Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Rencana Licik Darel


__ADS_3

Semua anggota keluarga Wilson sudah berada di ruang tengah. Mereka semua duduk di sofa dengan tatapan matanya menatap Darel yang saat ini tengah menyandarkan punggungnya dan kepalanya di punggung sofa dengan matanya yang terpejam.


Mereka masih terus memperhatikan Darel tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka hanya ingin dengar kalau-kalau Darel mengatakan sesuatu disaat dirinya sedang memejamkan matanya.


"Huft!"


Mereka mendengar Darel yang menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Hari ini aku benar-benar lelah. Bukan hanya lelah tubuh tapi lelah pikiran juga."


"Dalam satu hari aku menyaksikan adegan yang tak mengenakkan. Mending satu. Nah, ini tiga sekaligus. Pertama di Kampus, kedua di Cafe dan yang ketiga di jalan ketika hendak pulang. Aish! Kenapa si?! Ketiga adegan tersebut semuanya berhubungan denganku dengan orang-orang terdekatku!"


Deg..


Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarga Wilson terkejut ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel. Mereka dibuat penasaran akan perkataan Darel yang mengatakan tiga adegan sekaligus.


Tiba-tiba ponsel milik Davian berbunyi menandakan panggilan masuk. Akibat bunyi ponsel tersebut membuat Darel seketika membuka kedua matanya lalu mengangkat kepalanya.


Seketika Darel terkejut ketika melihat semua anggota keluarganya sudah berkumpul di hadapannya menatap dirinya dengan senyuman.


Davian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, Davian melihat tangan kanannya melihat nama 'Coky' di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Davian pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Bos. Aku ada informasi untuk Bos mengenai adik bungsu Bos!"


"Katakan!"


"Begini Bos. Ketika adik bungsu Bos dalam perjalanan pulang ke rumah. Ada tiga mobil tiba-tiba menghadang mobil adik bungsu Bos!"


"Apa?!" Davian seketika berteriak karena terkejut atas informasi yang disampaikan oleh Coky.


Arvind, Adelina, adik-adiknya termasuk Darel dan anggota keluarganya melihat kearah Davian.


"Apa kau mengetahui pemilik dari ketiga mobil itu?"


"Masih dalam penyelidikan Bos. Tapi sepertinya adik bungsu Bos sudah mengetahui pemilik tiga mobil itu. Bahkan aku dengar dari anggota lain yang juga bertugas mengawasi adik bungsu Bos mengatakan bahwa adik bungsu Bos sudah memberikan pembalasan terhadap anak-anak dari pemilik tiga mobil itu. Sekarang ketiga anak mereka berada di rumah sakit."


Mendengar ucapan demi ucapan sekaligus penjelasan dari tangan kanannya itu membuat Davian terkejut. Namun rasa terkejutnya berubah menjadi seringai di bibirnya sembari menatap wajah tampan adik bungsunya itu.


"Kakak suka cara kerja kamu, Rel! Ini baru adiknya kakak." Davian berucap di dalam hatinya.


"Baiklah. Masalah pemilik tiga mobil itu biar aku cari tahu sendiri."


"Baiklah, Bos!"


Setelah mengatakan itu, baik Davian maupun Coky sama-sama mematikan panggilannya.

__ADS_1


"Ada apa, sayang? Siapa yang menghubungi kamu?" tanya Arvind.


"Nanti Papa akan tahu sendiri," jawab Davian.


Davian menatap wajah tampan adik bungsunya yang kini juga tengah menatap dirinya.


"Mau nanya apa?" Darel langsung bertanya kepada kakak tertuanya itu. Dia sudah tahu gelagat kakaknya tersebut setelah menerima panggilan.


Seketika Davian membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh adik bungsunya kepada dirinya. Padahal dirinya belum bertanya apapun.


Sementara Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat wajah terkejut Davian dan wajah masam Darel.


"Boleh kakak nanya nih?" tanya Davian.


"Tinggal nanya. Apa susahnya sih," balas Darel.


"Kan bisa saja nanti pertanyaan kakak nggak dijawab karena kakak nggak minta izin dulu," goda Davian.


"Buruan nanya atau kesempatan kakak untuk bertanya hilang," sahut Darel dengan memberikan tatapan horornya.


"Oke.. Oke!"


"Gini, Rel! Apa kamu tahu pemilik tiga mobil yang menghadang kamu ketika kamu dalam perjalanan pulang ke rumah?" tanya Davian langsung.


Deg..


"Davian."


"Coky tangan kananku melaporkan bahwa ada tiga mobil yang tiba-tiba menghadang mobilnya Darel. Pemilik ketiga mobil itu memaksa Darel untuk keluar dari dalam mobil."


Arvind terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Semuanya menatap kearah Darel untuk meminta penjelasan terutama Arvind dan putra-putranya.


