Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kekalahan Luan Malachi


__ADS_3

Darel dan semua sahabat-sahabatnya sudah berdiri dengan menatap tajam kearah Luan Malachi, Dosen yang mereka sebut sebagai Dosen gila. Mereka semua marah akan sikap buruk yang dilakukan oleh Luan.


Darel dan semua sahabat-sahabatnya menatap tajam Luan Malachi. Begitu juga dengan Luan Malachi yang tak kalah memberikan tatapan tajamnya kearah Darel dan semua sahabat-sahabatnya, terutama kearah Darel.


Sementara beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihatnya seketika bergidik ngeri. Mereka hanya bisa melihat dari jauh. Bahkan mereka berharap tidak terjadi sesuatu terhadap Darel dan semua sahabat-sahabatnya Darel. Jika ingin celaka, mereka ingin Luan Malachi yang celaka.


"Kau benar-benar keterlaluan, Luan Malachi!" teriak Darel melengking.


Mendengar ucapan dan teriakan dari Darel membuat Luan marah. Apalagi ketika mendengar Darel yang tak lain orang yang sudah menyakiti adik sepupunya tidak menyebut dirinya Dosen atau Prof. Justru Darel memanggil nama saja.


"Aku Dosen kamu. Jadi, panggil aku dengan sebutan Prof!" bentak Luan.


Mendengar ucapan sekaligus perintah dari Luan Malachi membuat sahabat-sahabatnya Darel tertawa keras.


"Hahahaha."


"Hei, tuan! Anda itu tidak pantas menjadi Dosen disini," ucap Juan.


"Seorang Dosen itu tidak melakukan hal buruk terhadap mahasiswanya," ucap Evano.


"Anda sudah gagal menjadi Dosen. Dan kami tidak ingin memiliki Dosen arogan seperti anda," sahut Damian.


Luan semakin tajam menatap Darel dan sahabat-sahabatnya dengan kedua tangannya mengepal kuat.


"Berani kalian melawanku, hah?!"


"Tentu kami berani!" Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menjawab bersamaan.


Mendengar jawaban kompak dari sahabat-sahabatnya Darel membuat Luan makin menatap marah kearah Darel dan semua sahabat-sahabatnya.


Luan mengambil ponselnya, kemudian Luan mencari menekan nomor kontak salah satu tangan kanannya. Setelah nomornya lengkap dan benar. Luan pun langsung menghubungi tangan kanannya itu.


"Hallo, Bos!"


"Masuk sekarang! Aku di halaman kampus!"


"Baik, Bos!"


Selesai mendengar jawaban dari tangan kanannya, Luan langsung mematikan panggilannya dengan tatapan matanya tidak lepas menatap Darel dan semua sahabat-sahabatnya dengan tatapan tajam.


"Akhirnya kau memperlihatkan siapa dirimu yang sebenarnya, Luan Malachi!" batin Darel.


Beberapa detik kemudian, terlihat sekitar 30 laki-laki berpakaian hitam memasuki halaman kampus.


Melihat kedatangan 30 laki-laki berpakaian hitam membuat para mahasiswa dan mahasiswi yang sejak tadi melihat dan menyaksikan perdebatan antara Darel dan para sahabat-sahabatnya dengan Luan Malachi terkejut.


Luan menatap Darel dan para sahabatnya dengan seringai di bibirnya. Luan berpikir bahwa dirinya adalah pemenangnya.


"Apa kalian masih berani melawanku, hum?" tanya Luan dengan tersenyum mengejek.


Mendengar pertanyaan serta seringaian yang diberikan oleh Luan membuat Darel dan sahabat-sahabatnya justru semakin menantang. Tidak ada rasa takut sama sekali yang mereka perlihatkan. Aslinya, Darel dan sahabat-sahabatnya itu tidak pernah takut dengan hal apapun kecuali dengan keluarganya.


"Hahahaha." Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon tertawa.


"Hei, tuan Luan Malachi! Apa anda bisa melihat di wajah dan tatapan mata kami! Apakah kami sedang ketakutan atau justru sebaliknya?!" tanya Zelig.


"Anda bisa melihatnya bukan! Kami tidak takut sama sekali dengan anda atau para anak buah anda yang busuk itu," ucap Razig sembari menunjuk dengan dagunya kearah 30 laki-laki berpakaian hitam.


