Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Lo Baper?


__ADS_3

Rayyan saat ini tengah dalam perjalanan menuju kantor polisi. Yah! Rayyan ingin mengunjungi kedua orang tuanya yang ditahan di kantor polisi.


Seharusnya siang ini Rayyan akan bertemu dengan rekan kerjanya,


Namun ketika Rayyan hendak bersiap-siap untuk menemui rekan kerjanya itu, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.


Disaat Rayyan mendengar suara seseorang di seberang telepon bahkan mendengar apa yang disampaikan oleh orang itu membuat Rayyan berubah panik dan takut. Pasalnya orang itu menyebut nama kedua orang tuanya dan orang itu juga meminta Rayyan untuk datang ke kantor polisi.


"Tuhan! Semoga tidak ada kabar buruk apapun. Semoga semuanya baik-baik saja," batin Rayyan berharap.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, Rayyan akhirnya sampai di depan kantor polisi.


Sesampainya di depan kantor polisi, Rayyan memarkirkan mobilnya.


Rayyan keluar dari dalam mobilnya dan tak lupa menutup kembali pintu mobilnya itu.


Rayyan melangkahkan kakinya memasuki kantor polisi sembari menyapa para polisi yang sedang bertugas dan juga beberapa pengunjung yang datang.


"Rayyan," sapa Radika sahabatnya Daksa.


Radika Kebetulan sedang berada di kantor polisi. Dia disana hanya untuk menyelesaikan beberapa tugasnya.


"Paman," balas Rayyan.


"Mau mengunjungi kedua orang tuamu?"


"Seharusnya tidak hari ini. Seharusnya besok. Karena aku mendapatkan telepon dari kantor polisi dan memintaku untuk datang kesini. Ditambah lagi orang yang menghubungiku membawa-bawa nama Papa dan Mama."


Mendengar jawaban dari Rayyan membuat Radika penasaran dengan orang yang menghubungi Rayyan.


Radika hendak bertanya, namun datang seseorang menghampiri Radika dan Rayyan.


"Melapor, Jendral!"


"Iya, ada apa?"


"Ada transaksi narkoba di lokasi St Pauli."


"Baiklah."


Lalu laki-laki yang berstatus sebagai bawahan dari Radika melihat kearah Rayyan.


"Tuan Rayyan, ada sudah datang!"


Rayyan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat.


"Kamu tahu jika Rayyan akan datang kesini?" tanya Radika kepada anak buahnya.


"Saya yang menghubungi tuan Rayyan, Jendral!"


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Radika.


"Tidak Jendral! Semuanya baik-baik saja. Saya menghubungi tuan Rayyan karena itu permintaan dari tuan Mathew. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan tuan Mathew dengan tuan Rayyan."


"Hah!" Rayyan seketika menghela nafas leganya ketika mendengar ucapan dari anak buah Radika.


Radika kemudian menatap wajah Rayyan. "Ya, sudah! Lebih baik kamu temui kedua orang tua kamu di ruang tunggu tahanan. Jangan buat mereka yang terlebih dahulu menunggumu."


"Baik, Paman!"


"Salim, bawa Rayyan menemui kedua orang tuanya."


"Baik Jendral! Mari tuan Rayyan."


***


Selama perjalanan, baik keduanya sama-sama diam. Baik Darel maupun Neylan tampak fokus dengan pikirannya masing-masing.


Sesekali Darel mencuri pandang ke arah belakang, memeriksa Neylan lewat kaca spion kalau gadis itu baik-baik saja.


Gadis yang bernama lengkap Zehra Neylan Lunara. Dan sering dipanggil dengan sebutan Neylan.


Neylan adalah gadis pemilik kucing yang pernah masuk ke kamar Darel ketika masih SMA dulu.


Kenapa Neylan bersama Darel? Itu dikarenakan Darel tak sengaja melihat Neylan yang diganggu oleh beberapa laki-laki ketika baru keluar dari toko buku.

__ADS_1


Neylan mendengus pelan. Semilir angin terus menerpa wajahnya membuat beberapa untaian rambut menghalangi penglihatan gadis itu.


Tak lama kemudian mobil yang Neylan tumpangi berhenti di sisi jalan. Dahi Neylan menyerit bingung. Dia mendongak lalu membaca tulisan yang tertempel di banner depan toko.


Apotek sehat.


Neylan tersentak ketika melihat Darel membuka pintu mobilnya. Kemudian Neylan bersuara.


"Ngapain kesini?"


Darel menyugar rambutnya ke belakang. "Belikan salep buat lo."


Ketika Darel akan bergerak keluar dari dalam mobil yang otomatis membuat Neylan. Neylan seketika langsung menahan pergelangan kiri Darel.


"Jangan!"


Darel seketika menatap wajah Neylan dengan tatapan bingungnya.


"Kenapa?"


Darel menatap tajam kearah Neylan, gadis yang sudah dirinya tolong, sekaligus gadis pemilik kucing yang nyasar masuk ke balkon kamarnya.


Melihat tatapan mata yang begitu tajam dengan jarak dekat membuat Neylan merasa aura yang sedikit berbeda. Apalagi keduanya masih sama-sama berada di dalam mobil. Sudah begitu menepi di pinggiran jalan lagi.


"Nggak usah. Gue nggak apa-apa," ujar Neylan.


"Lo mau tambah parah?"


Neylan seketika menggelengkan kepalanya pelan. Jelas dia tidak mau luka itu makin bertambah parah. Sedikit saja bisa menghalangi aktifitasnya.


"Pinter. Gue nggak suka di bantah. Keluar sekarang!"


Dan pada akhirnya Neylan menurut dan langsung keluar dari dalam mobil.


