alasan satu-satunya adalah Darel itu dapat dipercaya omongannya. Dan dipegang janjinya. Diantara kita hanya Darel yang memiliki sifat sabar. Sama seperti Papa. Tapi kalau sabarnya sudah tidak bisa dibendung, barulah emosinya meluap-luap," ucap Arga
"Apa ini ada hubungannya Dirga dan adik-adiknya?" tanya Davian.
Semuanya menatap Davian. "Kalian masih ingatkan saat pertengkaran di meja makan kemarin. Bagaimana Darel yang begitu emosi?"
"Iya. Aku ingat, Kak Davian. Saat itu Darel nunjuk kearah Dirga dan mengatakan bahwa kalian buk. Lalu tiba-tiba Kakek berteriak memanggil nama Darel," tutur Gilang Jecolyn.
"Sebenarnya Darel saat itu mau mengatakan sesuatu, tapi keburu Kakek berteriak," sela Erick Wilson.
"Kemungkinan mereka bukan cucu kandungnya Kakek." Raffa tiba-tiba berucap. Mereka semua menatap Raffa.
"Sayang. Jangan bicara seperti itu. Mama tidak suka," tegur Adelina.
"Maaf, Ma! Bukan aku nuduh dan bukan aku asal bicara. Tapi aku hanya menyimpulkan dari semua ucapan-ucapannya Darel. Coba pikirkan saja oleh kalian. Setiap kali Darel bertengkar dengan mereka. Setiap kali mereka menghina kita. Kalian bisa dengar sendiri ucapan-ucapan Darel. Kebanyakan Darel menyindir mereka. Ditambah lagi sikapnya Kakek yang memberikan semua kekayaannya pada Darel. Dari situ kita semua bisa menyimpulkan bahwa mereka memang bukan cucu kandungnya Kakek. Kakek tidak mungkin pilih kasih terhadap cucu-cucunya. Dan aku sangat yakin, Kakek sangat menyayangi semua cucu-cucunya." Raffa berbicara dengan fakta yang di lihat dan di dengarnya.
Mereka semua terdiam. Dalam hati mereka. Mereka semua membenarkan apa yang diucapkan oleh Raffa. Selama ini Agatha dan ketujuh putranya selalu seenaknya saja di rumah. Mereka tidak pernah bersikap baik. Selalu bersikap kasar pada semuanya.
Saat mereka tengah berperang dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka dikejutkan dengan benda jatuh.
PRANG!
DEG!
Mereka terkejut saat melihat tiga foto yang terjatuh. Foto itu adalah foto Arvind, Antony dan Darel.
"Kenapa fotonya Papa, Kak Arvind dan Darel jatuh?" tanya Salma.
Mereka semua kini mulai panik dan khawatir, lalu mereka pun menghubungi ketiganya. Davian menghubungi Darel, Sandy menghubungi Antony, sang ayah dan Evita menghubungi Arvind, kakak laki-lakinya. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satupun dari mereka bertiga menjawab panggilan tersebut.
"Aish," kesal mereka secara bersamaan.
"Papa, sayang, Darel." Adelina membatin.
__ADS_1
"Semoga kalian baik-baik saja," batin mereka semua.
Beberapa menit kemudian, mereka semua terkejut ketika mendengar ponsel milik Davian berbunyi. Davian melihat ke layar ponselnya. Tertera nama 'My Bunny' adiknya. Terukir senyuman manis di bibirnya.
Tanpa membuang-buang waktu, Davian pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo! Darel, kamu ada dimana sekarang?" tanya Davian.
Mereka semua ikut tersenyum saat Davian mengucapkan nama Darel.
"Sebelumnya saya minta maaf. Saya bukan Darel." seseorang di seberang telepon bersuara.
"Siapa anda? Kenapa ponsel adik saya ada pada anda?"
"Saya orang yang telah membantu adik anda dan juga seorang bapak tua. Mereka mengalami kecelakaan. Dan sekarang berada di Rumah Sakit Asklepios, Barmbek."
DEG!
Mendengar perkataan orang tersebut, seketika air mata Davian meluncur membasahi wajah tampannya. Melihat Davian yang tiba-tiba menangis, hal itu sukses membuat semuanya panik dan khawatir.
"Kak Davian. Ada apa? Katakan padaku," ucap Raffa.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Papa, Kakek dan Darel ada di rumah sakit. Mereka kecelakaan," jawab Davian.
***
"Apa kalian keluarga dari korban kecelakaan?" tanya seorang polisi yang datang bersama empat anak buahnya dan tiga pria yang ikut serta dalam menolong Darel dan Antony.
"Ya, benar. Kami keluarganya. Bagaimana kronologi kecelakaan yang menimpa keluarga kami, pak?" tanya Sandy.
