
"Begitu, Rel." Brian berucap setelah selesai menceritakan yang sebenarnya.
"Brengsek! Beraninya sekali mereka mengusir kalian. Mereka tidak punya hak di rumah itu."
Darel benar-benar marah. Dirinya tidak terima kalau sahabat-sahabatnya diperlakukan buruk oleh kelima iblis itu.
"Kenapa kalian tidak cerita padaku?" tanya Darel.
"Kami tidak mau membuatmu kepikiran dengan masalah ini, Rel! Ditambah lagikan kau harus banyak istirahat setelah kecelakaan itu," jawab Gavin.
Mereka semua mengangguk dan membenarkan ucapan Gavin.
"Maafkan aku," lirih Darel.
"Kenapa kau yang meminta maaf? Yang salah mereka," ujar Farrel.
"Tapi gara-gara aku. Kalian ikut dimusuhi oleh mereka," lirih Darel.
"Biarkan saja mereka memusuhi kami. Itu tidak penting bagi kami. Yang terpenting itu adalah kau. Kau adalah sahabat kami," sahut Evano.
"Kalau kau yang memusuhi kami. Barulah kami akan sedih," pungkas Damian.
"Tapi ini tidak adil untuk kalian. Kalian tidak salah tapi mereka malah menghina kalian dan bersikap buruk kepada kalian." Darel masih menyalahkan dirinya.
"Hei, sudahlah." Kenzo menghibur sahabat kelincinya. Kemudian tangannya menghapus air mata Darel.
"Kami baik-baik saja. Kami juga tidak merasa sakit hati kok. Hanya saja kami memang sedikit kecewa karena tidak berhasil menemuimu," tutur Kenzo lembut
"Sekali lagi aku minta maaf," ucap Darel.
Mereka semua hanya tersenyum gemas mendengar ucapan dari Darel.
"Ya, sudah. Sebagai gantinya. Bagaimana nanti setelah pulang sekolah. Kita jalan-jalan. Sudah lama juga kita tidak pergi bareng," usul Azri.
Mereka semua mengangguk. Termasuk Darel. "Baiklah. Aku akan menghubungi Kak Arga dan meminta izin padanya."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dan seluruh anggota keluarga sudah kembali ke rumah. Hanya Darel yang belum kembali.
"Dirga," panggil Sandy.
"Iya, Paman." Dirga menjawab panggilan dari pamannya.
"Bagaimana hari pertamamu menjabat sebagai Direktur, hum?" tanya Sandy.
"Sedikit canggung, Paman. Awalnya aku menjabat sebagai Manager Operasional. Kemudian diturunkan menjadi OB. Dan sekarang aku dipercayakan sebagai Direktur. Jabatan yang sangat tinggi," ujar Dirga.
Mereka yang mendengar penuturan dari Dirga tersenyum.
"Paman yakin kau pasti bisa menjalankan Perusahaan itu," ucap Sandy.
"Terima kasih, Paman. Aku akan berusaha dengan baik," balas Dirga.
"Oh iya. Apa Darel belum pulang?" tanya Evita saat melihat keponakan manisnya tidak ada.
Saat mendengar ucapan Evita. Para kakak sepupu dan para kakak kandungnya melihat ke segala penjuru ruang tengah. Dan benar! Adik kelinci nakal mereka tidak ada.
"Arga. Bukankah kau yang menjemput Darel?" tanya Davian.
"Iya," jawab Arga.
"Terus kenapa kau masih disini? Kenapa kau tidak menjemput Darel? Kau tidak melupakan tugasmu kan?" tanya Davian.
"Aish, Kak Davian. Kau cerewet sekali. Mama saja tidak secerewet dirimu." Arga melayangkan protes kepada kakaknya itu.
"Yak! Berani kau ngatain Kakak cerewet, hah!" kesal Davian.
"Beranilah. Buktinya barusan aku mengatakan hal itu padamu," jawab Arga santai.
"Hahahahaha." semuanya tertawa, kecuali Agatha dan kelima putranya.
Mathew terpaksa ikut tertawa biar kebohongan dirinya tidak diketahui oleh seluruh anggota keluarga Wilson.
"Sayang. Kenapa tidak menjemput adikmu, hum?" tanya Adelina.
