Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Ingatan Darel Terhadap Ketujuh Sahabatnya


__ADS_3

[MARKAS RED BULL]


Darel sudah berada di depan markas tempat berkumpulnya dirinya dengan sahabat-sahabatnya selama ini. Darel menatap pintu markas itu sendu dan tanpa diminta air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.


Vano yang melihat adiknya yang sudah menangis menjadi tidak tega. Berlahan Vano mengusap lembut kepala belakang adik bungsunya itu. Dan hal itu sukses membuat Darel mengalihkan pandangannya melihat kearahnya.


"Ka-kakak," lirih Darel.


Vano menghapus air mata adiknya dan mengusap kedua pipinya. Setelah itu Vano memberikan kecupan sayang di kening sang adik.


"Jangan sedih lagi, oke! Kakak dan kakak-kakak kamu yang lainnya akan selalu disamping kamu. Kamu tidak sendirian," hibur Vano.


"Iya, kak. Terima kasih," jawab Darel sembari memperlihatkan senyuman manisnya.


"Ya, sudah! Kalau begitu masuklah. Apa kamu ingin tetap berdiri disini sampai pulang nanti?" ucap Vano sambil menggoda adiknya.


"Ach, iya." Darel tersenyum.


Darel langsung menekan kode angka yang ada di depan pintu tersebut. Setelah kode dimasukkan, pintu tersebut pun terbuka.


"Kakak. Aku masuk ya. Kakak jemput aku siangan aja."


"Baiklah. Kakak akan jemput Kookie sekitar pukul 11 siang."


"Baiklah." jawab Darel.


Saat Vano melangkah, Darel kembali memanggilnya.


"Kak."


Vano membalikkan badannya. "Ada apa, hum?"


"Kakak ingat tidak kodenya tadi?"


"Hm... tidak."


"Kemarikan ponsel kakak."


Vano langsung memberikan ponselnya pada sang adik. Darel menerima ponsel itu, lalu mengetik kode untuk membuka pintu markasnya. Dan Darel menjadikannya sebagai kontak di ponsel kakaknya itu.


"Kakak, lihatlah ini. Aku membuatnya seperti ini," ucap Darel sembari menunjukkan ponsel itu pada Vano.


Vano mengambil ponselnya kembali dan melihat ke layar ponselnya itu. Saat melihatnya Vano pun langsung mengerti.


"Baiklah. Kakak mengerti. Ya, sudah! Kakak pulang dulu."


"Iya."


"Kamu baik-baik saja disini, oke!"


"Iya."


"Dan jangan pergi kemana-mana."


"Iya. Kakak bawel banget sih."


Vano pun pergi meninggalkan Darel. Baru beberapa langkah, Vano kembali berhenti. Lalu Vano membalikkan badannya dan melihat kearah adik bungsunya itu.

__ADS_1


"Ingat..!! jangan........" Perkataan Vano terpotong


"Jangan kemana-mana," Darel langsung melanjutkan perkataan kakak pucatnya itu. "Ya, udah! Sana pulang. Ngapain masih disini?"


Vano mendengus kesal atas ucapan adik kelincinya itu. Lalu Vano pun melangkah menuju mobilnya.


***


[KEDIAMAN UTAMA WILSON]


Vano sudah berada di rumah. Dan kini  berada di ruang tengah. Saat Vano pulang, dirinya disambut berbagai macam pertanyaan dari para saudara-saudaranya.


Di ruang tengah itu sudah berkumpul para saudara-saudaranya. Baik saudara-saudara kandungnya maupun saudara sepupunya.


"Bagaimana, Vano?" tanya Davian.


"Bagaimana apanya? Kakak kalau bertanya itu yang jelas," tanya Vano balik.


"Hah!" Davian hanya bisa menghela nafas pasrahnya akan sikap adik ketujuhnya itu.


"Masalah Darel," ucap Davian.


"Darek baik-baik saja. Aku mengantarnya dengan selamat sampai tujuan. Tanpa lecet sedikit pun," jawab Vano.


"Memangnya Darel minta diantar kemana?" tanya Nevan.


"Darel minta diantar ke Red Bull," jawab Vano.


"RED BULL!" seru mereka semua bersamaan.


"Red Bull itu nama markasnya Darel. Di markas itu tempat Darel dan ketujuh sahabat-sahabatnya sering berkumpul. Mereka sering menghabiskan waktu disana," tutur Vano.


"Apa yang kamu lakukan itu sudah benar, sayang!" seru Arvind yang datang bersama istri Adelina, Evita, William, Sandy, Salma dan Daksa.


Arvind dan yang lainnya pun duduk di sofa dan bergabung dengan para anak-anak mereka.


"Darel butuh waktu untuk dirinya sendiri. Jadi tidak ada salahnya kita membiarkan Darel untuk menenangkan dirinya," ucap Sandy.


"Papa setuju apa yang dikatakan Paman kalian. Darel butuh waktu untuk sendiri," kata Arvind.


"Lalu jam berapa Darel akan dijemput? Nggak mungkin kan kita membiarkan Darel pulang sendiri?" tanya Raffa.


