
"Bagaimana? Apa kau sudah membawa uangnya?" tanya Darel kepada anggotanya Devon.
"A-aku..."
Duagh..
Bruukkk..
Pemuda itu seketika tersungkur akibat mendapatkan tendangan tak main-main dari Darel.
"Jangan main-main denganku! Kau pikir gampang cari uang, hah! Ayahku, kakak-kakakku, semua anggota keluargaku bahkan semua anggota keluarga dari sahabat-sahabatku bekerja keras mencari uang. Sementara kau seenaknya mencuri semua uang-uang itu!" bentak Darel.
Darel ingin kembali memberikan tendangan kepada anggota Organisasinya yang telah mencuri uang-uang itu, namun langsung ditahan oleh Brian dan Azri. Mereka tidak ingin Darel sampai kelepasan dan kalap.
"Kak, lepas!"
"Sabar, Rel!" ucap Brian.
"Tapi dia sudah berani mencuri uang-uang itu, kak! Gara-gara perbuatan dia, Devon sampai menggunakan uang pribadinya. Bahkan aku juga harus menggunakan uangku untuk acara Panti Asuhan itu," ucap Darel.
"Keluarga kita bahkan kita bekerja keras untuk mendapatkan uang-uang itu, sedangkan dia dengan mudahnya mendapatkan semua uang itu."
"Kita sudah memberikan waktu buat dia selama satu minggu, namun dia masih cuek dan acuk begitu tanpa ada rasa bersalah sama sekali."
Darel saat ini benar-benar marah akan sikap salah satu anggota Organisasinya. Dirinya paling tidak suka yang nama pengkhianat.
"Zayan!"
"Iya, Bos!"
"Bawa dia ke kantor polisi."
"Siap, Bos!"
"Kalian, bawa dia ke kantor polisi!" perintah Zayan kepada anggotanya.
***
Davian berada di markas sekarang ini. Dia bersama dengan Arjuna sahabatnya. Keduanya tengah membahas masalah yang dihadapi gadis yang ditolong oleh beberapa anggota Darkness dan juga permasalahan yang dihadapi oleh adik bungsu kesayangannya.
"Bagaimana Juna? Apa kau sudah tahu tiga orang yang mengaku pemilik gedung Panti Asuhan itu?" tanya Davian.
"Untuk saat ini belum. Tapi kau tidak perlu khawatir. Hanya perlu menunggu beberapa hari saja. Tenang saja. Sebentar lagi kau akan mendapatkannya" jawab Arjuna.
"Baiklah. Aku akan sabar menunggu kabar itu," sahut Davian.
"Oh iya! Bagaimana kondisi adik dan dua adik sepupumu?"
"Mereka sudah jauh kata naik. Mereka sudah di rumah sekali."
"Ach, syukurlah! Aku senang mendengar."
"Oh iya, satu lagi! Bagaimana gadis itu! Apa masih sama kondisinya?" tanya Arjuna.
__ADS_1
"Masih belum ada tanda-tanda dia akan bangun," jawab Davian.
"Terus apa yang akan kau lakukan untuk membantu gadis yang bernama Axella itu? Lalu bagaimana dengan Ayahnya yang sudah membunuh ibunya?" tanya Arjuna.
"Yang pertama aku lakukan adalah bermain-main terlebih dahulu dengan perusahaan milik keluarga ibu tirinya itu. Aku akan buat semua perusahaan mereka diambang kehancuran. Bahkan aku akan buat tidak ada satu pun yang mau membantu perusahaan mereka."
"Jadi....?"
"Jadi, hanya satu orang yang bisa membantu perusahaan mereka." Davian berbicara sembari menatap wajah Arjuna sembari tersenyum.
"Dan orang itu adalah Axella. Dia yang akan menjadi satu-satunya orang yang akan menyelamatkan perusahaan keluarga dari ibu tirinya. Begitukah?"
"Iya. Dari sanalah Axella akan membalas rasa sakitnya atas apa yang telah dilakukan oleh ibu tirinya dan juga saudari tirinya itu."
"Lalu bagaimana dengan ayahnya? Bukannya ayahnya yang sudah membunuh ibunya?"
