Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Umpatan Darel Dan Raffa


__ADS_3

[KEDIAMAN UTAMA WILSON]


[Ruang Tengah]


Saat ini Sandy, Salma, William, Daksa, Evita bersama para putra mereka tengah berkumpul di ruang tengah.


"Oh, iya. Besokkan hari pertama Darel masuk kuliah. Selama Darel berada di kampus, usahakan jangan sampai Darel kelelahan!" seru Sandy.


"Sebisa mungkin kalian awasi Darel," ucap Evita.


"Papa dan Bibi tidak perlu khawatir. Serahkan pada kami," Rendra.


"Pokoknya selama ada kami di kampus. Selama itulah Darel akan baik-baik saja," sela Melvin.


"Di kampus ada kami dan juga Aldan. Ditambah lagi Evan dan Raffa. Mereka berdua pasti akan lebih menjaga Darel," ucap Dylan.


"Jangan lupakan sahabat-sahabatnya Darel. Mereka juga pasti ikut jagain Darel," ucap Melvin menambahkan.


"Kami percayakan si kelinci nakal itu pada kalian. Itu tugas kalian selama berada di kampus," ucap Daksa.


"Siap, Pa!" jawab Melvin.


"Siap, Paman!" jawab Rendra dan Dylan bersamaan.


"Bicara masalah Darel. Kenapa aku jadi merindukan bocah itu?" ucap Naufal.


"Iya, ya! Biasanya setiap pagi kita selalu mendengar suara teriakannya yang melengking," kata Dirga.


"Aku juga merindukan sikelinci manis itu," kata Marcel.


"Rumah ini terasa hidup kalau mendengar teriakan dari Darel," kata Steven.


"Kalian enak sih. Kalian sudah lama kenal dengan Darel. Nah, kita baru saja bertemu dengannya. Mungkin pertemuan kami baru dua minggu. Sekarang Darel malah ngasih keputusannya seenaknya jidatnya aja," kata Keenan.


Lalu mereka teringat akan momen-momen mereka saat berkumpul dengan Darel dan keluarganya.


Flashback On


[Ruang Tengah]


Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Arvind, Adelina, Sandy, Salma, William, Daksa, Evita, para cucu-cucu Antony Wilson serta ada Rayyan, Kevin, Caleb, Dzaky, Aldan, Andrean dan Alisha kecuali Darel.


Mereka saat ini tengah berbincang-bincang sembari menunggu para pelayan selesai tugas mereka menyiapkan makan malam.


"Terima kasih Paman, Bibi. Kalian sudah mau memaafkan kesalahan kami selama ini. Dan untuk kalian kak, Dylan, Rendra, Melvin, Evan, Raffa." Rayyan berucap tulus.


"Kami benar-benar sangat bahagia saat ini. Ternyata punya keluarga dan punya banyak saudara banyak seperti ini benar-benar sangat menyenangkan," kata Aldan.


"Coba kalau dari dulu kami semua menyadari, mungkin kehidupan kami tidak seperti ini.." kata Caleb.


"Dan kami semua benar-benar bangga pada kalian. Terutama Paman Arvind, Paman Sandy dan Papa William. Kalian masih mau dan sudi memaafkan Papa kami," kata Dzaky.

__ADS_1


"Bahkan aku sangat terharu saat Paman Arvind memeluk Papa sehingga membuat Papa menangis. Ternyata penjahat seperti Papa bisa menangis juga. Hehehe!" ucap dan ejek Kevin.


Mereka yang mendengar penuturan dari Kevin hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala


"Apa kau pikir Papamu itu memiliki kepala batu, hah?! Mau orang itu jahat, mau orang itu baik. Yang namanya menangis, pasti semua orang akan bisa menangis." Vano berucap kesal.


"Alisha juga ikut senang dan juga merasakan kebahagiaan saat ini. Alisha dulu tidak memiliki kakak laki-laki. Dan sekarang Alisha memiliki lima kakak laki-laki yang paling tampan."


"Hei, Alisha. Apa kau pikir cuma kelima kakak kamu saja yang paling tampan. Lalu bagaimana dengan kami semua, hah?!" ucap dan tanya Raffa. Taehyung tak terima atas ucapan Alisha.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum melihat aksi protes Raffa.


"Hidupmu kebanyakan protes alien muka kadal!" seru dan umpat seseorang.


DEG!!


Baik Raffa maupun anggota keluarga yang lain, Andrean dan Alisha terkejut. Lalu mereka menolehkan wajah mereka untuk melihat keasal suara. Dapat mereka lihat Darel telah berdiri bersandar diajak tangga dengan kedua tangan dilipat di dada.


Mereka tersenyum melihatnya. Tapi tidak dengan Raffa. Raffa menatap tajam kearah Darel sembari mulutnya mengeluarkan sumpah serapah untuk adiknya.


