
Keesokkan harinya para orang tua datang ke sekolah. Baik itu orang tua dari dua murid yang menjadi korban bully, maupun orang tua dari Lian dan kelompoknya.
Saat ini mereka berada di ruangan pertemuan. Disana juga ada para murid-murid yang lainnya.
"Kami sebagai orang tua tidak terima,l jika putra dan keponakan kami dianiaya seperti ini oleh temannya sendiri," ucap Ayah dari putra yang dihajar oleh Lian.
"Kami selaku orang tua tidak pernah menyakiti atau menyiksa anak-anak kami. Jika anak-anak kami melakukan kesalahan, kami memberikan hukuman kepada anak-anak kami berupa mengurungnya di kamar selama tiga hari dan dilarang keluar dari dalam kamar sebelum merenungi kesalahannya," ucap Ayah dari putra yang dikeroyok oleh Khary dan Leo.
"Apa yang sudah dilakukan oleh putra-putra kalian pada putra-putra kami itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Putra-putra kalian dengan kejinya menyakiti, membully dan mengeroyok putra-putra kami!" ucap ibu dari putranya yang dihajar oleh Lian.
"Kamu akan membawa masalah ini kejalur hukum dan kami akan pastikan putra-putra kalian akan mendekam dalam penjara selama dua puluh tahun," ucap Ibu dari putra yang dihajar oleh Leo dan Khary.
"Ditambah lagi putraku koma di rumah sakit akibat tendangan yang diterimanya di bagian perut dan punggungnya. Putraku itu baru saja selesai melakukan operasi usus buntu satu minggu lalu, tapi gara-gara putra kalian itu putraku harus kembali merasakan sakit yang teramat di bagian perutnya!" teriak Ibu dari murid yang dipukuli oleh Lian.
"Dan untuk anda kepala sekolah, segera usut masalah ini kepolisian atau kalau tidak sekolah ini yang bakal kami tuntut karena tidak bisa menjaga murid-muridnya dengan baik!" ucap dan ancam Ayah dari murid yang dihajar oleh Lian.
"Baik, Tuan. Anda jangan khawatir. Tanpa anda meminta, kami akan membawa masalah ini ke kepolisian. Kami juga sebagai guru sudah merasa lelah dan kewalahan menghadapi kelakuan kedelapan murid-murid berandal ini," sahut kepala sekolah tersebut
"Tolong Nyonya, Tuan. Jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Kami mohon," mohon Ibunya Lian dan Khary.
"Iya, Nyonya, Tuan! Kami mohon. Kami akan melakukan apa saja, asal kalian tidak membawa putra-putra kami ke polisi," sahut Ibu dari Reymon dan Ronald.
"Kami mohon Nyonya, Tuan! Kami akan melakukan apapun. Jangan bawa putra-putra kami ke polisi!" ucap Ibunya Rafif dan Agra.
"Kami akan melakukan apapun, asal masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak melibatkan polisi," mohon Ibu dari Leo.
Darel dan ketujuh sahabatnya jengah mendengar permohonan dari para orang tua Lian dan kelompoknya, lalu detik kemudian Darel pun bersuara.
"Sudah seperti ini, kalian semua baru memohon agar putra-putra kalian tidak dibawa ke kantor polisi dan tidak ingin di penjara. Selama ini kalian kemana saja. Apa yang kalian lakukan selama di rumah sehingga kalian tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh putra-putra kalian diluar rumah?" ucap dan tanya Darel.
Para orang tua dari kelompok Lian menatap tak suka Darel, apalagi para ibu.
"Siapa kau?" bentak Ibunya Lian.
__ADS_1
Darel tersenyum sinis mendengar bentakkan wanita itu.
"Aku Darel. Anda pasti sudah mengenal dengan orang yang bernama Antoni Wilson, bukan?" tanya Darel.
Mendengar nama Antoni Wilson disebut, baik Ibunya Lian maupun orang tua yang lainnya terkejut. Mereka semua tahu. Bahkan pihak sekolah juga tahu, siapa itu Antoni Wilson.
Melihat keterkejutan dan keterdiaman Ibunya Lian, Darel tersenyum remeh.
"Aku adalah cucu dari Anthoni Wilson. Namaku Darel Wilson, putra bungsu dari Arvind Wilson. Aku bisa saja melaporkan kelakuan kalian pada Kakek dan Papaku. Kalian tahu apa yang akan terjadi, jika mereka sampai mengetahui masalah ini." Darel sengaja menghentikan perkataannya. Darel menatap tajam kearah para orang tua dari kelompok Lian.