Darel berjalan memasuki apotek. Sementara Neylan menunggu di depan toko.


Darel sudah mengajak dirinya untuk masuk bersama, namun Neylan langsung menolak. Neylan lebih memilih menunggu saja.


Tak lama kemudian Darel sudah kembali dengan kantung plastik putih di tangannya.


Neylan mengamati Darel lamat-lamat. Dia melihat dengan jelas bagaimana tangan besar itu menyentuh tangannya dengan lembut. Memberikan sensasi yang berbeda.


Tanpa sadar Neylan menggigit pipi bagian dalamnya. Menahan seulas senyuman yang hampir saja terukir.


"Kenapa lo jadi baik gini sama gue? Gue udah jahat sama lo. Gue bahkan udah marah-marah dan nuduh lo nyulik kucing kesayangan gue." ucap dan tanya Neylan.


Sejak perjalanan tadi sebenarnya Neylan ingin menanyakan hal tersebut namun tidak mau mengacaukan konsentrasi Darel saat menyetir.


"Gue nggak ngerasa baik. Biasa aja," jawab Darel menutup tutup salep. Lalu menyimpannya ke dalam plastik. "Bawa pulang." lanjutnya sembari meletakan plastik itu di samping Neylan.


"Gue ngerasa beda."


"Lo doang yang ngerasa gitu," balas Darel menatap manik mata Neylan.


"Kenapa lo perhatian sama gue?"


Darel seketika mengernyitkan keningnya bingung. Merasa lucu karena perkataan Neylan. "Lo baper?"


"Nggak."


Neylan seketika membuang wajahnya ke samping. Sial, dia merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.


"Terus?"


"Beda aja gitu."


Entahlah Neylan merasa berbeda. Namun tetap saja Neylan berusaha untuk menyembunyikan sesuatu akan hal itu.


"Kalo misal gue chat lo dan baperin lo, lo gimana?"


"Kalo misal gue bilang lo cantik gimana?"


Deg..


***

__ADS_1


Adelina saat ini tengah mondar-mandir di ruang tengah. Dirinya sedang menunggu kepulangan putra bungsunya dari kampus. Dirinya benar-benar mengkhawatirkan putra bungsunya itu.


Disaat Adelina sedang mondar-mandir sembari menunggu kepulangan putra kesayangannya, tiba-tiba semua putra-putranya datang dan langsung menghampiri dirinya yang tengah mengkhawatirkan sang putra bungsunya.


"Mama ngapain?!" tanya Davian.


Mendengar suara putra sulungnya seketika Adelina terkejut. Kemudian Adelina melihat kearah putra sulungnya itu. Dan dirinya dapat melihat semua putra-putranya sudah berdiri di hadapannya dengan menatap dirinya.


"Mama kenapa?" kini Nevan yang bertanya kepada ibunya.


"Mama lagi nungguin adik bungsu kalian.


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari ibunya. Lalu dengan kompak mereka melihat kearah jam. Ada yang melihat kearah jam tangan. Dan ada juga yang melihat kearah jam dinding.


"Ini sudah pukul 4 sore. Kenapa Darel belum pulang juga?!" seru Andre.


"Aku akan menghubungi Darel sekarang!" seru Alvaro lalu mengambil ponselnya di saku celananya.


"Loudspeaker panggilannya Alvaro," pinta Ghali.


"Baik, kak!"


Setelah itu, Alvaro pun langsung menghubungi adik bungsunya itu.


Dan detik kemudian...


"Hallo kak Alvaro."


"Hah!"


Secara bersamaan mereka semua menghela nafas leganya ketika mendengar suara kesayangannya.


"Sayang, kamu dimana? Kenapa belum pulang?" tanya Adelina.


"Maafkan aku Mama. Seharusnya aku sudah sejak tadi sampai di rumah. Tapi di tengah jalan aku nolongin seorang gadis yang digangguin oleh beberapa laki-laki. Kasihan gadis itu kalau tidak ditolongin."


Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing ketika mendengar jawaban dari kesayangannya itu. Mereka benar-benar bangga akan sikap mulia Darel.


"Terus sekarang bagaimana?" tanya Nevan.


"Sudah beres kakak Nevan. Sekarang aku dalam perjalanan menuju pulang ke rumah."


"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa mobilnya," ucap Ghali.


"Baik kakak Ghali."


"Ingat langsung pulang. Nggak usah pake acara buat nolongin orang lagi.  Kalau seperti itu terus. Kapan nyampe di rumahnya," ucap Davian.


"Iya. Ih! Bawel banget sih udah kayak Mama aja. Mama aja nggak sebawel kakak Davian."


"Hahahahaha."


Seketika tawa para adik-adiknya yang lain pecah ketika mendengar jawaban dari adik kesayangannya. Begitu juga dengan Adelina. Adelina juga ikut tertawa ketika mendengar jawaban dari putra bungsunya itu.


"Oh, sudah berani sekarang ya sama kakak."


"Memangnya sejak kapan aku takut sama kakak Davian."


"Hahahahaha."


Semua adik-adiknya kembali tertawa keras ketika mendengar balasan dari adik bungsunya itu. Mereka benar-benar puas melihat wajah cengo sang kakak tertuanya.


"Sudah, sudah! Darel sayang, hati-hati di jalan ya. Langsung pulang. Jangan singgah ke tempat lain."


"Baik Mamaku sayang."


Adelina seketika tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari putra bungsunya.


Tutt..


Tutt..


Seketika panggilan terputus. Darel langsung mematikan panggilannya setelah menjawab perkataan dari ibunya.

__ADS_1


__ADS_2