Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Membahas Masalah Darel


__ADS_3

[Kampus]


Darel sudah berada di lapangan bersama dengan kesembilan sahabatnya. Sejak kedatangan Darel, kesembilan sahabatnya itu setia menemaninya dan juga mengajaknya bicara. Bahkan mereka juga menatap khawatir Darel, terutama Kenzo dan Gavin.


"Rel," panggil Samuel.


Darel melihat kearah Samuel. Dapat Darel lihat, Samuel yang menatap khawatir padanya.


Setelah puas menatap Samuel. Darel menatap wajah sahabat-sahabatnya yang lainnya. Sama seperti Samuel. Sahabat-sahabatnya yang lainnya juga menatap khawatir dirinya.


"Jangan tatap aku seperti itu. Aku baik-baik saja," ucap Darel.


"Terima kasih kalian semua sudah mengkhawatirkan aku. Tapi sungguh. Aku baik-baik saja," ucap Darel lagi.


Mendengar perkataan Darel yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja membuat mereka menghela nafas pasrah. Tapi tidak dengan Kenzo dan Gavin. Mereka berdua tahu bagaimana watak asli dari sahabat kelincinya itu.


"Mulut berkata baik-baik saja. Sementara wajah tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya," sindir Gavin.


Mendengar sindiran dari Gavin membuat Darel mendengus kesal.


"Tahu apa kamu tentang aku," ujar Darel.


"Tentu aku tahu tentang kamu, Darel Wilson! Jangan pernah kau lupakan satu hal. Kita bersahabat sudah 12 tahun lamanya." Gavin berucap dengan penuh penekanan.


Mendengar penuturan dari Gavin. Darel hanya diam. Darel tidak ada niatan untuk membalas perkataan dari sahabatnya itu.


"Itu tangan kamu kenapa di perban?" tanya Kenzo.


Mereka semua melihat kearah telapak tangan kiri Darel yang dibalut perban.


Darel melirik sekilas kearah tangan kirinya, lalu kembali menatap ke depan. "Biasa. Aku mau menguji seberapa kuat tanganku untuk meremukkan sebuah gelas. Aku pikir tanganku akan kuat ketika meremukkan gelas tersebut. Ternyata dugaanku salah." Darel berbicara asal.


Mereka semua terkejut mendengar jawaban santai dari Darel. Bahkan mereka tidak menyangka jika Darel akan berbicara seperti itu.


"Gila," sahut Gavin.


Mendengar kata gila dari Gavin membuat Darel mengepal tangannya. Darel bukannya marah akan perkataan dari Gavin. Darel hanya muak dan benci dengan kehidupannya yang sudah dijalananinya selama ini.


"Yah! Kau benar, Vin! Aku memang sudah gila."


Darel melihat kearah Gavin. Setelah itu, Darel menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya.


"Aku seperti ini karena aku sudah muak dengan kehidupanku. Aku muak setiap hari harus merasakan sakit. Aku muak setiap hari selalu berurusan dengan rumah sakit. Aku muak selalu mengkonsumsi bermacam jenis obat-obatan. Aku muak selalu membuat keluargaku mengkhawatirkan aku. Dan aku muak karena membuat mereka menangis karena aku." Darel berbicara dengan emosi kentara di wajahnya.


"Kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Dari kecil aku tidak pernah merasakan kebebasan. Seluruh anggota keluargaku, terutama kedua orang tuaku dan kakak-kakakku selalu menjagaku, memanjakanku dan mengawasiku. Mereka selalu ada untukku. Bahkan keluar rumah saja harus ditemani dan tidak boleh pergi sendirian."


"Aku berpikir perlakuan mereka padaku karena aku saat itu masih kecil. Dan kemungkinan ketika aku beranjak dewasa. Mereka tidak akan memperlakukan aku seperti anak kecil lagi. Tapi ternyata dugaanku salah. Mereka terus bersikap seperti itu sampai sekarang aku kuliah. Bahkan sikap mereka semua makin parah."


"Awalnya aku sangat senang dan bahagia ketika keenam kakak tertuaku memberikan izin untuk aku membawa kendaraan sendiri. Dengan kata lain, aku boleh pergi sendiri. Namun ternyata semua itu hanya kedok belaka. Diam-diam keenam kakakku menyuruh beberapa orang untuk mengawasi ketika aku berada di luar rumah."


Darel berbicara mengenai kehidupannya yang makin hari makin memuakkan. Dan tanpa diminta, air matanya jatuh membasahi wajah tampannya.


Mendengar penuturan dari Darel dan melihat Darel yang menangis ketika menceritakan kehidupannya membuat hati mereka sesak. Mereka juga ikut menangis.


GREP!