"Yang jelas Kakekku dan Papaku akan mencabut atau menghentikan semua kerja samanya dengan Perusahaan para suami-suami kalian. Bukan itu saja, bahkan Kakekku dan Papaku juga akan membuat semua Perusahaan-perusahaan besar dan ternama meninggalkan Perusahaan-perusahaan milik suami-suami kalian!" ucap Darel dengan lantangnya.
Para orang tua dari kelompok Lian terkejut. Mereka memang sangat tahu bagaimana tipikal keluarga Wilson. Jika ada yang menyakiti salah satu anggota keluarganya, maka hukumnya adalah pemutusan kerja sama dan ditambah dengan hilangnya klien-klien besar.
"Maafkan atas ucapan istri saya, nak Darel!" sahut Ayah Lian.
Darel tidak menjawab permohonan maaf dari Ayahnya Lian. Bahkan Darel menatap tajam kearahnya.
"Aku juga salah satu korban dari putra anda, Tuan!" Darel berucap dengan tatapan amarahnya.
"Jika anda ingin tahu, tanyakan saja pada putra anda itu. Buat putra anda itu mau menjawabnya," kata Darel dengan menatap tajam kearah Lian.
Pria itu langsung mengalihkan pandangannya menatap kearah putranya. Begitu juga dengan semua orang yang ada di ruangan itu. Pria itu lalu menghampiri putranya dan langsung bertanya.
"Lian. Apa yang sudah kau lakukan terhadap Darel?" Lian hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Apa kau tidak dengar Papamu bertanya, Lian?!" teriak pria itu.
"A-aku membayar beberapa preman untuk melecehkan Darel, Pa!"
DEG..
Mereka semua terkejut saat mendengar jawaban dari Lian. Mereka semua menggeleng-gelengkan kepala akan kelakuan keji Lian.
__ADS_1
PLAAKK..
Pria itu memberikan tamparan keras di wajah putra keduanya itu. Dirinya benar-benar malu akan kelakuan putranya.
"Aku punya satu hukuman untuk Lian dan teman-temannya. Hukuman ini sangat adil dan bijaksana untuk semuanya. Itu pun jika kalian semuanya setuju!" seru Darel.
Baik kepala sekolah, para guru, kedua orang tua dari dua murid yang dibully maupun para orang tua dari kelompok Lian melihat kearah Darel.
"Hukuman apa itu, nak Darel?" tanya Ayah dari murid yang dihajar oleh Lian
"Lian dan teman-temannya harus pergi meninggalkan negara Jerman. Mereka tidak boleh tinggal di Jerman lagi. Selamanya!" Darel menjawab pertanyaan dari ayah yang teman sekelasnya di bully oleh Lian dan teman-temannya."
"Tapi........" belum selesai Ayah dari Khary berbicara. Darel sudah memotongnya.
"Penjara selama 25 tahun atau pergi dari negara ini!" Darel berucap penuh penekanan dan ancaman.
"Jika kalian sedih dan merasa iba dengan putra-putra kalian. Kalian sebagai orang tua juga bisa pergi bersama putra-putra kalian itu." Itu Kenzo yang bersuara.
Mendengar saran dan usul dari Darel membuat kedua orang tua dari dua murid yang dibully mengangguk setuju.
"Sepertinya hukuman yang diberikan oleh nak Darel sangat pas dan cocok untuk putra-putra kalian," kata Ibu dari murid yang dipukul oleh Lian.
"Ya. Kalau hukuman itu cocok dan pantas untuk mereka, aku juga setuju!" ucap Ibu dari murid yang dipukul oleh Leo dan Fahri.
"Bagaimana Tuan, Nyonya?" tanya Ayah dari murid yang dipukul oleh Lian.
"Baiklah. Kami setuju!" jawab para Ayah.
Sementara para Ibu hanya diam, tapi bagaimana pun mereka tidak bisa berkutik untuk membela putra-putra mereka.
Darel dan ketujuh sahabatnya tersenyum kemenangan.
"Mereka dilarang untuk kembali lagi ke Jerman. Jika mereka masih berani menginjakkan kakinya lagi ke Jerman, maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada putra-putra kalian. Bahkan aku juga tidak akan segan-segan untuk menghancurkan kalian semua. Pegang kata-kataku dan aku akan buktikan suatu saat nanti, jika salah satu dari kalian ada yang melanggar!" ucap Darel dengan penuh ancaman.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Darel pergi meninggalkan ruangan tersebut dan disusul oleh ketujuh sahabatnya.
Flashback Off