
Di sebuah Markas yang tidak diketahui namanya terlihat dua pemuda sedang membicarakan sesuatu. Dalam pembicaraan tersebut salah satu pemuda menceritakan niatnya kalau dirinya akan ke rumah sakit mengunjungi seseorang.
"Kapan kau akan kesana?"
"Nanti sekitar pukul 3 sore."
"Kenapa harus pukul 3 sore? Kenapa tidak sekarang saja sepulang dari sini?"
"Aku tidak mau gagal dengan ketahuan. Kita kan tidak tahu siapa saja yang akan berjaga-jaga di rumah sakit. Dan kita juga tidak tahu ada berapa orang yang menjaga bajingan itu."
"Terus?"
"Aku akan menunggu kabar dari seseorang yang memang kebetulan orang itu bekerja di rumah sakit tersebut. Bahkan aku meminta kepada orang itu untuk membuat tidak ada satu pun yang menjaga bajingan itu."
Mendengar jawaban dari pemuda di hadapannya membuat pemuda tersebut tersebut bersamaan dengan anggukan kepala tanda mengerti.
***
Di sebuah Cafe terlihat seorang gadis SMA. Gadis itu baru saja selesai memesan beberapa makanan untuk dia bawa ke rumah sakit.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan menenteng beberapa kantong makanan di tangan kiri dan kanannya.
Dari arah berlawanan dimana terlihat empat gadis yang statusnya juga SMA sedang melangkah memasuki Cafe. Hanya saja, keempat gadis SMA itu berjalan buru-buru dengan tatapan matanya menatap kearah depan.
Seketika keempatnya berhenti ketika melihat seorang gadis yang seragam SMA nya sama dengannya.
Keempat gadis SMA itu saling memberikan tatapan melalui matanya. Tersenyum di sudut bibir masing-masing.
Setelah itu, keempat gadis SMA itu kembali menatap kearah gadis tersebut dengan kembali melangkahkan kakinya.
Detik kemudian..
Bruukk..
Seketika semua pesanan dari gadis SMA itu jatuh berserakan di lantai akibat ulah dari keempat gadis SMA tersebut.
"Ooh!" seru keempat gadis SMA itu bersamaan dengan menutup mulutnya. "Hahahaha!" seketika keempat gadis SMA itu tertawa keras.
Melihat kejadian tersebut dan mendengar suara tawa yang keras membuat para pengunjung melihatnya.
Sementara gadis pemilik makanan itu seketika menatap tajam kearah keempat gadis SMA yang dia ketahui teman sekelasnya.
"Apa yang kalian lakukan, hah?!" teriak gadis itu.
Mendengar pertanyaan serta teriakan dari temannya membuat keempat gadis itu saling lirik. Kemudian kembali menatap kearah temannya tersebut.
"Memangnya kami melakukan apa?" tanya gadis pertama dengan ketus.
"Lo nya aja jalan gak pake mata," ejek gadis kedua.
"Kita kesini juga sama seperti lo," ucap sinis gadis ketiga.
"Bukan lo doang," ucap gadis keempat.
Mendengar ucapan demi ucapan dari keempat temannya itu membuat gadis itu mengepal kuat kedua tangannya. Dia rela buru-buru meninggalkan sekolah guna untuk beli beberapa makanan untuk kakak-kakaknya yang di rumah sakit.
Namun naas nya dia harus bertemu dengan keempat teman sekolahnya yang tak menyukainya sejak pertama menjadi murid baru di SMA GUNA BANGSA.
"Kalian pikir gue gak tahu, hah?! Kalian itu sengaja menabrak gue. Jelas-jelas jalan masuk ke Cafe ini luas dan lebar, tapi kalian memilih berjalan berlawanan dengan gue!" bentak gadis itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan serta bentakan dari gadis itu membuat semua penghuni Cafe melihat kearah keempat gadis SMA itu. Dan beberapa pengunjung membenarkan apa yang dikatakan oleh gadis itu yang mana keempat gadis tersebut berjalan berlawanan dengan gadis itu.
Sementara gadis itu berjalan di pinggir yang mana mengarah pintu keluar. Jadi dengan kata lain, ada dua jalur. Pertama jalur masuk dan jalur keluar.
