
Mathew melihat kearah ponsel yang mengarah padanya. Matanya membelalak sempurna saat melihat video call tersebut. Di video call itu Mathew melihat kondisi ibu dan adik perempuannya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ada luka lebam di wajah keduanya.
"Brengsek! Apa yang sudah kau lakukan pada ibu dan adikku?!" teriak Mathew.
"Itu adalah balasan atas apa yang telah kau lakukan pada Bibi Kayana, Nenekku dan Kakekku!" teriak Darel.
"Tapi mereka tidak bersalah. Kau bisa membalasnya padaku!" bentak Mathew.
"Bibi Kayana, Nenekku dan Kakekku juga tidak bersalah. Mereka juga sama seperti ibu dan adikmu. Tapi kau dengan kejam membunuh mereka. Kau membunuh mereka dengan sangat kejam, terutama Kakek. Kau melakukan hal itu hanya karena ingin membalas kematian Ayahmu. Sudah jelas disini Ayahmu dan nenekmu yang bersalah. Mereka merebut semua haknya Kakek. Bahkan mereka mengusir Kakek dari rumahnya sendiri. Tapi Kakek tidak membalas perlakuan Ayahmu dan nenekmu itu. Disaat Kakek sudah berjaya kembali. Ayahmu datang dan memohon bantuannya, karena Kakek sangat tahu akal bulus Ayahmu itu makanya Kakek tidak sudi menolong Ayahmu. Dan akhirnya Ayahmu pun pergi meninggalkan perusahaan Kakek dengan tangan hampa. Dan keesokannya Kakek mendapatkan kabar tentang kematian Ayahmu itu. Diam-diam Kakek datang ke pemakaman Ayahmu dan berdoa di sana. Bagaimana pun Ayahmu itu adalah adiknya? Kakek tidak penaruh dendam sedikit pada Ayahmu. Bukan itu saja, kau juga melukai Kakakku. Padahal kakakku tidak punya salah padamu." Darel berbicara dengan penuh penekanan sembari matanya menatap tajam Mathew.
"Jadi aku katakan sekali lagi padamu, tuan Mathew. Biarkan Kakakku dibawa ke rumah sakit. Kalau sampai terjadi sesuatu pada kakakku. Aku akan pastikan kau akan kehilangan ibu dan adik perempuanmu itu!" teriak Darel.
Tidak ada jawaban dari Mathew. "Kau diam. Berarti itu tandanya, kau membiarkan kakakku untuk dibawa ke rumah sakit," ucap Darel.
Darel melihat kearah Daffa dan yang lainnya. "Bawa Kak Raffa ke rumah sakit, Kak Daffa. Dan kau Zayan, tetap disini!" seru Darel. "Mama ikutlah dengan mereka," ucap Darel.
"Baiklah, sayang." Adelina menjawab perkataan putra bungsunya.
Adelina dan kelima putranya dan tiga anak buah Zayan membawa Raffa ke rumah sakit.
Kini mereka semua menatap tajam kearah Mathew dan Agatha. Mereka benar-benar muak dan jijik melihat keduanya.
Sedangkan para putra-putranya hanya diam membeku. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka juga sedikit tidak suka dan juga risih terhadap Mathew. Walau kenyataannya yang mereka terima bahwa pria tersebut adalah Ayah kandung mereka.
"Hahahaha." Mathew tertawa keras.
"Aku akui kau sangat pintar, Darel. Aku telah salah menganggapmu bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Tapi sudah cukup permainannya, oke. Sekarang kau pergi dan bawa semua keluargamu dari sini. Rumah ini sekarang milikku!" teriak Mathew.
"Sudah aku katakan padamu, tuan Mathew. Kau belum sepenuhnya menguasai RUMAH ini maupun CJ GRUP," jawab Darel.
"Jangan bermain-main denganku, Darel Wilson. Kau lihatlah ini." Mathew melempar dua berkas tepat di hadapan Darel.
