
DUA HARI KEMUDIAN..
Semua telah selesai. Pembalasan telah mereka lakukan dengan sangat puas dimana semua anggota keluarga Dowson, anggota keluarga Bailey dan anggota keluarga Martin telah hancur tanpa sisa. Perusahaan milik mereka sudah resmi menjadi milik William, Daksa dan Sandy. Rumah mewah mereka dibakar sehingga tidak menyisakan apapun. Semuanya menjadi abu.
Xavier Bailey, Richard Dawson dan Stephen Martin tewas akibat tembakan yang diberikan oleh Vano, Farraz dan Gilang karena mereka diam-diam hendak menembaki ayah mereka masing-masing. Tembakan itu tepat mengenai kepala dan jantung.
Sementara untuk anggota keluarga lainnya khususnya untuk para perempuan dibuang ke daerah terpencil dan kumuh. Mereka hidup disana. Dan untuk yang laki-laki mendekam dalam penjara dan menjalani hukuman seumur hidup. Hanya kematian yang membebaskan mereka.
Balasan yang impas bukan?"
Baik anggota keluarga Wilson maupun keempat belas sahabat-sahabatnya Darel tersenyum penuh kebahagiaan dan kemenangan.
^^^
Di kediaman Wilson tampak ramai dimana keempat belas sahabat-sahabatnya Darel, Arzan, Zayan dan Lucky berada disana. Mereka saat ini tengah membahas masalah Darel.
"Jadi ini semua sudah direncanakan sebelumnya sama Darel?" tanya Arvind dengan menatap kearah Arzan, Zayan dan Lucky.
"Benar, tuan!" Arzan, Zayan dan Lucky menjawab bersamaan.
"Bos tiba-tiba datang ke markas Black Shark dalam keadaan yang masih berpakaian kampus. Bukan itu saja, terlihat dari wajah Bos terlihat lelah dan sedikit tertekan. Saya sangat yakin jika kedatangan Bos ingin membicarakan sesuatu kepada kami." Lucky menjelaskan kedatangan Darel saat itu.
"Kalau boleh kami tahu. Darel datang ke markas Black Shark itu hari apa dan pukul berapa?" tanya Gavin.
"Eemm.. Kalau tidak salah hari Sabtu pukul 11 siang, tuan!" Lucky menjawab pertanyaan dari Gavin.
"Berarti Darel tidak langsung pulang setelah kita membahas masalah tiga keluarga itu di Lobi kampus!" seru Juan.
"Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Nevan.
"Intinya Darel mengatakan bahwa tiga keluarga itu juga mengincar keluarga kami. Mereka akan menculik ayah-ayah kami," sahut Samuel.
"Darel juga bilang kalau kami tidak perlu khawatir masalah tersebut karena Darel sudah merencanakan untuk menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka menyerang keluarga kami," ucap Razig.
"Darel berjanji jika keluarga kami akan baik-baik saja," ucap Devon dengan wajah sedihnya.
"Yang membuat kami sedih dan menjadi sangat amat terluka adalah ketika mendengar ucapan Darel yang terakhir," sahut Kenzo yang mengingat perkataan sahabatnya itu.
"Apa, sayang? Katakan pada Paman!" mohon Arvind.
"Darel mengatakan pada kami jika para tangan kanannya Darel dan anggotanya gagal. Dengan kata lain jika ada salah satu anggota keluarga kami yang terluka atau meninggal. Darel tidak keberatan dan dia akan terima dengan ikhlas jika kami marah padanya, membenci dirinya, menjauhinya dan memusuhinya. Bahkan tidak akan pernah lagi menganggap dia sebagai sahabat kami lagi," jawab Kenzo yang disertai air matanya mengalir membasahi pipinya.
Deg..
Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarga Wilson terkejut. Begitu juga dengan Arzan, Zayan dan Lucky. Mereka tidak menyangka jika Darel akan berpikir seperti itu.
"Bahkan Darel meminta maaf jika hal itu terjadi," sela Charlie yang sudah menangis sejadi tadi membayangkan obrolan terakhirnya dengan Darel.
__ADS_1
"Setelah mengatakan itu, Darel pergi. Dia bilang kalau dia akan pulang," ucap Zelig.
Mendengar ucapan sekaligus cerita dari sahabat-sahabatnya Darel membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya sedih.
"Sayang," lirih Arvind dan Adelina bersamaan.
"Rel," lirih para kakak-kakaknya.
"Lalu apa lagi yang direncanakan oleh Darel ketika bersama kalian?" tanya Davian.
"Bos meminta kami untuk menyerang keluarga Bailey, keluarga Dawson dan keluarga Martin sebelum mereka terlebih dahulu menyerang keluarga Wilson. Begitu juga dengan keluarga keempat belas sahabat-sahabatnya Bos. Kami bagi tugas." Zayan yang menjawab pertanyaan dari Davian.
"Bos juga meminta untuk membakar rumah mewah milik ketiga keluarga itu tanpa memberikan waktu mereka menyelamatkan barang-barang berharga mereka. Bos juga meminta untuk membuang anggota keluarga yang perempuan ke tempat kumuh alias perkampungan kotor biar mereka merasakan hidup menderita," sahut Lucky.
"Hanya perusahaan saja yang memang disisakan oleh Bos karena perusahaan itu sudah direbut oleh tuan William, tuan Daksa dan tuan Sandy!" seru Arzan.
"Dan untuk semua kekayaan keluarga Wilson yang mana ketiga keluarga itu mengatakan bahwa semuanya sudah menjadi milik mereka. Bos meminta kami untuk mewakilinya untuk mepertahankan semuanya. Bos sudah menyiapkan tiga orang pengacara yang tiga pengacara tersebut pengacara hebat dan terkenal di dunia. Bahkan tidak ada satu orang pun yang berani menyentuhnya sekali pun mereka ingin sekali melenyapkan pengacara tersebut." Lucky berucap sembari menjelaskan tentang identitas tiga pengacara itu.
