Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Kepergian Darel


__ADS_3

Mobil yang di bawah Dirga sudah berada di depan rumah sakit.


"Kita sudah sampai. Ayo, buruan bawa Darel ke dalam!" teriak Dirga yang saat ini benar-benar panik dan juga takut.


Marcel sudah berlari masuk ke dalam rumah sakit dan berteriak memanggil Dokter dan juga suster.


Davian mengangkat tubuh Darel dan dibantu oleh Arga, Elvan dan Ghali. Sedangkan Nevan sudah berada di luar.


Darel sudah dibaringkan di atas brankar. Dan kini brankar tersebut di dorong menuju ruang operasi. Mereka menangis menatap wajah pucat sang adik.


"Darel," lirih mereka semua.


"Lebih baik kalian tunggu di luar!" seru salah satu perawat.


"Paman Fayyadh. Tolong selamatkan Darel. Selamatkan adikku." Davian berbicara sembari memohon kepada Dokter Fayyadh. Begitu juga dengan adik-adik.


"Paman akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Darel. Bantu Paman dengan doa kalian semua."


Mereka semuanya mengangguk. Lalu Dokter Fayyadh pun masuk ke dalam ruang operasi itu.


"Hiks... Darel. Kakak mohon jangan pergi. Kembalilah pada kami. Bertahanlah untuk kami," lirih Davian.


"Tuhan. Aku mohon. Jangan ambil adikku. Biarkan adikku hidup lebih lama lagi di dunia ini. Biarkan adikku merasakan kebahagiaan terlebih dahulu." Nevan berdoa di dalam hatinya. Nevan menangis.


"Tuhan. Selamatkan adik kami. Jangan ambil dia dari kami," doa Ghali.


"Tuhan. Kami menyayanginya. Jangan ambil dia dari kami," doa Elvan, Andre dan Arga.


"Tuhan. Selamatkan adik sepupuku. Jangan ambil adikku. Dia adik yang baik dan manis," doa Naufal dan adik-adiknya.


"Tuhan. Jangan ambil adikku," doa Steven dan adik-adiknya.


"Bertahanlah, Rel." Dirga dan Marcel membatin.


"Kami mohon bertahanlah, Darel. Kita baru saja bertemu. Jangan ada perpisahan lagi," batin Farraz, Deon, Keenan, Tristan dan Dylan.


"Darel, sayang. Bibi mohon. Bertahanlah. Jangan tinggalkan kami," lirih Salma.


"Bibi menyayangimu, Nak! Bertahanlah, sayang." Evita sudah menangis. Dirinya benar-benar takut akan keadaan keponakan manisnya.


Salma mengambil ponselnya. Lalu menghubungi Adelina, sang kakak.


***


Saat ini Raffa sudah di ruang rawatnya. Raffa masih belum sadar akibat obat bius setelah melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan peluru dari pahanya.


Namun tiba-tiba...


"Darel!" teriak Raffa.


Raffa seketika bangun dari tidurnya dan langsung mendudukkan tubuhnya. Jangan lupa keringat yang bercucuran membasahi wajahnya dan juga tubuhnya yang bergetar.


"Raffa." Adelina, Daffa, Vano, Alvaro, Axel dan Evan tampak khawatir.


"Sayang. Ada apa, Nak?"


"Hiks... Mama. Darel... Darel... Hiks."


"Sayang. Darel baik-baik saja." Adelina berusaha menghibur putranya itu.


"Tidak, Ma. Aku punya firasat buruk. Terjadi sesuatu di rumah. Darel... Hiks." Raffa makin terisak.


"Kakak akan telepon Papa," ucap Vano.

__ADS_1


Saat Vano ingin menekan nama Ayahnya. Ponsel milik Adelina, ibunya berbunyi.


"Ma. Itu ponsel Mama," ujar Evan.


"Ya, sayang." Adelina mengambil ponselnya. Dan dapat dilihat nama 'Salma' di layar ponselnya.


"Siapa, Ma?" tanya Alvaro.


"Bibi Salma." Adelina langsung menjawab panggilan dari adiknya itu.


"Hallo, Salma. Ada apa?"


"Hiks... Kak Adelina... Hiks."


"Salma. Kau kenapa? Ada apa? Kenapa kau menangis?"


