
Evan yang mendengar penuturan Agatha sungguh terkejut.
"Apa? Ja-jadi Kak Dirga dan Kak Marcel bukan putra kandungnya Bibi Agatha? Dan.. dan Bibi Agatha menikah dengan Paman William bukan karena cinta, tapi hanya karena harta," ucap Evan pelan dengan raut wajah yang benar-benar terkejut.
Tanpa pikir panjang lagi, Evan mengambil ponselnya dan merekam pembicaraan Agatha.
"Sabar, sayang! Tunggu sebentar lagi. Setelah semuanya sedikit tenang. Aku akan menampakkan diri dihadapan mereka semua."
"Baiklah, sayang. Aku akan bersabar menunggunya," jawab Agatha, lalu mematikan panggilan tersebut.
Agatha tersenyum bahagia setelah berbicara dengan suaminya.
"Sebentar lagi semua kekayaan milik si tua bangka itu menjadi milikku, milik suamiku dan kelima putra-putraku. Aku sudah tidak sabaran ingin menendang semua keturunan dari Antony Wilson dari rumah ini. Dan membuat mereka semua menjadi gembel di jalanan," ucap Agatha dengan lantang. "Dan kau Darel, bocah ingusan. Semoga kau segera pergi menyusul kakekmu itu," ucap Agatha dengan senyuman iblisnya.
Agatha tampak begitu bahagia dengan semua rencananya. Dirinya tidak menyadari bahwa semua perkataannya telah direkam oleh salah satu keturunan Antony Wilson.
"Brengsek kau perempuan sialan. Kau jangan merasa menang dulu. Kau tidak akan pernah bisa mengusir kami dari rumah ini. Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menjadi pemenangnya?" batin Evan
Setelah itu, Evan pun berlalu pergi meninggalkan Agatha.
Ketika Evan melewati ruang tengah, terdengar suara teriakan dari Caleb.
"Wooi, anak sialan. Masih betah tinggal di rumah ini, hah!"
Evan melirik sekilas, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Evan berusaha untuk tidak terpancing atas ucapan para penipu-penipu yang sedang berada di rumahnya.
"Bagaimana kabar adik kesayanganmu itu, hah? Apa dia sudah mati?!" teriak Dzaky.
Evan mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Dzaky. Evan kemudian membalikkan badannya dan menatap kelima tikus-tikus yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
Evan tersenyum menyeringai. "Dasar penipu tidak tahu diri. Mau sampai kapan kalian akan tinggal disini dan menjadi parasit dikeluarga Wilson, hah?! Kalau aku jadi kalian, aku akan sangat-sangat malu tinggal di rumah yang bukan milikku!" teriak Evan dengan senyuman di sudut bibirnya.
"Yak! Apa kau katakan, hah?" teriak Kevin.
"Parasit? Apa maksudmu, hah?" teriak Rayyan.
"Hahaha.. dasar parasit." Evan kembali bersuara.
Aldan dan Caleb berdiri dan langsung menghampiri Evan. Caleb menarik kerah baju Evan.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, hah?!" bentak Caleb.
Evan tersenyum sinis, kemudian tangannya melepaskan tangan Caleb yang ada di kerah bajunya secara kasar.
"Kau pikir aku takut padamu. Kau saja yang menghina adikku, aku tidak marah. Tapi saat aku mengatakan kalian semua adalah parasit dalam keluarga ini, kenapa kau marah dan tak terima? Jadi manusia itu jangan egois dan ingin menang sendiri. Menghina orang nomor satu, tapi saat dihina oleh orang lain tidak terima." Evan menatap tajam Caleb.
"Brengsek!" bentak Caleb.
Aldan geram dan kesal saat mendengar ocehan Evan, dirinya langsung melayangkan pukulannya ke wajah Evan. Evan yang menyadarinya langsung memberikan tendangan tepat di perut Aldan.
DUAGH!
__ADS_1
"Aaakkhhh!" Aldan meringis kesakitan dan tubuhnya terhantam ke belakang dan jangan lupa darah segar yang keluar dari mulutnya.
Sedangkan Evan menatap tajam dengan sudut bibir terangkat keatas.
"Aldan!" teriak Caleb, Rayyan, Kevin dan Dzaky. Dzaky dan Kevin membantu Aldan.