Sementara Darel serta yang lainnya tersenyum menyeringai menatap Luan Malachi yang tampak marah atas perkataan dari Zelig dan Razig.


"Brengsek!" teriak marah Luan. "Kalian! Habisi mereka semua!" perintah Luan.


Mendengar perkataan dari Luan membuat para mahasiswa dan mahasiswi terkejut. Mereka tidak percaya atas apa yang mereka dengar dan yang mereka lihat.


Sedangkan Darel dan para sahabatnya hanya tersenyum. Mereka sama sekali tidak takut. Bahkan mereka masih tetap berdiri di posisi masing-masing.


Untuk 30 laki-laki berpakaian hitam itu langsung menganggukkan kepalanya ketika mendengar perintah dari Bosnya.


Namun ketika ke tiga puluh laki-laki berpakaian hitam itu hendak menyerang Darel dan semua sahabat-sahabatnya, tiba-tiba terdengar suara bunyi senjata api.


Dor.. Dor.. Dor..


Dor.. Dor..


Brukk.. Brukk..


Seketika ketiga puluh anak buahnya Luan Malachi tersungkur di tanah dengan luka tembak di bagian kedua pahanya. Mereka semua mendapatkan masing-masing 3 tembakan di paha kanan dan paha kiri.

__ADS_1


Deg..


Luan Malachi seketika terkejut ketika melihat semua anak buahnya tersungkur dengan luka tembak di kedua pahanya.


Semua mahasiswa dan mahasiswi yang berada di dalam kelas ketika mendengar suara tembakan langsung keluar dari dalam kelas masing-masing, termasuk Evan, Raffa dan keempat saudara sepupunya. Begitu juga dengan para Dosen serta Rektor, wakil Rektor dan Dekan.


Evan dan Raffa langsung kepikiran adik kesayangannya Darel Wilson. Begitu juga dengan Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan. Mereka semua berlari kencang untuk menuju halaman kampus karena mereka meyakini bahwa suara tembakan itu berasal dari halaman kampus.


Sementara Darel dan semua sahabat-sahabatnya tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah syok Luan Malachi.


"Bagaimana, tuan Luan Malachi?" tanya Darel dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Luan.


Luan tidak bergeming. Tatapan matanya masih menatap kearah semua anak buahnya yang tak berdaya dengan luka tembak di kedua pahanya.


"Bos!" seru dua orang sembari berjalan menghampiri Darel dan sahabat-sahabatnya.


Semua mahasiswa dan mahasiswi melihat kearah dua pemuda yang menggunakan topeng berjalan menghampiri Darel dan sahabat-sahabatnya. Mereka penasaran siapa kedua pemuda itu? Dan kenapa kedua pemuda itu memanggil Bos dengan tatapan matanya menatap kearah Darel dan sahabat-sahabatnya? Mereka semua penasaran.


Bukan hanya para mahasiswa dan mahasiswi saja yang menatap kearah kedua pemuda itu. Luan Malachi seketika melihat kearah dua pemuda tersebut yang berjalan menghampiri Darel dan sahabat-sahabatnya.


"Bos, maaf kami terlambat!" seru Arzan dan Zayan bersamaan dibalik topengnya.


Yah! Dua pemuda bertopeng itu adalah Arzan dan Zayan. Dan yang menembaki semua anak buah dari Luan Malachi adalah anggota dari Black Shark.


"Tidak. Kalian tidak terlambat. Kalian datang di waktu yang sudah aku perhitungkan. Kalian datang tepat waktu. Coba lihat mereka semua!" Darel menjawab perkataan dari Arzan dan Zayan sambil menunjuk kearah para anak buahnya Luan Malachi.


Baik Arzan, Zayan dan para anggota Black Shark melihat kearah tiga puluh laki-laki berpakaian hitam yang sudah tak berdaya di tanah dengan luka tembak.


Luan Malachi menatap terkejut dan juga syok kearah Darel, terutama ketika menatap dua pemuda yang memakai topeng yang berdiri di samping Darel. Luan tidak menyangka jika orang yang sudah menyakiti adik sepupunya memiliki kekuatan besar di belakangnya.


"Black Shark," batin Luan ketika melihat lambang dan nama kelompok yang tertera di atas sebelah kiri topeng itu.


