Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ucapan Kejam Darel


__ADS_3

Darel sudah berada di rumah, tepatnya di dalam kamar. Dirinya saat ini sedang istirahat karena tubuh benar-benar lelah akan kegiatannya di kampus.


Sementara untuk anggota keluarga Wilson berada di ruang tengah. Mereka berkumpul disana untuk sekedar merilekskan tubuh dan mengobrol menghabiskan waktu santai bersama anggota keluarga.


"Bagaimana hasil penyelidikan orang yang sudah meneror Darel?" tanya Arvind kepada adiknya Sandy dan William.


"Belum ada perkembangan apapun kak," jawab Sandy.


"Orang itu benar-benar lihai menyembunyikan identitasnya. Anak buahku sama sekali belum mendapatkan titik terangnya," sahut William.


Ketika Arvind dan anggota keluarga sedang membicarakan orang yang sudah menghubungi Darel, tiba-tiba mereka semua mendengar derab langkah kaki seseorang menuruni anak tangga sembari berbicara di telepon.


Mereka semua melihat keasal suara tersebut. Detik kemudian mereka semua tersenyum.


"Hahahaha. Apa lo pikir dengan lo berbicara seperti itu, gue bakal langsung percaya. Ih! Pede sekali lo. Woi! Jangan terlalu berharap."


"...."


"Yah, marah! Kenapa lo yang marah? Seharusnya gue yang marah sama lo. Pertama, lo udah seenaknya curi nomor gue. Kedua, lo seenaknya ganggu gue. Ketiga, lo seenaknya nelpon gue. Keempat, lo seenaknya ngarang cerita dan bilang kalau gue bukan putra kandung dari Arvind Wilson dan Adelina Wilson. Kelima, lo tuh bego nyerempet bodoh!"


"...."


"Kenapa? Mulut-mulut gue. Suka-suka gue mau ngomong apa. Lo aja nggak mikir sebelum ngomong. Lo juga nggak mikir perasaan orang. Kenapa gue harus mikir perasaan lo? Emangnya lo siapa?!"


Arvind, Adelina, ke 12 putra-putranya dan anggota keluarga Wilson lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan demi ucapan dari Darel yang sedang berbicara dengan lawannya di telepon. Mereka semua tidak menyangka jika Darel akan berbicara sekejam itu dengan orang yang menjadi lawan bicaranya di telepon.


"...."


"Kenapa gue harus takut sama manusia modelan lo bisanya hanya meneror orang dan berbicara seenaknya. Kalau lo punya nyali. Datangi gue. Ngomong di depan gue. Lo berani cuma di telepon doang. Banci lo."


"...."


"Apa perlu gue ulangi lagi. Gue nggak takut sama lo. Tunjuki wajah lo."


Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilan dari orang itu.


"Mengganggu saja."


Darel berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman kesukaannya. Sementara anggota keluarganya masih terus memperhatikan sembari tersenyum.


Darel sudah berada di dapur dan berdiri di depan kulkas. Kemudian tangannya menyentuh pintu kulkas lalu membukanya.


Setelah pintu kulkas terbuka, Darel mengambil minuman kesukaannya yaitu susu pisang. Darel mengambil langsung dua botol.


Darel melangkahkan kakinya menuju kamarnya setelah mendapatkan dua botol susu kesukaannya.

__ADS_1


Namun ketika kakinya hendak menginjak anak tangga pertama, terdengar suara deheman dari arah ruang tengah.


Darel langsung melihat keasal suara tersebut. Dan ternyata arah suara itu berada dari ruang tengah. Dan suara itu adalah suara ayahnya.


"Kemari dong sayang!" seru Arvind.


Mendengar seruan dari ayahnya membuat Darel langsung melangkahkan kakinya menghampiri ayahnya yang ada di ruang tengah.


^^^


Darel sudah duduk di samping ayahnya dengan posisi Darel bersandar di bahu ayahnya itu. Melihat hal tersebut membuat semuanya tersenyum terutama Arvind.


Arvind mengusap lembut kepala putranya lalu mencium keningnya. Dalam hatinya, Arvind berharap semuanya baik-baik saja.


"Bagaimana kuliah kamu, hum?"


"Berjalan lancar walau ada beberapa kecoak busuk yang selalu menggangguku," jawab Darel.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darel. Mereka tahu siapa yang dimaksud kecoak busuk oleh Darel.


"Apa kamu berhasil menghalau para kecoak busuk itu, hum?" tanya Arvind menggoda putra bungsunya.


"Berhasillah. Aku nggak akan diam saja jika kecoak busuk itu menggangguku."


"Papa kalau mau nanya. Nanya aja langsung. Nggak usah grogi gitu."


"Hahahaha." Evita seketika tertawa mendengar perkataan dari keponakannya itu.


