Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kekesalan Darel Terhadap Para Kakaknya


__ADS_3

Setelah 2 jam berada di kelas, kini Darel sedang berjalan menyusuri koridor Kampus. Dirinya sedari tadi mutar-mutar mencari letak perpustakaan. Lima belas menit Darel mengelilingi luasnya Kampus, akhirnya Darel memilih untuk menyerah. Darel memutuskan untuk menuju Kantin. Dirinya sudah benar-benar haus. Tenggorokannya terasa kering. Ditambah lagi ponselnya yang tak berhenti berbunyi.


"Aish. Dimana sih letak perpustakaannya?" tanya Darel sambil terus melangkah menuju kantin.


Sebenarnya Darel ingin bertanya pada salah satu mahasiswa atau mahasiswi yang dia temui. Namun karena rasa malunya dan juga dirinya yang masih belum mau dan belum siap untuk mencari seorang teman sehingga membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Disisi lain dan ditempat yang sama, terlihat seorang pemuda tampan yang sedang buru-buru menuju kantor Dekan. Pemuda itu sudah membuat janji pada Dekan agar menemuinya sekitar pukul 9 pagi. Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, berarti pemuda itu sudah terlambat satu jam.


Pemuda itu terus berjalan menyusuri koridor Kampus dengan terburu-buru tanpa mempedulikan orang-orang yang ditabraknya. Baginya saat ini adalah dirinya ingin segera bertemu dengan Dekan yang tak lain adalah Ayahnya Davi Ramero, adik laki-laki dari Ditto Ramero ayahnya Azri Ramero.


Saat tiba di persimpangan, pemuda itu berbelok kearah kiri. Namun disisi lain Darel yang melangkah dan ingin berbelok kearah kanan. Lalu terjadi kecelakaan yang tak terduga.


BUGH..


BRUUKK.. BRUUKK


"Aakkhhh!" tingis keduanya. Mereka sama-sama merasakan sakit di bagian pantat mereka.


"Kalau jalan itu pakai mata bukan pakai dengkul!" bentak pemuda itu.


"Kenapa kau yang marah-marah? Disini kau juga salah. Kau jalan buru-buru kayak dikejar setan. Makanya jalan itu yang benar. Kalau perlu lepaskan kaca mata hitammu itu biar kelihatan jelas jalannya. Nggak main seruduk aja kayak badak," balas Darel kesal.


Mendengar penuturan dari Darel membuat pemuda itu kesal. Pemuda itu menatap tak suka kearah Darel. Setelah itu, pemuda itu langsung pergi meninggalkan Darel sendirian untuk menuju ruang Dekan.


Darel berusaha untuk berdiri, walau merasakan sakit di pantatnya. Saat Darel sudah berdiri, dirinya tidak melihat pemuda itu.


"Aish. Dasar manusia aneh. Ke kampus pakai kaca mata hitam. Memangnya dia mau bertamasya disini," gumam Darel.


Setelah itu, Darel kembali melangkahkan kakinya menuju kantin.


^^^


Kini pemuda tersebut sudah sampai di depan ruang Dekan. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda tersebut langsung mengetuk pintu itu.


TOK.. TOK.. TOK


CKLEK..


Pemuda itu langsung masuk kedalam dan tak lupa menutup pintu itu.


"Kau terlambat, Samuel Ramero!"


"Maafkan aku, Pa!"


"Duduklah."


Samuel pun duduk. Mereka duduk di sofa.


"Ada apa, Pa? Kenapa Papa tiba-tiba saja menyuruhku pulang ke Jerman?"


"Kau pasti sudah tahu tentang kejadian yang menimpa Azri, Kakak sepupumu? Dan juga kau pasti sudah tahu tentang sahabat-sahabatnya?" tanya Davi pada anak keduanya.


"Iya, Pa! Aku sudah tahu. Paman Ditto  dan Bibi Carola sudah memberitahuku semuanya," jawab Samuel.


