Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Perlawanan Dari Brian CS


__ADS_3

Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel sudah berada di kampus. Mereka tidak bersama dengan Darel dan yang lainnya. Hanya mereka berlima saja.


Baik Brian, Azri maupun Damian, Evano dan Farrel saat ini melangkahkan kakinya menyusuri koridor kampus menuju kelasnya.


Sesampainya mereka di depan kelas. Brian menyentuh knop pintu kelasnya. Sedangkan di dalam kelas saat ini tampak tegang dimana Dosen yang disebut sebagai Dosen gila oleh sahabat-sahabat Darel tengah marah besar kepada semua mahasiswa dan mahasiswi.


"Dasar bodoh. Kalian teman sekelas mereka, tapi tidak ada satu pun dari kalian yang tahu dimana mereka!" teriak Luan.


Mendengar perkataan kejam disertai bentakan dari Dosennya membuat para mahasiswa dan mahasiswi terkejut dan juga ketakutan.


Dia mahasiswa yang berstatus sebagai ketua kelas dan wakil saat ini menundukkan kepalanya di hadapan Luan. Keduanya benar-benar takut sehingga tidak berani menatap wajah sang Dosen.


Disaat Luan Malachi yang sedang marah besar terhadap mahasiswa dan mahasiswinya, tiba-tiba pintu kelas dibuka oleh seseorang


Cklek..


Mendengar suara pintu kelas dibuka, semua yang ada di dalam kelas langsung melihat kearah pintu tersebut termasuk Luan Malachi. Mereka semua melihat kedatangan Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel melangkahkan kakinya menuju kursi masing-masing. Mereka tidak mempedulikan tatapan marah dari Luan Malachi.


Melihat kelima mahasiswanya yang tidak peduli sama sekali akan tatapan amarahnya membuat Luan mengepalkan kuat kedua tangannya.


"Brian! Azri! Damian! Evano! Farrel!" panggil Luan dengan suara keras.


Mendengar panggilan dari sang Dosen membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung menghentikan langkahnya, kemudian mereka membalikkan badannya.


"Ada apa?" tanya mereka secara kompak dan jangan lupakan wajah dingin dan datar yang mereka perlihatkan.


Mendengar jawaban yang tak memuaskan dari kelima mahasiswanya membuat Luan makin menatap marah kearah kelima mahasiswanya itu.


"Dari mana saja kalian, hah?! Apa kalian lupa kalau hari ini adalah materi kuliah saya?!" bentak Luan.


"Ingat!" jawab Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.


"Terus kenapa kalian datang terlambat?!" bentak Luan.


"Jika kami memberitahu alasan kami terlambat masuk ke kelas anda. Apakah anda akan mendengarkannya?" tanya Damian.


"Jika anda tahu alasan keterlambatan kami. Apakah anda akan menerimanya?" tanya Farrel.


"Jawabannya adalah......"


Brian dan Azri sengaja menggantungkan perkataannya itu dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Luan Malachi.


"Tidak akan!" Damian, Evano dan Farrel melanjutkan perkataan dari Brian dan Azri.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kursinya.


"Kalian berdua kembalilah ke kursi kalian!" seru Evano.


"Kalian ke kampus ini untuk kuliah. Ditambah lagi kalian kuliah disini tidak gratis alias bayar. Sudah seharusnya kalian diperlakukan dengan baik oleh Dosen itu," ucap Azri.

__ADS_1


Mendengar perkataan dari Evano dan Azri membuat dua mahasiswa itu langsung melangkahkan kakinya menuju kursi. Di dalam hati kedua mahasiswa itu membenarkan apa yang dikatakan oleh Azri.


Namun ketika kedua mahasiswa itu baru melangkah satu langkah. Dengan gerakan cepat, Luan berhasil menahan bahu kedua mahasiswa itu sehingga membuat keduanya berhenti di tempat.


Melihat apa yang dilakukan oleh Dosennya tersebut membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel terkejut. Begitu juga dengan mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas itu.


"Kalian sebagai ketua dan wakil ketua kelas harus bertanggung jawab akan keterlambatan kelima teman-teman kalian itu," ucap Luan Malachi.


Deg..


Mendengar perkataan dari Luan Malachi membuat dua mahasiswa itu seketika terkejut dan juga ketakutan.


Sementara Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel mengepal kuat tangannya ketika mendengar perkataan seenaknya dari Luan sang Dosennya. Mereka semua tidak menyangka jika Luan akan melakukan hal serendah itu terhadap mahasiswanya.


"Sshhh!" kedua mahasiswa itu meringis kesakitan di bagian bahunya karena Luan meremat kuat bahunya itu.


Melihat wajah kesakitan dan juga mendengar ringisan kesakitan dari dua teman sekelasnya membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel menjadi kasihan.


Seketika Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung berdiri dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Luan Malachi.