Luan Malachi dan juga keluarga besarnya tahu tentang kelompok Black Shark. Kelompok yang dikenal kejam dan bengis terhadap para musuh-musuhnya. Bahkan kekejaman dan kebengisan kelompok itu makin bertambah jika ada yang mengusiknya dan mengusik orang-orang terdekatnya.


Bukan hanya Black Shark saja yang diketahui oleh Luan dan keluarganya. Ada tiga kelompok lagi yang sama-sama kejam dan bengisnya seperti Black Shark. Tiga kelompok itu adalah kelompok Darkness, kelompok White Eagle dan kelompok Snow Black.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kelompok Black Shark bekerja untukmu," batin Luan lagi.


Darel seketika tersenyum manis menatap wajah syok Luan Malachi yang saat ini masih menatap dirinya, Arzan dan Zayan. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya.


Darel, sahabat-sahabatnya dan kedua tangan kanannya yaitu Arzan dan Zayan melihat kedatangan Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan.


"Kakak," sapa Darel.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Raffa yang menatap khawatir adiknya.


"Tadi kakak dengar suara tembakan. Dengar suara itu, kakak langsung kepikiran kamu!" sahut Evan.


Mendengar ucapan dan melihat wajah khawatir kedua kakaknya membuat Darel tersenyum. Dirinya bahagia ketika kedua kakaknya itu mengkhawatirkan dirinya.


"Seperti yang kakak Evan dan kakak Raffa lihat. Aku baik-baik saja."


Mendengar jawaban serta melihat keadaan adiknya yang baik-baik saja membuat Evan dan Raffa tersenyum lega.


Darel melihat kearah keempat kakak sepupunya yang tengah menatap dirinya. Darel tahu bahwa keempat kakak sepupunya itu juga mengkhawatirkan dirinya.


"Kakak Rendra, kakak Melvin, kakak Dylan dan kakak Aldan juga ya. Kalian nggak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Nih lihat! Aku nggak kenapa-kenapa!"


Mendengar ucapan dari Darel membuat Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai meyakini kakak-kakaknya. Darel balik menatap kearah Luan Malachi. Begitu juga dengan kakak-kakaknya, sahabat-sahabatnya dan dua tangan kanannya.


"Bagaimana kejutan dariku, Luan Malachi?! Menarik bukan? Bukan hanya kau saja yang memiliki banyak anak buah. Aku juga memiliki itu. Tapi aku tidak sama seperti kau yang seenaknya memberikan perintah kepada anak buahmu." Darel menatap tajam kearah Luan Malachi.


"Jika kau memiliki banyak anak buah untuk tujuan ingin menjadi penguasa sehingga bisa melakukan apa saja di dunia ini, salah satunya adik sepupumu Yagar Nazik dan bibi kesayanganmu itu. Sementara aku! Aku berbeda denganmu. Aku memiliki orang-orang di belakangku bukan untuk semena-mena terhadap orang lain. Mereka berkerja sesuai aturan dan juga bukti. Bukan asal melakukan pekerjaan mereka dengan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah."


"Kau sudah kalah, Luan Malachi! Sekarang ini tersisa keluarga besar Malachi. Untuk keluarga besar Nazik kemungkinan sudah hancur di tangan ketua kelompok Darkness yang tak lain adalah kakak sulungku."


"Dan untuk keluarga Skylar yang tak lain keluarga dari suaminya Rissa Esmee Nazik, adik perempuan dari Paxton Rafe Nazik dan Josh Dael Nazik juga sama. Keluarga itu juga pasti sudah hancur ditangan ayahku Arvind Wilson karena ayahku yang akan turun tangan langsung. Kenapa ayahku? Itu dikarenakan bahwa laki-laki itu sudah mengarang cerita kepadaku dengan mengatakan bahwa aku bukan putra kandung kedua orang tuaku."


Deg..


Mendengar ucapan terakhir dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terkejut. Kemudian mereka dengan kompak menatap kearah Darel untuk minta penjelasan.


"Rel," panggil mereka bersamaan.


"Iya, itu benar! Di hari yang sama dimana Zamy, Arman, Raihan dan Atta memutuskan rem motorku. Disaat itu juga ketika aku di toilet aku mendapatkan panggilan yang tak dikenal. Singkat cerita orang itu bilang bahwa aku bukan putra kandung kedua orang tuaku."

