Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Jangan Seperti Maling


__ADS_3

"Kamu yakin mau kuliah, Rel?" tanya Axel yang saat ini berada di kamar adiknya.


Axel berada di kamar adiknya karena dia yang membangunkan adiknya.


"Yakin, kak!" Darel menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.


"Kakak masih khawatir sama kamu. Kamu itukan baru keluar dari rumah sakit. Ditambah lagi bajingan itu...."


"Dia kan sekarang ada di Markas Black Shark. Aku sangat yakin kak Arzan, Zayan dan Lucky tidak akan membiarkan dia lepas gitu saja," ucap Darel meyakinkan kakaknya.


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari adiknya membuat Axel hanya bisa menghela nafas. Dia sangat tahu tipikal adiknya itu. Dengan kata lain, adiknya itu susah untuk dibujuk jika sudah menyangkut kemauannya.


"Tapi kamu harus janji sama kakak. Kamu harus baik-baik saja. Jangan sampai terluka lagi. Sakit tahu melihat kamu kembali masuk rumah sakit," ucap Axel dengan matanya menatap kearah adiknya.


"Aku janji."


"Ya, sudah! Lebih baik kita ke bawah. Jangan buat semua anggota keluarga menunggu kita. Mereka sudah berkumpul di meja makan."


"Baiklah."


Setelah itu, Darel dan Axel pun pergi meninggalkan kamar untuk menuju lantai bawah.


^^^


Di meja makan semua anggota keluarga Wilson sudah berkumpul untuk sarapan pagi bersama. Hanya Axel dan Darel yang belum bergabung bersama mereka.


"Kenapa kak Axel lama sekali di kamar Darel?" tanya Evan.


"Apa kak Axel ketiduran di kamar Darel?" tanya Raffa.


Mendengar ucapan dari Evan dan Raffa membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya tersenyum.


"Mungkin kamu benar, Raf! Kemungkinan kak Axel ketiduran di kamar Darel karena tidak berhasil membangunkan Darel," sahut Evan.


"Siapa yang ketiduran, hah?!"


Deg..


Seketika Evan dan Raffa terkejut ketika mendengar ucapan serta seruan dari seseorang yang mana suaranya begitu akrab di pendengaran Evan dan Raffa.


Evan dan Raffa kemudian melihat kearah kedua kakaknya yang saat ini tengah berjalan menuju meja makan bersama adik kesayangannya.


Axel dan Darel langsung menduduki pantatnya di kursi setelah tiba di meja makan. Jika Darel duduk di samping kakak ketujuhnya yaitu Daffa. Sementara Axel duduk di samping Alvaro dan berhadapan dengan Evan dan Raffa.


Axel menatap horor kedua adiknya yang menyebalkan itu, sedangkan Evan dan Raffa seketika memperlihatkan cengiran khasnya.


"Hehehehe."

__ADS_1


"Dasar adik-adik laknat," ucap Axel kesal.


Sementara Arvind, Adelina, kakak-kakaknya dan anggota keluarga lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Bagaimana tidurnya, Sayang?" tanya Adelina kepada putra bungsunya sembari tangannya mengambil makanan untuk putranya itu.


"Nyenyak, Ma! Kalau bukan kakak Axel yang bangunin aku, maka aku nggak akan bangun karena saking nyenyaknya," jawab Darel bersamaan dengan tangannya mengambil piring yang sudah berisi nasi plus lauk pauk dari tangan ibunya.


Adelina tersenyum mendengar jawaban dari putra bungsunya. Begitu juga dengan Arvind, kakak-kakak kandungnya, kakak-kakak sepupunya, Paman dan Bibinya.


"Nanti pergi kuliahnya kakak yang antar ya?" tanya Arga.


"Hm." Darel langsung berdehem bersamaan dengan kepalanya yang mengangguk.


Arga seketika tersenyum ketika mendapatkan jawaban dari adiknya. Dia benar-benar bahagia adiknya itu tidak menolak.


"Terus yang jemput aku siapa?" tanya Darel.


Seketika terukir senyuman di bibir Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Axel, Evan dan Raffa. Mereka bahagia sekali ketika mendengar pertanyaan dari Darel.


"Kalau kakak yang jemput kamu, bagaimana?" tanya Alvaro.


"Boleh."


"Baiklah. Nanti kakak yang akan jemput kamu. Tapi nanti jika kamu ingin pulang bersama sahabat-sahabat kamu, kamu langsung hubungi kakak." Alvaro berucap.


"Baiklah," jawab Darel.


***


Kedua temannya itu belum datang sehingga membuat Alisha menyibukkan diri dengan dia mengerjakan tugas matematika yang belum selesai dari pada termenung sendirian di dalam kelas.