"Kak. Darel... Hiks."


"Darel? Salma, ada apa dengan Darel? Kenapa dengan putra bungsuku, Salma?"


"Mathew. Mathew menembak Darel. Dan saat ini Darel berada di ruang operasi. Kondisinya sangat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Saat perjalanan ke rumah sakit, Darel sudah kehilangan kesadarannya."


"Tidak! Tidak! Darel... Hiks!"


BRUUKKK!


PRAANNGG!


Adelina jatuh terduduk di lantai dengan ponselnya yang sudah hancur di lantai.


"Mama. Katakan pada kami. Ada apa?" tanya Daffa.


"Jangan diam saja, Ma. Katakan pada kami. Ada apa dengan Darel?" tanya Axel.


"Apa? Da-dareeell!" teriak histeris mereka.


"Hiks... Mama, Kakak. Bawa aku bertemu Darel. Aku mohon... Hiks." Raffa benar-benar tidak kuasa menahan tangisnya.


Mereka pun pergi menuju ruang Operasi. Mereka saat ini benar-benar khawatir terhadap kesayangan mereka.


"Darel," lirih mereka.


***


Di kediaman keluarga Wilson. Arvind, Sandy, William dan juga Daksa tiada hentinya memberikan pukulan dan tendangan pada Mathew. Baik mereka melakukannya sendiri maupun mereka melakukan secara bersama-sama. Mereka mengeluarkan semua amarah dan dendam mereka terhadap Mathew. Tiada ada ampun dari mereka untuk seorang Mathew, terutama Arvind.


BUGH!


DUAGH?


"Aaakkkhhhh!"


Tubuh terikat Mathew tersungkur di lantai. Banyak darah yang keluar dari mulut dan tubuhnya.


"Lebih baik kalian bunuh aku sekarang. Jangan menyiksaku seperti ini, Brengsek!" teriak Mathew.


"Membunuhmu itu sangat mudah. Tapi itu kurang menyenangkan bagi kami kalau tidak menyiksamu terlebih dahulu, Mathew." Arvind berbicara dengan tatapan amarahnya.


SREETTT!


Arvind menginjak leher Mathew dengan sangat amat kuat. "Apakah seperti ini kau membunuh Papaku, hum?"


"Aaakkkhhhh!" Mathew berteriak merasakan sakit yang teramat di lehernya. "Bunuh aku brengsek!" lirih Mathew.

__ADS_1


"Tenang saja. Permintaanmu itu pasti akan aku kabulkan. Tapi sebelumnya aku ingin bermain-main denganmu terlebih dahulu," jawab Arvind.


"Kau tidak akan pernah merasakan indahnya dunia ini lagi, Mathew." Sandy berucap.


"Kau harus mati," ucap Daksa.


"Walau bukan ditangan kami. Tapi pengadilan yang akan memberikan hukuman mati untukmu," sela William.


"Tapi semua itu tunggu kabar dari salah satu anggota keluargaku. Aku ingin memastikan bagaimana keadaan putra bungsuku? Kalau putra bungsuku selamat. Kami akan hentikan penyiksaan ini dan menyerahkanmu ke polisi. Tapi jika putra bungsuku tidak selamat, maka kau akan mati ditanganku. Bahkan ditangan putra-putraku yang lainnya, terutama Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga. Keenam putraku itu sangat-sangat emosional sama sepertiku. Bisa saja mereka menghabisimu hari ini juga karena sudah melukai kesayangan mereka." Arvind berbicara dengan matanya yang masih menata tajam pada Mathew yang sudah luka parah dan tidak berdaya dalam ikatannya.


Sedangkan Agatha juga dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja setelah mendapatkan perlakuan buruk dari William.


***


Davian dan adik-adiknya, para saudara sepupunya beserta sang Bibi yaitu Salma dan Evita tak henti-hentinya berdoa pada Tuhan untuk keselamatan adik dan keponakan manis mereka. Mereka semua menangis. Mereka semua tampak kacau, takut, panik dan khawatir. Mereka menginginkan kesayangan mereka selamat dan baik-baik saja.


"Davian," panggil Adelina dengan suara serak dari jauh.


Baik Davian maupun yang lainnya melihat kearah Adelina. Dimana Adelina dan keenam putranya sedang menuju kearah mereka.