"Lo nyalahin kita, hah?!" bentak gadis pertama yang berstatus sebagai ketua.
"Bukan nyalahin, tapi kalian memang salah!" gadis itu langsung menjawab pertanyaan dari gadis pertama tersebut.
^^^
Di tempat yang sama dimana di sebuah ruangan pribadi terlihat beberapa orang pemuda telah selesai melakukan rapat tentang kerja sama perusahaan. Kini mereka tengah membereskan file dan berkas-berkas yang ada di atas meja sembari menikmati hidangan tersaji.
Beberapa detik kemudian, akhirnya mereka selesai membereskan semua perlengkapannya. Dan semuanya sudah dalam keadaan rapi.
"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Erick!"
Ketiga pemuda itu berucap bersamaan sembari mengulurkan tangannya berniat untuk bersalaman.
Keempat pemuda itu salah satunya adalah Erick Wilson. Dia tengah melakukan kerjasama dengan tiga perusahaan dengan perusahaan pribadinya.
"Saya juga senang bisa menjalin kerjasama dengan anda-anda bertiga," jawab Erick dengan membalas uluran tangan dari ketiga rekan kerjanya.
Setelah selesai membereskan berkas-berkas dan juga berjabat tangan, Erick dan tiga rekannya memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.
^^^
Erick terlebih dahulu berpamitan kepada tiga rekannya. Dia ingin segera ke rumah sakit untuk menjenguk adik sepupu kesayangannya yaitu Darel Wilson.
Ketika Erick telah sampai di luar dan kakinya hendak melangkah menuju pintu keluar, tiba-tiba tatapan matanya tak sengaja melihat pemandangan yang begitu membuat dirinya terkejut.
Tatapan mata Erick melihat sosok adik sepupu perempuannya, putri bungsu dari bibi kesayangannya setelah Bibi pertamanya yaitu Chiara Jonhson tengah bertengkar dengan empat gadis SMA. Dan yang membuat Erick terkejut adalah ketika melihat seragam sekolah mereka sama dengan seragam sekolah adik sepupunya itu.
Yah! Gadis SMA yang sedang bertengkar dengan empat gadis SMA adalah Cherry Johnson.
Setelah puas memperhatikan adik sepupunya itu, Erick kemudian memutuskan untuk menghampiri adiknya itu dan membantunya.
^^^
"Berani lo berbicara seperti sama gue dan teman-teman gue, hah!" bentak gadis pertama.
"Emangnya lo dan ketiga teman lo itu siapa? Kalian itu hanya manusia biasa. Kalian bukan anak presiden dan bukan juga anak seorang raja. Status kita sama yaitu sama-sama seorang pelajar dan belajar di sekolah yang sama. Jika lo dan ketiga teman lo anak orang kaya. Gue juga berasal dari keluarga kaya. Masalah siapa yang kaya... Eemmm... Gue rasa....,"
Plaakk..
Gadis itu seketika langsung memberikan tamparan keras ke wajah Cherry, teman sekelasnya tersebut sehingga membuat Cherry tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Cherry menatap tajam kearah temannya yang juga menatap tajam dirinya. Bahkan temannya itu tersenyum puas karena berhasil memberikan tamparan di pipinya. Begitu juga dengan ketiga temannya. Mereka tersenyum ketika melihat jejak merah di pipi Cherry.
Detik kemudian..
Plaakk..
Plaakk..
"Aakkhhh!" gadis itu meringis kesakitan di kedua pipinya.
Yah! Cherry membalas dengan memberikan dua tamparan di kedua pipi temannya itu. Bahkan tamparannya lebih keras dari pada tamparan yang dia terima. Terbukti, sudut bibir temannya itu terluka.
Sementara gadis itu dan ketiga temannya terkejut dan syok ketika melihat apa yang dilakukan oleh Cherry. Mereka tidak menyangka jika Cherry akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Lo pikir gue bakal diam aja setelah apa yang lo lakuin ke gue, hah?! Lo salah besar, Nona Talia! Jangan belagu lo hanya karena lo dan ketiga antek busuk lo paling ditakuti di sekolah. Gue nggak pernah takut sama lo... Lo... Lo dan lo!" Cherry berucap dengan suara keras dengan tangannya menunjuk-nunjuk kearah empat temannya itu bergantian.