"Papa kamu memang lagi grogi sayang. Coba kamu lihat sendiri wajah Papa kamu sekarang," sahut Evita menjahili kakak laki-lakinya.


Arvind yang melihat tingkah usik adik perempuannya seketika mendengus.


Darel sekilas melihat wajah ayahnya. Terlihat wajah ayahnya itu tengah kesal terhadap bibinya. Ditambah lagi akan ulahnya.


"Wajahnya Papa makin jelek kalau seperti itu. Dinormalisasikan sedikit wajah Papa. Pasti terlihat lebih tampan. Bahkan ketampanan Papa tak terkalahkan dengan ketampanan Paman Sandy, Paman William dan Paman Daksa."


Arvind seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari putra bungsunya. Sedangkan Sandy, William dan Daksa seketika merengut kesal. Mereka tidak terima jika ketampanan wajahnya kalah dengan ketampanan ayahnya.


Itu hanya bohong. Sandy, William dan Daksa tidak benar-benar marah terhadap Darel. Bagaimana pun mereka tahu watak Darel seperti apa. Dan mereka juga tahu kalau mereka memang seperti ini jika setiap berkumpul.


"Sayang, bagaimana dengan orang itu? Apa dia masih menghubungi kamu?" tanya Arvind yang berpura-pura tidak tahu.


Arvind sebenarnya sudah tahu karena beberapa menit yang lalu putranya habis selesai berbicara dengan orang itu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


Namun mereka semua pura-pura tidak mengetahui karena mereka tidak ingin membuat Darel tertekan.

__ADS_1


"Nggak jelas. Dia cuma berani menelpon saja. Dasar banci," jawab Darel.


"Apa yang dia bicarakan sama kamu?"


"Nggak banyak. Dia hanya ingin membuatku mempercayai semua kata-katanya," jawab Darel.


"Apa dia masih mengatakan hal itu pada kamu?" tanya Arvind.


"Apalagi rencananya kalau bukan ingin mengatakan itu berulang kali padaku. Sebelum rencananya berhasil, maka dia akan terus menghubungiku," jawab Darel.


Mendengar jawaban dari Darel membuat Arvind mengepal kuat tangannya. Dirinya benar-benar marah akan sikap orang itu yang masih terus menghubungi putra bungsunya.


Darel mengangkat kepalanya dari bahu ayahnya lalu menatap wajah tampan ayahnya itu.


"Papa tidak perlu khawatir. Selama Papa di sampingku dan tidak pergi meninggalkan aku. Selama itu pula semuanya akan baik-baik saja. Dan aku juga janji sama Papa. Aku tidak akan ninggalin Papa, aku akan baik-baik saja dan aku akan menjaga diri aku baik-baik selama diluar rumah. Cukup doa kan aku saja. Karena itu yang aku butuhkan."


Mendengar perkataan tulus dan bijak dari putra bungsunya, Arvind kemudian menarik tubuh putranya itu dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Papa bangga sama kamu. Papa sayang kamu. Papa akan selalu ada untuk kamu. Doa Papa selalu menyertaimu."


Darel tersenyum mendengar balasan dari ayahnya. Kemudian kedua tangannya melingkar ke pinggang ayahnya lalu memeluknya erat.


"Jangan pernah bosan untuk selalu menyayangiku."


"Tidak akan, sayang! Kamu putra Papa dan darah daging Papa. Tidak ada seorang ayah yang bosan menjaga anak-anaknya. Apalagi dia memiliki anak-anaknya yang baik, perhatian, penuh sayang, peduli, suka menolong dan murah hati. Hanya orang bodoh yang melepaskan anak-anaknya."


"Terima kasih, Pa!"


"Sama-sama, sayang! Papa menyayangi kamu. Sangat!"


"Papa lebih sayang mana? Aku atau kakak Raffa?" tanya Darel.


"Eh!" Raffa seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari adiknya itu.


Mendapatkan pertanyaan dari putra bungsunya membuat Arvind seketika membelalakkan matanya. Dirinya bingung harus menjawab pertanyaan dari putra bungsunya itu.


Darel melirik sekilas wajah ayahnya. Tanpa diketahui oleh ayahnya itu maupun kakak-kakaknya dan anggota keluarga Wilson lainnya. Darel tersenyum.


"Papa, ayo jawab!"


"Yak, Rel! Apa nggak ada pertanyaan lain selain pertanyaan itu, hah?!" teriak Raffa.


"Nggak ada. Lagian aku memberikan pertanyaan itu kepada Papa hanya semata-mata untuk melihat sebesar apa Papa menyayangiku dan sebesar apa Papa menyayangi kakak Raffa. Aku nggak mau disama ratakan. Aku kan putra bungsu di keluarga Wilson. Jadi aku yang harus diprioritaskan sama Papa."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat Raffa membelalakkan matanya tak percaya. Sementara anggota keluarganya sudah tersenyum geli ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel.

__ADS_1


__ADS_2