Bukan Alisha tidak mengerjakan tugas matematika itu di rumah, melainkan Alisha sudah sangat lelah dan mengantuk sehingga dia hanya mengerjakan sekitar 15 soal matematika dari 30 soal. Sementara tugas sekolahnya bukan hanya matematika saja, ada tiga tugas lain juga yang harus dia selesaikan.


Alisha memiliki tiga teman dan sudah menjadi sahabatnya. Ketiganya itu benar-benar tulus bersahabat dengannya. Ketiga temannya itu bernama Vivian Archa, Aurelia Gustavo dan Linara Rudolfo.


Ketika Alisha fokus mengerjakan tugas matematika, tanpa Alisha sadari ketiga sahabatnya datang dan masuk ke dalam kelas dengan cara mengendap-endap. Ketiganya sengaja melakukan itu karena ingin mengejutkan Alisha yang sedang fokus mengerjakan tugas matematikanya.


Namun ketika mereka hendak melakukan itu dan sedikit lagi sampai di dekat Alisha, rencana ketiganya ketahuan.


"Kalau mau masuk langsung masuk aja. Nggak usah seperti maling, apalagi mau ngagetin aku!"


Deg..


Vivian, Aurelia dan Linara seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Alisha. Ketiga saling memberikan tatapan, lalu kembali menatap Alisha.


Beberapa detik kemudian, Alisha selesai mengerjakan tugas matematika. Kemudian Alisha melihat kedua temannya yang saat ini masih berdiri mematung dengan tampang syok.

__ADS_1


Diam-diam di dalam hatinya Alisha tersenyum ketika melihat wajah syok Vivian, Aurelia dan Linara.


"Kalian bertiga lucu sekali," batin Alisha.


"Mau sampai kapan kalian berdiri disitu?" tanya Alisha mengagetkan ketiga sahabatnya itu.


Mendengar ucapan dari Alisha seketika membuat Vivian, Aurelia dan Linara tersadar. Setelah itu, ketiganya berjalan menghampiri tempat duduknya.


"Aish, nggak seru!" seru Linara setelah menduduki pantatnya di kursi di sebelah Alisha.


"Iya, nih! Padahal kita sudah merencanakan sejak kemarin dan bahkan kita kembali mengingatkan rencana tersebut setibanya di sekolah," sela Aurelia mempoutkan bibirnya kesal.


"Gagal deh." Vivian menimpali.


Sementara Alisha hanya tersenyum mendengar keluh kesah ketiga sahabatnya itu.


***


Darel sudah sampai di depan kampus. Seperti yang sudah direncanakan bersama anggota keluarganya, terutama kakak-kakaknya kalau pagi ini dia akan diantar oleh kakak keenamnya yaitu Arga Wilson.


"Ingat! Jangan terlalu diforsir tenaganya. Ini hari pertama kamu kuliah setelah keluar dari rumah sakit," ucap Arga lembut.


"Hm." Darel berdehem sembari mengangguk.


"Kalau ada apa-apa. Langsung hubungi kakak atau kakak-kakak kamu yang lain."


"Hm."


"Untuk beberapa hari ini kamu jangan makan pedas dulu. Makan makanan yang biasa saja dulu, apalagi Bakso dan Soto."


((Anggap saja dua makanan itu adalah makanan Favorit Darel. Dan anggap juga dua makanan itu ada di Jerman, bukan hanya ada di Indonesia. Biasanya kan para Reader selalu julid dan mengejek di dalam komentarnya))


((Ingat! Ini hanya cerita bukan kenyataan. Jadi, jangan terlalu dibawah perasaan. Ini hanyalah sebuah karangan belaka si penulis))


"Iya, ih! Kakak Arga bawel banget sih. Kakak udah kayak kak Davian."


Arga seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dan melihat wajah kesal adik kesayangannya. Kemudian Arga mengacak-acak gemas rambut adiknya itu.


"Oke-oke, kakak minta maaf. Ya, sudah! Masuk sana. Tuh lihat, pawang-pawang kamu sudah pada nunggu!" ucap Arga sambil menunjuk kearah ke 14 sahabat-sahabatnya Darel menunggu di dalam gerbang kampus.


Darel melihat kearah tunjuk kakaknya. Dan seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


"Aku masuk dulu ya, kak!"


"Iya. Yang rajin ngampusnya."


"Kakak hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut."

__ADS_1


"Siap!"


Setelah itu, Darel keluar dari dalam mobil kakaknya dan berjalan menghampiri sahabat-sahabatnya yang menunggu dirinya.


__ADS_2