Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Tugas Berat


__ADS_3

[CAFE PLATTE]


Darel dan Nevan sudah sampai di depan Cafe yang dimaksud oleh Mirza. Sesampainya disana, Darel langsung turun dari mobilnya dan disusul oleh Nevan. Setelah turun dari mobil, Darel langsung mencari keberadaan Mirza.


Saat Darel sedang mencari keberadaan Mirza, matanya tak sengaja melihat sosok pemuda yang tengah dipukuli oleh empat orang pemuda. Pemuda yang dipukul itu adalah Mirza.


Melihat hal itu Darel pun langsung berlari kearah keributan itu. Nevan yang melihat adiknya yang tiba-tiba saja berlari, dirinya langsung menyusul adiknya.


Saat Darel tiba disana, Darel langsung memberikan tendangan pada salah satu pemuda yang ingin memukul Mirza.


DUAAGGHH


"Aaakkhhh! teriak pemuda itu. Pemuda itu langsung tersungkur di tanah.


Melihat temannya tersungkur, ketiga pemuda lainnya menatap tajam kearah Darel.


"Lepaskan dia!"


"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!"


"Jika kalian tidak mengganggu adikku, maka aku tidak akan mengganggu kalian. Jadi lepaskan adikku sekarang. Atau kalian ingin seperti teman kalian itu!" teriak Darel sembari menunjuk kearah pemuda yang telah terkapar.


"Kau pikir kami akan takut dengan ancamanmu itu, hah!" teriak pemuda itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Darel menghampiri Mirza. Darel memegang kuat tangan pemuda yang memegang tangan Mirza. Dengan kekuatan penuh, Darel menarik tangan pemuda itu sehingga membuat pemuda itu meringis kesakitan di pergelangan tangannya. Kemudian Darel memelintir tangan pemuda itu.


Setelah Darel berhasil melepaskan tangan pemuda itu dari tangan Mirza. Darel langsung membawa Mirza pergi.


"Kau tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja, kakak Darel hyung."


Disaat Darel tengah mengkhawatirkan Mirza. Dirinya tidak menyadari bahwa nyawanya sedang terancam. Dua dari pemuda itu hendak menyerangnya dari belakang.


Saat kedua pemuda itu ingin menyerang Darel, tiba-tiba saja Nevan datang dan......


BUUGGHH


BUUGGHH


BRUUKK


BRUUKK


Nevan memukuli kedua pemuda itu menggunakan balok kayu dengan sangat kuat tepat di tengkuk mereka masing-masing.


"Jangan pernah menyerang seseorang dari belakang. Cuih!" ucap Nevan sambil meludahi kedua pemuda itu.


"Ka-kakak," ucap Darel takut setelah dirinya membalikkan badannya dan melihat kearah kakaknya.


Nevan yang mendengar panggilan dari adiknya langsung menghampiri adiknya itu.


"Lain kali jangan seperti ini. Mengerti!" ucap Nevan yang nada bicaranya sedikit tinggi pada adiknya.


"Ma-maafkan aku, kak!" Darel menjawab perkataan dari kakaknya itu dengan nada gugup dan kepala yang menunduk.


Melihat adiknya yang ketakutan membuat Nevan sadar akan kelemahan adiknya.


"Ya, sudah! Kakak maafkan. Jangan diulangi lagi, oke!" ucap Nevan lembut sembari memeluk tubuh adiknya itu dan tak lupa mencium pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Baik, kak!"


Setelah puas dipeluk oleh kakak keduanya itu, Darel pun melepaskan pelukan tersebut. Lalu matanya melihat kearah Mirza.


"Oh, iya. Kakak ini, Mirza!"


"Hallo, kak!" sapa Mirza.


"Hallo." Nevan membalas sapaan dari Mirza sembari tersenyum.


"Ach, hampir lupa. Ayo, kakak Darel!" seru Mirza, lalu menarik tangan Darel.


