
Di kediaman utama keluarga Wilson tampak anggota keluarga Wilson tengah berkumpul di ruang tengah minus Darel.
Evan dan Raffa sudah menceritakan kepada anggota keluarganya mengenai ketakutan Darel.
Mendengar cerita dari Evan dan Raffa membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarganya memikirkan kesehatan Darel. Mereka tidak ingin kesayangannya itu kembali tumbang dan berakhir masuk rumah sakit karena banyak pikiran.
Ketika mereka sedang membicarakan Darel. Orang yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul sehingga membuat mereka terkejut.
"Mama."
Adelina langsung melihat kearah putra bungsunya itu sembari tangannya terangkat bermaksud untuk menyuruh putranya itu mendekat.
"Kemarilah sayang!"
Darel langsung melangkahkan kakinya menghampiri ibunya. Setelah berada di dekat ibunya, Darel langsung memposisikan tubuhnya tidak di sofa dengan menjadikan paha ibunya itu sebagai bantalnya.
Adelina seketika tersenyum melihat sifat manja putra bungsunya kambuh. Begitu juga dengan Arvind, kakak-kakaknya dan anggota keluarga lainnya.
"Ada apa, hum?" tanya Adelina sembari tangannya mengusap-usap lembut kepala putranya.
"Nggak kenapa-kenapa. Hanya pengen tidur di pahanya Mama. Nyaman," jawab Darel.
Darel menatap kearah Ghali yang juga menatap dirinya.
"Kakak Ghali," panggil Darel.
"Iya, sayang. Kenapa, hum?"
"Boleh nanya nggak?"
Ghali seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari adiknya. Sejak kapan adiknya itu minta izin ingin bertanya?
"Kenapa harus minta izin dulu? Tinggal nanya lalu kakak jawab."
"Ini pertanyaannya sedikit sensitif. Jika aku nggak izin dulu, bisa-bisa kakak semprot aku dengan omelan kakak. Karena aku adalah adik yang baik dan polos, makanya aku bertanya dulu."
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darel membuat mereka semua tertawa geli ketika mendengar ucapan terakhir dari Darel.
"Boleh nggak?"
"Iya, silahkan. Sesi pertanyaannya sudah kakak buka. Dan waktunya hanya beberapa detik saja," sahut Ghali.
"Eemm... Apa kakak kenal dengan perempuan yang bernama Paula?"
__ADS_1
"Paula?" tanya Ghali lagi.
"Iya, Paula! Kakak kenal nggak?"
"Kenal," jawab Ghali.
"Kenal sebagai apa? Rekan kerja atau..."
"Rekan kerja sayang."
"Yakin hanya rekan kerja saja? Nggak ada hubungan... Eeemmm!"
"Rekan kerja doang, Rel! Nggak lebih." Ghali menjawab pernyataan dari adiknya itu dengan jujur.
"Kak."
"Ada apa, hum?"
"Misalkan jika aku katakan bahwa perempuan yang bernama Paula itu jahat. Apa kakak percaya sama aku? Misalkan disini ada Paula, terus di depan dia dan di depan kakak, aku mengatakan bahwa dia jahat. Apa yang akan kakak lakukan? Kakak lebih percaya sama siapa?" tanya Darel.
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Darel padanya membuat Ghali menatap lekat wajah adik bungsunya itu. Ghali dapat melihat dari tatapan mata adiknya itu tersirat ketakutan dan kecemasan akan dirinya.
Bukan hanya Ghali saja yang menatap lekat tatapan mata Darel. Arvind, putra-putranya yang lain dan anggota keluarganya juga menatap kearah tatapan mata Darel.
"Apa Darel mengetahui sesuatu?"
Kata-kata itulah yang diucapkan di dalam hatinya Arvind, putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya.
"Kakak akan memilih kamu karena kamu adalah adik kandung kakak. Kakak akan mempercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut kamu." Ghali berucap dengan kesungguhan hatinya.
"Tidak ada alasan buat kakak tidak mempercayai kamu," ucap Ghali lagi.
Mendengar jawaban-jawaban yang tulus dari kakak ketiganya itu membuat hati Darel merasakan kenyamanan. Dirinya benar-benar bahagia dan bersyukur memiliki kakak-kakak yang penyayang, peduli, perhatian dan percaya padanya.