"Fokus dulu dengan sang ibu tiri dan saudari tiri, karena mereka lah yang menjadi biang penderitaan Axella. Kedua perempuan itu sudah membuat Axella kehilangan orang yang dia sayangi, maka kedua perempuan itu juga harus merasakan apa yang dirasakan oleh Axella."
"Setelah kedua perempuan itu merasakan kehilangan, baru kita akan bermain-main bersama sekaligus."
Mendengar ucapan demi ucapan serta penjelasan demi penjelasan dari Davian membuat Arjuna tersenyum. Dia menyetujui apa yang direncanakan oleh Davian.
"Ide yang bagus. Aku suka."
"Ya, sudah. Kalau begitu aku langsung pulang. Ini sudah sore."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
Davian beranak dari duduknya kemudian pergi meninggalkan markas Darkness. Setelah kepergian Davian. Arjuna juga memutuskan untuk pulang ke rumah. Dirinya sudah sangat merindukan keluarganya.
***
"Bagaimana? Sudah tenang sekarang?" tanya Gavin.
"Belum." Darel menjawab pertanyaan dari Gavin dengan ketus.
"Yak! Kenapa marah sama gue. Gue kan cuma nanya doang," ujar Gavin.
"Pertanyaan lo buat mood gue makin buruk," jawab Darel.
"Nggak ada zamannya seorang Darel Wilson yang mood nya terlihat baik-baik saja. Yang ada dia selalu terlihat buruk," pungkas Gavin.
"Diam lo badak," balas Darel.
"Hahahahahaha."
Seketika semua tertawa keras ketika mendengar ucapan kejam dari Darel yang ditujukan untuk Gavin. Sedangkan Gavin memberikan tatapan mautnya ke hadapan Darel.
"Rel," panggil Samuel.
"Ada apa?" jawab Darel.
"Cih! Gue tadi nanya diketusin. Giliran Samuel yang nanya, dijawab lembut. Dasar kelinci busuk," ucap Gavin.
__ADS_1
Darel langsung memberikan pelototan mautnya kepada Gavin. Dirinya tidak terima dikatakan kelinci busuk.
"Dasar bibir tebal karatan."
"Hahahaha."
Mereka semua kembali tertawa ketika mendengar ucapan unik dari Darel untuk Gavin. Mereka tidak habis pikir akan ejekan yang diberikan oleh Darel.
"Kamu mau nanya apa, Samuel?" tanya Darel.
"Ach, itu! Aku mau nanya masalah tiga Panti Asuhan itu? Apa sudah ketahuan orang yang mengaku sebagai pemilik dari gedung Panti Asuhan itu?" tanya Samuel.
"Belum, Samuel!"
"Terus bagaimana dengan kegiatan kita itu? Sampai kapan diundur?" tanya Samuel.
"Kita lihat situasinya dulu. Jika kita gegabah dan buru-buru. Takutnya orang-orang itu akan bertindak jauh. Disini aku mikir anak-anak Panti," jawab Darel.
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menganggukkan kepalanya tanda setujui. Mereka juga tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anak-anak Panti.
Ketika Darel dan sahabat-sahabatnya tengah membahas masalah Panti Asuhan, tiba-tiba ponsel milik Darel berbunyi.
Mendengar dering ponsel miliknya, Darel langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, matanya melihat nama 'Niko' tangan kanannya.
Tanpa membuang-buang waktu lama, Darel langsung menjawab panggilan dari Niko. Dirinya penasaran informasi apa yang akan disampaikan oleh Niko padanya.
"Hallo, Niko."
"....."
Seketika terukir senyuman manis di Darel ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Niko padanya.
"Benarkah?"
"....."
"Ada berapa jumlah mereka?"
"...."
"Baiklah. Kau atur semuanya. Persiapkan apa yang perlu dipersiapkan."
"...."
"Tak masalah."
Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilannya.
"Ada apa, Rel?" tanya Farrel.
"Kita akan kedatangan tamu. Jadi aku minta kepada kalian untuk mempersiapkan diri."
"Apa ini ada hubungannya dengan orang-orang yang mengaku pemilik gedung Panti Asuhan itu?" tanya Lucas.
__ADS_1
"Iya. Jadi persiapkan diri kalian. Kita akan melawan mereka bersama," ucap Darel dengan menatap wajah sahabat-sahabatnya satu persatu.
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menganggukkan kepalanya bersamaan.