Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Ketahuan 2


__ADS_3

Setelah tiga hari dinyatakan sembuh, Arvind Wilson diperbolehkan untuk pulang. Farraz dan keempat adik-adiknya membawa Arvind pulang ke Apartemen milik mereka. Mereka terlihat sangat bahagia atas kehadiran Arvind ditengah-tengah mereka.


Saat ini mereka tengah duduk santai di ruang tengah setelah melakukan kegiatan mereka yaitu sarapan pagi.


"Paman. Aku senang sekali Paman ada disini!" seru Dylan. Arvind tersenyum hangat mendengar penuturan Dylan.


"Paman juga senang, Nak!"


"Paman. Bagaimana kalau Paman tinggal disini saja. Selamanya? Kami sudah terlanjur sayang pada Paman dan kami tidak ingin berpisah dengan Paman. Mau ya, Paman." Tristan berbicara sembari menatap wajah tampan Arvind.


Mendengar permintaan dari Tristan, Arvind hanya tersenyum.


"Yak, Tristan! Apa kau tidak salah bicara, hah?" tanya Deon.


"Memangnya kenapa?" tanya Tristan balik.


"Kau ini bagaimana sih. Paman Arvind itukan punya istri dan putra. Bagaimana bisa kau menyuruh Paman Arvind untuk tinggal disini selamanya," kata Deon.


"Eeemm. Benar juga ya. Pasti keluarga Paman Arvind akan sedih kalau Paman Arvind tinggal disini bersama kita," ucap Tristan.


"Maafkan aku, Paman." Tristan berucap lirih sembari menundukkan kepalanya.


GREP!


Arvind menarik tubuh Tristan ke dalam pelukannya. "Tidak apa, sayang. Paman tidak marah. Justru Paman bersyukur bisa bertemu dengan kalian. Kalian anak-anak yang baik dan sopan. Kalian tumbuh dengan sangat baik walau tanpa kedua orang tua kalian." Arvind berucap dengan lembut.


"Kenapa perasaanku menjadi aneh seperti ini saat mendengar permintaan kecil dari Tristan," batin Arvind.


"Kak Arvind. Aku menyayangimu. Jangan pernah meninggalkanku ya. Pokoknya Kakak harus selalu bersamaku. Tidak boleh pergi kemana-mana." William berbicara sembari memeluk tubuh kakaknya.


"Permintaan Tristan hampir sama dengan permintaan William saat William masih duduk di bangku SMA dulu," batin Arvind.


Arvind melepaskan pelukannya dari Tristan, lalu menatap wajah tampan Tristan dan juga keempat saudara-saudaranya.


"Apa kalian masih ingat yang Paman katakan saat di rumah sakit, hum?" tanya Arvind.


Farraz dan keempat adiknya berpikir sejenak. Lalu detik kemudian, Dylan bersuara.


"Paman akan mengajak kami untuk ikut pulang bersama Paman," jawab Dylan


"Ya. Itu benar," kata Arvind.


"Ja-jadi Paman benar-benar ingin mengajak kami bersama Paman?" tanya Farraz.


"Ya. Kenapa?" tanya Arvind balik


"Kami pikir..." ucap Deon terpotong.


"Paman membual, begitu?" Arvind memotong perkataan Deon. "Paman benar-benar ingin mengajak kalian bersama Paman. Paman juga sudah terlanjur sayang dengan kalian. Dan Paman juga tidak ingin berpisah dari kalian. Biar tidak ada yang tersakiti. Tinggal bersama itu lebih baik. Bukan begitu," ucap Arvind tersenyum hangat.


"Ya, sudah. Bagaimana siang nanti kita jalan-jalan? Apalagi hari ini adalah hari minggu. Waktunya kita menikmati liburan," usul Arvind.


"Jalan-jalan," ucap Dylan, Keenan dan Tristan bersamaan


"Iya. Mau tidak?"