"Dasar cengeng, gembul siluman kelinci sialan." Raffa berucap di dalam hatinya.


"Jangan tatap aku seperti itu alien. Aku tahu aku ini tampan. Bahkan ketampananku melebihi kalian semua," ucap Darel dengan bangganya.


Setelah mengatakan hal itu, Darel melangkahkan kakinya ke dapur. Tujuannya adalah ingin mengambil susu pisang kesukaannya.


*Mendengar penuturan dari Darel. Baik Raffa maupun para kakak-kakaknya melongo dan mata yang membelalak. Mereka tak menyangka, Darel bisa berucap seperti itu.


"Dasar kelinci sialan."


"Dasar tuh mulut tidak bisa dijaga."


"Dasar mulut pedas. Ini semua ajarannya Vano," ucap Ghali.


"Yak, kak Ghali! Kenapa kakak menyalahkanku? Aku tidak pernah mengajarkan hal-hal buruk pada sikelinci gembul itu," jawab Vano kesal.


"Kau memang tidak pernah mengajarkannya secara langsung. Tapi dia meniru semua perkataanmu dan juga sikap kamu," sahut Arga.


"Makanya lain kali kalau mau bicara itu yang lembut. Jadi adik kelincimu itu bisa menirunya," ucap dan sindir Andra


"Kenapa malah aku yang diserang disini? Aish!" Vano berucap kesal.


Para kakaknya, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tersenyum kemenangan. Tidak ada salahnya kan sekali-sekali membuat seorang Vano Wilson kesal.


"Maaf Nyonya, Tuan, Tuan muda. Makan malamnya sudah siap." Salah satu pelayan datang menghampiri mereka.


"Baiklah, Bi!" Jawab Adelina dan Salma bersamaan.


"Ya, sudah. Lebih baik kita makan malam bersama!" seru Arvind.


Saat mereka semua melangkah menuju meja makan. Mereka melihat Darel yang melangkah menuju anak tangga. Darel ingin kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Hei, siluman kelinci laknat. Mau kemana, hah?!" teriak Raffa.


Darel yang mendengar teriakan Raffa dan mendengar ejekan dari mulut kakak aliennya itu mendengus kesal. Lah detik kemudian Darel membalikkan badannya untuk melihat kearah kakak aliennya itu.


"Apa?" tanya Darel ketus.


"Yeeyy. Santai dong jawabnya."


"Kalau aku gak mau, kakak mau apa?"


"Sabar, Raf.. Sabar, Raf!" Raffa berucap pelan sembari mengelus-elus dadanya. Yang lainnya hanya diam dan menyaksikan keduanya.


"Mau kemana?"


"Aku mau ke kamar. Emangnya mau kemana lagi. Pertanyaan kakak itu benar-benar gak bermutu."


"Kakak tahu kalau kau itu mau ke kamar, bodoh!"


"Yak. Kakak mengataiku bodoh!" teriak Darel


"Iya. Teruuss?"


"Kakak yang bodoh. Udah bodoh, idiot, tengil, jelek dan mesum lagi."


"Dasar adik laknat, cengeng, kelinci gembul, gendut, manja, psikopat licik."


Saat Darel ingin membalas ucapan Raffa. Adelina akhirnya turun tangan.


"SUDAH CUKUP DAN BERHENTI!" ucap Adelina. Hal itu sukses membuat Darel dan Raffa mengatup bibir mereka masing-masing.


Mereka yang melihat Darel dan Raffa yang tak berkutik saat mendengar ucapan dari Adelina tersenyum melihatnya. Mereka berdua benar-benar menggemaskan seperti seekor anak kelinci dan anak singa yang masih kecil.


Adelina melangkah menuju putra bungsunya. "Sudah selesaikan berantemnya. Sekarang kita makan malam dulu ya." Adelina mengelus lembut rambut putra bungsunya, lalu mencium keningnya.


"Tapi aku tidak lapar, Ma!"


"Kalau kamu tidak mau makan. Mama juga tidak akan ikut makan."


Darel membelalakkan matanya saat mendengar ucapan dari ibunya. "Mana bisa begitu, Ma! Aish!" Darel mempoutkan bibirnya.


"Bisa. Barusan Mama melakukannya." Adelina memperlihatkan senyuman manisnya.


"Hah.. Baiklah!"


Akhirnya mereka semua makan malam bersama dengan hikmat, tenang dan penuh kebahagiaan


*Setelah makan malam selesai, Darel langsung pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Sedangkan anggota keluarganya sudah berada di ruang tengah. Tapi saat baru beberapa langkah, tangannya ditahan dan ditarik oleh Daffa dan Vano sehingga membuat Darel mengedumel di dalam hatinya*.


"Dasar kakak-kakak sialan. Emangnya aku ini anak kambing ditarik-tarik," batin Darel."

__ADS_1


__ADS_2