Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Menceritakan Kronologi Yang Sebenarnya


__ADS_3

Arvind yang melihat wajah sendu putra bungsunya itu menjadi tidak tega dan juga khawatir. Begitu juga dengan Adelina, para kakaknya dan anggota keluarganya yang lainnya. Mereka semua khawatir akan kondisi Darel.


GREP!


Arvind menarik tubuh putra bungsunya kedalam pelukannya. "Semoga semuanya baik-baik saja, sayang," ucap Arvind.


"Aku takut, Pa! Aku tidak mau ada yang pergi lagi," lirih Darel dalam pelukan Ayahnya.


Mereka yang mendengar ucapan lirih Darel benar-benar khawatir. Tidak bisa dipungkiri, mereka juga memiliki perasaan yang sama seperti Darel. Tapi mereka berusaha untuk menepis semua perasaan itu. Saat ini mereka hanya fokus pada Darel.


"Darel," panggil Davian.


Darel yang mendengar suara lembut dari kakak tertuanya itu pun melepaskan pelukannya dari sang Ayah dan melihat wajah tampan kakaknya itu.


GREP!


Darel langsung memeluk tubuh kakaknya itu. Memeluk erat sekali.


"Kakak jangan pernah ninggalin aku ya. Kakak harus selalu bersamaku. Dan tidak boleh kemana-mana."


"Yah. Mana bisa begitu. Kalau Kakak mau ke kantor bagaimana? Kalau Kakak ingin mandi atau yang lainnya juga bagaimana? Terus kalau suatu saat Kakak ingin..." perkataan Davian terpotong.


"Enggak gitu juga kali, Kak. Aish! Kakak tahu maksudku," protes Darel yang masih memeluk tubuh Davian.


"Hehehe. Oke, oke! Maafkan Kakak. Semuannya akan baik-baik saja, oke!" Davian berusaha menenangkan adiknya.


"Hei, Rel. Itu tidak adil namanya. Kamu memiliki banyak Kakak disini. Tapi kenapa hanya Kak Davian saja yang diperhatikan, hum!" seru Andre yang pura-pura cemburu.


Darel kemudian melepaskan pelukannya dari Davian. "Aish, Kak Andre. Kakak tidak perlu menyindir segala. Kalau Kakak ingin dipeluk juga, katakan saja." Darel mempoutkan bibirnya kesal.


Mereka semua tersenyum gemas melihat wajah kesal Darel. Tanpa pikir panjang lagi. Darel langsung menerjang tubuh Andre dan memeluknya erat. Begitu juga dengan kakak-kakaknya yang lainnya. Secara bergantian mereka memberikan pelukan dan kecupan-kecupan sayang di kening Darel.


Setelah selesai acara peluk-pelukan dan kecupan-kecupan. Mereka memutuskan untuk ke kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk ke Pengadilan.


***


Kini mereka semua sudah berada di Pengadilan. Yang pertama memasuki ruang sidang adalah panitera pengganti, jaksa penuntut umum, dan penasehat hukum serta pengunjung, masing-masing duduk di tempat yang telah ditempatkan.

__ADS_1


"Majelis Hakim akan memasuki ruang sidang. Hadirin dimohon untuk berdiri." pembawa acara berbicara dengan lantang.


Semua pengunjung, termasuk JAKSA PENUNTUT UMUM dan PENASEHAT HUKUM.


Majelis Hakim memasuki ruang sidang dengan melalui pintu khusus yang terdepan HAKIM KETUA dan diikuti HAKIM ANGGOTA I (senior) dan HAKIM ANGGOTA II (yunior).


Majelis Hakim duduk di tempatnya masing-masing degan posisi HAKIM KETUA di tengah dan HAKIM ANGGOTA I berada di sebelah kanan dan HAKIM ANGGOTA II di sebelah kiri.


"Hadirin dipersilahkan duduk kembali," ucap Pembawa acara sidang. Dan semua pengunjung pun duduk kembali.


"Sidang pengadilan negeri Jerman yang memeriksa perkara pidana nomor 101 dan 102 atas nama terdakwa Ibu Agatha dan Bapak Mathew pada hari Rabu tanggal 12 April dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ucap hakim sambil mengetuk palu sebanyak 3x.


"Apakah kedua terdakwa siap untuk dihadirkan pada sidang hari ini?"


"Siap, Hakim Ketua."


Jaksa Penuntut Umum memerintahkan pada petugas agar kedua terdakwa dibawa masuk ke ruang sidang.


Petugas membawa kedua terdakwa masuk ke ruang sidang dan mempersilahkan duduk di kursi pemeriksaan. Jika terdakwa tersebut ditahan, biasanya dari ruang tahanan pengadilan hingga keruang sidang terdakwa dikawal oleh beberapa petugas. Sekalipun demikian, terdakwa harus diperhadapkan dalam keadaan bebas. Artinya tidak perlu diborgol.


Setelah terdakwa duduk di kursi pemeriksaan. Hakim ketua pun mulai mengajukan pertanyaan pada kedua terdakwa. Sidang pun berjalan dengan tertib. Dan tanpa disadari persidangan sudah berjalan selama satu setengah jam.


Para pengunjung tak henti-hentinya berbisik-bisik saat menyaksikan video-video tersebut. Sedangkan keluarga Wilson, mereka memilih diam. Beda dengan Andrean Alexander dan Alisha Alexander. Mereka berdua tampak sedih, terutama Alisha. Alisha sangat-sangat syok saat melihat video-video itu. Dirinya tidak menyangka bahwa Ibunya tega melakukan hal itu semua.


