
Kini semuanya sudah berada di ruang rawat Darel. Ketika mereka semua memasuki ruang rawat Darel, mereka langsung menangis.
Bagaimana tidak menangis? Mereka semua harus kembali melihat kesayangannya terbaring di tempat tidur rumah sakit.
Adelina mengusap lembut pipi putih putranya itu disertai dengan kecupan sayang di kening putranya yang dibaluti perban.
"Sayangnya Mama," ucap Adelina.
Para kakak-kakaknya sudah mengerubungi ranjangnya kecuali Davian dan Arvind yang masih di kantor. Mereka secara bergantian memberikan ciuman di pipi dan kening Darel penuh sayang.
Setelah puas memberikan ciuman di pipi dan kening Darel, adik kesayangannya itu. Mereka pun memberikan ruang untuk para sahabat-sahabatnya Darel.
"Rel," ucap mereka dengan suara lirihnya.
"Kenapa lo ceroboh sih? Kenapa lo nggak ngerasa kalau ada yang ingin nyakitin lo dari belakang," ucap Gavin menangis.
"Maafin kita yang juga nggak nyadar kalau lo dalam bahaya," ucap Kenzo dengan tangannya mengusap kepala Darel yang diperban.
Mendengar perkataan dari Kenzo dan Gavin membuat anggota keluarga Wilson menatap sedih keduanya. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya Darel yang lainnya.
Cklek..
Terdengar pintu ruang rawat dibuka oleh seseorang. Setelah itu, masuklah dua orang laki-laki tampan.
Semua yang ada di dalam ruang rawat Darel langsung melihat kearah dua orang itu.
"Papa!"
"Kakak Davian!"
"Kak Arvind!"
"Davian!"
Yah! Kedua laki-laki itu adalah Arvind dan Davian. Keduanya telah selesai dengan urusannya. Selesai dengan urusannya di kantor, keduanya memutuskan untuk langsung ke rumah sakit.
Arvind dan Davian langsung menghampiri ranjang kesayangannya. Sementara para sahabat-sahabatnya Darel langsung mundur dan memberikan ruang untuk ayah dan kakak tertuanya Darel.
"Hei, jagoan Papa! Ini Papa, sayang!" Arvind berucap sembari memberikan kecupan sayang di kening putranya yang diperban.
"Adiknya kakak Davian. Kakak juga disini sayang," ucap Davian dengan tangannya mengusap-usap lembut pipi putih adiknya.
"Apa kata Fayyadh ketika memeriksa Darel?" tanya Arvind yang tatapan matanya masih menatap wajah pucat putranya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kak Arvind. Kak Fayyadh mengatakan semuanya baik-baik saja," ucap Sandy.
"Paman Fayyadh juga mengatakan hanya luka lecet di kepala belakang Darel. Selebihnya tidak ada yang serius. Semuanya baik-baik saja," ucap Nevan.
Mendengar jawaban dari Sandy dan Nevan membuat Arvind menghela nafas leganya. Begitu juga dengan Davian.
Ketika mereka semua tengah memperhatikan Darel dan bahagia akan kondisi Darel, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Darel yang saat ini bersama Evan.
Evan langsung mengambil ponsel milik adiknya itu yang ada di saku celananya. Setelah ponsel adiknya itu berada di tangannya, Evan melihat nama 'Paman Arkan' di layar ponsel adiknya.
Evan hendak menjawabnya, namun dirinya sendiri ragu. Bagaimana pun ini hal private adiknya. Evan tidak ingin mengetahui apa yang akan disampaikan oleh orang tersebut kepada adiknya.
"Siapa Evan? Kenapa tidak diangkat?" tanya Arga yang melihat adiknya itu tidak menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
"Ini ponselnya Darel, kak Arga! Aku nggak enak untuk menjawabnya. Bagaimana ini kan private nya Darel," jawab Evan.
Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon saling memberikan lirikannya. Setelah itu, mereka menatap kearah Evan.
"Kakak Evan," panggil Kenzo.
Evan langsung melihat kearah Kenzo. "Ya, Kenzo!"
"Maaf, apa nama yang tertera di layar ponselnya Darel namanya Paman Arkan?" tanya Kenzo.
Seketika Evan langsung membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Kenzo. Di dalam hatinya Evan berkata kok Kenzo tahu jika orang yang bernama Paman Arkan yang menghubungi Darel.
"Iya. Di layar ponselnya Darel tertera nama Paman Arkan," jawab Evan.
"Maaf lagi kak Evan. Boleh aku angkat panggilan dari Paman Arkan secara ini sudah menjadi urusan kami juga. Dan Darel juga sudah memberikan izin," ucap Kenzo.
Evan tersenyum mendengar ucapan dari Kenzo. Evan tahu bahwa Kenzo serta yang lainnya tak enak hati terhadap Evan.
"Tidak apa-apa. Santai saja. Jangan merasa tidak enak terhadap kakak. Ini," balas Evan sembari memberikan ponsel adiknya kepada Kenzo.
"Terima kasih kak Evan," ucap Kenzo lalu mengambil ponselnya Darel dari tangannya Evan.
Kenzo melihat bahwa sang penelepon masih terus menghubungi nomor Darel.
Tak ingin membuat sang penelepon terlalu lama menunggu, Kenzo langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo Paman Arkan. Ini saya Kenzo sahabatnya Darel."