"Darel, sayang!"


"Rel!"


"Iya. Aku tahu siapa pemilik tiga mobil itu."


"Siapa, Rel?" tanya Andre.


"Mereka adalah Xavier Bailey, Richard Dawson dan Stephen Martin."


"Jadi ayah dari Mika, Marnella dan Laudya yang telah menghadang mobil kamu?" tanya Arga.


"Hm."


"Apa yang kamu lakukan saat itu sayang?" tanya Adelina.


"Aku tidak ngapa-ngapain. Aku tetap di dalam mobil. Mereka marah sembari berjalan menghampiri mobilku karena aku tidak mematuhi perintah mereka," jawab Darel.

__ADS_1


"Apa yang mereka inginkan dari kamu?" tanya Elvan.


"Menyuruh aku keluar."


"Apa yang kamu lakukan ketika kamu melihat ketiga bajingan itu mendekati mobil kamu?" tanya Vano.


"Aku menghidupkan kembali mesin mobilku bertujuan untuk kabur. Eh, baru mendengar bunyi mesin mobilku. Ketiga pria itu menyuruh beberapa anak buahnya untuk berdiri di belakang mobilku. Mungkin mereka berpikir kalau aku tidak akan melakukan apapun dan aku tidak akan bisa pergi. Dugaan mereka semua salah."


"Yang ada di otakku saat itu adalah ingin cepat-cepat terlepas dari mereka semua karena aku ingin segera sampai di rumah dan segera istirahat. Tubuhku benar-benar lelah. Aku menginjak pedal gas dan mengeluarkan banyak asap sehingga orang-orang yang ada di belakang mobilku terbatuk-batuk. Begitu juga dengan yang di depan."


"Setelah itu, aku menginjak pedal gas bersama dengan kopling di tangan. Aku berlahan memundurkan mobilku. Dan dalam hitungan kelima, aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi dan menabrak mobil yang ada di depan. Kebetulan mobil mereka menghadang mobilku dengan posisi melintang. Dan aku berhasil."


Mendengar cerita sekaligus penjelasan dari Darel membuat mereka semua tersenyum. Mereka semua tak menyangka jika Darel begitu hebat dalam mengambil tindakan dan begitu mahir dalam berkendaraan. Mereka semua benar-benar bangga terhadap Darel.


"Apa kamu juga yang sudah memerintahkan salah satu tangan kanan kamu untuk mencelakai Mika, Marnella dan Laudya?" tanya Davian.


"Apa?!" semuanya kembali terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Davian.


"Sayang!" Adelina memohon di depan putra bungsunya.


"Hah!" Darel menghela nafas pasrahnya.


"Iya. Aku menyuruh Noah untuk membuat kecelakaan kecil untuk mereka bertiga. Setelah itu, aku meminta Noah untuk memberikan teror berupa tulisan yang mana isi adalah peringatan terakhir untuk anda. Jangan usik keluarga Wilson."


"Adiknya kakak benar-benar hebat. Kakak suka dengan apa yang kamu lakukan. Tapi kakak kecewa sedikit sama kamu," ucap Raffa.


"Lah, kenapa gitu?" tanya Darel dengan menatap wajah kakak aliennya itu.


"Kecewanya kakak adalah kenapa kamu tidak memberikan perintah kepada Noah untuk membunuh ketiganya langsung? Kenapa harus kecelakaan kecil yang diberikan?" pungkas Raffa.


"Justru itu yang aku inginkan," jawab Darel.


"Maksudnya?" tanya Raffa bingung dan penasaran.


Mereka semua menatap kearah Darel. Mereka semua penasaran trik apa yang akan dimainkan oleh Darel.


"Mereka kan masuk rumah sakit tuh?"


Semua anggota keluarganya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Pasti mereka akan menghubungi kakak Nevan, kakak Steven dan kakak Marcel dan mengatakan bahwa mereka sedang dirawat di rumah sakit. Mereka pasti meminta untuk dikunjungi."


"Iya, benar. Terus?" tanya Raffa lagi.


"Aku akan ikut dengan kakak Nevan, kakak Steven dan kakak Marcel ke rumah sakit. Disana aku akan berubah menjadi calon adik ipar yang baik dengan menyuapi mereka. Kakak mengerti kan apa yang akan terjadi selanjutnya?" Darel berbicara sembari memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Raffa.


Raffa yang melihat senyuman adiknya itu seketika juga ikut tersenyum. Dia paham atas apa yang dikatakan oleh adiknya itu. Bahkan dia juga sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap ketiga gadis busuk itu.


Sementara Arvind, Adelina putra-putranya yang lain serta anggota keluarganya tersenyum gemas melihat Darel dan Raffa. Apalagi ketika melihat keduanya tersenyum Senyuman licik.

__ADS_1


__ADS_2