Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Keterkejutan Para Sahabat Darel


__ADS_3

Kesembilan sahabat-sahabat Darel masih di rumah Darel. Mereka masih setia menemani Darel. Mereka sudah memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama-sama. Dan mereka akan pulang sekitar pukul 5 sore.


"Rel," panggil Kenzo.


"Apa?" jawab Darel.


"Boleh nanya nggak?" tanya Kenzo.


"Kamu mau nanya apa?" tanya Darel balik.


"Saat kamu tahu tentang kelima sahabat kita yang masih hidup. Terus kamu yang katanya mau pulang ternyata kamu nggak pulang. Kalau aku boleh tahu. Apa yang terjadi setelah itu?"


Kenzo berbicara dan bertanya dengan tatapan matanya menatap wajah Darel. Begitu juga Gavin dan yang lainnya. Mereka berharap Darel mau bercerita kepada mereka semua.


Mereka juga dapat melihat wajah Darel yang sedikit pucat.


Darel menatap wajah-wajah sahabat-sahabatnya. Dapat Darel lihat, sahabat-sahabatnya itu menatap dirinya dengan tatapan memohon dan juga berharap.


"Aku memutuskan untuk menginap di sebuah hotel, karena saat itu aku benar-benar marah terhadap keluargaku yang telah menyembunyikan tentang kelima sahabat-sahabat kita. Aku bahkan mematikan ponselku agar mereka semua tidak bisa menghubungiku. Apalagi sampai melacakku."


"Lalu?" tanya Gavin.


"Keesokkan paginya ketika aku bangun dari tidurku. Ketiga kakak tertuaku sudah berada di dalam kamar hotel. Mereka berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya. Tapi aku sama sekali tidak mau mendengarkan apapun alasan dari mereka. Bagiku apapun yang mereka jelaskan padaku. Pasti ujung-ujungnya mereka akan membahas masalah kesehatanku. Aku sudah bosan mendengarkan alasan itu terus menerus."


Darel menangis ketika membayangkan kejadian di hotel itu. Rasa kecewa dan juga marah dirinya terhadap keluarganya.


"Bahkan ketiga kakakku berusaha membujukku untuk pulang. Tapi aku tidak mau. Aku mengatakan pada mereka bahwa aku tidak akan pernah kembali lagi ke rumah. Dan memutuskan untuk tinggal sendiri. Mendengar perkataan dariku membuat ketiga kakakku marah. Dan berakhir aku dan ketiga kakakku, terutama kak Davian perang mulut. Aku melawan semua perkataan kak Davian. Dan aku sama sekali tidak mendengarkan perkataannya.


"Mendengar semua perkataanku membuat kak Davian kelepasan."


"Maksud kamu?" tanya Kenzo.


"Kak Davian menamparku," jawab Darel.


Mendengar jawaban dari Darel membuat Kenzo dan Gavin terkejut. Begitu juga dengan Samuel, Juan, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon.


"Setelah tiba di rumah. Aku sama sekali tidak menyapa semua anggota keluargaku. Aku lebih memilih mengurung diri di kamar. Melihat aku hanya mengurung diri di kamar tanpa mau menyapa semua anggota keluargaku membuat semua anggota keluargaku menjadi sedih, terutama Papa dan Mama. Mereka yang paling terpukul disini akan sikapku."


"Apa yang terjadi? Aku yakin mereka tidak akan tinggal diam melihat kamu yang tidak menyapa mereka?" tanya Gavin.


"Mereka berusaha untuk terus membujukku dan berusaha untuk menjelaskan semuanya padaku. Tapi aku tetap saja tidak mempedulikan mereka semua. Dan pada akhirnya, kakak Raffa menarik earphone milikku dan merusaknya. Melihat apa yang dilakukan oleh kakak Raffa membuat aku marah sehingga aku dengan kalapnya memukul wajah kakak Raffa. Bahkan aku mengatakan bahwa kakak Raffa bukan kakakku. Dan aku bukan adiknya. Mendengar ucapan dariku membuat kak Andre menamparku."


"Apa?"


Kenzo dan Gavin benar-benar terkejut ketika mendengar cerita dari Darel. Mereka tidak menyangka jika Darel akan mendapatkan dua tamparan dari kedua kakak yang begitu dihormatinya. Bahkan ini adalah tamparan pertama yang diterima Darel selama hidupnya.


Baik Gavin maupun Kenzo. Keduanya tahu bahwa selama ini baik kedua orang Darel dan semua kakak-kakaknya Darel tidak pernah bersikap kasar kepada Darel. Jangan bersikap kasar, membentak dan memukul pun tak pernah. Tapi ini apa? Darel mendapatkan dua tamparan dari kedua kakaknya.


"Apa kamu marah dan dendam terhadap kedua kakak kamu itu, Rel?" tanya Samuel.


Darel menatap Samuel, lalu tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Samuel.