"Oh, tuan Kenzo. Tuan muda Darel nya mana? Kenapa tuan yang angkat panggilan dari saya? Dan kenapa tidak dapat ke tempat saya?"
"Maaf Paman. Kamu sekarang di rumah sakit. Darel masuk rumah sakit Paman!"
Seketika Arkan berteriak di seberang telepon ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Kenzo.
"Apa orang-orang itu sudah mulai bertindak dengan tuan muda Darel yang menjadi korban pertamanya?"
"Bukan Paman. Orang yang menyakiti Darel adalah seorang wanita. Wanita itu adalah ibu dari salah satu teman kampus kami."
Mendengar perkataan dari Kenzo membuat Arvind, Davian dan anggota keluarga Wilson lainnya terkejut, kecuali Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Karena mereka sudah mengetahuinya. Mereka ada disana saat kejadian.
"Terus bagaimana keadaan tuan Darel sekarang?"
"Darel baik-baik saja Paman. Tidak ada luka serius. Hanya luka lecet saja di belakang kepalanya."
"Oh, iya! Paman menghubungi Darel ada apa?"
"Begitu tuan. Saya mendapatkan informasi dari salah satu anggota saya. Katanya, salah satu rekan kerja dari perusahaan RAI'And Group dan perusahaan L'Cio Metro akan melakukan kecurangan ketika rapat yang akan diadakan dua hari lagi di perusahaan masing-masing."
Seketika Kenzo membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Arkan. Dia tidak menyangka jika orang-orang itu sudah memulai permainannya.
Melihat reaksi yang diberikan oleh Kenzo membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menatap khawatir Kenzo. Mereka seketika langsung paham apa yang terjadi.
Sementara untuk anggota keluarga Wilson semuanya menatap bingung dan penasaran dengan tingkah dan reaksi dari para sahabat-sahabatnya Darel.
"Bukan itu perusahaan milik Paman Rainart dan Paman Lucio?"
"Iya. And benar tuan!"
__ADS_1
Brian dan Damian seketika membelalakkan matanya ketika mendengar Kenzo yang menyebut nama perusahaan ayahnya. Ditambah lagi wajah Kenzo yang tampak khawatir.
"Apa yang mereka rencanakan?"
"Ketika rapat nanti. Mereka akan memberikan berkas palsu. Dengan kata lain, berkas itu ditulis atau diketik dengan tinta yang bisa menghilang."
"Eemm.. aku mengerti! Berapa lama tinta itu akan hilang."
"Sekitar dua jam tuan."
"Baiklah. Nanti aku akan merundingkan masalah ini dengan kakak Brian dan kakak Damian."
"Baiklah, tuan!"
"Oh iya, Paman! Jangan bilang jika Paman menyuruh Darel dan kami semua untuk menemui Paman di rumah itu untuk memberitahukan masalah ini?"
"Iya, tuan."
"Terima kasih atas informasinya Paman. Apa yang Paman sampaikan tadi sangat berguna bagi kami. Dan Paman sudah menyelamatkan perusahaan ayah dari dua sahabatku."
"Sama-sama tuan. Ini sudah menjadi tugas saya. Bagaimana pun tuan Kenzo dan yang lainnya adalah sahabat-sahabatnya tuan muda Darel. Kesusahan sahabat-sahabatnya tuan muda Darel sudah menjadi tanggung jawab saya juga."
Mendengar perkataan dari Arkan membuat Kenzo seketika tersenyum. Dirinya benar-benar bahagia ketika mendengar Arkan mengatakan itu.
"Sekali lagi terima kasih Paman."
"Sama-sama tuan. Jika tuan muda Darel sudah sadar. Tolong sampaikan salam sayang."
"Baik Paman."
Setelah mengatakan itu, baik Kenzo dan Arkan sama-sama mematikan panggilannya.
Kenzo langsung mengembalikan ponsel milik Darel kepada Evan setelah pembicaraannya dengan Arkan selesai.
"Ini kak."
Kenzo melihat kearah Brian dan Damian secara bergantian. Kenzo akan meminta kedua sahabatnya itu untuk langsung pulang dan membahas masalah tersebut dengan ayahnya.
"Ada apa?" tanya Brian dan Damian bersamaan.
"Salah satu rekan kerja Paman Rainart dan Paman Lucio akan melakukan kecurangan ketika rapat nanti. Kalau aku boleh tahu, Paman Rainart dan Paman Lucio kapan mengadakan rapatnya?"
"Kalau tidak salah lusa. Berarti Rabu," jawab Brian.
"Kalau untuk Papa besok. Berarti Selasa," sela Damian.
"Kalau begitu kalian harus pulang sekarang. Beritahu Paman Rainart dan Paman Lucio untuk berhati-hati ketika rapat nanti. Dan katakan juga kepada mereka. Jangan menanda tangani berkas apa pun dulu ketika rapat berlangsung. Tunggu sekitar dua atau tiga jam.
"Baiklah," jawab Brian dan Damian bersamaan.
Brian dan Damian menatap kearah Darel yang saat ini masih betah dalam tidurnya.
Setelah itu, Brian dan Damian menatap wajah sahabat-sahabatnya satu persatu.
"Hubungi kami jika Darel sudah sadar," ucap Brian.
"Baik!" jawab Kenzo, Gavin dan yang lainnya bersamaan.
__ADS_1
Setelah itu, Brian dan Damian pun pergi meninggalkan ruang rawat Darel untuk menuju rumah masing-masing.