Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Aku Akan Membantumu


__ADS_3

Darel saat ini berada di ruang tengah bersama anggota keluarganya. Darel sedang menyenderkan kepalanya di bahu Arga, kakak keenamnya sembari bermain game di ponselnya.


Arga yang melihat adiknya bersandar di bahunya sembari bermain game di ponselnya tersebut. Lalu tangannya mengacak-acak rambut adiknya gemas.


"Darel," panggil Nevan.


"Hm." Darel menjawab panggilan dari kakak keduanya itu dengan deheman tanpa melihat kakaknya itu.


"Aish! Ini bocah. Bisa-bisa ngacuhin kakaknya," kesal Nevan.


Mereka semua tersenyum ketika melihat wajah kesal Nevan dan wajah acuh Darel.


"Darel, lihat kakak dong!"


"Apaan sih kakak Nevan! Tinggal ngomong doang apa susahnya sih. Kan nggak harus lihat wajah jelek kakak itu. Aku lagi main game nih!"


Nevan seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan yang seenaknya dari adik bungsunya.


Sementara yang lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan kejam dari Darel untuk Nevan.


"Penting game ya dari pada kakak?" tanya Nevan.


"Iya. Untuk saat ini aku lebih mengistimewakan game. Aku nggak butuh kakak Nevan dulu. Kalau aku sudah selesai bermain game nya. Baru aku akan cari kakak," ucap Darel.


"Hahahahaha."


Seketika tawa para saudara-saudaranya pecah ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel yang menurut mereka semua sangat ajaib yang mana Darel berani berbicara seperti itu dengan kakak keduanya yang dikenal galak.


Sementara Nevan menatap tak percaya adik bungsunya yang seenaknya berbicara seperti itu.


"Sabar sayang," ucap Adelina sembari tersenyum menatap wajah kesal putra keduanya itu.


Darel melirik sekilas kearah kakak keduanya itu. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat wajah kesal kakaknya itu.


Arvind dan Davian yang melihat senyuman putranya/adiknya dengan matanya melirik kearah Nevan tersenyum.


"Darel sayang," panggil Arvind.


"Hm!" Darel berdehem sebagai jawabannya.


"Papa boleh nanya nggak?" tanya Arvind.


"Langsung aja Pa. Nggak perlu izin segala. Papa nggak usah kayak kak Nevan," sahut Darel.


Arvind tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Baiklah. Papa mau nanya soal gadis yang kamu tolong kemarin! Siapa dia?"


Deg..


Seketika Darel menghentikan acara main game nya ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya.


Darel kemudian mengangkat kepalanya dari bahu Arga. Setelah itu, Darel menyenderkan punggungnya ke punggung sofa dengan tatapan matanya menatap wajah ayahnya yang juga tengah menatap dirinya. Begitu juga dengan semua anggota keluarganya.


"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu? Aku tahu kalau wajahku ini sangat tampan dibandingkan kalian. Jadi, biasa aja kali tatapan matanya."


Seketika Arvind, Davian dan semua anggota keluarganya yang lain menatap Darel dengan mata besarnya masing-masing.

__ADS_1


"Sekarang katakan pada Papa. Siapa gadis yang kamu tolong itu? Papa takut ada orang yang tidak menyukai kamu karena kamu sudah menolong gadis itu!"


Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Darel sadar. Dan Darel juga dapat melihat ada rasa khawatir di tatapan mata ayahnya.


"Gadis yang aku tolong kemarin adalah gadis yang kucingnya pernah masuk ke balkon kamarku dulu," jawab Darel.


Mendengar perkataan dari Darel yang menyebut tentang gadis yang ditolongnya membuat mereka terkejut, terutama Davian dan adik-adiknya.


"Jadi maksud kamu gadis yang kamu tolong itu adalah gadis yang dulu pernah berteriak di depan gerbang rumah kita yang nuduh kamu sudah ambil kucingnya dia?" tanya Raffa.


"Iya," jawab Darel.


Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel Evan dan Raffa menatap wajah tampan adik bungsunya. Mereka seketika tersenyum menatap wajah adiknya itu.


"Kejadian itu sudah lama, bukan?" tanya Davian.


"Bagaimana gadis itu sekarang?" tanya Nevan.


"Apa dia cantik?" tanya Elvan.


"Masih jutek nggak kayak dulu?" tanya Ghali.


"Ketika kamu nolongin dia. Itu adalah pertemuan kedua, iyakan?" ucap dan tanya Andre.


"Pasti kamu mulai suka sama dia," goda Arga.


Seketika Darel mendengus kesal dengan semua ucapan dari keenam kakak tertuanya. Darel menatap keenam kakak-kakak tertuanya itu dengan tatapan matanya yang membulat. Dan jangan lupa bibirnya yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah untuk keenam kakak-kakaknya.