"Mau.. Mau!" Dylan, Tristan dan Keenan. Sedangkan Farraz, Deon dan Arvind tersenyum gemas melihat ketiganya.


***


Seluruh anggota keluarga Wilson saat ini berada di rumah. Dikarenakan hari libur, mereka memutuskan untuk di rumah saja.


Para orang tua termasuk Mathew berada di ruang tengah. Dan para anak-anaknya berada di lapangan basket yang ada di samping rumah mewah mereka, kecuali Agatha dan kelima putra-putranya.


Saat ini mereka sedang bermain basket dimana Davian, Nevan, Daffa, Vano, Evan melawan Steven, Dario, Erick, Dhafin dan Rendra.


"Ayo, Kakak. Kalahkan Kak Steven dan adik-adiknya!" teriak Darel menyemangati kakak-kakaknya sembari tersenyum manis.


Mereka yang mendengar teriakan Darel merasakan kehangatan dalam diri mereka. Semenjak kecelakaan itu. Inilah pertama kalinya mereka mendengar teriakan itu lagi.

__ADS_1


"Ayo, Kakak! Jangan kecewakan aku. Kalian harus menang!" teriak Darel. "Kak Steven, maaf ya. Aku tidak memberikan dukungan padamu dan timmu. Untuk saat ini kita adalah lawan!" teriak Darel lagi.


"Hahahaha." mereka tertawa mendengar penuturan dari Darel.


Permainan terus berlanjut. Skor nya beda tipis yaitu 20 untuk tim Davian dan 19 untuk tim Steven. Waktu juga tinggal 5 menit lagi.


"Kamu mau kemana, Rel?" tanya Alvaro saat melihat adik bungsunya beranjak berdiri.


"Mau ambil minum, Kak." Darel menjawabnya.


"Ini minum punya Kakak saja." Axel menyodorkan botol minumnya pada Darel.


"Aish, Kak Axel! Aku tidak mau minum itu. Aku mau susu pisang," jawab Darel.


"Ya, sudah. Darel disini saja. Biarkan Kakak saja yang ambilkan," sahut Andre.


"Tidak usah, Kak. Biarkan aku ambil sendiri saja," jawab Darel.


"Ya, sudah. Jangan lama-lama. Cepat kembali," ucap Andre.


"Asiiapp," jawab Darel dengan senyuman manis di bibirnya. Mereka yang melihat senyuman tersebut turut bahagia.


^^^


Saat ini para orang tua tengah bersendah gurau, termasuk Mathew disana.


Saat sedang asyiknya mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Mathew berbunyi yang menandakan kalau ada pesan masuk ke ponselnya. Mathew pun langsung mengecek ponselnya.


To : Agatha


Sayang. Aku tunggu kau di kolam renang samping rumah. Sekarang!


Mathew pun tersenyum mendapatkan pesan tersebut. Lalu tiba-tiba saja Mathew pun pura-pura pamit untuk ke kamar mandi.


"Maaf semuanya. Aku permisi mau ke kamar mandi sebentar," ucap Mathew.


Mathew pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kolam renang samping rumah.


"Sandy," panggil Adelina.


"Ya, Kak. Ada apa?" tanya Sandy.


"Bagaimana pencarian, Arvind? Apa sudah ada kabar?" tanya Adelina.


"Belum, Kak. Aku juga heran dengan orang-orang suruhanku itu. Mereka tidak mengabariku sama sekali. Dan bahkan ponsel mereka tidak ada yang aktif satu pun saat aku menghubungi mereka," jawab Sandy.


"Sayang," lirih Adelina.


Salma yang berada di sampingnya mengusap punggung sang kakak dengan lembut. "Kita berdoa saja ya Kak. Semoga Kak Arvind baik-baik saja dan selamat saat kecelakaan itu."


"Kak Arvind," lirih William, Sandy dan Evita.


"Aku akan ke dapur sebentar," pamit Salma.