"Sekarang tugasmu adalah jadilah teman dekatnya, sahabatnya, saudaranya. Dekati dia, hibur dia. Semenjak kejadian itu, dia sangat tertekan dan selalu merindukan ketujuh sahabat-sahabatnya. Kondisi kesehatan sering menurun. Hari ini adalah hari pertama dia masuk kuliah. Seharusnya tujuh hari yang lalu sebelum kejadian itu, mereka masuk kuliah bersama."


"Baiklah, Pa! Aku akan melakukannya. Demi kak Azri dan sahabat-sahabatnya."


"Papa percaya. Kau pasti bisa mendekatinya dan menjalin hubungan persahabatan dengannya. Papa dengar semenjak kejadian itu, dia menutup diri dari orang-orang yang ingin menjadi temannya. Dia pemuda yang baik. Dan dia juga berasal dari keluarga yang terpandang dan juga terhormat. Seluruh anggota keluarganya sangat amat menyayanginya dan juga menjaganya dengan ketat."

__ADS_1


"Baik, Pa."


"Mulai besok kau akan kuliah disini. Dan kau akan sekelas dengannya."


"Oh iya. Siapa namanya, Pa!"


"Untuk namanya, Papa tidak akan memberitahumu. Kau cari tahu sendiri, karena itu adalah tugasmu."


"Aish, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."


"Ya, sudah. Hati-hati di jalan."


"Hm.."


Setelah mengatakan hal itu, Samuel pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun beberapa detik kemudian, langkahnya terhenti.


"Samuel!"


"Iya, Pa!"


"Papa minta padamu. Jangan terlalu ketus dan selalu bersikap dingin terhadap adikmu. Bagaimana dia adikmu. Selama kau di luar negeri. Adikmu begitu merindukanmu. Dan Papa tahu kau paling tidak suka melihat adikmu pulang dalam keadaan wajah yang memar. Siapa tahu adikmu benar bahwa dia berkelahi untuk membela diri." Davi berucap lembut sembari menasehati putra keduanya itu.


Davi tahu bagaimana hubungan putra keduanya dengan putra bungsunya. Hubungan kedua putranya itu sedikit renggang. Lebih tepatnya, putra keduanya itu yang kurang perhatian lagi terhadap putra bungsunya.


"Ingat, Samuel! Adikmu itu tidak mengetahui bahwa kau dan dia berbeda ibu. Tapi kalian berdua memiliki ayah yang sama. Jangan sakiti adikmu dengan kenyataan bahwa kalian beda ibu. Jika adikmu mengetahui hal itu, dia pasti akan terluka. Bukan hanya adikmu saja yang akan terluka. Ibumu juga akan ikut terluka. Walau dia bukan ibu kandungmu, tapi dia yang sudah menjaga dan merawatmu dan kakakmu sejak kecil. Dan Papa juga tahu bahwa sampai detik ini kamu belum sepenuhnya menerima dia sebagai ibumu. Tapi Papa berterima kasih padamu karena kamu bersedia memanggilnya dengan sebutan Mama."


Mendengar ucapan demi ucapan dari ayahnya membuat Samuel hanya diam di tempat. Hatinya bergetar dan merasakan kesedihan ketika mendengar perkataan ayahnya itu.


Sejujurnya Samuel sudah menerima kehadiran ibu barunya itu. Bahkan Samuel juga begitu menyayanginya. Begitu juga dengan adiknya. Samuel juga sangat menyayangi adiknya itu. Hanya saja, Samuel tidak memperlihatkan rasa sayang dan rasa pedulinya terhadap ibu dan adiknya itu.


^^^


"Kau sudah menghubungi Darel, Raf?" tanya Melvin.


"Sudah. Katanya sepuluh menit lagi Darel kesini," jawab Raffa.


"Aku sudah tidak sabar mendengar ceritanya Darel dihari pertamanya kuliah!" seru Dylan.


"Iya. Aku juga," ujar Aldan.


"Apalagi aku," kata Rendra.


Sedangkan Evan dan Raffa hanya tersenyum mendengar ucapan dari ketiga sepupunya itu. Begitu juga dengan Melvin.


