Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Video Aksi Pencurian


__ADS_3

Keesokan harinya dimana Darel sudah berada di kampusnya. Darel saat ini bersama dengan semua sahabat-sahabatnya di ruang komputer. Mereka tengah membahas sesuatu disana.


"Rel," panggil Damian.


"Iya, kak!"


"Bagaimana keadaan kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya? Apa mereka sudah sadar?" tanya Damian.


Darel langsung memberikan jawabannya dengan gelengan kepala ketika mendengar pertanyaan dari Damian.


"Yang sabar ya. Kita berdoa semoga hari ini kakak Daffa, kakak Dario dan kakak Aditya segera sadar," ucap Evano.


"Aku berharap begitu sejak kemarin," jawab Darel dengan wajah sedihnya.


"Tetap berdoa kepada yang diatas. Jangan berkecil hati, oke!" Brian berucap sembari merangkul bahu Darel.


"Oh iya! Bagaimana dengan pelaku pencurian uang itu? Apa kalian sudah mendapatkan petunjuknya?" tanya Farrel.


Mendapatkan pertanyaan dari Farrel seketika Darel membuka ponselnya. Setelah itu, Darel membuka aplikasi khusus untuk melihat semua rekaman dari kamera pengintai yang sudah dipasang.


Beberapa detik kemudian...


"Akhirnya kau masuk dalam perangkapku," ucap Darel pelan.


Mendengar ucapan dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon langsung melihat kearah Darel yang kini tengah menatap layar ponselnya.


Deg..


"Jadi dia yang mengambil semua uang itu tanpa menyisahkan sedikit pun," ucap Devon tak percaya.


"Dasar manusia serakah," ucap Juan.


"Menjijikan," ucap Zelig.


Mereka semua menatap ke layar ponsel milik Darel dengan tatapan mata yang penuh amarah, terutama Devon.


"Apa yang akan kita lakukan terhadap si pencuri itu?" tanya Lucas.


"Kita tidak akan membiarkan dia begitu saja kan?" tanya Charlie.


Darel menatap kearah Devon. Darel ingin memberikan tugas tersebut kepada Devon. Ditambah lagi si pencuri itu adalah anggotanya. Jadi Darel memberikan kebebasan untuk melakukan apa yang dia mau terhadap anggotanya yang berkhianat itu.


"Dia adalah anggota lo, Von! Gue serahkan dia sama lo. Terserah lo mau lakuin apa kedia," ucap Darel dengan menatap wajah Devon.


Mendengar ucapan sekaligus perintah dari Darel seketika terukir senyuman di sudut bibirnya. Dia dengan senang hati melakukan hal itu terhadap anggotanya yang berkhianat tersebut.


"Dengan senang hati, Rel!"


***


[Markas White Eagle]


Di ruang penyiksaan terlihat beberapa anggota White Eagle tengah menyiksa tiga pemuda yang terbukti berbuat jahat terhadap tiga anggota keluarga Wilson.


Tiga pemuda itu adalah Lana, Dikson dan Suresh. Dan ketiga anggota keluarga Wilson tersebut adalah Daffa Wilson, Dario Wilson dan Aditya Jecolyn.


Bugh.. Bugh..

__ADS_1


Duagh..


"Aakkhhh!" teriak Lana, Dikson dan Suresh bersamaan akibat mendapatkan pukulan secara bertubi-tubi di perutnya dan tendangan di dada kirinya oleh anggota White Eagle.


Di ruangan itu juga ada Arvind, Sandy, Daksa dan ketiga putranya sulungnya. Mereka saat ini hanya berdiri di tempatnya dengan tatapan matanya menatap kearah dimana ketiga pemuda yang telah mencelakai dan kembali ingin mencelakai putranya/adiknya di rumah sakit.


Baik Lana, Dikson dan Suresh. Mereka mendapatkan banyak pukulan dan tendangan di seluruh tubuhnya sehingga membuat mereka berteriak merasakan sakit yang luar biasa.


Davian melangkahkan kakinya menghampiri anggota White Eagle yang sedang memberikan siksaan kepada tiga pemuda itu. Dan diikuti oleh Steven dan Naufal di belakangnya.


Melihat Davian, Steven dan Naufal mendekat membuat beberapa anggota White Eagle yang sedang menyiksa Lana, Dikson dan Suresh berhenti.


"Tuan!"


Baik Davian maupun Steven dan Naufal menatap penuh amarah kearah Lana, Dikson dan Suresh bergantian.


"Kalian yang terlebih dahulu bermain curang, tapi kenapa kalian yang harus marah dan tidak terima atas penolakan dan pembatalan dari ketiga adik-adikku!" bentak Davian.


"Kalian ingin memberikan sesuatu kepada adik-adikku sehingga membuat adik-adikku terperdaya. Setelah itu kalian memberikan sebuah berkas yang mana berkas tersebut adalah berkas pemindahan kepemilikan perusahaan ARV CORP, SDY CORP dan EVT CORP atas nama kalian!" bentak Steven.


"Dasar menjijikan. Setelah kalian membayar orang untuk mencelakai ketiga adik-adikku. Kalian kembali mencelakai adik-adikku di rumah sakit!" bentak Naufal.