Kenzo dan Gavin langsung memeluk Darel. Mereka benar-benar tidak tega melihat Darel yang saat ini benar-benar rapuh.


"Rel... Hiks," isak Kenzo dan Gavin.


"Rel. Mereka semua sayang sama kamu. Mereka ingin kamu dalam keadaan baik-baik saja. Mereka melakukan semua itu karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Dan mungkin mereka melakukan semua itu karena satu alasan." Kenzo berusaha menghibur Darel.

__ADS_1


"Iya, Rel! Mereka semua sayang sama kamu. Mereka tidak bermaksud untuk mengekang kamu atau membatasi pergerakan kamu. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu denganmu." Gavin juga ikut menghibur Darel.


"Hiks... Tapi mau sampai kapan mereka memperlakukan aku... Hiks... Seperti ini Zo, Vin? Aku juga ingin seperti kalian yang bebas melakukan apapun. Bebas dalam artian yang positif. Aku bukan anak kecil lagi yang harus diawasi setiap pergerakannya. Aku sudah dewasa dan usiaku sudah 21 tahun. Dan aku juga sudah kuliah. Hiks... Tidak bisakah mereka memberikan kepercayaan penuh padaku?"


Mendengar penuturan dan isak tangis Darel membuat mereka benar-benar tidak tega. Mereka menangis ketika melihat seorang Darel Wilson yang rapuh.


Kenzo dan Gavin melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah basah Darel. Hati mereka berdua benar-benar hancur ketika melihat wajah sedih dan wajah tak bersemangat Darel. Bagi mereka berdua, ini adalah pertama kalinya mereka melihat Darel yang serapuh ini.


Dulu ketika bersama dengan kelima sahabat mereka. Mereka tidak pernah melihat Darel seperti ini.


"Setiap kali aku bertanya alasan mereka bersikap seperti itu padaku. Mereka akan menjawab itu semua demi kesehatanku. Aku bosan Zo, Vin! Alasan itu pula yang membuat mereka membohongiku tentang kelima sahabat kita."


"Rel," panggil Lucas. Darel melihat kearah Lucas.


"Apa?" Darel menjawab dengan nada ketus.


"Aish! Lagi sedih aja masih sempat-sempatnya berbicara ketus. Orang sedih itu kalau ngomongnya lemah lembut," ucap Lucas.


"Terserah aku dong. Mulut-mulut aku. Bukan mulut situ. Kenapa situ yang marah?" jawab Darel dengan tampang sedihnya.


Mendengar perkataan Darel membuat mereka semua tertawa keras. Sementara Lucas mengumpat kesal.


"Hahahaha."


"Dasar siluman kelinci sialan," batin Lucas.


"Ya, sudah! Lebih baik kita ke kelas. Sebentar lagi jam pertama kuliah kita dimulai," pungkas Juan.


Mendengar perkataan dari Juan. Mereka semua mengangguk, termasuk Darel. Dan mereka semua pun beranjak dari duduknya dan menuju ke kelas mereka.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Seluruh anggota keluarga Wilson sudah berkumpul di ruang tengah termasuk Rayyan dan keempat adik-adiknya.


"Evan dan Raff tidak kuliah selama empat hari. Berarti kalian kalian yang kami harapkan untuk mengawasi gerak gerik Darel selama di kampus. Apalagi ketika jam istirahat," ucap Ghali.


Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan saling memberikan tatapan. Mereka saling memberikan kode untuk menjawab pertanyaan dari Nevan dan Ghali.


Rendra melihat ke arah para kakak tertua Darel. Rendra menatap keenamnya dengan tatapan sedih.


Baik Davian, Nevan, Ghali maupun Elvan, Andre dan Arga melihat tatapan dari Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan menjadi khawatir.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Davian.


"Paman, Bibi, kakak! Aku sarankan lebih baik kasih tahu yang sebenarnya kepada Darel alasan kita melakukan semua ini selama ini. Alasan kita yang over kepadanya." Rendra akhirnya menyuarakan isi hatinya.


Arvind, Adelina dan para putra-putranya terkejut ketika mendengar perkataan dari Rendra.


"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Rendra. Lebih baik kalian memberitahu alasan kalian melakukan semua itu. Setidaknya dengan kalian berterus terang, Darel tidak akan salah paham lagi. Dan Darel juga tidak tertekan seperti ini." Melvin berbicara sembari menatap wajah Arvind, Adelina dan keenam kakak tertua Darel.


"Kalian lihatlah video ini!" seru Aldan sembari memberikan ponsel miliknya ke arah Davian. "Aku yakin dan sangat yakin jika kalian melihat video itu. Hati kalian pasti akan bertambah hancur." ucap Aldan.


"Ingat! Hubungan kalian masih belum membaik. Darel masih belum memberikan maaf kepada kalian terutama kepada kak Davian, kak Andre dan Raffa," sela Dirga.