__ADS_1
"Bukan aku lupa atau sengaja tidak menjemput Darel, Ma! Darel sudah menghubungiku sekitar pukul 11 siang tadi. Katanya Darel dan ketujuh sahabatnya akan jalan-jalan pulang sekolah nanti. Lebih tepatnya ketujuh sahabatnya itu yang ingin mengajak Darel. Dan nanti pulangnya, mereka yang akan antar Darel." Arga memberitahu ibunya.
"Hah!" mereka semua bernafas lega mendengarnya.
TAK!
"Aww.!" ringis Arga. "Yak! Kak Davian. Kenapa kakak menjitakku?" tanya Arga kesal sembari mengelus-elus kepalanya. Matanya menatap horor pada Kakak sulungnya itu.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, hah?!" Davian tak kalah menatap kearahnya.
"Apa Kakak ada nanya padaku?" tanya Arga balik.
"Eehheeemmm." Sandy berdehem.
Hal itu sukses membuat Davian dan Arga kembali ke posisi semula.
"Kalian ini," kata Sandy sembari tersenyum gemas melihatnya. "Coba Papa kalian ada disini. Pasti Papa kalian orang yang pertama yang tertawa melihat perdebatan kecil dari kalian," ujar Sandy.
Mendengar perkataan Sandy membuat Davian dan adik-adiknya terdiam.
"Papa," lirih Raffa. Dan air matanya lolos begitu saja.
Vano dan Daffa kebetulan duduk di sampingnya pun berusaha menghibur bungsu kedua keluarga Wilson. Daffa menarik tubuh Raffa ke dalam pelukannya. Dan Vano mengelus-elus punggungnya.
"Aku merindukan Papa, Kak... Hiks... aku merindukan Papa," isak Raffa.
"Kita semua juga merindukan Papa, Raf!" ujar Daffa.
"Kita berdoa saja. Semoga Papa di luar sana baik-baik saja. Dan segera kembali pada kita," hibur Vano.
"Papa," batin mereka semua.
"Sayang," batin Adelina.
Saat mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka. Mereka dikejutkan dengan suara klason mobil.
TIN!
TIN!
"Itu mungkin Darel pulang!" seru Daksa.
CKLEK!
Pintu dibuka oleh Melvin. Saat pintu di buka. Dapat dilihat olehnya, adik kelincinya tengah tertawa bahagia bersama teman-temannya.
Melvin terus memperhatikannya.
"Kak Melvin!" teriak Darel dari kejauhan.
Melvin yang mendengar teriakan Darel hanya geleng-geleng kepala.
"Habis jalan-jalan kayaknya, nih!" seru Melvin saat matanya melihat tujuh paperbag di tangan Darel.
"Iya, Kak. Ini mereka semua yang membelikannya untukku. Padahal aku sudah bilang tidak usah. Tapi mereka tetap saja ngeyel. Ya, udah! Apa boleh buat. Rezeki tidak boleh ditolak," jawab Darel.
Melvin tersenyum gemas mendengar penuturan dari Darel.
"Ya, sudah. Buruan masuk. Diluar dingin," ucap Melvin.
Lalu Darel pun masuk ke dalam. Setelah Darel masuk ke dalam. Melvin menutup pintu tersebut.
Darel melangkah masuk menuju ruang tengah, disusul oleh Melvin di belakang.
"Mama, Kakak. Aku pulang!" teriak Darel.
Mereka yang ada di ruang tengah tersenyum bahagia saat mendengar teriakan dari Darel. Mereka semua melihat kearah Darel.
"Darel," panggil Adelina.
Darel melangkah menuju sang ibu. Tapi langkahnya terhenti saat melihat orang yang sangat dibenci dalam hidupnya.
Melihat Darel yang tiba-tiba berhenti. Adelina dan para Kakak pun mengerti. Mereka semua berdiri, lalu menghampiri Darel.
Adelina mencium kening putra bungsunya. "Putra Mama yang tampan ini habis jalan-jalan, hum?" tanya Adelina.
__ADS_1
"Iya, Ma."
"Apa kamu bahagia?" tanya Vano.
"Tentu. Aku sangat bahagia, Kak."
"Maafkan aku, Ma!"
"Minta maaf kenapa?" tanya Adelina gemas.
"Karena aku perginya gak pulang dulu ke rumah. Dan aku gak minta izin sama Mama."
Adelina tersenyum. "Kan kamu sudah minta izin sama Kakak Arga. Jadi kami tidak perlu minta izin lagi sama Mama. Izinnya kakak-kakak kamu, izinnya Mama juga. Kalau mereka memberikan izin pada kamu. Mama juga akan memberikan izin untuk Darel, sekali pun kamu gak minta izin sama Mama."