Darel mengambil berkas-berkas itu dan melihatnya, lalu kemudian Darel tertawa.
"Hahahaha. Kau terlalu yakin dengan berkas-berkas ini, tuan Mathew. Memang disini ada tanda tanganku dan cap jempolku. Tapi satu hal yang harus kau ketahui. Cap jempol yang ada di berkas ini bukanlah cap jempol milikku. Tapi cap jempol milik sekretarisku. Aku sengaja melakukan hal itu untuk memudahkan semua rencanamu karena aku mengetahui bahwa kau sudah membayar atau menyuap dua karyawanku." Darel berbicara dengan senyuman di sudut bibirnya.
Anggota keluarganya yang mendengar ucapan Darel menjadi bangga dan terharu. Mereka semua tidak menyangka bahwa seorang Darel yang manja, cengeng dan selalu jahil tanpa mereka ketahui ternyata sudah menyiapkan semuanya. Menyiapkan semua senjata-senjatanya untuk melawan Mathew dan Agatha. Mereka semua tersenyum bahagia melihat Darel.
"Apa? Bocah sialan ini mengetahui rencanaku," batin Mathew.
"Sayang. Jangan percaya ucapan anak sialan itu. Siapa tahu dia sengaja menjebakmu atau yang lainnya?" Agatha bersuara.
"Kau ingin menjebakku kan? Kau sengaja berbicara seperti itu agar aku mengakui kesalahanku. Iyakan?!" bentak Mathew.
"Ayoo, jawab anak sialan! Benarkan apa yang dikatakan suamiku?!" bentak Agatha.
Darel tidak menjawabnya. Matanya menatap tajam kearah Agatha dan memberikan senyuman manis menanggapi ucapan Agatha.
"Kau lihat sendirikan, sayang. Anak sialan itu diam. Berarti benar kataku. Dia hanya menjebakmu saja," sahut Agatha.
Masih fokus dengan tatapannya pada kedua pasangan suami istri tersebut.
"Zayan," panggil Darel.
"Ya, Bos."
"Seret dua pengkhianat itu kesini," titah Darel.
"Siap, Bos."
"Bawa pengkhianat itu kemari!" teriak Zayan kepada anak buahnya.
Dan masuklah beberapa orang dengan menyeret paksa dua pemuda tersebut. Lalu dua pemuda itu didorong kuat dan jatuh tepat di kaki Mathew dan Agatha.
BRUUKK!
BRUUKK!
__ADS_1
Mathew benar-benar terkejut saat melihat dua pemuda tersebut. Dan dua pemuda itu juga ketakutan saat berhadapan dengan Mathew.
"Maafkan kami, tuan. Kami gagal."
"Satu lagi kejutan untukmu, tuan Mathew. Ini untuk memastikan siapa pemilik asli dari RUMAH MEWAH ini dan CJ GRUP!"
"VIDEO nya, Zayan!"
"Baik, Bos." Zayan memperlihatkan video itu kehadapan Mathew dan Agatha.
Di dalam Video itu dimana Darel sedang menandatangani sebuah berkas bersama dengan sekretarisnya. Terlihat di dalam video itu, sekretaris tersebut sedang menempelkan jempolnya di atas sebuah berkas yang telah ditandatangani oleh Darel.
Mathew dan Agatha yang melihat video itu terdiam seketika. Lagi-lagi rencana mereka gagal.
"Brengsek kau, Darel!" teriak Mathew.
"Satu lagi yang belun kau ketahui, tuan Mathew."
"Apa?!" bentak Mathew.
Darel menatap tajam kearah Agatha lalu beralih menatap wajah Mathew.
"Ini mengenai istri kesayanganmu itu."
Mathew melihat kearah Agatha lalu kembali menatap wajah Darel dengan penuh amarah.
"Memangnya hal apa yang ingin kau katakan padaku, hah?!"
