Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Telepon Dari Lucky Dan Rencana Darel


__ADS_3

Darel sudah bersama dengan semua sahabat-sahabatnya. Mereka saat ini berada di lobi depan kampus. Mereka berkumpul sembari mengobrol disana sampai waktu kuliah mereka dimulai.


"Lo yakin udah benar-benar sembuh, Rel?" tanya Kenzo.


"Kalau gue belum sembuh. Gue nggak bakal ada disini sekarang bersama kalian," sahut Darel.


"Gue tahu siapa lo, nyet! Lo berantem dulu sama keenam kakak-kakak tertua lo agar lo bisa berangkat ke kampus. Secara keenam kakak-kakak lo yang sekarang ini udah seperti kerbau dicucuk hidungnya jika berhadapan dengan lo," ejek Gavin.


Mendengar ucapan kejam dari Gavin membuat Darel mendengus dan dengan tatapan tajamnya menatap Gavin.


Sementara Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Kita gelud yuk? Gue mau hajar mulut lo tuh biar bibir lo tambah dower dan makin seksi. Mau yuk!"


Seketika Gavin menutup mulutnya ketika mendengar ucapan dan tantangan dari Darel.


"Hahahaha." Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari Darel dan melihat wajah syok Gavin ketika mendengar ucapan dari Darel.


"Seketika nyali kendor... Hahahaha." ucap Lucas disertai tawanya.


Plaakk..


"Aakkhhh!" Lucas meringis ketika mendapatkan pukulan di kepalanya dari Gavin.


"Sakit kepala gue, anak setan!" Lucas berucap dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Gavin.


"Mau lagi?" tanya Gavin dengan membalas tatapan matanya Lucas.


Lucas yang mendapatkan tatapan yang lebih tajam dari pada tatapan matanya membuat dirinya langsung membuang pandangannya kearah lain.


"Lo sama aja kayak si kurus itu. Sama-sama memiliki nyali kendor. Nyali kalian berdua hanya sebesar upil gue," ucap Darel seenaknya.


Mendengar ucapan seenaknya dari Darel membuat Gavin dan Lucas seketika membelalakkan matanya tak percaya. Lalu bagaimana dengan Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Samuel, Juan, Zelig, Razig, Charlie dan Devon? Sudah bisa dipastikan, mereka semua tertawa nista.


"Dasar siluman kelinci sialan," umpat Gavin dan Lucas di dalam hatinya.


Ketika mereka tengah mengobrol disertai dengan umpatan dan ejekan, tiba-tiba ponsel milik Darel berbunyi.


Darel yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.


Setelah ponselnya di tangannya, Darel melihat nama 'Lucky' tangan kanannya di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darel pun langsung menjawab panggilan dari Lucky. Sedangkan Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon memasang telinga masing-masing untuk mendengar Darel berbicara dengan seseorang di telepon.


"Hallo, Lucky. Kenapa kau menghubungiku?"


"Maafkan saya, Bos jika saya mengganggu."


"Tidak apa-apa. Santai saja. Katakan!"


"Begini, Bos! Apa Bos masih ingat dengan gadis yang membully Nona Alisha ketika di Cafe itu?"


"Iya, aku masih ingat. Kenapa dengan dia? Apa dia berulah lagi?"


"Secara langsung tidak, Bos! Tapi dia akan melakukannya secara diam-diam."


"Apa yang akan dia lakukan?"

__ADS_1


"Dia membayar ketua dari kelompok Bingo untuk menyakiti Nona Alisha."


Seketika kedua mata Darel membulat ketika mendengar ucapan dari Lucky.


Melihat reaksi dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon seketika khawatir. Mereka berpikir jika ada masalah. Dan yang menjadi korbannya adalah Alisha.


"Apa yang akan dia lakukan terhadap Alisha?"


"Gadis itu meminta ketua dari kelompok Bingo untuk menculik Nona Alisha ketika pulang sekolah nanti dan membawanya ke markas. Setibanya di Markas mereka akan menyiksa Nona Alisha terlebih dahulu sebelum membunuhnya."


"Brengsek!" Darel seketika marah ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Lucky.


"Rel, ada apa?" tanya Evano khawatir.


Darel tidak langsung menjawab pertanyaan dari Evano. Bukan tidak menjawab. Pikiran Darel saat ini tertuju pada gadis yang membully Alisha ketika di Cafe itu.


"Baiklah jika itu yang direncanakan oleh gadis itu. Kita langsung saja. Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai anggota keluarganya?"


"Sudah, Bos!"


"Siapa?"


"Gadis itu berasal dari keluarga Fausta. Nama panjang gadis itu adalah Mindy Fausta."


"Eemmm... Ternyata dia berasal dari keluarga Fausta!"


"Apa Bos mengenal keluarga Fausta?"


"Untuk aku pribadi, tidak! Tapi untuk anggota keluarga Wilson tahu siapa itu keluarga Fausta. Oh, iya? Bagaimana penyelidikan untuk orang-orang yang menghadang Paman Andrean dan Alisha saat itu sehingga membuat kakak Raffa terkena pukulan dari mereka. Apakah Niko sudah mendapatkan informasi tentang mereka?"


