
Darel sudah diizinkan oleh keluarganya terutama ke 12 kakak-kakaknya untuk masuk kuliah setelah pasca yang dipukul oleh ibu dari teman kampusnya.
Kini Darel dan para sahabatnya berada di lapangan basket yang ada di luar. Lapangan basket yang juga lapangan para mahasiswa dan mahasiswi berkumpul.
"Samuel," panggil Darel.
"Iya, Rel!" jawab Samuel.
"Bagaimana masalah adik kamu? Udah selesai?"
"Udah."
"Hukuman apa yang kamu dan kakak Azri berikan kepada mereka?"
"Penjara!" Azri dan Samuel menjawab bersamaan pertanyaan dari Darel.
"Hukuman yang terbaik. Mereka pantas mendapatkannya," sahut Darel tersenyum.
"Hm!" Brian, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Razig Juan Zelig Lucas Charlie dan Devon berdehem sembari menganggukkan kepalanya masing-masing.
"Oh iya! Rel, bagaimana dengan ibunya Yagar? Apa ada kabar dari keluarganya?" tanya Juan.
"Nggak tahu. Udah mati kali akibat tendangan dariku," jawab asal Darel.
Mendengar jawaban asal dari Darel membuat mereka semua tersenyum.
Ketika Darel dan para sahabat-sahabatnya sedang mengobrol, tiba-tiba mereka melihat para teman-teman kampusnya berlarian ke halaman kampus.
"Itu mereka kenapa?" tanya Devon.
Mereka semua melihat kearah dimana para teman-teman kampusnya berlarian sembari berteriak heboh.
"Hei, kalian!" panggil Evano.
Tiga mahasiswa yang dipanggil seketika melihat kearah Evano dan sahabat-sahabatnya.
"Itu mereka semua ngapain? Ada apa?" tanya Damian.
"Ah, itu! Kampus kita kedatangan Dosen baru."
"Oh! Jadi Dosen baru itu mulai mengajar sekarang?" tanya Charlie.
"Sepertinya begitu."
Darel maupun semua sahabat-sahabatnya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sementara tiga mahasiswa itu langsung pergi.
"Aku jadi makin penasaran sama cara ngajar Dosen baru itu! Apa benar tentang berita-berita itu," sahut Zelig.
"Kita lihat saja nanti disaat Dosen baru itu mengajar di kelas kita," sahut Azri.
"Ya, sudah! Lebih baik kita ke kelas. Lima menit lagi materi kuliah pertama dimulai!" Brian.
Setelah itu, Darel dan semuanya langsung beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju kelasnya masing-masing.
***
__ADS_1
Dirga saat ini berada di dalam perjalanan menuju perusahaan CJ Group. Beberapa menit yang lalu Dirga baru melakukan penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan Textile terkenal nomor lima di Jerman. Lebih tepatnya, perusahaan tersebut yang ingin join dengan perusahaan CJ Group.
Dirga benar-benar bahagia karena sudah membuat perusahaannya semakin berkembang.
Ketika Dirga tengah fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba ada beberapa pengendara motor yang memang selalu meresahkan para pengendara umum yang lainnya menyerempet mobil. Dan bukan itu saja, dua diantaranya memukul kaca mobil Dirga hingga retak.
Prak..
Para pengendara motor tersebut menghalangi pengendara motor lainnya. Bahkan mereka membunyikan deru mesinnya dengan sangat keras.
Dirga kemudian keluar dari dalam mobil. Dirinya sudah sangat kesal akan kelakuan para pengendara motor liar itu.
Setibanya Dirga diluar, kakinya langsung melangkah mendekati salah satu pengendara motor liar tersebut.
Detik kemudian..
Dirga menarik jaket laki-laki itu sehingga membuat laki-laki terjatuh ke aspal.
Bruk..
Melihat salah satunya temannya terjatuh membuat pengendara motor liar yang lainnya menatap marah kearah Dirga.
Menyadari jika dirinya diserang, Dirga langsung dengan gerakan cepat memberikan tendangan secara bersamaan dengan pukulan sehingga lima pengendara motor liar tersebut meringis merasakan sakit di bagian wajah dan perutnya.
Dirga menendang kuat motor yang mereka naiki sehingga membuat motor tersebut jatuh dan mengenai motor-motor yang lainnya.
"Aakkhhh!" teriak pengendara motor liar lainnya akibat terhimpit motor.
Melihat apa yang dilakukan oleh Dirga membuat pengendara motor lainnya menatap Dirga takjub.
"Ach, sial! Aku ke bengkel untuk memperbaiki kaca retak itu," gerutu Dirga.
Setelah mengatakan itu, Dirga kembali melajukan mobilnya untuk menuju bengkel. Dirga akan menuju bengkel langganan keluarga Wilson.