"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, Tuan Mathew. Apakah kau begitu mencintai istrimu itu?"
"Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu?!" bentak Mathew.
"Jawab saja pertanyaanku," ucap Darel.
"Jelas aku sangat mencintainya. Dia istriku dan ibu dari anak-anakku," jawab Mathew.
"Aku tahu laki-laki itu siapa. Laki-laki itu adalah William Wilson. Dan aku tak mempermasalahkannya karena itu sudah kami rencanakan," jawab Mathew.
Sedangkan Agatha sudah tersenyum mengejek kearah Darel.
"Tapi sayangnya. Laki-laki yang aku maksud itu bukanlah Pamanku, William Wilson karena yang aku tahu selama Pamanku menikah dengan istrimu itu mereka tidak dikaruniai seorang anak. Laki-laki yang aku maksud adalah laki-laki lain. Sebelum istri kesayanganmu itu menikah dengan Pamanku. Istrimu itu sudah terlebih dahulu tidur dengan laki-laki lain. Dan istrimu itu memiliki anak perempuan dari orang itu." Darel berbicara dengan mimik wajah mengekek.
Mathew melihat wajah Agatha. Agatha yang melihat wajah Mathew benar-benar takut.
"Tidak, sayang. Itu bohong. Kau tahukan bagaimana otak liciknya. Anak sialan itu ingin membuat hubungan kita hancur." Agatha berusaha meyakinkan suaminya.
"Hahahaha." Darel tertawa keras. "Tuan Mathew. Aku beri saran padamu. Kau jangan terlalu percaya dengan ular betina yang ada di sampingmu itu. Perempuan itu sangat licik dan pintar berbohong. Pamanku saja sudah berhasil dibohongi olehnya. Kemungkinan besar, ular betina itu juga sudah berhasil membohongimu selama ini."
"Cukup. Kau jangan bicara sembarangan, Darel. Kau sengajakan mengatakan hal itu pada suamiku karena kau ingin membalas rasa sakitmu padaku selama ini!" bentak Agatha.
"Masalah aku ingin membalas rasa sakitku padamu. Itu memang benar, Nyonya. Tapi masalah kau memiliki seorang anak perempuan. Itu adalah kenyataan. Bukan berita bohong." Darel menjawab perkataan Agatha dengan menatap tajam Agatha.
"Mana buktinya. Berikan padaku jika istriku Agatha memiliki anak perempuan dari laki-laki lain!" bentak Mathew.
"Waah! Benarkah, Tuan Mathew ingin melihatnya? Dengan senang hati kalau begitu." Darel berucap dengan sumringah nya.
"Zayan."
"Ya, Bos."
"Videonya lagi, Zayan."
"Ini, Bos." Zayan menyerahkan video yang terakhir pada Darel. "Terima kasih, Zayan. Untung kau menyuruh dua anak buahmu untuk datang ke sekolahku dan menceritakan apa yang terjadi pada keluargaku. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan membawa semua video-video itu kemari."
"Itu sudah menjadi tugas saya, Bos."
Darel memperlihatkan video tersebut pada Mathew. Di dalam video itu terlihat Agatha bersama seorang pria kaya raya sedang berjalan menuju kamar hotel. Dan saat tiba di kamar hotel tersebut. Keduanya melakukan hubungan layaknya seorang suami istri. Bahkan di video itu, pria tersebut bersedia bertanggung jawab seandainya Agatha hamil anaknya. Mathew benar-benar murka saat melihat video tersebut.
__ADS_1
PLAKK!
Mathew menampar keras wajah Agatha. "Brengsek. Kau benar-benar keterlaluan, Agatha. Aku sudah mati-matian selama ini untuk mewujudkan keinginanmu dan juga keinginan kita serta putra-putra kita. Tapi apa balasanmu. Kau justru mengkhianatiku dengan tidur bersama laki-laki lain sebelum rencana pernikahanmu dengan William terwujud!" teriak Mathew.