"Masih dalam penyelidikan, Bos!"


"Apa Bos mencurigai seseorang?"


"Iya, Lucky. Aku berpikir jika keluarga Fausta terlibat aksi penyerangan terhadap Paman Andrean dan Alisha saat itu."


"Bos tidak perlu khawatir. Aku akan bantu untuk menyelidiki masalah itu."


"Terima kasih, Lucky!"


"Sama-sama, Bos! Lalu apa rencana Bos untuk membalas gadis yang bernama Mindy itu?"


"Aku sudah memutuskan. Kau kerahkan beberapa anggotamu untuk mendatangi keluarga Fausta. Kau bagi dua kelompok. Kelompok pertama mendatangi perusahaan mereka. Dan kelompok kedua mendatangi kediamannya. Tekan mereka dan katakan kepada mereka terutama putrinya yang bernama Mindy untuk membatalkan niatnya itu. Jika dia tetap melakukannya, maka kau dan kelompokmu harus membakar habis semua perusahaan milik keluarga Fausta."


Mendengar ide dari sang Bos membuat Lucky tersenyum. Dia benar-benar tak habis pikir dengan ide cemerlang Bosnya itu.


"Baik, Bos! Saya akan melakukan sesuai yang Bos perintahkan."


Darel tersenyum mendengar jawaban dari Lucky. Dia bersyukur memiliki tangan kanan yang cekatan dalam pekerjaannya.


"Hati-hati. Jangan sampai kamu dan anggota kamu terluka."


"Baik, Bos!"


Setelah itu, Darel menutup panggilannya. Begitu juga dengan Lucky.


Darel mengetik sesuatu di layar ponselnya. Yah! Darel akan menghilangkan Andrean yang tak lain adalah ayahnya Alisha.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian...


"Hallo, nak! Ada apa, Sayang?"


"Paman dimana? Sibuk tidak?"


Andrean tersenyum di seberang telepon ketika mendengar pertanyaan dari Darel.


"Paman di kantor. Untuk hari pekerjaan Paman tidak terlalu sibuk. Kenapa, Sayang?"


"Kalau begitu Paman sekarang pergi ke sekolahnya Alisha. Sampai disana, Paman bawa Alisha pulang. Dan setelah itu, Paman minta izin selam seminggu untuk Alisha tidak mengikuti pelajaran di sekolah."


Deg..


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darel membuat Andrean terkejut. Dia tidak mengerti kenapa Darel meminta dirinya datang ke sekolah putrinya dan memintanya untuk membawa putrinya pulang. Bahkan Darel menyuruhnya meminta izin selama satu Minggu kepada pihak sekolah.


"Ada apa ini, Sayang?"


"Paman lakukan dulu apa yang aku minta. Pulang dari Kampus aku akan mengunjungi Paman di kediaman Paman. Aku akan ceritakan semuanya."


Mendengar jawaban dari Darel ditambah lagi mendengar suara Darel setiap berbicara mengandung penekanan dan juga perintah. Dan pada akhirnya membuat Andrean mau tidak mau menuruti apa yang diperintahkan oleh Darel.


"Baiklah, Sayang! Paman akan ke sekolah Alisha."


"Sekarang juga! Jangan tunggu nanti-nanti!"


"Iya, Sayang. Ini Paman segera pergi."


Setelah itu, Darel langsung mematikan panggilannya setelah mendapatkan jawaban pasti dari Andrean.


"Rel, katakan! Ada apa?" tanya Azri.


Darel menatap wajah Azri lalu beralih menatap wajah semua sahabat-sahabatnya secara bergantian.


"KakBrian, kak Azri, Kaka Damian, Kaka Evano, kak Farrel masih ingat dengan gadis yang membully Alisha ketika kita makan di cafe beberapa waktu yang lalu?" tanya Darel.


"Iya, masih!" seru Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel bersamaan.


"Kenapa dengan dia?" tanya Farrel.


"Apa dia kembali membully Alisha?" tanya Brian.


"Lebih dari itu," jawab Darel.


"Apa?!" Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel.


"Gadis sialan itu ingin membunuh Alisha," jawab Darel.


Mendengar jawaban dari Darel membuat Brian, Azri, Damian, Evano dan Farrel terkejut. Begitu juga dengan Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon.


"Dia sampai nekat melakukan itu karena dia cemburu Alisha berdekatan dengan Sarga. Dia mencintai Sarga, sementara Sarga mencintai Alisha yang berstatus anak baru."


"Cih! Menjijikan!" Juan dan Gavin berucap bersamaan.


"Jadi itu tujuan kamu menghubungi Paman Andrean dan memintanya untuk menjemput Alisha di sekolah" tanya Evano.


"Hm!" Darel berdehem sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Tak terasa waktu sudah menunjukkan waktu mereka untuk mengikuti kelas. Dan mereka semua pun memutuskan untuk pergi meninggalkan lobi menuju kelas masing-masing.


__ADS_2