"Secara pastinya kami tidak mengetahui kronologinya seperti apa. Kami pihak kepolisian dan beberapa warga menemukan korban sudah terkapar di jalan dengan beberapa luka. Dari hasil sementara yang kami dapat kecelakaan itu sepertinya disengaja," ucap kepala polisi.
"Apa?"
Mereka semua terkejut saat mendengar perkataan dari polisi tersebut.
"Jadi maksud Pak polisi. Ada orang yang sudah merencanakan kecelakaan ini terjadi?" tanya Davian.
"Ya. Dugaan kami sementara seperti itu," jawab kepala polisi tersebut. "Salah satunya adalah bapak Antony. Ada bekas kebiru-biruan di bagian lehernya. Bekas itu seperti bekas sepatu. Kemungkinan saat kecelakaan itu terjadi Bapak Antony masih bernafas, lalu orang itu dengan sengaja menginjak bagian lehernya agar beliau meninggal," tutur kepala polisi tersebut.
BUGH!
Sandy meninju kuat dinding rumah sakit. "Brengsek! Siapa orang yang tega menyakiti Papaku?!" teriak Sandy emosi.
"Dan kemungkinan besar saudara Darel mengetahui pelaku tersebut," ucap polisi itu.
Lalu terdengar pintu ruang UGD terbuka.
__ADS_1
CKLEK!
Keluarlah seorang Dokter dari dalam ruangan tersebut dengan wajah lelahnya.
"Bagaimana keadaan mereka, Dokter?" tanya Adelina.
"Pasien yang bernama Darel dinyatakan koma."
"Apa?" teriak Adelina dan kedua belas kakak-kakaknya.
"Untuk pasien yang bernama Bapak Antony. Kami.. kami nyatakan meninggal dunia. Keadaan beliau saat dibawah kesini sudah tidak bernyawa lagi. Maafkan kami. Kami sudah berusaha yang terbaik," ucap Dokter itu.
"Tidak! Papa!" Mereka semua menangis histeris.
"Kakek... Hiks."
"Lalu bagaimana keadaan Papaku, Dok? Apa Papaku baik-baik saja?" tanya Nevan.
"Papa? Maksud anda apa?" tanya Dokter itu balik.
"Mereka bertiga, Dok. Adikku, Papaku dan Kakekku. Lalu bagaimana dengan Papaku?" tanya Nevan lagi.
Nevan sudah tidak bisa membendung kesedihannya lagi. Air matanya berlomba-lomba mengalir membasahi pipinya, begitu juga dengan saudaranya yang lainnya.
"Maaf. Hanya ada dua korban yang dibawah ke rumah sakit. Korban itu adalah saudara Darel dan saudara Bapak Antony. Kami tidak menemukan korban lainnya," tutur Dokter tersebut.
"Ya, itu benar. Kami hanya menemukan dua korban saja saat di tempat kejadian itu. Tapi kalau memang benar apa yang kalian katakan tadi bahwa ada korban lain. Kami pihak kepolisian akan berusaha mencari keberadaannya." Kepala polisi itu berbicara sembari menatap Adelina dan putra-putranya.
"Kalau saya boleh tahu. Siapa namanya?" tanya kepala polisi itu.
"Arvind Wilson," jawab Adelina. "Ini fotonya. Dia suami saya." Adelina memperlihatkan foto suaminya lewat ponsel miliknya kepada kepala polisi tersebut.
"Baiklah. Kami akan berusaha mencari keberadaan Bapak Arvind. Kalau begitu saya dan anak buah saya permisi dulu."
"Papa/Kakek... Hiks!" teriak mereka semua. Mereka semua menangis.
"Kita bawa pulang jenazah papa dan segera kita makamkan," ucap Sandy.
Mereka semua pun pulang membawa jenazah orang yang paling mereka sayangi.
***
Antony Wilson, Ayah dari Arvind Wilson, Sandy Wilson, William Wilson dan Evita Jecolyn menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Asklepios, Barmbek. Setelah dibawa ke rumah duka dan dikremasi, jenazah Jeon Antony langsung dimakamkan hari ini di Ohlsdorf Jewish Cemetery.
Sandy Wilson dan anggota keluarga lainnya, kecuali Darel hadir dalam setiap proses pemakaman yang penuh tangis tersebut.
Suasana haru pun terlihat ketika jenazah Antony mulai di masukan ke liang lahat. Tangis dan doa dipanjatkan oleh para pelayat.
__ADS_1
Semuanya menangis. Semuanya terisak saat melihat orang yang mereka sayangi pergi untuk selamanya. Pemakaman pun selesai dan para pelayat satu persatu pergi meninggalkan pemakaman, kecuali para anggota keluarga yang masih berada dipemakaman.