Darel hanya bisa pasrah tangannya ditarik oleh Mirza. Sedangkan Nevan hanya bisa melihat keduanya geleng-geleng kepala dan mengikutinya dari belakang.


Nevan buka tipe orang yang marah atau benci kepada orang yang baru dikenalnya. Baik Nevan maupun saudara-saudaranya yang lainnya tidak mempermasalahkan dengan siapa adiknya berteman. Selama adiknya bahagia, mereka akan selalu memberikan dukungan padanya.


***


Mirza masih menarik tangan Darel untuk menuju rumahnya. Saat mereka berlari, mereka mendengar suara sirine mobil ambulance.


"Darel. Mungkin itu ambulance yang kamu minta!" seru Nevan menunjuk kearah ambulance tersebut.


Ambulance itu berhenti, lalu turunlah seorang Dokter. Dokter itu adalah Fayyadh.


"Paman. Akhirnya Paman datang," ucap Darel


"Mirza, mana rumahmu?" tanya Darel.


"Itu, kak!" Mirza menunjuk kearah rumahnya.


Mirza langsung berlari menuju rumahnya dan disusul oleh Darel, Nevan dan Dokter Fayyadh. Tak lupa dua petugas yang ikut bersama Dokter Fayyadh.


Kini mereka semua sudah berada di dalam rumah Mirza. Rumah yang sangat kecil dan sempit. Darel langsung menangis saat melihat kehidupan Mirza. Nevan yang melihat adiknya yang menangis langsung memeluknya.


"Ka-kakak," lirih Darel.


"Kakak mengerti perasaanmu," hibur Nevan.


"Dokter. Bagaimana keadaan Ibuku? Ibuku baik-baik saja kan?" tanya Mirza saat melihat keadaan ibunya yang sedang diperiksa oleh Dokter Fayyadh.


"Untuk saat ini Paman belum bisa mengatakan apapun. Kita bawa dulu Ibumu ke rumah sakit."


"Tapi......" ucapan Mirza terhenti.


"Kau tidak perlu khawatir. Kakak yang akan menanggung semuanya. Sekarang ini fokus dulu pada Ibumu," ucap Nevan yang mengerti kondisi Mirza saat ini.


"Terima kasih, kak! Terima kasih, kakak Darel!"


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan rumah kontrakan Mirza untuk menuju rumah sakit.


***


[KEDIAMAN UTAMA WILSON]


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah mereka melakukan makan malam bersama, mereka memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah sebelum kembali ke kamar masing-masing. Mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama diruang tengah. Namun tidak untuk Darel. Davian dan saudara-saudaranya yang lainnya langsung menyuruh Darel kembali ke kamarnya. Mereka menyuruh kesayangan mereka untuk langsung istirahat.


Nevan sudah menceritakan semuanya pada anggota keluarganya saat mereka berada diluar rumah, saat Darel membantu Mirza teman barunya itu.


Nevan juga menceritakan kalau sang adik sempat pingsan di rumah sakit karena kelelahan dan juga keluhan yang dirasakan di bagian perutnya. Mendengar cerita dari Nevan, mereka semua khawatir akan kesehatan sibungsu.

__ADS_1


"Untung saja Darel tidak pergi sendiri dan perginya dengan kakak Nevan. Jika Darel pergi sendiri, mungkin saat ini Darel dirawat di rumah sakit gara-gara para bajingan itu," ucap Evan.


"Darel selalu seperti itu. Dia lebih memilih memikirkan orang lain dari pada memikirkan dirinya sendiri. Padahal dirinya sedang dalam bahaya," sela Raffa.


"Kau tidak memarahinya kan, sayang?" tanya Adelina pada Nevan putra keduanya itu.