Mendengar ucapan dari Cherry membuat Talia dan ketiga temannya menatap penuh amarah dengan kedua tangannya mengepal kuat.
Talia tidak terima ditampar oleh Cherry. Selama ini dia yang selalu menyakiti orang. Bukan orang yang menyakiti dirinya.
Talia melangkah lebih mendekat kearah Cherry. Setelah berdiri tepat di hadapan Cherry. Tangannya langsung terangkat hendak menarik rambut Cherry.
Ketika gerakan tangannya hendak menyentuh rambut Cherry, tiba-tiba seseorang mencekal kuat tangannya sehingga membuat Talia menjerit kesakitan.
"Tidak semudah itu kamu menyentuhnya."
Mendengar ucapan seorang pemuda membuat Talia langsung melihat keasal suara tersebut. Begitu juga dengan ketiga temannya. Termasuk Cherry sendiri.
Cherry seketika tersenyum ketika melihat kakak sepupunya berdiri di sampingnya. Sedangkan Talia dan ketiga temannya ketakutan.
"Kakak Erick," sapa Cherry.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Erick.
"Aku baik-baik saja, kak! Tamparan dari gadis di depanku ini tak seberapa," ejek Cherry dengan menatap sinis Talia.
Erick menatap tajam kearah Talia dan ketiga temannya.
"Sudah cukup satu tamparan mengenai wajah cantik adikku. Dan aku tidak akan membiarkan tangan kotormu ini kembali menyentuhnya," ucap Erick dengan meremat kuat pergelangan tangan Talia sehingga membuat Talia meringis kesakitan.
"Ssshhh!"
Setelah membuat Talia kesakitan, Erick pun memutuskan melepaskan tangannya dari tangan Talia dengan cara menghempaskannya.
Kemudian tatapan matanya menatap kearah dimana beberapa makan berserakan di lantai.
"Itu makanan siapa?" tanya Erick.
Cherry melihat sekilas kearah makanan yang berserakan di lantai. Kemudian Cherry menatap kearah Talia dan ketiga temannya.
"Itu semua pesananku, kak! Makanan-makanan itu mau aku bawa ke rumah sakit untuk kak Daffa, kak Vano, kak Alvaro, kak Axel, kak Evan dan kak Raffa serta sahabat-sahabatnya kak Darel!"
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Cherry membuat Erick kembali emosi. Erick menatap tajam kearah Talia dan ketiga temannya.
"Kalian ganti semua makanan-makanan itu atau aku akan mencari tahu tentang keluarga kalian. Jika aku mendapatkan tentang keluarga kalian, maka aku akan buat perhitungan dengan keluarga kalian!"
"Sekarang pilih yang mana?!" bentak Erick.
Talia dan ketiga temannya terkejut akan ucapan dari pemuda yang berstatus sebagai kakak dari teman sekaligus musuhnya di sekolah. Mereka saling lirik, lalu kembali menatap kearah Erick dan Cherry.
"Aku tidak main-main atas ucapanku barusan. Kalian kenal dengan keluarga Wilson?! Jika kalian kenal dengan keluarga itu, maka kalian pasti tahu bagaimana sifat dan karakter mereka yang sesungguhnya. Dan kalian juga pasti tahu bagaimana cara mereka membalas orang-orang yang mengusik mereka?"
"Aku adalah Erick Wilson, putra ketiga dari Sandy Wilson."
Deg..
Talia seketika terkejut dan syok mendengar ucapan serta pengakuan dari pemuda di hadapannya itu. Begitu juga dengan ketiga temannya. Bahkan para pengunjung juga dibuat terkejut akan perkataan dari Erick.
Detik kemudian..
Talia dan ketiga temannya akhirnya pergi menuju pelayan Cafe dan memesan beberapa menu makanan yang dipesan oleh Cherry.
Sementara Erick dan Cherry tersenyum puas melihat ketakutan Talia dan ketiga temannya itu.
__ADS_1