"Sekarang katakan pada kakak kenapa kamu membawa-bawa nama Paula, rekan kerja kakak itu?" tanya Ghali.
Darel seketika bangkit dari acara tidurnya dan memposisikan tubuhnya untuk duduk. Tatapan matanya menatap kearah kakak keduanya itu.
"Dua hari yang lalu aku bertemu dengan perempuan itu. Lebih tepatnya aku sama dia ada di Cafe yang sama. Saat itu aku, kakak Farrel, Razig dan Devon berada di Cafe sedang melakukan sesuatu untuk menjebak orang-orang yang mengaku sebagai pemilik gedung Panti Asuhan itu. Ketika kita lagi asyik membahas masalah itu, tiba-tiba aku dan ketiga sahabat aku mendengar seorang gadis menyebut nama kakak. Karena rasa penasaran kita, kita sepakat memusatkan pendengaran kita dan mendengar obrolan gadis itu."
"Apa yang mereka bicarakan? Katakan kepada kakak."
"Intinya, perempuan yang bernama Paula itu akan membuat kakak bertekuk lutut di hadapannya. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat kakak menyukainya. Jika rencananya berhasil membuat kakak jatuh cinta padanya, dia akan buat kakak bermusuhan dengan semua saudara-saudara kakak. Dia juga akan membuat kakak melawan kepada Papa dan Mama. Dia akan membuat kakak menjadi laki-laki yang jahat terhadap keluarganya sendiri."
__ADS_1
Mendengar ucapan sekaligus cerita dari Darel membuat Ghali seketika mengepal kuat tangannya. Dia benar-benar marah saat ini.
"Dasar perempuan menjijikan. Aku tidak akan pernah tergoda apalagi sampai jatuh cinta kepada perempuan menjijikan sepertimu," batin Ghali.
"Terima kasih informasinya sayang. Kakak akan berusaha untuk hati-hati dan waspada," ucap Ghali.
"Kakak tetap bersikap seperti biasanya. Jangan perlihatkan kalau kakak sudah tahu," ucap Darel.
"Baiklah."
"Jika nanti ada berkas dari perempuan itu, kakak jangan dulu menandatanganinya. Kalau perlu kakak bawa pulang berkas itu," usul Darel.
"Sesuai perintah kamu. Kakak akan melakukannya."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika melihat respon dan jawaban dari kakak keduanya itu. Kakak keduanya itu langsung mengiyakan semua keinginannya.
"Terima kasih, kak!"
"Kakak yang harusnya berterima kasih kepada kamu. Kalau bukan karena kamu kemungkinan kakak tidak akan tahu kebusukan perempuan itu."
"Aku sayang kakak. Aku sayang kalian semua. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian apalagi sampai menipu kalian."
Mendengar ucapan tulus disertai dengan senyuman manis Darel membuat mereka semua merasakan kehangatan di hati masing-masing.
"Terlebih lagi dengan kita! Kita tidak akan membiarkan orang-orang diluar sana menyakiti kamu."
"Kamu adalah adik kesayangan kita semua!"
"Berani mereka menyakiti kamu, bersiap-siap mereka menghadapi kemarahan kami."
"Kita sayang kamu!"
Itu ungkapan sayang dan kepedulian semua kakak-kakaknya. Baik kakak-kakak kandungnya maupun kakak-kakak sepupunya.
Grep..
Adelina seketika menarik tubuh putra bungsunya dan membawanya ke dalam pelukannya. Hati Adelina sungguh bahagia Tuhan memberikan putra seperti putra bungsunya ini.
"Mama bangga sama kamu sayang. Bangga sekali. Kamu yang paling muda di keluarga Wilson, tapi kamu yang selalu berpikir positif, berpikir tenang dan berpikir dewasa. Dan kamu juga bisa membuat orang-orang yang tadinya ketakutan seketika tenang."
"Aku seperti ini karena aku belajar dari kakek. Kakek banyak mengajarkan aku bagaimana cara menghadapi musuh yang licik dan juga bagaimana cara membalas kecurangan yang dilakukan oleh para musuh-musuh tersebut."
Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darel. Sekali lagi, mereka benar-benar bangga dengan sikap dewasa Darel. Bahkan ketika Adelina memujinya, Darel tidak menunjukkan sifat sombongnya, melainkan Darel mengatakan bahwa dia belajar dari sang kakek.
__ADS_1