"Nah, itu Darel! seru Melvin sembari menunjuk kearah Darel yang melangkah menuju kantin.


"Eh, tunggu dulu! Kenapa Darel jalannya seperti itu?" tanya Dylan.


"Darel jalannya sambil mengelus-elus pantatnya," ucap Rendra.


Melihat sang adik sepertinya sedang kesakitan, mereka semua pun berdiri dan menghampiri adik mereka.


"Darel!"


Darel yang dipanggil pun langsung melihat kearah para kakaknya.


"Kakak."


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


Darel merengut dengan bibir yang dimanyunkan. Hal itu sukses membuat mereka semua tersenyum.


"Kakak. Bawa aku kesana dan biarkan aku duduk dulu. Ini benar-benar sakit," adu Darel yang tangannya masih mengelus-elus pantatnya akibat mencium lantai.


"Hehehe." mereka semua terkekeh. Lalu Evan membatu Darel untuk duduk dibangku yang ada di kantin.


Mereka kini telah duduk di bangku, lengkap dengan pesanan di atas meja.


"Sekarang ceritakan pada kakak. Apa yang terjadi?" tanya Evan.


"Tadi aku bertemu manusia aneh," jawab Darel asal


"Manusia aneh!" ulang mereka secara bersamaan.


"Maksud kamu?" tanya Melvin bingung.


"Iya, orang aneh. Dia jalan buru-buru kayak dikejar setan. Pakai kaca mata hitam lagi. Lalu nyeruduk aku. Kebetulan dia belok kiri dan aku belok kanan. Jadi kita sama-sama jatuh dan pantat kita masing-masing mendarat dan mencium lantai. Sakit tahu." Darel menceritakan kejadian ketika dirinya bertabrakan dengan seorang pemuda hingga berakhir terjatuh dengan bibir yang dimanyunkan.


Mereka yang mendengar cerita Darel, berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Bisa kacau urusannya jika sampai tertawa. Tapi sayangnya, Darel melihat hal itu.


"Tukan!! Aku sudah cerita kalian malah menertawaiku," ucap Darel dengan bibir yang makin dimanyunkan.


Mereka semua kelabakan saat mendengar ucapan dari Darel.


"Matilah kau, Raf! Si anak kelinci sebentar lagi ngamuk," batin Raffa.


"Mati saja kau, Evan! Siap-siap kena amukan atau diabaikan," batin Evan.


"Eng... enggak, Kok. Kita tidak menertawai kamu. Iyakan, Ren?" ucap dan tanya Melvin gugup.


"I.. iya, Rel. Itu benar. Kita tidak menertawai kamu, kok!" Dylan menjawab perkataan dari Melvin.


"Iya, Rek. Kita tidak menertawai kamu. Sumpah!" seru Rendra.


"Kita tadi tuh melihat seseorang yang barusan lewat. Orang itu pakaiannya sedikit robek di belakang. Itu yang membuat kita menahan tawa biar orang itu tidak dengar," kata Aldan.


"Ach, iya! Itu benar, Rel!" jawab Dylan, Melvin dan Rendra bersamaan.


"Aku tidak percaya. Mana ada orang lewat. Kalian bohong," sahut Darel.


"Enggak, Rel!" jawab mereka kompak, termasuk Evan dan Raffa.


"Ach, bodo!" Darel menjawabnya masa bodoh dan acuh.


Setelah mengatakan hal itu, Darel berdiri dan langsung pergi meninggalkan para kakaknya.


"Rel, kamu mau kemana?" tanya Raffa.


"Ke kelas!" jawab Darel berteriak tanpa membalikkan badannya.


"Tapi kamu belum makan!" teriak Evan.


"Bodo!" teriak Darel.


"Mampus," ucap Evan.


"Habislah kita," ucap Raffa.


"Siap-siap saja kena ceramah rohani dari para kakak-kakak kita di rumah," ucap Rendra dan Melvin.

__ADS_1


"Dan persiapan mental saat sikelinci nakal itu mengabaikan kita," ucap Dylan dan Aldan.


__ADS_2