Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Perang Mulut Raffa Dan Dylan


__ADS_3

Darel yang melihat keterdiaman Rafif, Agra, Reymon dan Ronald tersenyum di sudut bibirnya.


"Bagaimana? Apa kalian sudah ingat alasan kalian dilarang untuk tidak kembali lagi ke negara ini?"


"Kami tidak peduli!" bentak Agra.


"Ooh, begitu! Baiklah jika itu mau kalian. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, jika kalian berani kembali ke negara ini lagi maka aku akan melakukan sesuatu pada kalian dan juga keluarga kalian," ucap Darren dengan nada ancaman.


"Jangan pernah kau menyentuh keluarga kami. Mereka tidak salah dan tidak tahu apa-apa!" bentak Ronald.


"Aku tidak peduli. Bukankah sudah ada perjanjian saat itu," sahut Darel.


"Jadi ini alasan kau menculik kami, hah?!" bentak Reymon.


"Eeemm.. tidak juga. Alasan pertamaku menculik kalian adalah........." Darel sengaja menghentikan perkataan.


"Apa?!" bentak Rafif.


Darel menatap tajam Rafif, Agra, Reymon dan Ronald secara bergantian.


"Jawab! Apa kau tuli, hah?!" bentak Ronald.


BUGH..


"Aakkhhh!" salah satu orang-orangnya Arzan memberikan pukulan di wajah Ronald.


"Alasanku menculik kalian adalah karena kalian sudah berani mencelakai ketujuh sahabat-sahabatku sehingga membuat kelima sahabatku meninggal dan duanya menghilang!" teriak Darel dengan suara kerasnya dan jangan lupa air matanya mengalir membasahi wajahnya.


DEG..


Rafif, Agra, Reymon dan Ronald terkejut atas apa yang dikatakan oleh Darel.


"Apa? Sahabat-sahabatnya Darel meninggal dan duanya hilang?" batin Rafif, Agra, Reymon dan Ronald bersamaan.


"Kau jangan bercanda, Darel!" bentak Reymon.


"Kami........." perkataan Rafif terhenti seketika.


Darel langsung mengeluarkan sebuah kalung yang memang disimpan oleh Darel di Markas nya.


Melihat kalung tersebut membuat Rafif, Agra, Reymon dan Ronald membulatkan matanya.


"Kalian pasti kenalkan dengan kalung ini kan?" tanya Darel.


"Lian Jevera!" Rafif, Agra, Reymon dan Ronald bersamaan.


Darel tersenyum penuh kemenangan saat keempatnya mengetahui pemilik dari kalung tersebut.


"Kalian pasti bingung kenapa kalung milik Lian ini ada padaku?" tanya Darel.


"Iya. Bagaimana bisa kalung itu bisa berada di tanganmu!" tanya Agra.


"Yang kami tahu selama kami berteman dengan Lian, kalung itu selalu menempel dilehernya!" ucap Ronald.


"Kalung ini aku temukan ditangan kak Azri, lebih tepatnya Dokter yang menangani kelima sahabatku saat kecelakaan tersebut yang menemukan kalung itu ditangan kak Azei. Sebelum kecelakaan tersebut terjadi, kemungkinan besar ketujuh sahabat-sahabatku bertemu dengan kalian!" teriak Darel.


"Tidak!" jawab Rafif, Agra, Reymon dan Ronald bersamaan.


"Kami tidak bertemu dengan sahabat-sahabatmu itu, Darel!" seru Reymon.

__ADS_1


"Iya, Rel! Kami tidak pernah bertemu dengan mereka," tutur Agra.


"Kami berani bersumpah, Darel! Kami tidak pernah bertemu dengan sahabat-sahabatmu itu," ucap Ronald.


"Kami baru satu minggu berada di Jerman ini. Aku kembali ke Jerman tanggal 18 September 2019," sahut Rafif.


"Kalau aku tanggal 20," ucap Agra.


"Dan kebetulan aku dan RonaldĀ  sama-sama tiba di bandara tanggal 22 dengan pesawat yang beda," kata Reymon.


Ronald menganggukkan kepalanya. "Itu benar, Rel!Jadi kami tidak terlibat dalam kecelakaan yang menimpa ketujuh sahabat-sahabatmu."


DEG..


Darek terkejut saat mendengar penuturan dari Rafif, Agra, Reymon dan Ronald.


Darel menatap tepat di manik Rafif, Agra, Reymon dan Ronald. Terlihat sebuah kejujuran disana. Tapi bagi Darel tetap saja mereka terlibat. Bagaimana pun mereka adalah satu tim. Tidak mungkin jika mereka tidak mengetahuinya.


"Aku tidak akan melepaskan kalian sebelum aku berhasil menangkap empat teman kalian itu, termasuk Lian. Kalian tetap berada disini."


"Tidak bisa begitu, Rel! Kami sama sekali tidak terlibat dalam kecelakaan yang menimpa ketujuh sahabat-sahabatmu itu. Jadi kau tidak berhak memperlakukan kami seperti ini!" teriak Agra.


"Aku tidak peduli. Anggap saja ini hukuman kalian di masa lalu karena kalian selalu mengganggu kami dan membully teman-teman satu sekolah kalian. Seharusnya kalian berterima kasih padaku. Kalau bukan berkat saran dariku, sampai detik ini kalian masih berada di dalam penjara," sahut Darel.


Rafif, Agra, Reymon dan Ronald terdiam mendengar ucapan dari Darel. Di dalam hati mereka membenarkan ucapan Darel tersebut.