Caleb menatap tajam kearah Evan. Begitu juga dengan Evan. Evan pun tak kalah menatap lebih tajam dan penuh amarah pada Caleb.
"Kenapa? Tidak terima, hum?" ejek Evan.
"Brengsek!" teriak Caleb dan melayangkan pukulan pada Evan. Evan berhasil menangkis pukulan dari Caleb.
"Kau ingin memukulku, hah? Jangan coba-coba dan jangan pernah berani kau menyentuhku atau saudara-saudaraku. Kami tidak akan segan-segan untuk menghabisimu dan keempat saudara-saudaramu yang bodoh itu," ucap Evan ketus dan dingin.
"Sekali lagi aku katakan, kalian dan juga ibu kalian itu hanya sekumpulan parasit dikeluarga ini. Tidak lebih," ucap Evan.
Setelah mengatakan hal itu, Evan pun langsung pergi meninggalkan Caleb dan saudara-saudaranya.
"Brengsek," umpat emosi Kevin.
"Sekalian saja kau dan keluargamu jangan kembali lagi ke rumah ini. Ditambah lagi ayahmu sudah tidak ada di rumah ini. Mungkin saja bajingan sialan itu sudah mati diluar sana. Jadi ibumu sudah tidak pantas berada di rumah ini!" teriak Agatha.
Evan menghentikan langkahnya. Kedua tangannya mengepal kuat, lalu Evan membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Agatha.
"Kau pikir ini rumahmu, hah! Kau itu tak lebih dari seorang perempuan murahan yang merayu laki-laki kaya raya yaitu Pamanku agar bisa dinikahi. Setelah itu kau dengan gampangnya menghasut Pamanku dan bersikap seolah-olah kau adalah nyonya rumah dikeluarga ini. Kau itu seorang perempuan tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Kau tidak berhak mengusirku dan keluargaku dari rumah ini. Kau bukan siapa-siapa didalam keluarga ini. Kau dan kelima putra-putramu itu hanya benalu dan juga seonggok sampah yang masuk ke dalam keluarga Wilson." Evan berbicara dengan begitu lantang dan juga kejam.
"Jaga ucapanmu. Berani sekali kau bicara seperti itu padaku. Apa begini caranya ibumu mendidikmu, hah?!" bentak Agatha.
"Orang sepertimu itu pantas untuk dimaki dan dihina, karena bagiku kau tak layak untuk dihormati dan dihargai. Sekali pun kau itu istri dari Pamanku," ejek Evan
"Kau ingin menamparku? Hahaha. Siapa kau? Kau bukan ibuku. Jadi kau tidak berhak menamparku. Putra-putramu yang sering bersikap kasar pada ibuku dan ibuku tidak pernah menampar atau menyakiti putra-putramu itu. Tapi kenapa saat aku bersikap kasar padamu, kau ingin menamparku. Waw! Hebat sekali, anda." Evan berbicara dengan senyuman menyeringainya.
"Sudahlah. Males berdebat dengan sampah seperti kalian. Lebih baik aku pergi ke rumah sakit melihat adikku. Itu lebih baik. Dan satu lagi. Jangan bawa-bawa ibuku atas sikapku padamu hari ini. Sebelum kau menyalahkan ibuku bagaimana dia mendidik kami putra-putranya, bercermin lah? Bagaimana sikapmu, didikanmu terhadap putra-putramu? Sikapmu bahkan dua kali lebih buruk dari pada ibuku."
Setelah itu, Evan pun pergi meninggalkan Agatha dan putra-putranya dalam keadaan emosi.
"Brengsek! Sekarang kau sudah berani melawanku. Awas kau. Tunggu pembalasanku," batin Agatha.
***
Adelina masih setia duduk di samping ranjang putra bungsunya. Tangannya menggenggam tangan mulus putranya itu, tak ada niat sedikit pun untuk melepaskannya.
"Sayang." Adelina mengelus lembut rambut putranya. "Ini sudah empat hari Darel tidur. Apa Darel tidak mau bangun dan melihat Mama? Bangun dong, sayang. Mama mohon," lirih Adelina.
Andre berdiri dari duduknya dan menghampiri ibunya. Andre merangkul pundak sang ibu.
"Ma! Mama istirahat ya. Biar aku dan yang lainnya jagain Darel. Aku tidak mau Mama sampai jatuh sakit." Andre menghibur ibunya.