GREP!


"Kakak." Salma memeluk erat tubuh kakak perempuannya.


Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga sangat terpukul atas apa yang telah terjadi pada adik manis mereka. Mereka ada disana. Tapi mereka gagal melindungi sang adik. Dengan kata lain, mereka tidak melindungi adik mereka dengan baik. Lagi-lagi mereka kecolongan. Lagi-lagi mereka harus melihat adik manis mereka merasakan kesakitan dan berujung masuk ke rumah sakit. Mereka berharap, sangat-sangat berharap adik manis mereka mau bertahan.


Adelina yang melihat kondisi keenam putra, terutama putra tertuanya yang tampak kacau menjadi tidak tega.


Adelina melangkah menghampiri keenam putra-putranya itu. Begitu juga dengan Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa.


GREP!


Adelina memeluk putra sulungnya. Adelina sangat mengerti akan kondisi putranya itu. Sebagai kakak tertua, Davian pasti menyalahkan dirinya sendiri karena telah gagal melindungi kedua adiknya, terutama adik bungsunya. Apalagi tanggung jawabnya sebagai yang tertua untuk menjaga ke 12 adik-adiknya.


"Hiks... Hiks." Davian terisak di pelukan ibunya. Adelina dengan lembut mengusap punggung putra sulungnya itu dan sesekali mencium pucuk kepalanya.


"Aku gagal melindungi adik-adikku, Ma! Raffa ditembak. Dan sekarang Darel. Bahkan saat Darel dibawa ke rumah sakit, keadaan Darel tidak baik-baik saja. Bahkan Darel bilang kalau Darel mengantuk dan ingin tidur. Dan setelah Darel mengatakan hal itu, Darel tidak bernafas sama sekali. Aku benar-benar takut, Ma... Hiks." Davian mengadu kepada ibunya.


Tubuh Adelina langsung menegang saat mendengar penuturan dari putra sulungnya itu. Jujur dalam hati Adelina, saat ini dirinya juga benar-benar takut terjadi sesuatu pada putra bungsunya. Tapi Adelina berusaha menepis rasa takutnya itu. Adelina yakin putra bungsunya akan bangun, putra bungsunya akan membuka matanya dan Adelina yakin putra bungsunya itu kuat.


CKLEK!


Terdengar pintu ruang operasi di buka. Mereka tidak menyadari bahwa operasi telah selesai. Mereka semua mengalihkan pandangannya melihat kearah Dokter tersebut. Dokter tersebut adalah Dokter Fayyadh yang tak lain adalah sahabat dari Arvind Wilson.


Adelina dan ke 12 putranya menghampiri Dokter Fayyadh. Begitu juga yang lainnya.


"Bagaimana keadaan Darel, Fayyadh?" tanya Adelina.


Dokter Fayyadh tersebut tidak langsung menjawab. Dirinya juga tampak kacau. Terlihat dari wajahnya yang kusut, mata yang memerah dan juga sembab. Mereka dapat melihat hal itu.


"Paman Fayyadh, jawab. Bagaimana Darel?" teriak Davian.


"Katakan pada kami. Bagaimana  Darel?!" Nevan juga berteriak.


"Paman minta maaf pada kalian semuanya. Pa-paman... Paman gagal mengembalikan detak jantung Darel. Saat operasi dilakukan sampai operasi selesai. Darel sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Paman sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan detak jantungnya. Tapi Darel lebih memilih menyerah. Darel sudah pergi untuk selamanya."


"Tidak. Itu tidak mungkin. Adikku tidak akan mungkin pergi meninggalkanku. Paman jangan bohong!" bentak Davian sambil menarik kerah Dokter Fayyadh.


"Hiks... Kakak Davian. Lepaskan Paman Fayyadh. Jangan seperti ini Kak. Aku mohon," isak Raffa yang sudah memeluk tubuh Kakaknya, walau keadaannya saat ini tengah duduk di kursi roda.


Davian langsung melepaskan tangannya dari kerah baju Dokter Fayyadh.


"Darel... Hiks." mereka semua menangis.

__ADS_1


"AARRRGGHHH!" teriak Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga. Mereka menendang dan memukul apapun benda yang ada di hadapan mereka.


__ADS_2