***
Darel dan kesembilan sahabat-sahabatnya sudah selesai mengikuti materi kuliah pertama. Kini Darel dan kesembilan sahabatnya berada di lobi depan kampus. Sementara lima sahabatnya yang lain masih berada di kelasnya.
"Besok jangan lupa kegiatan Organisasi Kampus dimulai," ucap Darel mengingatkan.
"Berarti besok kegiatan Seminar kan?" tanya Razig.
"Iya," jawab Darel.
"Jangan lupa besok datangnya pagi-pagi sekali," ucap Darel.
"Baik!" jawab Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
"Beritahu anggota tim kalian masing-masing," ucap Darel lagi.
"Siap!" jawab mereka semua dengan kompak.
"Rel," panggil Kenzo.
"Iya, Nzo!"
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan masalah yang menimpa Neylan? Apa sudah selesai?"
"Belum. Kenzi bersama dengan anggotanya masih mengawasi pergerakan dari ibu tirinya Neylan. Dan aku juga meminta kepada Zayan untuk mencari tahu tentang keberadaan ayahnya Neylan. Aku curiga terjadi sesuatu terhadap ayahnya Neylan," ucap Darel.
"Memangnya ayahnya Neylan kemana?" tanya Gavin.
"Kalau dari cerita dari Neylan. Ayahnya pergi keluar negeri tengah mengurus pekerjaan disana. Bahkan Neylan cerita padaku jika urusan ayahnya disana selesai. Ayahnya akan segera pulang. Bahkan ayahnya mengatakan apapun yang terjadi dan apapun yang Neylan alami, ayahnya sepenuhnya mempercayainya."
"Jadi maksud kamu kalau misalnya ibu tirinya itu mengatakan hal buruk tentang Neylan di depan ayahnya, maka ayahnya akan lebih mempercayai Neylan. Begitu?" tanya Razig.
"Iya," jawab Darel.
"Baguslah kalau begitu. Berarti ayahnya Neylan begitu menyayangi putrinya," sahut Charlie
Ketika Darel dan kesembilan sahabat-sahabatnya tengah membahas masalah Neylan, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Darel langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya, matanya melihat kearah layar ponselnya. Di sana tertera nama 'Zayan'.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darel ketika melihat nama Zayan di layar ponselnya itu. Darel yakin pasti Zayan ingin menyampaikan sesuatu padanya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darel pun langsung menjawab panggilan dari Zayan.
"Hallo, Zayan!"
"Hallo, Bos! Aku ada kabar baik untukmu."
"Katakan Zayan. Apa kabar baiknya?"
"Ayahnya nona Neylan mempercepat kepulangannya. Bahkan kepulangannya itu tidak diketahui oleh istri keduanya tersebut."
"Benarkah?"
"Benar, Bos! Bahkan ayahnya Neylan sudah mengetahui semua kebusukan dari istri keduanya itu. Bahkan ayahnya Neylan juga tahu tentang nona Neylan yang kehilangan kucing kesayangannya akibat ulah istrinya itu."
Lagi-lagi Darel tersenyum ketika mendengar informasi yang diberikan oleh Zayan. Dirinya tidak menyangka jika Zayan dengan mudah mendapatkan tentang ayahnya Neylan yang berada di luar negeri. Padahal baru kemarin Darel meminta Zayan untuk mencari tahu tentang ayahnya Neylan.
"Ini benar-benar berita yang sangat luar biasa Zayan. Aku bangga padamu. Padahal baru kemarin aku memintamu untuk mencari tahu tentang keberadaan ayahnya Neylan diluar negeri. Dan sekarang kau menghubungiku."
"Terima kasih atas pujiannya Bos. Saya melakukan semua ini demi Bos dan salah satunya adalah karena ini sudah menjadi tanggung jawab saya."
"Baiklah. Kabari aku jika ayahnya Neylan sudah dalam perjalanan menuju Jerman. Dan lindungi ayahnya Neylan ketika sudah tiba di Bandara Jerman!"
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan itu, Baik Darel maupun Zayan sama-sama mematikan panggilannya.
"Ada apa, Rel?" tanya Devon.
"Zayan mengatakan apa padamu?" tanya Samuel.
"Ayahnya Neylan mempercepat kepulangannya ke Jerman. Bahkan ibu tirinya Neylan tidak mengetahui kepulangan suaminya itu," jawab Darel.
"Wah! Ini berita yang bagus, Rel! Semoga dengan pulangnya ayahnya Neylan. Perempuan gila itu berakhir di dalam penjara," sahut Lucas.
"Aku juga berharap begitu. Dengan perempuan gila itu masuk penjara, hidup Neylan bisa kembali seperti dulu lagi," ucap Darel.
__ADS_1
"Hm!" Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon berdehem sembari menganggukkan kepalanya masing-masing menyetujui perkataan Darel.