"Tidak, Samuel! Aku sama sekali tidak marah apalagi dendam terhadap kedua kakakku itu. Disini aku yang salah. Seharusnya aku tidak berbicara seperti kepada kakak Davian dan kakak Raffa. Ditambah lagi, selama ini aku tidak pernah berkata kasar kepada mereka. Aku selalu menghormati mereka semua. Ini adalah untuk pertama kalinya aku berkata kasar kepada mereka sehingga membuat mereka terkejut dan syok. Jadi aku memakluminya."


Mendengar jawaban bijak dari Darel membuat Samuel dan yang lainnya tersenyum bangga terhadap Darel, terutama Kenzo dan Gavin. Mereka berdua yang paling tahu sifat dan karakter Darel yang sesungguhnya. Darel itu pemuda yang baik, sopan dan penyayang. Darel bukanlah tipe orang yang pendendam.


"Rel," panggil Juan.


"Hm." Darel berdehem.

__ADS_1


"Aku dengar dari Kenzo dan Gavin. Kalau kau pernah..." Juan terpotong.


Mengerti akan pertanyaan dari Juan. Darel tersenyum menatap wajah Juan.


"Iya, Juan. Saat itu aku terkena tembakan dari Paman Mathew, adik sepupunya Papa. Saat kejadian itu, aku benar-benar dinyatakan sudah tidak bernyawa lagi. Ketika aku dinyatakan meninggal. Aku berada di tempat yang sangat indah. Dan di sana juga aku bertemu dengan Kakek, Nenek dan Bibi Kayana. Awalnya aku nggak mau balik. Namun ketika melihat keluargaku menangisiku, akhirnya aku pun kembali."


Mendengar jawaban dari Darel membuat Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon menatap Darel sedih. Mereka semua tidak menyangka akan kehidupan Darel selama ini.


Disatu sisi Darel adalah pemuda yang kuat, tangguh, ceria, jahil, tukang ngumpat, penyayang dan lembut.


Namun disisi lain, Darel hanyalah pemuda yang begitu rapuh yang kapan pun bisa jatuh pada titik terdalamnya. Jadi wajar saja jika Darel begitu dimanja, disayang dan dijaga super ketat oleh anggota keluarganya. Darel sangat berbeda denga kakak-kakaknya.


Inilah alasan kenapa Kenzo, Gavin, Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel begitu menyayangi Darel dan peduli dengannya. Darel pemuda yang sangat baik, peduli dan juga penyayang.


"Kita bangga sama kamu, Rel!" seru Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon.


Mendengar ucapan dari ketujuh sahabat barunya membuat Jungkook tersenyum.


"Aku juga bangga sama kalian. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku, Kenzo dan Gavin."


Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kecuali Charlie dan Devon yang memang sepupu mereka


Ketika mereka tengah asyik mengobrol, bercanda dan tertawa, tiba-tiba Darel mengerang kesakitan di kepalanya.


"Aarrgghhh!"


"Darel!" teriak mereka ketika mendengar Darel mengerang kesakitan sembari meremat rambutnya.


Mereka semua mengerubungi Darel. Tampak gurat khawatir di wajah mereka masing-masing. Kenzo dan Gavin menangis. Mereka kembali melihat Darel kesakitan.


"Rel... Hiks. Kamu kenapa?" Kenzo menarik tangan Darel yang saat ini menarik rambutnya.


Melihat Darel yang tiba-tiba mengerang kesakitan membuat Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon juga ikut menangis. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat sisi rapuh Darel.


^^^


Kini Razig sudah berada di bawah. Dan Razig pun langsung berteriak memanggil kedua orang tuanya Darel yang saat ini sedang berkumpul di ruang tengah bersama anggota keluarga lainnya. Mereka sedang merencanakan untuk mendapatkan penawar tanpa ada yang berkorban.


"Paman, Bibi!" panggil Razig.


Baik Arvind, Adelina maupun anggota keluarga lainnya melihat kearah Razig. Dan dapat dilihat oleh mereka semua wajah Razig yang tampak khawatir dan juga takut. Mereka semua berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Razig.


"Ada apa sayang?" tanya Adelina.


"Darel, Bi! Darel tiba-tiba mengerang kesakitan sambil meremat rambutnya," jawab Razig.


"Apa?"


"Darel!"


Mereka semua langsung berlari menuju kamar Darel. Mereka khawatir dan juga takut jika terjadi sesuatu terhadap Darel.


^^^


Setelah tiba di depan pintu kamar Darel. Mereka masuk begitu saja sambil berteriak memanggil nama Darel.


"Darel!"


Arvind dan Adelina sudah berada di dekat Darel. Keduanya sudah menangis ketika melihat putra bungsunya kesakitan.

__ADS_1


"Sayang. Ini Mama, Nak! Lepaskan rambutnya. Jangan ditarik." Adelina berlahan melepaskan tangan putranya dari rambutnya. Dan dibantu oleh Nevan.


"Lepaskan Rel," ucap Nevan.


"Sa-sakit... Hiks," isak Darel.


"Paman Arvind. Apa perlu aku telepon Papa dan meminta Papa kesini?" tanya Kenzo.