Duagh.. Duagh..


Duagh..


"Aakkkhhh!"


Davian, Steven dan Naufal secara bersamaan memberikan tendangan kuat tepat di dada kiri Lana, Dikson dan Suresh sehingga membuat ketiganya berteriak kesakitan.


Drrtt..


Drrtt..


Arvind yang mendengar bunyinya dering ponselnya langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya itu.


Saat ponselnya sudah di tangannya, tatapan matanya menatap ke layar ponsel. Tertera disana nama 'Nevan' putra keduanya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arvind pun segera menjawab panggilan dari putra keduanya itu.


"Hallo, Nevan!"


"Hallo, Papa. Segeralah ke rumah sakit. Daffa sudah sadar. Begitu juga dengan Dario dan Aditya."


Mendengar perkataan dari Nevan yang mengatakan bahwa putra ketujuhnya dan kedua keponakannya sudah sadar.


"Apa itu benar, sayang?"


"Iya, Pa! Sekarang, buruan Papa dan yang lainnya ke rumah sakit!"


"Baiklah sayang!"


Tuttt.. Tuttt..


Nevan langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan kabar bahagia tersebut kepada ayahnya.


"Ada apa kak Arvind?" tanya Sandy.

__ADS_1


"Daffa, Dario dan Aditya sudah sadar. Kita diminta untuk segera pergi ke rumah sakit," jawab Arvind.


"Papa, itu benar?" tanya Davian.


"Iya, sayang!"


Davian melihat kearah Lana, Dikson dan Suresh. "Berterima kasihlah kepada ketiga adik-adikku karena mereka sadar dengan cepat. Jika dalam satu minggu ketiga adikku tidak sadar juga. Kalian sudah ada di dalam tanah," ucap Davian.


Setelah mengatakan itu, Davian pergi meninggalkan ruang penyiksaan dan diikuti oleh Steven dan Naufal. Sedangkan Arvind, Sandy dan Daksa sudah berada diluar.


***


Braakk..


Devon mendobrak pintu kelas dimana sang pencuri berada. Di kelas itu tengah ada materi kuliah ekonomi.


"Maaf, Prof. Saya kemari karena ingin menjemput seseorang."


Setelah mengatakan itu, Devon langsung melangkah memasuki kelas tersebut. Setelah dirinya berdiri di salah satu mahasiswa, Devon seketika langsung menarik kerah mahasiswa tersebut lalu menyeretnya keluar meninggalkan kelas.


Melihat apa yang dilakukan oleh Devon membuat Dosen tersebut berdiri. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas tersebut.


"Maaf, Prof. Ini urusan Organisasi Kampus. Saya sudah mendapatkan izin dari ketua SENAT," sahut Devon ketika Dosen itu hendak membuka mulutnya hendak bertanya.


Setelah itu, Devon pun pergi meninggalkan kelas dengan menyeret paksa tubuh mahasiswa itu. Sedangkan mahasiswa itu belum menyadari akan kesalahan. Dia pun tidak tahu kenapa dirinya ditarik seperti ini.


^^^


Bruukkk..


Devon seketika mendorong kuat tubuh mahasiswa itu sehingga membuat mahasiswa itu tersungkur di tanah.


Kini Devon berada di lapangan. Di lapangan itu terlihat para mahasiswa dan mahasiswi berkumpul. Mereka semua keluar meninggalkan kelas guna melihat apa yang terjadi di lapangan. Termasuk Darel dan sahabat-sahabatnya.


Baik Darel maupun sahabat-sahabatnya berdiri tak jauh dari Devon dan mahasiswa itu. Mereka menatap kearah mahasiswa itu dengan tatapan menyeringai.


Duagh..


"Aakkkhhh!" teriak keras mahasiswa itu.


"Brengsek! Berani lo melakukan hal itu terhadap gue. Kenapa lo lakuin itu, hah?!" teriak Devon.


"A-apa maksud lo? G-gue nggak ngerti." mahasiswa itu menjawab dengan suara gugupnya sembari menahan sakit di perutnya.


"Nggak ngerti apa pura-pura nggak ngerti, hah?!" bentak Devon.


"Gue benar-benar nggak mengerti," jawab mahasiswa itu.


Devon tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar jawaban dari anggotanya itu. Begitu juga dengan Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Charlie.


"Baiklah kalau begitu. Mungkin dengan gue memperlihatkan sesuatu sama lo membuat otak lo bisa kembali ingat."


Setelah mengatakan itu, Devon memperlihatkan sebuah video yang ada di ponselnya ke hadapan anggotanya itu.


"Lo lihat baik-baik video ini!"


Mahasiswa tersebut seketika langsung melihat kearah layar ponsel milik Devon. Mahasiswa itu melihat beberapa adegan di dalam video tersebut.

__ADS_1


Seketika mahasiswa itu membelalakkan matanya ketika melihat adegan demi adegan di dalam video tersebut.


Sementara Devon tersenyum ketika melihat wajah terkejut anggotanya. Begitu juga dengan Darel, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas dan Charlie.


__ADS_2