Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Rahasia Yang Diketahui Oleh Evan


__ADS_3

Mereka menatap batu nisan yang terukir nama Ayah dan Kakek mereka.


"Pa. Selamat jalan. Maafkan Sandy yang belum bisa membahagiakan Papa. Semoga Papa bahagia disana. Aku berjanji pada Papa. Aku akan membalas semua perlakuan orang itu pada Papa," ucap Sandy.


"Pa.. Hiks! Selamat jalan, Pa! Aku menyayangimu. Saat ini Papa pasti sudah bahagia karena bertemu dengan Mama disana. Sampaikan salam kami pada Mama. Kami disini anak-anakmu dan cucu-cucumu akan selalu mendoakanmu dan merindukanmu," ucap Evita dengan berlinang air mata.


"Kakek.. Hiks!" ucap para cucu-cucunya sembari terisak.


Mereka tidak tahu harus menyampaikan kata-kata apa untuk Kakek kesayangan mereka.


"Papa. Terima kasih atas kasih sayang dan perhatianmu padaku. Aku tidak akan pernah melupakan semua yang telah Papa berikan padaku dan putra-putraku. Aku menyayangimu, Pa! Berbahagialah disana," ucap Adelina sembari mencium batu nisan Ayah mertuanya.


"Hari sudah sore. Lebih baik kita pulang. Papa kita, Kakek kalian sudah bahagia sekarang." Daksa berucap dengan suara lirih.


Dengan berat hati, mereka semua pun memutuskan untuk pulang ke rumah dengan mata yang sembab.


"Selamat tinggal, tua bangka. Sipengganggu sudah pergi. Jadi aku lebih leluasa untuk bermain-main dengan bocah sialan itu," batin Agatha tersenyum kemenangan.


***


Dua hari telah berlalu. Namun rasa duka dan kesedihan masih terasa di hati mereka. Sandy, Salma, Daksa, Evita, William dan putra-putra mereka kini berada di ruang tengah. Agatha dan ketujuh putranya ikut duduk disana, walau hati mereka terpaksa. Itu hanya semata-mata untuk mencari perhatian saja.


Sementara Adelina dan putra-putranya berada di rumah sakit menjaga sibungsu.


"Aku tidak menyangka Kakek meninggal dengan cara seperti ini," ucap Rendra.


"Sebenarnya siapa yang tega melakukan hal ini pada Kakek, Paman Arvind dan Darel? Kenapa orang itu tega sekali," ujar Melvin Jecolyn.


"Dasar sampah untuk orang yang telah melakukan hal ini," ucap Satya emosi.


"Kita tidak bisa diam saja. Kita harus cari tahu siapa pelaku itu. Kita harus membalaskan kematian Kakek dan juga hilangnya Paman Arvind. Dan jangan lupakan Darel yang koma di rumah sakit," sela Dario.


Naufal melirik kearah Agatha dan ketujuh putranya. Di dalam hatinya, Naufal menaruh curiga pada Agatha. Tapi Naufal tidak mau gegabah. Ditambah lagi, saat di rumah sakit Naufal ingat polisi mengatakan kemungkinan Darel mengetahui pelakunya, lalu detik kemudian, Naufal beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping Steven selaku yang tertua nomor lima. Apalagi saat ini mereka sedang berkumpul. Jadi Steven kakak yang tertua, walau masih ada Dirga yang tertua dari mereka. Tapi itu tidak termasuk dalam kamus persaudaraan mereka.


Naufal membisikkan sesuatu pada Steven. "Kak. Lebih baik kita jangan membahas masalah siapa pelaku yang sudah melakukan hal ini pada Paman Arvind, Kakek dan Darel. Apalagi membahasnya di depan sinenek lampir itu. Kakak masih ingatkan, apa yang dikatakan oleh polisi saat di rumah sakit? Polisi itu bilang kemungkinan Darel mengetahui pelakunya. Jadi kita sebisa mungkin merahasiakan hal ini, terutama pada nenek lampir itu. Aku sedikit curiga padanya, Kak. Bisa-bisa Darel jadi korban berikutnya."

__ADS_1


Steven mengangguk paham atas apa yang dibisikkan oleh adik sepupunya itu.


"Baiklah. Kakak mengerti."


Steven menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. "Tolong dengarkan aku!" seru Steven.


Mereka semuanya melihat kearahnya. "Untuk saat ini. Lupakan dulu untuk kita mencari siapa pelakunya. Kita fokus dulu pada Darel. Adik bungsu kita sedang berjuang di rumah sakit. Darel masih koma. Saat Darel sudah sadar dan keadaannya benar-benar telah membaik. Baru kita akan bahas masalah ini lagi."


"Baiklah! Kami semua setuju," jawab mereka kompak, kecuali Agatha dan putra-putranya.


Beda dengan Agatha dan putra-putranya. Mereka seakan-akan tidak peduli apa yang terjadi dalam keluarga ini. Inilah yang mereka inginkan. Tapi tidak dengan Dirga dan Marcel. Mereka berdua merasakan hal aneh dalam diri mereka. Hati mereka benar-benar sakit dan terluka atas meninggalnya Kakek mereka. Bagaimana pun sikap mereka selama ini? Dirga dan Marcel sangat amat menyayangi kakeknya.


"Kakek," batin mereka menangis.


"Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit. Kasihan Kak Adelina dan keponakan-keponakanku. Mereka pasti saat ini membutuhkan kita!" seru Evita.


"Baiklah. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Sandy.


***


"Darel. Ini Mama, sayang. Apa Darel tidak mau melihat Mama, hum?" Adelina berbicara dengan air matanya yang mengalir membasahi wajah cantiknya. Tangannya yang bermain-main di rambut putranya.


"Hei, adik Kakak yang tampan. Bangunlah dan lihatlah Kakak. Kakak dan kakak-kakakmu yang lainnya semuanya ada di sini," bisik Davian di telinga adiknya.


"Darel," lirih mereka.


Hati mereka sakit kalau sudah melihat sibungsu kesayangan kesakitan seperti ini.


Ketika mereka semua sedang fokus pada kesayangan mereka. Mereka dikejutkan suara pintu yang di buka.


CKLEK!


Mereka semua melihat kearah pintu tersebut. Dan dapat mereka lihat, para anggota keluarga mereka yang datang, kecuali Agatha dan ketujuh putranya. Mereka semua mendekati ranjang Darel.


"Bagaimana keadaan Darel?" tanya Sandy.

__ADS_1


"Masih sama seperti dua hari yang lalu, Paman Sandy. Sepertinya Darel terlalu nyenyak tidurnya sehingga Darel enggan untuk membuka kedua matanya," jawab Andre.


Sandy mengelus lembut rambut Darel, lalu mencium keningnya.


"Darel. Ini Paman Sandy. Apa Darel tidak merindukan Paman, hum? Paman disini seperti orang gila karena sudah dua hari Paman tidak mendengar suara teriakan dari kamu," bisik Sandy di telinga Darel.


Salma saat ini sedang menghibur sang Kakak perempuannya.


"Kak. Aku mohon sama Kakak. Kakak harus kuat. Lakukan semua ini demi putra-putra Kakak. Aku berjanji pada Kakak, aku akan selalu berada di sampingmu, Kak."


"Terima kasih, Salma. Kalau tidak ada dirimu aku tidak tahu apa aku akan kuat."


"Ada tidak adanya aku disamping Kakak. Kakak harus tetap kuat. Pikirkan putra-putra Kakak. Mereka masih membutuhkan Kakak, terutama Darel."


Adelina menatap satu persatu putra-putranya, lalu terukir senyuman manis di bibirnya. "Kau benar, Salma. Aku tidak sendirian. Aku memiliki putra-putra yang kuat, tampan dan juga kompak. Aku akan kuat dan semangat demi mereka. Mereka semua adalah malaikat-malaikatku. Pelindungku!"


Mendengar penuturan dari kakak kandungnya. Salma tersenyum bahagia. "Aku akan selalu bersamamu, Kak! Percayalah!"


"Aku juga akan selalu bersamamu, Kak!" Evita berbicara sembari melangkah mendekati kedua kakak iparnya dan langsung memeluk tubuh kedua kakak iparnya itu.


Sedangkan yang lainnya memberikan semangat untuk Davian dan adik-adiknya.


***


Seluruh anggota keluarga Wilson seperti biasanya melakukan aktivitas masing-masing. Davian dan saudara sepupunya berada di kantor. Adelina ditemani oleh empat putranya dan para keponakannya yaitu Arga, Daffa, Vano, Raffa, Erick, Rendra Gilang dan Melvin sedang berada di rumah sakit menemani sang kesayangan mereka.


Saat ini yang berada di rumah adalah Agatha dan ketujuh putranya yaitu Dirga, Marcel, Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky, Aldan dan Evan. Evan yang memang kebetulan libur sekolah sekarang berada di kamar adik kelinci nya. Dirinya sedang mengambil boneka kelinci untuk dibawa ke rumah sakit. Siapa tahu dengan adik kesayangannya itu mencium aroma boneka miliknya, adiknya akan segera bangun.


Putra-putranya Agatha sedang duduk santai di ruang tengah, kecuali Dirga dan Marcel. Sejak meninggalnya Antony, semenjak itulah keduanya lebih banyak diam. Dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mereka.


Evan yang telah selesai dengan urusannya di kamar adik kesayangannya, dirinya pun langsung pergi meninggalkan kamar tersebut. Evan sudah tidak sabaran untuk ke rumah sakit menemui sikelinci kesayangannya itu.


Saat Evan sudah berada di bawah dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Evan tidak sengaja mendengar seseorang yang sedang berbicara. Karena rasa penasarannya, Evan melangkahkan kakinya menuju keasal suara tersebut. Asal suara itu berada di teras samping. Dapat Evan lihat Agatha, sang Bibi sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


"Rencana kita berjalan lancar sayang. Si tua bangka itu sudah mati. Putra kesayangannya si Arvind hilang dalam kecelakaan tersebut dan cucu kesayangannya koma di rumah sakit. Sebentar lagi apa yang kita ingin menjadi milik kita. Aku tidak sabaran mengusir mereka semua dari rumah ini. Aku sudah bosan dan merasa lelah harus bersandiwara terus menerus menjadi ibu yang baik untuk kedua anak-anak sialan itu Dirga dan Marcel dan menjadi istri yang baik untuk pria brengsek William Wilson," ucap Agatha.

__ADS_1


DEG!


__ADS_2