
Darel saat ini berada di ruang tengah. Dia sendirian. Sementara anggota keluarganya berada di kamar masing-masing dan ada juga di ruang kerjanya. Termasuk Neylan. Gadis itu juga berada di dalam kamarnya.
Darel tengah mengerjakan beberapa tugas kuliahnya. Jadi, nanti malam dia nggak perlu repot-repot untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya itu karena semuanya sudah dia selesaikan hari ini.
"Ach, selesai juga!" seru Darel sembari mengangkat kedua tangannya ke atas. "Kelar juga tugasku."
Setelah selesai menyelesaikan semua tugas-tugasnya. Darel seketika membaringkan tubuhnya di sofa dengan bantal sofa sebagai alas kepalanya.
Beberapa detik kemudian, seseorang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dia adalah Neylan.
Ketika Neylan tiba di ruang tengah, matanya tak sengaja melihat sosok pemuda imut, manis dan tampan sedang tertidur di sofa. Seketika terukir senyuman manis di bibir Neylan.
Neylan berlahan melangkah mendekati Darel yang sedang tertidur. Neylan memperhatikan wajah lelap Darel di sofa. Neylan baru menyadari bahwa Darel memiliki lesung pipi yang begitu manis di kedua pipinya.
"Lo lucu sekali kalau sedang tertidur, Rel!" Neylan terkekeh ketika setelah mengatakan itu.
"Ya, gue tahu itu!"
Darel langsung menjawab perkataan dari Neylan setelah membuka kedua matanya dan langsung menoleh kearah Neylan yang saat ini terlihat salah tingkah.
"Suko lo?"
Neylan seketika memalingkan wajahnya kearah lain ketika mendengar perkataan dari Darel.
"Nggak."
"Bohong."
"Gue nggak bohong."
"Iya, lo bohong! Terlihat dari wajah lo."
"Nggak."
"Lo suka sama gue kan?"
"Nggak."
"Iya. Lo suka sama gue!"
Neylan langsung melihat kearah Darel dengan tatapan kesalnya. "Gue bilang nggak, ya nggak! Ngeyel banget sih!"
"Ya, udah!"
"Ya, udah apa?"
"Lo suka sama gue."
__ADS_1
"Sialan!"
Tanpa diketahui Neylan. Darel tersenyum. Lalu kemudian Darel kembali bersikap biasanya.
"Lo berani ngumpatin gue?"
"Iya, kenapa?"
"Wah! Berani lo ya. Lo nggak tahu sekarang lo ada dimana?"
Neylan seketika terdiam. Dirinya sadar bahwa dia ada di rumah Darel. Neylan melirik sekilas kearah Darel yang juga tengah menatap dirinya.
Seketika Neylan langsung kembali menatap ke depan.
"Mau gue anterin lo pulang bertemu ibu kesayangan lo itu?"
Neylan langsung menggelengkan kepalanya brutal. Di dalam hatinya dirinya tidak ingin kembali kesana sebelum ayahnya pulang.
"Kalau lo mau tetap disini. Lo harus nurut sama gue dan jadi gadis yang baik dan kalem. Anggap aja apa yang lo lakuin itu buat bersihin nama gue ketika lo nuduh gue nyulik kucing lo."
"Jadi lo masih marah masalah itu?"
"Iya iyalah. Siapa yang nggak marah coba dikatain mencuri." Darel berucap kesal bersamaan dirinya bangun dari posisi tidurnya.
"Sebenarnya gue udah lupa. Lo yang buat gue ingat tentang masalah itu ketika di toko buku beberapa hari yang lalu."
Mendengar penjelasan sekaligus alasan dari Neylan membuat Darel tidak memberikan jawaban apapun. Dia melirik sekilas kearah Neylan, lalu kembali menatap ke depan.
Ketika Darel hendak membuka suara ingin menjawab perkataan dari Neylan. Semua anggota keluarga pada keluarga dari dalam kandangnya masing-masing lalu menghambur menuju ruang tengah dimana Darel dan Neylan disana.
"Asyik nih berduaan!" seru Evan dan Raffa tersenyum lalu menduduki pantatnya di sofa.
Seketika Neylan menjadi malu. Sedangkan Darel mendengus kesal dengan memberikan tatapan tajamnya kearah Evan dan Raffa.
"Kapan nih merayakan hari jadinya?" tanya Andre menggoda adiknya.
"Ih! Apaan sih kak Andre. Siapa yang jadian? Aku sama Neylan nggak pacaran kok," bantah Darel dengan memanyunkan bibirnya.
Andre tersenyum gemas ketika melihat wajah kesal adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Pacaran juga nggak apa-apa. Kita setuju kok," goda Evita.
"Kalau dilihat-lihat yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik. Keliatan cocok lagi," goda Salma.
"Bibi Evita, Bibi Salma. Apaan sih! Nggak usah ikut-ikutan memojokkan aku sama Neylan," ucap Darel yang makin mempoutkan bibirnya.
"Hahahaha!" seketika Evita dan Salma tertawa ketika melihat wajah kesal Darel.
__ADS_1
Seketika Darel berdiri dari duduknya sembari membawa perlengkapan kuliahnya yang ada di atas meja.
"Mau kemana?" tanya Nevan.