"Memarahinya sih tidak. Tapi saat aku berbicara padanya karena kecerobohan nya, tanpa sadar nada bicaraku sedikit tinggi. Seketika aku menyadarinya saat aku melihat ketakutan dalam diri Darel. Darel menundukkan kepalanya karena takut menatapku. Melihat Darel yang ketakutan, aku pun menjadi tidak tega. Hatiku sakit, lalu aku memeluk tubuhnya dan berusaha menenangkannya." Nevan berbicara sambil menjelaskan alasannya.


"Maafkan aku Ma, Pa!" ucap Nevan menyesal.


"Tidak apa-apa, sayang. Papa mengerti perasaanmu. Kau melakukan hal itu karena kau sangat menyayangi Darel. Kau tidak ingin terjadi sesuatu padanya," jawab Arvind.


"Aku akan melakukan apapun untuk adik-adikku, Pa! Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menjaga mereka semua," ujar Nevan.


"Evan dan Raffa masih dalam pengawasan kita. Walau kita sudah memberikan kebebasan pada mereka berdua," sela Elvan.


Evan dan Raffa mendengus kesal mendengar penuturan dari kakak ke empatnya itu.


"Kita sudah besar, kakak Elvan!" protes Raffa.


"Dan kita bukan anak kecil lagi yang harus diawasi," ucap Evan menambahkan.


"Nggak usah protes. Diam dan menurut saja," sahut Arga.


"Atau kalian mau mobil dan motor milik kalian disita. Lalu kembali seperti biasanya. Antar jemput," ucap Vano.


"Tidaaakkk!" Evan dan Raffa menjawab secara bersamaan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka yang melihat ketakutan Evan dan Raffa membuat mereka semua tersenyum gemas. Terutama para kakak-kakaknya. Mereka semua tersenyum kemenangan.


"Apa kalian sudah mengurus tentang kuliah Darel besok?" tanya Davian.


"Sudah kak. Besok Darel bisa kuliah," jawab Raffa.


"Kami sudah menceritakan semuanya pada Dekan tentang masalah yang menimpa Darel dan sahabat-sahabatnya dan kami juga menceritakan kondisi kesehatan Darel," pungkas Evan.


"Baguslah kalau begitu. Paling tidak Darel tidak terlalu memforsirkan tubuhnya saat di Kampus," sela Andre.


"Ya. Kau benar, kak Andre!" ujar Axel.


"Dengan pihak Kampus mengetahui kondisi kesehatan Darel. Jadi Darel tidak perlu mengikuti banyak kegiatan di Kampusnya. Darel hanya boleh mengikuti beberapa kegiatan saja," tutur Daffa.


"Evan, Raffa. Ini tanggung jawab kalian selama di Kampus," ujar Alvaro.


"Baik, kakak!" jawab Evan dan Raffa bersamaan.


"Darel hanya boleh mengikuti tiga kegiatan saja. Tidak lebih." Davian berucap penuh penekanan.


"Baik, kak!" Evan dan Raffa menjawab bersamaan lagi.


"Tapi kalau misalnya Darel ingin lebih, bagaimana kak Davian?" tanya Raffa.


"Itu urusan kalian. Kalian pikirkan sendiri, bagaimana cara kalian membuat si kelinci nakal itu menurut pada kalian," sahut Ghali.


"Aish! Tugas ini sangat amat berat untukku. Boro-boro nurut. Dengarin omonganku saja bisa dibilang gak pernah," gumam Raffa.


"Sampai dunia ini kiamat, siluman kelinci itu tidak bakalan mau menurut denganku. Yang ada pasti berantem mulu," gumam Evan.


Mereka semua yang mendengar gumaman Evan dan Raffa hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka semua memang tahu bagaimana hubungan ketiganya. Evan dan Raffa selalu menjadi korban bully dari adik bungsu mereka. Ketiga selalu beradu mulut. Evan dan Raffa selalu kalah setiap beradu mulut dengan si bungsu mereka. Bahkan berakhir keduanya mendapatkan ancaman telak dari si bungsu.

__ADS_1


__ADS_2