Melihat wajah kesal dan bibir Darel yang bergerak-gerak mengeluarkan kata-kata indahnya membuat Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga tersenyum gemas. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tersenyum melihat Darel yang kesal.


Ketika Raffa hendak bertanya kepada Darel, tiba-tiba ponsel Darel berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.


Sedangkan anggota keluarganya memasang telinga mereka masing-masing untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Darel dengan si penelpon.


"Hallo Zola."


"Hallo Bos. Aku ingin memberitahu soal gadis yang Bos tolong kemarin."


"Kenapa?"


"Pertama, gadis itu sudah tidak memiliki ibu lagi sehingga membuat ayah menikah lagi. Kedua, ibu tiri gadis itu tidak menyukainya dan selalu memaki dan bersikap kasar terhadap gadis itu. Ketiga, ini yang penting Bos!"


"Katakan!"


"Gadis itu akan dikirim ke luar negeri untuk dijadikan sebagai wanita penghibur. Biar tidak diketahui oleh ayahnya, ibu tirinya itu menggunakan ponsel milik gadis itu dan mengirim pesan pada ayahnya. Jadi seolah-olah bahwa gadis itu yang memintanya untuk pindah kuliah keluar negeri."


Deg..


Darel seketika terkejut ketika mendengar kabar dari Zola yang mengatakan bahwa gadis pemilik kucing itu akan dikirim oleh ibu tirinya ke luar negeri.


"Apa tujuan wanita itu melakukan hal keji itu terhadap anak tirinya?"


"Harta Bos. Wanita itu ingin menguasai semua harta dari ayah gadis itu."


"Kapan wanita itu melakukan rencananya itu?"


"Lusa Bos."

__ADS_1


"Baiklah. Kau atur semuanya. Bantu dia. Jangan buat dia pergi meninggalkan Jerman. Gagalkan semua rencana jahat dari wanita gila itu."


"Baik Bos."


"Oh iya! Aku mau nanya padamu."


"Apa Bos?"


"Apa wanita itu juga yang membayar para preman-preman?"


"Seperti begitu Bos."


"Baiklah. Kau awasi wanita. Jangan sampai lengah."


"Baik Bos."


Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan Zola.


Darel seketika langsung memikirkan gadis pemilik kucing itu. Dirinya tidak menyangka jika hidupnya menderita setelah kepergian ibunya untuk selamanya.


"Aku akan membantumu. Dan aku akan buat hubungan kamu dan ayah kamu akan baik-baik saja selamanya! Aku akan membuat ayahmu tidak akan pernah kecewa padamu. Apalagi sampai membencimu. Kau adalah putri kandungnya." Darel berbicara di dalam hatinya.


Melihat keterdiaman Darel setelah selesai berbicara dengan tangan kanannya membuat Arvind dan anggota keluarga lainnya menatap Darel khawatir.


"Rel," panggil Arga sembari menepuk pelan bahu adiknya itu.


Darel yang mendapatkan tepukan di bahunya seketika tersadar lalu Darel melihat kearah kakaknya itu.


"Ada apa?" tanya Arga.


"Rel, ayo sayang! Katakan pada Papa dan kita semua. Ada apa, nak?"


"Neylan dalam keadaan tak baik-baik saja Papa!"


"Neylan?!"


Baik Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarga Wilson menatap bingung Darel ketika Darel menyebut nama Neylan.


"Siapa Neylan, nak?" tanya Adelina.


"Neylan itu... Aish! Kenapa juga sampai kelepasan menyebut namanya," gumam Darel pelan.


Seketika Arga tersenyum ketika mendengar gumam dari Darel karena dia duduk di samping adiknya.


"Oooo! Jadi nama dari gadis pemilik kucing itu adalah Neylan!" Arga berbicara dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Mendengar perkataan serta suara keras dari kakaknya itu membuat Darel langsung memberikan tatapan mautnya.


Sementara Arvind, Adelina dan putra-putranya tersenyum ketika melihat wajah kesal Darel.


"Ternyata nama calon menantu perempuan Mama bernama Neylan! Nama yang sangat bagus!"


"Ih, Mama! Apaan sih! Nggak lucu tahu!"


Darel seketika berdiri dari duduknya dengan wajah kesalnya. Dirinya menatap satu persatu wajah anggota keluarga dengan tatapan matanya yang besar.


Setelah itu, Darel pergi meninggalkan semua anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua dengan wajahnya yang super masam.

__ADS_1


Sementara Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarga Wilson tersenyum ketika melihat wajah super kesal Darel ketika mereka membahas nama Neylan.


__ADS_2