Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kemarahan Samuel Akan Cerita Sarga


__ADS_3

Semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul di meja makan. Lengkap dengan bungsu kesayangannya Darel Wilson. Mereka akan melaksanakan sarapan pagi bersama.


"Darel sayang," panggil Arvind lembut.


"Iya, Pa!"


"Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya Arvind.


Darel seketika tersenyum. "Nyenyak banget Pa! Tapi...." Darel seketika menghentikan ucapannya lalu melirik sekilas kearah kakak tertuanya.


Melihat Darel yang tiba-tiba menghentikan perkataannya dengan tatapan matanya menatap kearah Davian membuat mereka semua berpikir bahwa Darel akan berulah lagi pagi ini. Dan yang jadi sasarannya korban yang sama yaitu Davian.


Sementara Davian yang melihat lirikan mata adiknya yang melihat kearah dirinya sudah memiliki perasaan tak enak. Adiknya itu pasti akan berulah lagi padanya.


"Tapi apa sayang?" tanya Arvind penasaran.


"Awalnya tidur aku nyenyak, namun karena melihat wajah kakak Davian yang butek di dalam mimpi aku. Akhirnya aku terpaksa bangun. Padahal aku lagi berduaan sama seorang gadis cantik. Eh, tiba-tiba wajah kakak Davian muncul. Jadi kebangun deh!"


"Hahahaha." Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa seketika tertawa keras. Yang paling keras tertawa adalah Raffa. Dia begitu bahagia melihat kakak tertuanya itu dibully habis-habisan oleh Darel. Bahkan berlanjut sampai pagi.


Arvind, Adelina serta para orang tua lain hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Darel.


Bagaimana dengan Davian? Sudah pasti saat ini wajah Davian kesal. Bahkan tatapan matanya menatap adik bungsunya itu tajam seakan-akan ingin menguliti tubuh adiknya itu.


"Kamu cari masalah mulu sama kakak ya!"


Mendengar perkataan dari kakak tertuanya itu membuat Darel langsung menatap kearah kakaknya itu.


Bukannya takut. Justru Darel menatap balik wajah kakaknya itu. Bahkan tatapan matanya tak kalah tajam dari pada kakaknya.


"Kakak mau apa? Mau marahin aku? Ayo, marah sekarang! Asal kakak tahu. Telinga aku saja sampai sekarang masih sakit akibat kakak tarik. Dan aku belum maafin kakak masalah itu. Jika kakak mau marahin aku. Berarti dua kesalahan kakak padaku. Apa kakak mau status kakak sebagai kakak tertua dan juga kakak kesayangan aku dihapus dari daftar hidup aku, hum?"


Seketika Davian melongo mendengar ucapan demi ucapan dari adik bungsunya. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika adiknya akan berbicara seperti itu kepadanya.


Sementara Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya sudah tertawa akan perkataan Darel yang menurut mereka sangat kejam. Bahkan mereka sudah sakit perut karena tertawa akibat mendengar ucapan yang tak manusiawi dari seorang Darel.


Davian hanya bisa pasrah atas kelakuan adik bungsunya itu. Mulutnya yang awalnya ingin protes atau ingin membalas perkataan dari adiknya itu seketika tertutup rapat. Jika dia melawan perkataan dari adiknya itu, bisa-bisa peperangan mulut dengan adiknya itu tidak akan selesai.


Melihat keterdiaman sang kakak membuat Darel memperlihatkan senyuman manisnya sembari memasukkan satu sendok makan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Kakak Davian," panggil Darel disela-sela mengunyah makanannya.


Davian berpura-pura tidak mendengar panggilan dari adiknya. Dirinya fokus pada makanan yang ada di hadapannya itu.


Darel mendengus kesal ketika tidak mendapatkan balasan dari kakaknya itu. Tatapan matanya membesar dan kadang mengecil ketika sedang menatap kakaknya itu.


"Aku sumpahi tuli benaran baru tahu rasa," ucap Darel kesal.


Bugh..


Davian langsung melempari adiknya itu dengan dua potong nugget. Dan lemparannya tersebut tepat mengenai wajah tampan adiknya sehingga membuat adiknya itu mendengus.


"Habiskan sarapan kamu itu. Tuh makanan kamu masih banyak. Jika tidak habis atau bahkan tersisa, maka kakak yang akan hapus nama kamu dari daftar hidup kakak sebagai adik kesayangannya Davian Wilson!"