"Bagaimana Mama bisa istirahat, Andre? Adik bungsumu sampai detik ini masih belum mau bangun. Dan Papamu belum juga ditemukan sampai sekarang. Mama benar-benar mengkhawatirkan mereka dan merindukan mereka berdua." Adelina berbicara dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Andre yang melihat ibunya menangis menjadi tidak tega, lalu Andre pun memeluk ibunya dan mencium pucuk kepala ibunya.
__ADS_1
"Mama tidak sendirian. Ada kami putra-putra Mama."
Arga, Daffa, Vano dan Raffa menghampiri Adelina dan Andre. Mereka juga ikut memeluk keduanya.
"Ma! Mama harus istirahat. Demi kami putra-putra Mama. Kalau Mama sakit, bagaimana? Kami semua akan sedih kalau sampai Mama jatuh sakit. Apa Mama tidak sayang dengan kami? Apa Mama tidak sayang dengan Darel? Kalau misalnya Darel nanti bangun, lalu melihat Mama sakit, bagaimana? Darel pasti sedih." Raffa berbicara sembari membujuk ibunya.
Adelina melihat kearah putra bungsunya, lalu detik kemudian Adelina tersenyum. Berlahan Adelina menghapus air matanya.
"Baiklah. Mama akan istirahat. Demi kalian, kesayangan Mama."
Andre, Arga, Daffa, Vano, dan Raffa tersenyum bahagia mendengar perkataan ibunya.
Vano dan Daffa membantu ibunya untuk menuju sofa. "Mama istirahat ya. Jangan banyak pikiran," ucap Daffa
"Terima kasih, sayang." Adelina tersenyum hangat kepada putra ketujuhnya.
Andre, Arga dan Raffa masih menatap wajah tampan adik bungsu mereka. Mereka secara bergantian memberikan ciuman sayang di kening adik bungsu kesayangan mereka.
Erick, Rendra Gilang dan Melvin berdiri dan menghampiri saudara-saudaranya. Mereka juga memberikan kecupan sayang di kening adik kelinci nakal mereka.
"Darel. Bangunlah. Kami semua merindukanmu," lirih Raffa.
"Darel. Kapan Darel akan bangun, hum? Kakak sungguh sakit melihatmu seperti ini," lirih Andre.
"Hei, kelinci nakal Kakak. Ayo, dong buka matanya dan lihat Kakak. Apa Darel tidak sayang Kakak lagi?" lirih Arga.
Mereka semua menangis. Hati mereka benar-benar sesak dan sakit melihat adik kelinci mereka tak kunjung membuka matanya.
Beberapa terdengar suara pintu yang di buka.
CKLEK!
Mereka yang ada di dalam pun menolehkan wajah melihat kearah pintu. Dan dapat mereka lihat Davian dan para saudara yang datang. Davian dan diikuti oleh saudaranya langsung melangkahkan kaki menuju ranjang Darel.
"Bagaimana?" tanya Davian.
Andre, Arga, Daffa, Vano, Raffa, Erick, Rendra, Gilang dan Melvin menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Davian berdiri di samping ranjang adik bungsunya. Tangannya mengelus lembut rambutnya, lalu mengecup kening adiknya.
"Darel. Ini Kak Davian. Kakak mohon bukalah matamu. Sudah empat hari Darel tidur. Apa Darel tidak menyayangi Kakak lagi?" tanpa sadar air mata Davian mengalir membasahi wajah tampannya.
"Oh, iya. Evan mana? Kenapa Evan tidak ada disini?" Tanya Nevan saat menyadari bahwa adik bungsu ketiganya tidak terlihat.
"Evan pamit pulang sebentar. Katanya mau mengambil boneka kelinci milik Darel. Siapa tahu Darel akan segera bangun setelah mencium aroma boneka miliknya," jawab Vano.
Saat mereka sedang membicarakan Evan. Orang yang dibicarakan pun datang.
CKLEK!
"Nah, itu Evan!" seru Rendra.
__ADS_1
Mereka semua melihat kearah Evan. Evan melangkahkan kakinya menuju ranjang adik bungsu kesayangannya. Setelah itu, Evan meletakkan boneka kelinci di tangan adiknya.
"Darel. Ini Kak Evan. Kakak datang membawakan boneka kelincinya Darel. Jadi Kakak mohon bangunlah," ucap Evan.