Davian melihat isi video yang ada di dalam ponsel milik Aldan. Begitu juga dengan Arvind, Adelina dan putra-putranya yang lainnya.


Seketika air mata meluncur begitu saja membasahi wajah cantik dan tampan Arvind, Adelina dan putra-putranya ketika melihat dan mendengar perkataan dari Darel.


Melihat Arvind, Adelina dan putra-putranya menangis membuat mereka semua ikut merasakan kesedihan.


"Video itu aku ambil ketika aku, Melvin, Rendra dan Dylan mau menemui Darel dan mengajak Darel ke kantin. Ketika kami berhasil menemuinya. Darel sedang bersama dengan sahabat-sahabatnya."

__ADS_1


"Dan dari sanalah kami tidak sengaja mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Darel dan sahabat-sahabatnya," ucap Dylan.


"Yang di video itu hanya bagian terakhirnya. Sementara bagian pertama percakapan Darel dan sahabat-sahabatnya tidak aku rekam," sahut Aldan.


"Kenapa?" tanya Daffa menatap wajah Aldan.


Aldan melihat ke arah Daffa. Setelah itu Aldan melihat ke arah Adelina dan yang lainnya.


"Karena percakapan Darel yang pertama itu akan membuat kalian semua akan semakin sakit dan juga sesak ketika mendengarnya." Rendra yang menjawabnya.


Adelina menatap Rendra dengan berlinang air mata. "Katakan pada Bibi, Rendra! Apa yang dikatakan Darel selain di dalam video ini?"


Rendra menatap sedih dan juga iba ke arah Adelina, lalu tatapan matanya beralih menatap Davian dan yang lainnya.


"Intinya, Darel tidak memiliki semangat hidup lagi. Berulang kali Darel menyebut bahwa Darel ingin menyusul Kakek," jawab Rendra lirih.


DEG!


Mereka semua terkejut ketika mendengar perkataan dari Rendra. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Darel... Hiks."


Seketika isakan tangis Adelina pecah. Dirinya benar-benar hancur ketika mengetahui tentang kondisi putra bungsunya.


"Kak Arvind," panggil Sandy.


"Iya, Sandy!"


Arvind menjawab panggilan dari adik pertamanya dengan suara sedikit lirih dan bergetar. Arvind menangis mengetahui fakta bahwa putra bungsunya sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Putra bungsunya benar-benar rapuh saat ini.


"Lebih baik beritahu Darel yang sebenarnya alasan kakak, kak Adelina dan anak-anak memberikan perhatian lebih dan juga perhatian khusus untuk Darel. Darel berhak tahu semua itu."


"Iya, kak. Aku setuju apa yang dikatakan oleh kak Sandy. Lebih baik Darel diberitahu. Kakak tahu sendiri bagaimana sensitif Darel. Darel pasti akan berpikir hal yang buruk tentang kita semua yang memperlakukan dia special di dalam keluarga terutama Darel pasti akan mengira Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa akan iri dan cemburu padanya."


"Tidak Paman William! Kami selama ini tidak pernah iri dan juga cemburu dengan Darel!" seru Daffa.


"Bahkan kami juga memperlakukan Darel special dalam hidup kami!" ucap Vano.


"Hm!" Alvaro, Axel, Evan dan Raffa mengangguk bersamaan membenarkan perkataan Daffa dan Vano.


"Apalagi kami berdua. Rasa iri dan cemburu tidak ada dalam hati dan pikiran kami," sahut Evan.


"Selama ini Papa, Mama dan kakak selaku bersikap adil dan selalu bersikap bijaksana kepada kami semua. Dan tidak ada yang dibeda-bedakan," ujar Raffa.


"Sama hal nya dengan apa yang dikatakan oleh kak Daffa dan kak Vano. Aku dan Raffa juga sangat menyayangi Darel dan juga memanjakannya," ucap Evan.


Ketika mereka tengah memikirkan Darel, tiba-tiba mereka mendengar suara klason mobil di luar.


TIN!


TIN!


Arga berdiri dan melangkah menuju jendela samping bertujuan untuk mengintip. Setelah mengetahui siapa yang datang. Arga kembali ke ruang tengah.


"Siapa sayang?" tanga Arvind.


"Darel. Tapi Darel pulang diantar oleh Kenzo dan Gavin. Darel bersama Kenzo menggunakan mobil. Sementara Gavin yang membawa motornya Darel," sahut Arga.


"Pasti terjadi sesuatu!" seru Davian, Nevan dan Ghali bersamaan.


Beberapa menit kemudian..

__ADS_1


"Darel," panggil Evan dan Raffa ketika melihat adiknya memasuki ruang tengah.


__ADS_2