__ADS_1


Mendengar cerita dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon terkejut. Mereka tidak menyangka jika anggota keluarga Skylar tega melakukan hal itu terhadap Darel.


"Kalian bakal terkejut lagi kalau aku katakan ini," sahut Darel dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Luan Malachi.


"Apa?! Katakan, Rel!" sahut Kenzo.


"Yang menjadi dalang dimana Zamy, Arman, Raihan dan Atta memutuskan rem motorku adalah Luan Malachi sang Dosen gila ini," jawab Darel.


"Apa?!" teriak Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.


Mereka semua menatap marah kearah Luan Malachi ketika mendengar pengakuan dari Darel.


"Dasar orang gila!" teriak mereka bersamaan.


Luan benar-benar terkejut saat ini. Dirinya tidak menyangka jika semua kebusukan dirinya, kebusukan anggota keluarga Nazik dan kebusukan keluarga Malachi terbongkar di hadapan Darel. Bahkan dua keluarga sudah hancur. Kini tersisa keluarganya yaitu keluarga Malachi.


"Untuk keluarga Malachi. Aku dan dua tangan kananku ini plus sahabat-sahabatku yang akan mengambil alih. Jadi, aku mohon maaf sebesar-besarnya untuk tidak marah padaku." Darel tersenyum.


"Tapi kau tenang saja. Sebelum menuju puncak pembalasan dariku dan keluargaku. Kau akan bertemu dengan keluargamu yang lain di satu tempat yang sama. Disana kau hanya bertemu dengan ayahmu dan pamanmu saja. Untuk Ibu dan bibi-bibimu... Eemm. Aku mengirim mereka ke rumah yang kecil. Aku membeli rumah itu untuk mereka. Lumayanlah buat mereka tinggal bersama. Dari pada hidup di jalanan. Nggak baik kan?!"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat Luan menatap Darel penuh amarah. Tangannya mengepal kuat.


Darel melihat kearah Arzan dan Zayan. Melihat tatapan mata Darel membuat Arzan dan Zayan langsung mengerti. Kemudian keduanya memberikan perintah kepada para anggotanya masing-masing.


"Kalian! Bawa laki-laki ini ke markas kelompok Darkness!" perintah Arzan.


"Siap!"


Lalu sekitar enam anggota Black Shark langsung meringkus Luan Malachi dan membawanya pergi meninggalkan kampus sang majikan.


"Sementara untuk kalian bawa para anak buahnya Luan Malachi ke rumah sakit. Buat mereka takut dan tunduk kepada kalian. Jika mereka melawan atau berusaha melakukan sesuatu. Bunuh saja langsung!" ucap Zayan.


"Siap!"


Setelah itu, para anggota Black Shark membantu para anak buahnya Luan Malachi untuk pergi meninggalkan kampus.


"Pukul berapa kita akan mendatangi keluarga Malachi, Bos?" tanya Zayan.


"Pukul 12 siang. Ada sekitar dua setengah jam lagi kuliahku selesai," jawab Darel.


"Baik, Bos!"


"Kalian persiapkan saja semuanya."


"Masalah itu sudah kami siapkan. Beberapa anggota Black Shark sudah berada di sekitar kediaman Malachi. Lucky yang memimpin disana. Tinggal menunggu perintah dari kamu saja," sahut Arzan.


"Baiklah."


"Ya, sudah kalau begitu. Kami pergi dulu!"


"Hm!"


Arzan dan Zayan pun langsung pergi meninggalkan kampus untuk menuju markas Darkness milik Davian Wilson.


Setelah kepergian Arzan dan Zayan. Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan menatap wajah Darel dan sahabat-sahabatnya.


"Selesai materi kuliah ini kamu akan mendatangi keluarga Malachi kan?" tanya Evan.


"Iya, kak!"


"Kamu harus hati-hati. Jangan sampai terluka," ucap Raffa.


"Aku janji."


"Pulang harus dalam keadaan selamat dan baik-baik saja," sahut Rendra.


"Hm."


"Kalian juga harus baik-baik saja," ucap Dylan dengan menatap kearah sahabat-sahabatnya Darel.


"Baik, kak!" jawab mereka kompak.


"Ya, sudah! Sekarang kembalilah ke kelas," perintah Evan.


"Hm."


Darel dan sahabat-sahabatnya pun pergi langsung meninggalkan halaman kampus untuk menuju kelasnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2