"Lepaskan teman kami!" teriak Farrel.


"Dasar Dosen gila!" teriak Evano.


"Jika anda sudah tidak waras. Lebih baik keluar dari kampus ini!" teriak Damian.


"Anda tidak pantas menjadi Dosen!" teriak Azri.


"Dosen seperti anda seharusnya tidak ada di dunia ini!" teriak Brian.


"Aakkhhh!" teriak keduan.


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel seketika melangkahkan kakinya menghampiri Luan Malachi dan kedua temannya itu dengan tatapan amarahnya.


Melihat kelima mahasiswanya yang tampak marah. Ditambah lagi kelima mahasiswanya itu melangkah menuju kearah dirinya membuat Luan Malachi tersenyum di sudut bibirnya.


Detik kemudian...


Luan Malachi seketika mencengkeram leher belakang kedua mahasiswanya itu sehingga membuat keduanya kesakitan. Kemudian Luan mendorong kuat tubuh kedua mahasiswa itu untuk menuju pintu keluar.


Yah! Luan Malachi membawa keluar kedua mahasiswanya itu untuk diberikan hukuman. Alasannya adalah kedua mahasiswanya itu sudah gagal menjadi ketua dan wakil ketua kelas sehingga membuat kelima teman-temannya datang terlambat dan berakhir melawan padanya.


Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel langsung berlari menyusul Luan Malachi yang kini membawa dia teman sekelasnya. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Mereka khawatir akan nasib kedua temannya itu.


^^^


Di lapangan dimana Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon sedang mendiskusikan sesuatu.


Darel bersama kesembilan sahabatnya berencana untuk mendatangi keluarga Malachi. Sudah waktunya keluarga itu menghentikan kejahatannya menyakiti orang-orang yang tidak bersalah hanya demi membela anggota keluarganya yang terluka. Padahal jelas-jelas mereka yang bersalah.


"Kapan kita akan mendatangi keluarga brengsek itu, Rel?" tanya Kenzo.

__ADS_1


"Nanti sore," jawab Darel.


"Kenapa harus sore?" tanya Juan.


"Karena diwaktu sore itu semua anggota keluarga Malachi berkumpul. Noah, salah satu tangan kananku mengatakan bahwa kalau menjelang sore, semua anggota keluarga Malachi akan berada di rumah."


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Darel tentang keluarga Malachi membuat Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Ketika Darel dan kesembilan sahabatnya sedang merundingkan rencananya, tiba-tiba Charlie melihat Luan Malachi yang mendorong kasar kedua mahasiswanya. Dan terlihat juga kelima sahabatnya yang lain mengejarnya.


"Lihat, si Dosen gila itu sudah mulai bertindak!" seru Charlie sembari menunjuk kearah Luan Malachi.


Mendengar ucapan dari Charlie membuat Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Devon langsung melihat kearah tunjuk Charlie.


Seketika mereka terkejut ketika melihat Luan Malachi sang Dosen gila tengah mendorong kasar tubuh kedua mahasiswanya dan disusul kelima sahabatnya yang mengejarnya.


"Brengsek!"


Darel langsung berdiri dari duduknya lalu berlari menghampiri Dosen gila itu. Dirinya benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh Luan Malachi.


"Rel!"


Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon berteriak memanggil Darel lalu pergi menyusul Darel.


^^^


Duagh.. Duagh..


Brian dan Azri seketika memberikan tendangan kuat tepat di punggung Luan Malachi ketika mereka sudah sampai di belakangnya.


Mendapatkan tendangan keras dari dua orang di belakangnya membuat tubuh Luan terhuyung ke depan sehingga membuat pegangan tangannya di leher belakang kedua mahasiswa itu terlepas.


Damian, Evano dan Farrel langsung membawa kedua temannya itu menjauh dari Luan Malachi.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Evano menatap khawatir kedua temannya itu.


"Kami tidak apa-apa. Hanya leher belakang kami sedikit ngilu."


"Dosen gila itu menekan leher belakang kami begitu kuat."


"Maafkan kami ya," ucap Farrel.


"Gara-gara kami datang terlambat, kalian jadi bual-bualan Dosen gila itu," sahut Evano.


"Tidak apa-apa. Keterlambatan kalian kan karena satu alasan."


"Ditambah lagi, kalian kan anggota dari organisasi di kampus ini."


Damian, Evano dan Farrel tersenyum ketika mendengar ucapan dari kedua teman sekelasnya itu.


"Ya, sudah kalau begitu. Kalian pergilah ke ruangan kesehatan. Periksakan leher belakang kalian. Jangan dibiarkan. Takutnya membengkak," ucap Damian.

__ADS_1


"Baiklah."


Setelah itu, kedua mahasiswa itu pun pergi menuju ruang kesehatan untuk memeriksakan leher belakangnya.


__ADS_2