Seketika kedua mata Darel membulatkan sempurna ketika mendengar ucapan dari kakak tertuanya itu. Dirinya tidak menyangka jika kakaknya juga menggunakan ancaman yang sama seperti dirinya barusan.


Sementara anggota keluarganya seketika tersenyum gemas ketika melihat wajah syok Darel ketika mendengar ucapan dari Davian. Wajah Darel seketika berubah seperti anak kecil yang imut dan menggemaskan.


Sedangkan Davian tersenyum puas di dalam hatinya karena sudah berhasil membalas kejahilan adiknya itu padanya.

__ADS_1


"Satu sama adikku sayang," batin Davian.


***


Samuel saat dalam perjalanan menuju sekolah adiknya. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dengan adik laki-lakinya.


Seperti biasa, Samuel akan mengantar adiknya ke sekolah terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dirinya akan ke kampus.


Selama perjalanan hanya ada kesunyian di dalam mobil tersebut. Tidak ada yang bersuara. Baik Samuel maupun adiknya.


Samuel melirik sekilas kearah samping dimana adiknya duduk. Dapat dilihat olehnya, adiknya sejak tadi hanya melihat keluar jendela dengan wajah yang tidak biasanya.


"Kenapa Sarga berubah jadi pendiam jika di dalam mobil? Biasanya dia selalu membuatku kesal dengan ocehannya itu?" batin Samuel.


"Apa aku terlalu jahat kepada Sarga, adikku? Selama ini aku tidak pernah menunjukkan sikap ramahku padanya. Yang ada aku selalu ketus dan selalu memarahinya," batin Samuel sembari fokus menatap jalanan.


"Seharusnya aku tidak mukul dia? Seharusnya aku bisa lebih sabar lagi menahan emosiku. Kalau kakak Muel tahu. Kakak Muel pasti akan lebih membenciku. Bahkan kakak Muel akan menjauhiku. Apa yang harus aku lakukan? Aku bingung. Diam, mereka selalu bully aku. Bahkan mereka selalu bawa-bawa Mama. Aku lawan berakhir mereka masuk rumah sakit." Sarga berbicara di dalam hatinya.


Tes..


Seketika air mata Sarga jatuh begitu saja membasahi wajah tampannya. Hatinya saat ini benar-benar sedih dan juga takut.


Seketika Samuel terkejut ketika melihat adiknya yang tiba-tiba menangis. Dan detik kemudian, Samuel menghentikan mobilnya.


"Sarga," panggil Samuel.


Namun Sarga masih termenung. Sarga tidak mendengar panggilan dari kakaknya itu. Saat ini pikirannya masih melayang jauh.


Samuel berlahan menepuk pelan bahu adiknya itu. Ntah kenapa hatinya begitu sesak melihat adiknya menangis.


Puk..


Seketika Sarga terkejut ketika mendapatkan tepukan di bahu kanannya. Detik kemudian, Sarga melihat ke samping kanan dimana kakak yang begitu dia sayangi termasuk Sammy kakak tertuanya tengah menatap dirinya.


Samuel tersenyum ketika mendengar nada gugup adiknya itu. Dia tahu bahwa adiknya takut padanya.


Sarga yang untuk pertama kalinya melihat senyuman kakak keduanya itu merasakan kehangatan di hatinya. Dia benar-benar bahagia ketika melihat senyuman kakaknya itu.


"Ada apa?" tanya Samuel lembut.


"Nggak ada apa-apa kok kak Muel." Sarga masih berusaha untuk menutupi apa yang terjadi di sekolahnya.


"Kalau nggak ada apa-apa. Kenapa kamu menangis?" tanya Samuel.


Deg..


Sarga seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari kakaknya itu. Dirinya tidak sadar bahwa dia menangis.


"Itu... Itu...."


"Itu apa? Apa kamu berkelahi lagi di sekolah? Perkelahian kamu kali perkelahian yang terparah?" tanya Samuel dengan tatapan matanya menatap penuh selidik di tatapan mata adiknya.


Seketika Sarga melihat kearah depan dengan menundukkan kepalanya. Dirinya benar-benar takut saat ini.