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Arzan, Zayan dan Lucky membuat Arvind dan semua anggota keluarga Wilson tersenyum bahagia dan juga bangga terhadap Darel. Mereka tidak menyangka jika Darel telah menyiapkan semuanya.
"Apa kalian tidak tahu siapa orang yang telah menyematkan Darel?" tanya Sandy kepada Arzan, Zayan dan Lucky.
"Kami benar-benar tidak tahu, tuan!" jawab Arzan, Zayan dan Lucky bersamaan.
"Tapi orang itu mengatakan bahwa dia adalah tangan kanan putra bungsuku. Bahkan dia tahu namaku," ucap Arvind.
Mendengar ucapan dari Arvind membuat Arzan, Zayan dan Lucky saling memberikan tatapan. Mereka seolah-olah berpikir siapa tangan kanan Bos nya selain dirinya dan ketujuh rekannya yang lain.
"Apa jangan-jangan.....!" Lucky seketika menyadari orang yang dimaksud oleh Arvind.
"Zan, Yan! Apakah yang menyelamatkan Bos adalah Paman Derry, Paman Jordy dan Paman Arkan?!"
Mendengar pertanyaan dari Lucky membuat Arzan dan Zayan langsung mengerti dan paham.
"Sudah pasti mereka. Selain mereka, tidak ada lagi tangan kanannya Bos. Jumlah kita semuanya adalah 13." Arzan langsung mengiyakan pertanyaan dari Lucky.
"Iya. Kau benar, Zan! Jumlah kita ada 13. Aku, kamu, Lucky, Mikko, Kenzi, Leo, Sonny, Niko, Noah dan Zola. Dan 3 tangan kanan tertua alias mantan ketua dari kelompok BLACK SHARK, WHITE EAGLE dan SNOW BLACK yaitu Paman Derry, Paman Arkan dan Paman Jordy!" Zayan ikut bersuara sembari menyebut satu persatu nama rekan-rekannya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungi Pamanku, sekarang!" seru Arzan.
Setelah mengatakan itu, Arzan mengambil ponselnya di saku celananya. Dia ingin menanyakan langsung kepada Pamannya itu tentang Bos nya.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Arzan!"
"Hallo, Paman! Bagaimana kondisi Bos Darel, sekarang?"
__ADS_1
Mendapatkan pertanyaan dari keponakannya membuat Derry tersenyum. Dia tidak menyangka jika keponakannya itu tahu bahwa dirinya, Arkan dan Jordy yang telah menyelamatkan Darel sang cucu kesayangan mendiang tuan besarnya.
"Siapa yang memberitahu kamu?"
"Tidak ada yang memberitahuku. Tuan Arvind mengatakan padaku bahwa Bos diselamatkan oleh tangan kanannya. Sementara aku dan yang lainnya sibuk dengan tugas-tugas masing-masing, tugas yang diberikan oleh Bos. Jadi bukan kami yang menyelamatkan Bos. Dengan kata lain bahwa Paman dan dua rekan Paman itu yang telah menyematkan Bos!"
Derry makin tersenyum lebar ketika mendengar penjelasan dari keponakannya itu.
"Sekarang katakan padaku, bagaimana kondisi Bos sekarang? Di rumah sakit mana Bos dirawat?"
"Sebelum Paman beritahu kamu. Apa semuanya sudah aman?"
"Paman tidak perlu khawatir. Semua musuh-musuh keluarga Wilson dan juga musuh-musuh dari keempat belas sahabat-sahabatnya Bos sudah lenyap alias sudah pergi menghadap Tuhan. Bahkan sebagian mendekam di dalam penjara selama seumur hidup."
"Kenapa tidak dibunuh semuanya?"
"Itu yang diinginkan oleh Bos. Kami hanya menjalankan perintah Bos. Yang tewas hanya tiga orang. Mereka tak lain adalah ayah dari tiga perempuan yang ingin mendekati tuan Nevan, tuan Steven dan tuan Marcel!"
"Ya, sudah kalau begitu. Datanglah ke rumah sakit Medical Center Hospital, di ruang VVIP nomor 5 lantai 2. Kondisi masih sama, koma!"
"Apa?!"
Arzan seketika berteriak ketika mendengar sang Paman menyebut bahwa sang Bos koma.
"Baiklah Paman. Aku tutup teleponnya. Aku akan beritahu anggota keluarga Wilson kabar ini."
"Baiklah."
Pip..
Setelah selesai berbicara dengan sang Paman. Arzan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Bagaimana Arzan? Apa yang dikatakan oleh Paman kamu itu?" tanya Arvind.
"Dengan sangat menyesal aku menyampaikan kepada Paman dan kalian semua tentang kondisi Bos!"
Mereka semua harap-harap cemas. Bahkan mereka semua ketakutan jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap kesayangannya.
"Katakan, nak Arzan!" lirih Adelina.
"Kondisi Bos saat ini adalah... adalah Koma!"
Deg..
Mereka semua menggelengkan kepalanya ribut ketika mendengar jawaban dari Arzan yang mengatakan bahwa kondisi Darel adalah koma.
"Darel... Hiks," isak mereka semua.
__ADS_1
"Lebih baik kita sekarang ke rumah sakit. Bos dirawat di rumah sakit Medical Center Hospital, ruang VVIP nomor 5 lantai 2."
Setelah itu, mereka semua pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Mereka semua sudah tidak sabar ingin melihat kondisi kesayangannya itu.