Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Perasaan Takut


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Semua anggota keluarga sudah berada di rumah. Dan semuanya dalam keadaan bersih dan juga rapi dengan pakaian santainya. Mereka mengobrol banyak hal disana sembari tertawa.


"Evan! Raffa! Bukankah beberapa bulan lagi kalian akan melaksanakan ujian semester akhir dan setelah itu wisuda?"


"Iya, Pah!"


"Bagaimana? Sudah siap semua itu?" tanya Adelina.


"Selalu siap, Ma!"


Arvind melihat kearah keponakannya yaitu Rendra, Melvin dan Dylan secara bergantian.


"Lalu bagaimana dengan kalian bertiga?" tanya Arvind.


"Sama seperti jawaban Evan dan Raffa, Paman! Aku selalu siap," jawab Rendra.


"Aku juga. Bahkan aku tidak sabar menantikan hari itu," ujar Melvin.


"Apalagi aku," sela Dylan.


Mendengar jawaban-jawaban dari Rendra, Melvin dan Dylan membuat Arvin, Adelina, Sandy, Salma, Daksa, Evita tersenyum. Begitu juga dengan yang para kakak-kakaknya.


Ketika mereka semua sedang mengobrol sembari tertawa karena Dylan dan Raffa melontarkan kata-kata lucu, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara jatuhnya bingkai foto Darel di lantai.


Praannggg..


Mereka semua dengan kompak langsung melihat keasal suara dan tepatnya di lantai terlihat sebuah bingkai foto yang sudah pecah.


Adelina seketika berdiri dari duduknya dan kemudian kakinya melangkah menghampiri pecahan tersebut.


Deg..


Seketika Adelina merasakan ketakutan ketika tatapan matanya bertemu dengan foto wajah putra bungsunya.


"Darel," ucap Adelina lirih.


Arvind ikut berdiri dari duduknya ketika mendengar suara lirih istrinya ketika menyebut nama putra bungsunya. Kakinya kemudian menghampiri istrinya tersebut yang saat ini masih membersihkan sisa-sisa pecahan kaca di foto putra bungsunya.


Arvind seketika memiliki perasaan tak enak terhadap putra bungsunya. Bahkan tangannya bergetar ketika menyentuh bingkai foto putra bungsunya itu.


"Darel sayang," batin Arvind.


Arvind melihat ke samping dimana istrinya tampak tak baik-baik saja. Kemudian Arvind memeluk tubuh istrinya kemudian memberikan kecupan di pucuk kepalanya.


Bukan hanya Arvind dan Adelina saja yang merasakan ketakutan ketika bingkai foto Darel terjatuh di lantai, melainkan semua putra-putranya dan semua anggota keluarganya juga merasakan ketakutan terhadap Darel.


Davian mengambil ponselnya. Dirinya hendak menghubungi adiknya itu. Dirinya benar-benar khawatir dan juga takut jika terjadi sesuatu terhadap adiknya.

__ADS_1


[Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan]


Rasa khawatir dan rasa takut menggerogoti seluruh tubuhnya. Dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu terhadap adiknya itu.


"Darel, kakak harap kamu baik-baik saja!" batin Davian.


"Darel," batin semua kakak-kakaknya dan Paman dan Bibinya.


Arvind dan Adelina sudah kembali bergabung di ruang tengah dengan tangannya memegang foto putra bungsunya.


"Hubungi adik bungsumu, Davian!" pinta Adelina.


"Sudah, Ma! Tapi ponselnya Darel tidak aktif," jawan Davian.


"Aku akan coba hubungi Kenzo!" seru Raffa.


"Dan aku akan coba hubungi Gavin!" seru Evan.


Setelah mengatakan itu, Raffa dan Evan langsung menghubungi Kenzo dan Gavin.


Beberapa detik kemudian..


"Ach, sial! Ponsel mereka tidak aktif!" Raffa dan Evan berucap bersamaan.


Mendengar seruan dari Raffa dan Evan membuat mereka semua sedikit lega karena bukan ponsel milik Darel saja yang tidak aktif, melainkan ponsel milik Kenzo dan Gavin juga tidak aktif.