"Kau tenang saja, Raf! Kakak sudah katakan kepada Daral kalau kakak akan menjemputnya pukul 11 siang nanti. Dan kakak juga sudah katakan padanya untuk tidak pergi kemana-mana," tutur Vano.


"Ach, syukurlah." Raffa berucap lega. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Semoga Darel bisa melewati ini semua. Aku tidak ingin Darel berlama-lama larut dalam kesedihannya," ujar Dirga.


"Iya, kau benar kak Dirga. Aneh rasanya. Selama ini kita selalu melihat kejahilan dan keusilannya. Tapi semua itu hilang karena kesedihannya yang mendalam. Apalagi hubungan kita semakin membaik dari tahun ketahun dengan Darel. Aku benar-benar bahagia bisa memiliki adik seperti Darel," ucap Marcel.


Mereka yang mendengar ucapan dari Marcel tersenyum bahagia. Terutama para kakaknya Darel.


"Bukan kejahilan dan keusilannya saja yang hilang, Marcel. Tapi teriakan dari si kelinci nakal itu juga tidak terdengar lagi di rumah ini," sahut Gilang.


"Hm," jawab para saudara-saudara yang lainnya.


"Apalagi Raffa. Biasanya Raffa yang selalu membuat si kelinci nakal itu berteriak," sela Naufal.

__ADS_1


"Pokoknya kita harus buat si kelinci manis itu tersenyum lagi. Jangan biarkan si kelinci manis kita itu selalu bersedih dan mengurung diri di kamarnya," pungkas Rendra


"Kalau perlu disaat si kelinci nakal itu berada di kamarnya. Kita semua akan pergi ke kamarnya dan bermain disana," ucap Melvin.


"Ide bagus tuh!" seru Farraz, Deon, Keenan, Tristan dan Dylan bersamaan.


"Kita setuju!" Semuanya mengangguk.


***


[MARKAS RED BULL]


Darren sedang duduk di sofa ruang tengah. Dirinya menatap bingkai foto dirinya bersama ketujuh sahabat-sahabatnya. Dan tanpa diminta, air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


"Hiks.. Hiks.. kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel, Kenzo, Gavin.. Hiks. Aku merindukan kalian. Kenapa kalian pergi meninggalkanku? Apa kalian sudah bosan menjadi sahabatku? Apa kalian tidak mau lagi bersahabat denganku? Kenapa kalian kompak perginya?"


Flashback On


DI KEDIAMAN WILSON


Darel dan anggota keluarganya sedang bersantai di ruang tengah. Setelah sarapan pagi mereka semua memutuskan untuk berkumpul sejenak di ruang tengah.


"Darel sayang," panggil Arvind.


"Apa?" jawab Darel tanpa melihat wajah Ayahnya.


"Tega sekali sih. Papanya diacuhin gitu. Nangis nih.. Nangis." Arvind berucap dengan berpura-pura merajuk.


Darel yang mendengar ucapan dari Ayahnya langsung mendongakkan kepalanya dan melihat kearah Ayahnya itu.


"Apaan sih, Pa! Gak lucu tahu." Darel merengut kesal.


"Hehehe. Maafkan Papa. Sebenarnya Papa ingin menanyakan sesuatu padamu sayang."


"Papa mau nanya apa??" tanya Darel balik.


"Saat sarapan pagi tadi. Kamu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu pada Papa. Tapi tidak jadi. Sebenarnya kamu mau menyampaikan apa, sayang?"


Darel menghentikan aktivitas bermain ponsel. Lalu Darel menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Mereka yang ditatap oleh Darel makin dibuat penasaran.


Setelah Darel puas menatap wajah anggota keluarganya. Darel kembali menatap ponselnya.


"Lupakan saja. Lagian percuma saja aku mengatakannya pada Papa. Sekali pun aku mengatakannya pada Papa. Aku yakin Papa belum tentu bisa mengabulkannya," ucap Darel yang fokus pada ponselnya.


Mendengar penuturan dari Darel membuat Arvind makin bertambah penasaran apa yang akan disampaikan oleh putra bungsunya itu padanya. Begitu juga dengan para kakaknya. Bukan itu saja. Mereka juga merasa bersalah terhadap kesayangan mereka yang tidak bisa menyampaikan keinginannya itu.


Raffa melihat kearah Darel. Dirinya ingin bertanya pada adiknya itu. Saat Raffa ingin membuka mulutnya, tiba-tiba mereka mendengar  bell rumah mereka berbunyi. Lalu kemudian seorang pelayan pun berlari untuk membukakan pintu.


Beberapa detik kemudian, mereka semua mendengar suara sapaan dari beberapa orang.


"Selamat siang Paman, Bibi, para kakak-kakaknya Darel!"


Mereka semua melihat kearah suara tersebut. Dan dapat mereka lihat tujuh pemuda tampan yang kini telah berdiri tak jauh dari mereka semua.


Darel yang melihat kehadiran para sahabatnya langsung berdiri.


"Kita bicara di kamarku saja. Ayoo," ajak Darel.

__ADS_1


Darel langsung pergi begitu saja meninggalkan anggota keluarganya. Dan para sahabatnya mengikutinya dari belakang. Sedangkan anggota keluarganya yang melihat Darel pergi begitu saja, hanya bisa menghela nafas.


__ADS_2