"Ke kamar!" jawab Darel ketus.
"Lah, kita baru datang. Dan kamu malah pergi. Nggak asyik ih!" ucap Arga.
"Bodo," jawab Darel.
Setelah itu, Darel pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah kepergian Darel. Neylan pun menyusul. Dirinya juga ingin kembali ke kamarnya.
"Maaf Paman, Bibi, kakak. Aku juga mau kembali ke kamar. Permisi!"
Neylan pun pergi meninggalkan anggota keluarga Wilson untuk menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Berjarak dua kamar dengan kamar Daffa dan Axel.
Setelah kepergian Darel dan Neylan ke kamar masing-masing. Kini Arvind, Adelina dan anggota keluarga Wilson tengah membahas masalah penelpon misterius yang telah menghubungi Darel.
Arvind dan Adelina sudah menceritakan apa yang mereka dengar dari Darel kepada putra-putranya dan kepada anggota keluarga Wilson lainnya.
Mendengar cerita dari Arvind dan Adelina membuat semua putra-putranya dan seluruh anggota keluarga Wilson terkejut. Mereka tidak menyangka jika ada orang yang menghubungi Darel dan mengatakan bahwa Darel bukan putra kandung Arvind dan Adelina.
"Papa, Mama, Kakak! Bagaimana ini? Kita harus secepatnya mencari siapa orang yang sudah menghubungi Darel. Jangan sampai orang itu menghubungi Darel lagi," sahut Raffa.
"Bukan itu saja. Yang aku takutkan adalah bisa-bisanya nanti orang itu justru ajak ketemuan Darel dan melakukan hal yang lebih jauh lagi terhadap Darel," ucap Evan.
"Apa yang dikatakan oleh Evan dan Raffa benar. Kita harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Kasihan Darel. Aku takut Darel akan kembali drop jika masalah ini tidak segera kita selesaikan," sahut Daksa.
"Darel memiliki satu kelemahan. Kelemahannya itu adalah Darel memiliki sifat sensitif. Darel mudah terbawa perasaan setiap apa yang dia dengar dan dia lihat sehingga membuat Darel selalu kepikiran. Sekali pun kak Arvind dan kak Adelina sudah berhasil meyakinkan Darel bahwa Darel benar-benar putra kandung kalian. Tetap saja Darel akan goyah kembali. Takutnya orang itu menemui Darel diam-diam lalu dia menceritakan banyak kebohongan kepada Darel. Dan bisa juga orang itu memberikan bukti palsu kepada Darel sehingga membuat Darel lebih mempercayai dia dari pada kita." William ikut menyuarakan isi hatinya tentang keadaan keponakannya itu.
"Kita semua jangan lupakan satu hal tentang Darel. Darel begitu menyayangi kita, terutama kak Arvind dan kak Adelina. Darel begitu menyayangi dan menghormati kalian berdua. Apa yang akan terjadi jika orang itu berhasil mencuci pikiran Darel dengan cerita bohongnya itu ditambah dengan bukti palsunya. Hati Darel pasti akan benar-benar hancur. Semangat hidupnya Darel adalah kak Arvind dan kak Adelina. Jika orang itu berhasil memperdayai Darel, maka Darel tidak akan semangat lagi untuk melanjutkan hidupnya."
"Semua anak menginginkan status sebagai anak kandung. Termasuk Darel. Jika orang itu berhasil mempengaruhi Darel. Maka besar kemungkinan Darel akan kecewa dengan kita semua."
"Brengsek! Aku tidak akan membiarkan orang itu menyakiti putriku. Darel Wilson putra kandungku dan Darah dagingku. Aku tidak akan membiarkan orang itu mengambil putraku dengan cara membuat putraku tidak mempercayaiku dan juga istriku," ucap Arvind dengan penuh amarah.
Tanpa diketahui oleh Arvind, Adelina dan anggota keluarga Wilson lainnya. Darel mendengarkan semua ucapan-ucapan mereka. Darel menangis ketika mendengar ucapan dari ayahnya itu.
"Papa, Mama, Kakak! Aku janji, aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan membuat kalian bersedih, menangis, khawatir dan takut akan kehilangan aku. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku tetap bersama kalian. Aku percaya kalian bahwa kalian adalah orang tua kandungku dan kakak-kakak kandungku!"
"Aku menyayangi kalian. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kalian. Kalian kebahagiaanku dan semangat hidupku," ucap Darel.
"Dan untuk kau orang misterius yang sudah membuat berita palsu. Aku bersumpah akan membalasmu. Tapi sebelumnya aku akan bermain-main terlebih dahulu dengan semua anggota keluargamu ketika nanti aku sudah tahu seperti apa wajahmu. Dengan aku mengetahui wajahmu, dengan begitu aku akan mudah mengorek informasi tentang seluruh anggota keluargamu. Apa yang kau lakukan padaku dan pada kedua orang tuaku, maka itu juga yang akan aku lakukan terhadap keluargamu. Aku akan buat mereka bercerai berai."
Darel berbicara dengan sorot mata yang kentara dengan amarah dan dendam.
__ADS_1
"Aku akan ikuti permainanmu dengan mempercayai semua ucapan darimu bersamaan dengan aku juga bermain-main dengan semua anggota keluargamu."