"Coba hubungi sahabat-sahabat Darel yang lain. Siapa tahu sahabat-sahabat Darel yang lain ponselnya bisa dihubungi. Dan bisa juga kan hanya ponsel milik Kenzo dan Gavin saja yang tidak aktif!" ucap Adelina dengan menatap satu persatu wajah putra-putranya.


Mendengar ucapan serta permintaan dari ibunya itu membuat mereka semua pun mengiyakan apa yang diinginkan oleh ibunya.


Evan kembali menghubungi sahabat adiknya yang lain. Jari-jarinya mencari nama kontak 'Brian' di daftar kontak ponselnya.


Setelah menemukan nama kontak Brian. Evan pun langsung menghubungi Brian dan menanyakan keberadaan Darel.


"Loundspeaker panggilannya Evan!"


"Baiklah, Ma!"


Beberapa detik kemudian..


"Hallo, kak Evan! Ada apa ya?"


"Hallo, Brian. Maaf kalau kakak mengganggu. Kamu sama sahabat-sahabat kamu ada dimana?"


"Aku bersama yang lainnya sedang bersiap-siap untuk pulang. Kenapa kak?"


"Apa Darel bersama kamu dan yang lainnya?"

__ADS_1


"Kita nggak sekelas sama Darel. Begitu juga dengan Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon."


Seketika Evan mengumpat di dalam hatinya ketika menyadari setelah mendengar jawaban dari Brian. Di dalam hatinya Evan, dirinya merutuki kebodohannya tersebut. Seharusnya dia menghubungi Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie atau Devon bukan Brian.


"Eh, tunggu dulu!" seru Brian tiba-tiba.


"Kenapa Brian?" tanya Raffa.


"Tadi kakak Evan menanyakan Darel?"


"Iya. Kakak memang sedang menanyakan Darel ke kamu."


"Memangnya kenapa kak. Bukannya Darel di rumah. Karena setahu aku dan yang lainnya, Darel memutuskan untuk pulang ke rumah karena Darel tampak sedikit tertekan dan sedikit lelah juga."


"Kamu tahu dari mana jika Darel akan pulang sementara kuliahnya belum kelar. Seperti sekarang ini, kamu dan sahabat-sahabat kamu yang lainnya sedang bersiap-siap untuk pulang?"


"Darel sendiri yang mengatakan padaku dan juga kepada yang lainnya bahwa dia akan pulang."


"Pukul berapa Darel mengatakan itu?" kini Vano yang bertanya.


"Satu setengah jam yang lalu."


Deg..


Evan, Raffa, Vano serta anggota keluarga Wilson lainnya seketika terkejut ketika mendengar jawaban dari Brian yang mengatakan bahwa Darel telah pergi meninggalkan kampus satu setengah jam yang lalu.


"Apa?! Kamu yakin Brian?!" tanya Davian.


"Yakin kak Davian. Sebenarnya ada apa? Kenapa nada bicara kalian semuanya terdengar aneh? Suara kalian itu seperti suara orang yang sedang ketakutan."


"Darel tidak di rumah, Brian! Dengan kata lain, Darel belum tiba di rumah sampai detik ini."


Mendengar jawaban dari Evan membuat Brian di seberang telepon seketika terkejut. Tubuhnya terhuyung ke belakang.


"Ka-kak Evan, jangan bercanda. Darel sudah satu setengah jam yang lalu meninggalkan kampus. Bahkan Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Razig, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menghubungi aku, Azri, Damian, Evano dan Farrel melalui video call dan mengatakan bahwa Darel benar-benar tidak mengikuti kelas terakhir."


"Kakak tidak bohong Brian. Darel benar-benar belum pulang. Beberapa detik yang lalu kami semua dikejutkan dengan bingkai foto Darel yang terjatuh di lantai." Evan berucap dengan suara lirih.


"Baiklah, kak! Aku akan kabari yang lainnya. Setelah itu, kami akan mencari Darel."


"Baiklah Brian. Terima kasih."


Tuttt.. Tutt..


Seketika tangis mereka semua pecah ketika mendengar penjelasan dari Brian yang mengatakan bahwa Darel sudah meninggalkan kampus satu setengah jam yang lalu.


"Darel."

__ADS_1


__ADS_2