"Terima kasih, Ma." Darel berucap sambil mencium kedua pipi ibunya.
Mereka semua tersenyum gemas dan juga bahagia. Begitu juga dengan Sandy, William, Evita, Daksa, Salma dan para Kakak sepupunya. Termasuk Dirga dan Marcel.
"Menjijikkan," ejek Caleb.
"Habis jalan-jalan ya? Sudah berapa banyak uangnya kakek yang sudah kau habiskan, hah?!" bentak Kevin.
"Jangan mentang-mentang kau pewaris kekayaan Kakek, seenaknya saja kau menghamburkan semua uang milik Kakek," kata Rayyan.
Para kakaknya sudah mengepalkan tangan mereka kuat mendengar penuturan Kevin, Rayyan dan Caleb. Ingin sekali mereka merobek mulut kotor mereka itu, tapi mereka tahan demi adik kesayangan mereka.
"Kak Evan."
"Iya, Rel. Ada apa, hum?"
"Kakak mau bantu aku tidak?"
"Dengan senang hati. Apa yang harus Kakak lakukan?"
"Bantu aku buat jus. Aku pengen minum jus jeruk."
"Oke. Ayo!" Evan menjawabnya dengan penuh semangat.
"Ma. Aku titip barang-barangku ini." Darel menyerahkan paperbag kepada ibunya.
"Baik, sayang." Adelina mengambil paper bag putra bungsunya.
Setelah itu, Evan langsung menarik lembut tangan Darel kearah dapur.
^^^
Evan dan Darel sudah berada di dapur. Mereka sedang membuat jus jeruk.
"Kenapa gelasnya lima, Rel?" heran Evan.
Darel tersenyum kearah Evan. "Kakak pikir jus ini untuk siapa?"
Evan berpikir sejenak. Dan detik kemudian terukir senyuman di bibir Evan. Lebih tepatnya senyuman jahatnya. Darel yang melihat arti dari senyuman kakak bantetnya itu pun mengerti.
Lima gelas jus jeruk sudah siap di atas nampan. Ditambah dua gelas untuk sebagai pengalihan. Jadi total tujuh gelas. Setelah itu Darel mengeluarkan lima botol kecil obat. Tanpa berperikemanusiaan Darel menuangkan semua isi obat itu sampai habis. Satu gelas satu botol kecil obat.
Setelah selesai. Evan dan Darel pun menuju ruang tengah dengan membawa tujuh gelas jus jeruk.
"Ini untuk Paman William." Darel memberikan satu gelas jus jeruk kepada William.
William menerimanya dengan senang hati sembari tersenyum hangat padanya.
"Dan ini untuk Bibi Agatha." Darel juga memberikan segelas jus jeruk pada Agatha.
Awalnya Agatha ragu untuk menerimanya. Tapi saat melihat William meminum jus tersebut dan tinggal setengah jus tersebut. Akhirnya Agatha menerima jus itu. Lalu meminumnya juga.
"Enak," batin Agatha.
"Sisa lima gelas lagi. Aku mau Kak Rayyan, Kak Kevin, Kak Dzaky, Kak Caleb dan Kak Aldan mengambilnya. Aku ingin berdamai dengan kalian. Aku tidak mau ribut-ribut dengan kalian. Bagaimana pun kaliankan kakak-kakakku? Kita inikan saudara." Darel berbicara begitu lembut dan dengan wajah super polosnya.
"Ambillah, sayang. Jusnya enak sekali," kata William yang melihat kelima putra-putranya.
Rayyan dan saudara-saudara melihat kearah William dan juga melihat kearah Agatha, orang tua mereka. Dengan kompak mereka pun mengambil jus tersebut. Lalu tanpa pikir panjang lagi, mereka pun meneguk habis jus jeruk tersebut
Anggota keluarganya yang mendengarnya tersenyum bahagia, kecuali Evan. Dirinya berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Dirga yang menatap wajah Evan menjadi mengerti kalau semua ini adalah permainan mereka berdua. Tapi tidak dengan para kakak kandungnya. Mereka menatap bingung sibungsu mereka.
__ADS_1
Evan dan Darel tersenyum puas melihat hasil pekerjaan mereka.
"Sebentar lagi," batin Darel tersenyum puas.