Arvind menatap wajah Kenzo, lalu tangannya mengusap lembut wajah Kenzo. "Boleh sayang. Tolong hubungi Papa kamu ya."


"Baik, Paman!"


Kenzo langsung menghubungi ayahnya dan meminta ayahnya untuk datang ke kediaman utama keluarga Wilson.


"Papa... Mama... Hiks... Sa-sakit," ucap Darel disertai dengan isakannya.


Arvind berlahan menarik pelan tubuh putra bungsunya dan membawanya ke dalam pelukannya. Arvind benar-benar hancur saat ini melihat putranya kesakitan.


"Papa. Apa sakit di kepalanya Darel akibat dari reaksi obat itu?" tanya Evan dengan tatapan matanya menatap kearah adik kesayangannya.


"Papa juga tidak tahu Evan. Papa berharap tidak. Mungkin saja sakit di kepala Darel itu efek dari geger otak ringan yang dialami Darel," jawab Arvind.


"Semoga saja Pa!" jawab jawab mereka semua.


"Paman Arvind," panggil Gavin.


"Iya, sayang! Ada apa, hum?"


"Apa maksud dari pertanyaan kakak Evan tentang reaksi obat? Sebenarnya apa yang terjadi Paman?" tanya Gavin.


Arvind, Adelina dan semua anggota keluarga Wilson melihat kearah sahabat-sahabatnya Darel. Tampak jelas gurat khawatir di wajah masing-masing.


"Ada orang yang berniat jahat dengan keluarga Paman. Salah satunya terhadap Paman. Orang menyerang Paman dengan menggunakan titik kelemahan Paman. Kalian tahukan apa yang menjadi titik kelemahan Paman?" ucap dan tanya Arvind dengan matanya menatap Kenzo dan Gavin.


Kenzo dan Gavin melihat kearah Darel. "Darel," keduanya menjawab bersamaan.


"Ya, kalian benar! Darel adalah kelemahan terbesar Paman. Darel berbeda dengan semua kakak-kakaknya. Darel lahir prematur dengan kondisi lemah. Dari kecil Darel sering sakit-sakitan. Sakitnya Darel bukan sakit parah. Hanya saja imunnya yang rendah. Kami semua sangat menjaganya dengan sangat hati-hati. Sampai saat ini."


"Apa yang dilakukan oleh orang itu pada Darel, Paman?" tanya Charlie.


"Ketika Darel mengetahui masalah kelima sahabat-sahabat kalian. Darel pergi ke Hotel. Saat Darel pergi ke sana. Ada beberapa orang yang mengikutinya. Walau Darel berhasil kabur dari mereka. Ternyata dua dari mereka berhasil menemukan Darel. Keduanya memukul kepala belakang Darel serta menyuntikkan sesuatu ke leher Darel."


"Apa?!" teriak Kenzo, Gavin, Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon. Mereka terkejut mendengar cerita dari Arvind.


"Bukan itu saja. Orang itu bukan hanya menargetkan Papanya kakak. Tapi orang itu juga mentargetkan Darel. Orang itu sepertinya dendam dengan Darel," sahut Andre.


Mendengar penuturan dari Andre membuat Kenzo, Gavin, Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon terkejut. Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.


"Dendam dengan Darel. Siapa?" batin Gavin.


"Selain Lian Jevera. Tidak ada orang lain lagi yang menjadi musuh Darel maupun musuhku dan Gavin. Selama ini yang aku tahu hanya Lian dan kelompoknya mencari masalah denganku, Darel, Gavin dan yang lainnya. Apa mantan dari teman-temannya Lian yang melakukannya hal itu kepada Darel? Tapi tidak mungkin. Mereka tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. Beberapa bulan ini mereka sudah menunjukkan sikap baik dan juga sopan. Dan bahkan mereka sudah menjadi teman-temanku, Gavin dan Darel." Kenzo berbicara di dalam hatinya sembari memikirkan orang yang sudah berbuat jahat terhadap Darel.


"Oh iya, Paman! Apa yang akan terjadi jika Darel tidak sembuh dari rasa sakitnya? Apa ada obatnya atau penawar gitu?" tanya Devon.


"Penawarnya itu ada pada orang yang telah menyuntikkan obat itu kepada Darel. Dan kita saat ini tengah memikirkan untuk mendapatkan penawar itu," jawab Arga.


"Apa yang akan terjadi jika kita tidak mendapatkan penawar itu segera, kak?" tanya Gavin.


"Jika kita tidak mendapatkan penawarnya sampai hari sabtu besok. Maka nyawa Darel sebagai taruhannya. Kita akan kehilangan Darel," jawab Ghali.

__ADS_1


Kenzo, Gavin, Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon terkejut ketika mendengar jawaban dari Ghali, kakak ketiga Darel.


"Darel," lirih Kenzo, Gavin, Juan, Samuel, Razig, Lucas, Zelig, Charlie dan Devon. Mereka menangis melihat kondisi Darel.


__ADS_2