"Jika kalian bersikap baik selama berada di Markas ku ini, maka kalian dan anggota keluarga kalian juga akan baik-baik saja. Tapi sebaliknya, jika kalian berusaha untuk kabur dari sini, maka akan aku pastikan keluarga kalian akan aku hancurkan. Ayah kalian akan kehilangan Perusahaannya."


Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung pergi meninggalkan ruangan dimana Rafif, Agra, Reymon dan Ronald ditahan.


***


Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, termasuk Pingkan dan Mirza. Pingkan juga sudah menceritakan semuanya pada anggota keluarga Wilson perihal dirinya yang pertama kali bertemu dengan Darel.


"Jadi kalian yang telah dibantu oleh putra bungsuku, Pingkan!" tanya Adelina.


"Iya, kak."


Adelina melirik kearah Mirza. "Dan kau pasti Mirza?"


"Iya, Bi. Aku Mirza."


"Ternyata Darel menolong adiknya sendiri!" seru Gilang.


"Anak-anak!" seru Adelina sembari melihat kearah putra-putranya dan juga kearah para keponakan-keponakan tampannya. "Bibi Pingkan ini adalah Kakak sepupunya Bibi Kayana. Baik Bibi Pingkan maupun Bibi Kayana tidak memiliki saudara kandung karena mereka anak tunggal di keluarga mereka. Ibu kandung dari Bibi Pingkan dan Bibi Kayana adalah Kakak adik. Ayah kandung Bibi Pingkan dan Bibi Kayana juga Kakak adik, lalu kemudian mereka menikah." Adelina berucap sembari menjelaskan hubungan Pingkan dan Kayana.


Saat Adelina ingin melanjutkan perkataannya, Evan sudah terlebih dahulu bersuara.


"Kakak menikahi kakaknya dan yang adiknya menikahi adiknya. Begitukan, Ma?" tanya Evan.


"Iya, sayang." Adelina langsung mengiyakan pertanyaan dari putranya itu sembari tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Sama seperti Mama dan Bibi Salma. Papa dan Paman Sandy," sela Raffa.


"Lalu kenapa anak kelinci itu tidak ikut pulang bersamamu, Dylan Wilson?" tanya Davian.


Dylan yang mendengar nada bicara Davian sedikit takut. Sedangkan Davian yang melihat ketakutan di wajah Dylan, menjadi tidak tega.


"Hei, Dylan! Kakak tidak marah. Ayolah, jangan perlihatkan wajahmu seperti itu pada kakak!"

__ADS_1


"Makanya, kak Davian. Lain kali kalau nanyanya yang sopan dan juga lembut. Jangan langsung ngegas kalau bertanya. Bisa nggak jadi orang itu lemah lembut dikit. Jangan galak-galak," ejek Raffa.


Anggota keluarganya yang mendengar penuturan dari Raffa langsung tertawa.


"Hahahaha."


Tapi tidak dengan Davian. Davian menatap horor adik bungsu keduanya itu. Justru yang jadi korban tatapan hanya menunjukkan sikap santainya.


"Jangan menatapku seperti itu, kak! Apa kakak mau kedua bola mata kakak itu lepas?" ucap Raffa.


"Hahahaha."


Semuanya kembali tertawa. Yang paling kencang tawanya adalah para saudara-saudara kandungnya sendiri.


Davian hanya bisa menghela nafas pasrahnya dan juga mendengus kesal akan ucapan dari adik aliennya itu.


"Dylan, sayang!" Arvind memanggil keponakannya itu dengan lembut.


Dylan langsung melihat kearah Arvind. "Iya, Paman!"


"Kenapa Darel tidak ikut pulang bersama kamu? Memangnya Darel kemana, sayang?"


"Tadi Darel bilang padaku, katanya Darel mau ke Markasnya. Aku nggak tahu Markas apa yang dimaksud oleh Darel. Dan Darel perginya bersama seseorang. Siapa ya, namanya... eeemmmm." Dylan berpikir sejenak.


"Arzan!" seru Nevan tiba-tiba.


"Iya, kak Arzan. Itu namanya," ucap Dylan cepat.


"Bagaimana kakak bisa menebak, jika Darel pergi bersama Arzan?" tanya Daffa.


"Selama ini yang kita kenal hanya Zayan dan Arzan. Saat ini Zayan diberi tugas oleh Darel untuk mencari keberadaan Kenzo dan Gavin. Dan kakak yakin Darel juga memberikan tugas pada Arzan untuk mencari keberadaan dari pemilik kalung yang ditemukan oleh Dokter di tangan Azri. Kemungkinan besar saat ini Arzan sudah berhasil. Maka dari itulah Darel pergi ke Markas bersama Arzan!" Nevan menjelaskan alasan dirinya yang yakin bahwa adik bungsunya pergi bersama Arzan.


Mereka yang mendengar jawaban dari Nevan menganggukkan kepala. Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Nevan barusan.


"Saat di rumah sakit, berarti Darel sudah tahu siapa Bibi Pingkan?" tanya Alvaro.


"Belum," jawab Dylan.


"Kenapa?" tanya Axel.


"Biar menjadi kejutan untuk Darel saat sampai di rumah," jawab Dylan.


"Terserah padamu, adik Dylan!" ejek Raffa.


"Hei.. kita ini seumuran kalau kau lupa. Jadi aku ini bukan adikmu. Dasar bocah aneh." Dylan balik mengejek Raffa.


"Apa kau bilang?"


"Bocah aneh."


"Kau yang aneh. Dan aku bukan bocah."


"Bodo. Yang jelas kau adalah manusia teraneh."


"Kau yang aneh."


"Kau."


"Kau."

__ADS_1


__ADS_2