Melihat adiknya yang ketakutan membuat Samuel merasa bersalah dan juga iba. Berlahan Samuel mengusap lembut kepala belakang adiknya itu.


Sarga seketika terkejut ketika merasakan sentuhan di kepala belakangnya. Dan ini untuk pertama kalinya kakaknya itu menyentuh kepalanya.


"Ada apa? Katakan pada kakak. Kakak nggak akan marah sama kamu."

__ADS_1


Seketika Sarga langsung mendongakkan kepalanya keatas. Dan kemudian, Sarga melihat kearah kakaknya itu. Tatapan matanya menatap kearah tepat ke manik hitam kakaknya itu. Terlihat kejujuran disana.


"Kakak benar-benar tidak akan marah sama kamu. Katakan kepada kakak jika kamu punya masalah."


Tes..


Air mata Sarga kembali jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan lembut dari kakak laki-laki kesayangannya.


"Katakan pada kakak. Ada apa?"


"Hiks... Kakak. Maafkan aku," ucap Sarga terisak.


"Minta maaf untuk apa? Apa kamu melakukan sesuatu yang buruk?"


"Aku... Aku memukuli teman sekelas aku hingga masuk rumah sakit."


Seketika mata Samuel terbelalak ketika mendengar pengakuan dari adiknya.


"Kenapa?"


"Aku nggak salah kak. Mereka yang salah duluan. Mereka setiap hari mencari masalah denganku. Aku sudah berusaha untuk menghindar. Aku sudah berusaha untuk sabar dan tidak terpancing setiap mereka mengusikku. Tapi rasa diamnya aku, rasa sabarnya aku tidak ada artinya dimata mereka. Dan pada akhirnya aku selalu membalas apa yang mereka lakukan padaku sehingga membuat aku sering berkelahi di sekolah."


Mendengar cerita sekaligus pengakuan dari Sarga adiknya membuat Samuel terkejut. Bukan hanya terkejut, Samuel juga merutuki kebodohannya karena selalu menyalahkan adiknya yang setiap hari pulang dalam keadaan wajah lebam.


"Apa yang membuat kamu sampai menghajar teman sekolah kamu itu sampai masuk rumah sakit?" tanya Samuel.


"Mereka menghina Mama dengan kata-kata yang tak seharusnya seorang pelajar ucapkan."


"Mereka bilang apa untuk Mama?" tanya Samuel yang saat sudah terlihat marah.


"Hiks... Mereka menyebut Nama sebagai perempuan murahan. Bahkan mereka juga mengatakan bahwa Mama yang telah mereka Papa dari istri pertamanya. Aku... Aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka katakan. Kenapa mereka berbicara tentang Mama... Hiks."


Grep..


Samuel menarik tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Hatinya benar-benar sakit melihat isak tangis adiknya. Apalagi ketika adiknya menceritakan tentang ibunya yang dihina oleh teman sekolahnya.


"Apa yang dilakukan oleh pihak sekolah ketika melihat kamu yang menghajar teman sekolah kamu itu?"


"Awalnya kepala sekolah hanya memberikanku hukum kecil yaitu toilet selama dua minggu karena kepala sekolah tahu alasanku melakukan itu. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Para orang tua yang anaknya aku hajar itu tidak terima. Dan mereka meminta kepala sekolah untuk mengeluarkan aku dari sekolah."


"Brengsek!" seketika Samuel marah ketika mendengar jawaban dari adiknya. "Lalu apa keputusan kepala sekolah?"


"Kepala sekolah mengatakan kepada para orang tua bahwa dia harus bertemu dulu dengan salah satu dari Papa, Mama, kak Sammy atau kak Muel."


Samuel melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan adiknya. Dan tak lupa Samuel menghapus air mata adiknya itu.


"Kamu nggak perlu khawatir. Kami sekolah seperti biasa. Nanti kakak yang akan datang ke sekolah kamu dan menyelesaikan masalah itu."


Mendengar perkataan dari kakaknya membuat Sarga langsung menatap tepat di manik hitam kakaknya.


"Be-benarkah kak?"


"Kenapa? Kamu nggak percaya?"


Sarga langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya percaya akan perkataan kakaknya itu.

__ADS_1


"Aku percaya."


Setelah mengatakan itu kepada adiknya. Dan setelah melihat adiknya yang mulai tenang. Samuel kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah adiknya.


__ADS_2