"Kakak ikut, Salma!" seru Adelina.


"Yah. Aku sendiri dong yang perempuan disini," protes Evita.


Mereka tersenyum mendengar ucapan dari Evita.


"Ya, sudah. Ayo ikut dengan kami!" ajak Adelina.


Dengan semangatnya Evita langsung bangkit dari duduknya. Dan ketiganya pun pergi meninggalkan ruang tengah. Kini tinggal tiga laki-laki tampan, alias para suami. Sandy Wilson, William Wilson dan Daksa Jecolyn.


Salma, Adelina dan Evita sudah berada di dapur. Saat ini mereka tengah membuatkan minuman segar untuk putra-putra mereka yang kini sedang bermain basket.


"Aakkhhh," Evita tiba-tiba sakit perut.


"Evita, kau kenapa?" tanya Adelina.

__ADS_1


"Perutku sakit, Kak. Sepertinya aku harus melapor dulu," jawab Evita dan langsung pergi meninggalkan Adelina dan Salma.


Adelina dan Salma tersenyum gemas melihat kelakuan Evita.


DRTT!


DRTT!


Tiba-tiba ponsel milik Adelina berbunyi.


"Salma. Kakak angkat telepon dulu."


"Ya, Kak."


Adelina pergi meninggalkan dapur dan menuju arah samping tepat kearah kolam renang untuk menjawab panggilan.


"Hallo."


"Hallo, Bu."


"Ya. Ada apa?"


"Bisakah Ibu ke Butik hari ini. Ada dua pelanggan tetap kita yang ingin bertemu dengan ibu."


"Maaf tidak bisa. Hari ini adalah jadwal saya bersama dengan putra-putra saya. Kalau mereka ingin bertemu dengan saya. Besok saja sekitar pukul 9 pagi."


"Ach. Baiklah, Bu. Akan saya sampaikan."


TUTT!


TUTT!


Saat Adelina menutup panggilannya matanya tak sengaja melihat pemandangan yang sangat menjijikkan di luar dekat kolam renang.


Agatha dan Mathew berada di kolam renang. Mereka saat ini sedang saling berpelukan mesrah. Mathew dan Ki Agatha saling berciuman tanpa ada rasa takut akan ketahuan.


"Aku sangat merindukanmu sayang. Kita sudah lama sekali tidak melakukan hal ini," ucap Agatha.


"Aku juga sayang. Aku benar-benar merindukanmu dan putra-putra kita."


"Aku sudah tidak sabaran untuk rencana kita selanjutnya sayang."


"Apa kau sudah mendapatkan tanda tangan dari putra tirimu itu?"


"Sudah sayang. Aku sudah mendapatkannya."


"Wah. Benarkah? Bagaimana cara kau melakukannya?"


"Aku mengawasi kamarnya Dirga. Saat anak sialan itu keluar, aku pun masuk ke kamarnya. Dan besok paginya juga seperti itu. Saat anak sialan itu keluar dari kamarnya, aku masuk ke dalam kamarnya."


"Pintar sekali istriku ini."


"Siapa dulu dong suaminya. Lalu bagaimana dengan suamiku ini?"


"Aku juga sudah berhasil mendapatkan tanda tangan cucu kesayangan dari si tua bangka itu."


"Bagaimana cara suamiku melakukannya?"


"Aku menyuap salah satu karyawan di CJ GRUP untuk mendapatkan tanda tangannya."


"Wah, hebat. Aku makin tidak sabaran dengan rencana selanjutnya."


"Iya, sayang. Aku juga."


Mereka berdua asyik berdua-duaan dan juga bermesra-mesraan sembari saling berpelukan ditepi kolam renang. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap tajam kearah mereka.


"Agatha. Apa yang kau lakukan dengan Mathew? Kau.. kau bermain di belakang William selama ini." Adelina langsung keluar dan menangkap basah keduanya.


DEG!

__ADS_1


__ADS_2