Andrean yang melihat putrinya sudah menangis dan tubuhnya juga sedikit bergetar, Andrean menggenggam erat tangan putrinya. Inilah yang ditakutkan olehnya. Putrinya pasti akan syok saat tahu perbuatan Ibunya.


Saat dalam kebisuan dan tidak berbicara sedikit pun. Darel menatap tajam kearah Agatha dan Mathew. Lebih tepatnya pada pria yang sudah membunuh Kakeknya tepat di depan matanya. Hanya saja jarak yang memisahkan mereka sehingga Mathew tidak menyadari keberadaannya.


Evan dan Raffa yang kebetulan duduk masing-masing di sampingnya menyadari akan reaksi sang adik. Mereka mengetahui dari tatapan mata adik bungsu mereka itu. Lalu keduanya menggenggam erat tangan sang adik untuk memberikan ketenangan padanya.


Sedangkan anggota keluarga lainnya yang duduk di samping mereka dan juga di belakang mereka sesekali melirik dan melihat kearah ketiganya. Atau lebih tepatnya kearah Darel.


Rayyan dan keempat adik-adik juga merasakan kesedihan yang teramat dalam saat melihat video-video itu. Mereka semua menangis, mereka semua terpukul akan kejahatan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Anak mana yang tidak malu dan kecewa serta marah apabila melihat dan mengetahui kejahatan orang tuanya dibeberkan pada orang lain. Seorang anak ingin memiliki orang tua yang baik. Bukan orang tua yang jahat. Tapi nasi sudah jadi bubur. Dan mereka harus menerimanya secara lapang dada. Orang tua mereka bersalah dan harus dihukum. Itulah yang namanya keadilan. Dan keadilan harus ditegakkan.


"Baiklah. Setelah kita semua melihat video-video tersebut dimana saudari Agatha dan saudara Mathew telah banyak melakukan kejahatannya. Baik itu dimasa lalu mau pun dimasa yang sekarang," ucap hakim tersebut.


"Sebelum saya membacakan vonisnya. Apa bisa saksi dari pembunuhan saudara Bapak Antony Wilson dihadirkan disini untuk meminta kesaksiannya?"

__ADS_1


DEG!


Darel tiba-tiba langsung terkejut. Tubuhnya sedikit bergetar dan bergerak gelisah. Evan dan Raffa makin menguatkan genggaman mereka di tangan adiknya. Dan anggota keluarga lainnya yang duduk dekat dengannya berusaha menenangkannya.


"Bisa Hakim. Saksi sekaligus cucu dari korban tersebut ada disini," jawab Julian Mark selaku pengacara keluarga Wilson.


Julian menghampiri Darel yang berada di tempat duduknya. "Apa anda sudah siap, tuan?"


Sebelum Darel berdiri, dirinya berusaha untuk tenang. Darel memejamkan kedua matanya dan menarik nafasnya, lalu kemudian membuangnya secara berlahan.


Darel berusaha memperlihatkan senyumannya. "Aku siap."


Julian memegang tangan Darel untuk menuntunnya mengarah ke kursi di samping hakim.


(Aku ambilnya ruangan persidangan ala India. Disitukan baik tersangka maupun saksi akan bisa bertatap muka dengan semua pengunjung yang hadir. Begitu juga para pengunjung juga bisa melihat wajah tersangka dan juga wajah saksi. AUTHOR gak tahu bentuk ruangan persidangan ala Jerman. Kalau AUTHOR ambil persidangan ala Indonesia. Gak seru dan juga gak menegangkan. Wajah tersangka dan juga wajah saksi gak keliatan oleh pengunjung. Hanya hakim dan anggota yang lainnya saja yang bisa lihat saat ditanya. hehehe)


Kini Darel sudah berada di depan. Darel bisa melihat anggota keluarganya dan para pengunjung. Bahkan Darel juga bisa melihat Hakim Ketua dan Para Majelis lainnya di samping kanannya.


"Saudara Darel. Bisa anda ceritakan sedikit apa yang terjadi saat sebelum Kakek anda dibunuh?" tanya JPU


Darel benar-benar gugup saat ini. Kilasan-kilasan tentang kecelakaan dan pembunuhan kakeknya kini berputar-putar di kepalanya. Darel memejamkan kedua matanya. Dan tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja. Anggota keluarganya yang melihatnya menjadi sangat khawatir.


"Saudara Darel apa anda baik-baik saja?" tanya Jaksa Penuntut Umum.


Sontak hal itu membuat Darel membuka kedua matanya dan menatap wajah JPU itu.


"Aku baik-baik saja."


"Bisa kita lanjutkan?"


"Iya. Silahkan."


"Tolong jelaskan kronologi kejadian yang menyebabkan bapak Antony Wilson dibunuh?"


Darel melihat kearah Arvind, sang Ayah. Arvind yang melihat putranya melihat kearahnya tersenyum hangat dan mengangguk. Lalu Jungkook kembali melihat kearah JPU.


"Saat itu aku, Papaku dan kakekku baru pulang dari Cafe. Saat dalam perjalanan pulang, ada beberapa mobil yang mengejar mobil kami. Bahkan orang-orang yang ada di dalam mobil itu menembaki mobil kami. Papaku menyuruhku dan kakekku untuk melompat keluar. Tujuannya adalah untuk pengalihan. Awalnya aku dan kakek tidak setuju, tapi Papaku tetap memaksaku dan kakekku untuk tetap melompat keluar. Jadi, mau tidak mau aku dan kakek pun menuruti perintah Papa. Kami berdua melompat keluar secara bersamaan."

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"


__ADS_2