"Sayang. Aku..." lirih Agatha.
"Aarrgghhh!" teriak Mathew.
Mathew mengarahkan senjatanya kehadapan Agatha.
Dan kemudian...
DOR!
DOR!
"Aaakkkhhhh!"
Tiba-tiba tubuh Darel terhuyung ke belakang. Dan hal itu sukses membuat anggota keluarganya berteriak histeris.
"DAREL!!"
Mereka semua menghampiri dan mendekat kearah Darel dan menahan tubuh Darel.
Mathew berhasil menjebak Darel dan membuat Darel maupun anggota keluarganya lengah. Mereka berpikir bahwa Mathew akan menembaki Agatha dikarenakan Mathew menodongkan senjatanya kearah Agatha. Tapi diluar nalar, Mathew justru menembak Darel.
"Darel.. hiks.. sayang.. hiks." tangis Arvind pecah.
"Pa-papa," lirih Darel.
"Darel.. hiks." para Kakaknya dan para Kakak sepupunya menangis melihat kondisi Darel saat ini.
Arvind menatap tajam kearah Mathew. "Brengsek kau, Mathew. Kau sudah membunuh kedua orang tuaku. Dan sekarang kau berani menyakiti kedua putraku!" teriak Arvind.
"Hahaha. Putramu itu pantas mati karena putramu itu sudah menggagalkan semua rencanaku!" teriak Mathew.
Davian mengangkat tubuh adiknya itu dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dirinya tidak mau terjadi sesuatu pada adik kesayangannya itu. Dan disusul oleh saudara-saudaranya yang lainnya.
Mereka semuanya menangis. Mereka semuanya tampak khawatir. Evita, Salma bahkan putra-putra mereka ikut bersama dengan Davian dan adik-adiknya.
Agatha menyentuh bahu Mathew. Walau di dalam dirinya masih ada rasa takut pada suaminya itu.
"Sayang. Aku benar-benar takut barusan. Aku pikir kau akan benar-benar ingin membunuhku," ucap Agatha pada Mathew.
Mendengar ucapan dari Agatha. Mathew membalikkan badannya untuk melihat wajah istrinya.
"Aku memang ingin membunuhmu. Tapi setelah aku membunuh bocah sialan itu," jawab Mathew. Mathew menatap tajam Agatha.
Melihat Mathew yang saat ini sedang menatap istrinya. Sandy tidak membuang kesempatannya. Sandy melirik kearah Zayan dan memberikan kode pada Zayan agar memberikan senjata padanya. Zayan yang mengerti langsung memberikan senjata miliknya pada Sandy. Dan Sandy pun langsung mengarahkan senjata itu kearah kedua kaki Mathew.
DOR! DOR!
DOR! DOR!
DOR! DOR!
"AAKKKHHHHH!" teriak Mathew dan tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai.
Sandy memberikan enam tembakan di bagian betis Mathew dengan masing-masing tiga tembakan.
Sedangkan William dengan gesitnya mengambil senjata milik Mathew yang terlepas dari tangannya.
Sedangkan untuk dua puluh anak-anak buahnya sudah ditangani oleh anak buahnya Zayan dan juga anak buah yang dibawah oleh Darel saat ketika Darel datang.
"Ikat bajingan itu!" teriak Arvind.
Zayan dan anak buahnya beserta anak buah yang dibawa oleh Darel pun mengikat tubuh Mathew dan juga mengikat semua anak buahnya.
__ADS_1
"Sekarang aku yang pegang kendali, Mathew! Sudah cukup kau bermain-main selama ini. Jadi, biarkan aku, Sandy dan William yang akan mengakhiri permainan yang sudah kau buat. Bahkan putra-putraku juga akan ikut dalam permainan ini." Arvind berbicara dengan tangannya mencengkeram kuat rahang Mathew.