Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Hukuman


__ADS_3

Evan dan Darel saling lirik. Laluuuu...


1


2


3


"Aaakkkhh." tiba-tiba Rayyan dan keempat saudara-saudara berteriak kesakitan sembari *******-***** perut mereka.


"Mama, Papa. Perut kami sakit sekali," keluh mereka berlima.


"Yeeesss!" Darel begitu sangat bahagia karena sudah berhasil membalas perbuatan mereka yang telah berani mengusir sahabat-sahabatnya.


Evan dan Darel pun bertos ria. Hal itu menjadi perhatian anggota keluarganya.


"Darel. Apa yang kau lakukan pada mereka, hah?!" bentak Agatha.


"Aku hanya memberikan sedikit hukuman kepada mereka agar mereka sadar akan posisi mereka di rumah ini," jawab Darel.


"Apa yang sudah kau masukkan ke dalam jus itu, anak sialan?!" teriak Agatha.


"Eeemm! Aku hanya memasukkan satu botol kecil obat pencuci perut ke dalam jus itu. Kecil kok botolnya. Seperti ini." Darel berbicara sembari menunjukkan contoh botol obat kepada Agatha.


Mendengar ucapan Darel dan melihat bentuk botol yang dipegang oleh Darel. Hal itu sukses membuat Agatha membelalakkan matanya.


"Brengsek! Kenapa kau lakukan itu, hah? Apa kesalahan putra-putraku padamu?!" teriak Agatha.


"Hei, Nyonya tidak usah teriak-teriak kali. Adikku juga tidak tuli dan adikku masih bisa mendengar dengan baik," sela Evan.


"Wah, Bi! Seharusnya pertanyaan itu aku yang mengucapkannya. Bukan Bibi." Darel menatap tajam Agatha.


"Aaakkkhhhh!" teriak Rayyan dan keempat saudaranya kembali. Agatha dan William menjadi khawatir terhadap putra-putranya.


Tak jauh beda dengan Mathew. Mathew juga sangat mengkhawatirkan putra-putranya itu. Lalu Mathew melihat kearah Darel dan berusaha menunjukkan wajah baiknya.


"Darel, sayang." Mathew memanggilnya.


Darel mengalihkan pandangannya melihat Mathew. Tatapan tajam dan penuh dendam yang diberikan oleh Darel pada Mthew.


"Ada apa?" ketus Darel.

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukan hal sekeji itu pada mereka. Bukankah mereka juga saudara-saudaramu. Kakak-kakak sepupumu. Apa kamu tidak kasihan terhadap mereka? Bagaimana kalau mereka sampai mati karena keusilanmu?" ucap dan tanya Mathew lembut.


Darel tersenyum sinis. "Hahahaha.. hei, tuan. Anda jangan berani menasehatiku. Aku bukan putra tuan. Sekali pun mereka mati setelah minum jus dariku. Itulah yang aku inginkan. Aku ingin mereka pergi dari dunia ini. Tapi aku ini masih punya akal pikiran yang sehat. Jadi tidak ada niat dalam pikiranku untuk membunuh mereka. Sekali pun mereka selalu bersikap buruk padaku. Dan aku minta pada anda. Jangan campuri urusanku. Anda hanya orang luar. Bukan bagian dari keluarga Wilson. Yaaah, walaupun nama anda adalah Mathew Wilson. Bukan berarti anda adalah Pamanku. Selamanya anda bukan Pamanku. Pamanku hanya Sandy Wilson dan William Wilsom." Darel berbicara dengan dingin dan ketus.


"Brengsek!" batin Mathew.


Darel menatap tajam kearah kelima putra-putra Agatha. "Itu hukuman untuk kalian semua yang telah beraninya mengusir sahabat-sahabatku saat datang ke rumah ini. Kalian tidak punya hak mengusir mereka. Kalian bukan siapa-siapa dikeluarga ini. Kalian bukan cucu kandung dari Antony Wilson. Kalian semua itu penipu. Kalau aku mau, aku bisa mengusir kalian semua hari ini juga dari rumah ini. Dan membuat kalian menjadi gembel di jalanan!" bentak Darel.


"CUKUP DAREL!" bentak Agatha.


Agatha tiba-tiba berdiri dan menatap tajam kearah Darel. "Apa kau sudah gila? Ucapanmu makin lama makin ngelantur. Apa begini cara ibumu mendidik?" ucap Agatha.


Darel balik menatap tajam Agatha. "Kenapa? Apa kau sudah mulai merasa takut padaku sehingga mengatakan semua ucapanku itu ngelantur dan membual? Apa kau lupa dengan perkataanku sebelumnya? Perkataanku saat aku keluar dari rumah sakit? Kau tidak lupakan?"


Agatha telak bungkam. Lalu detik kemudian Agatha pun teringat tentang perkataan Darel saat itu.


FLASBACK ON


"Aku sudah memegang kartu matimu. Aku tahu kau sudah menikah sebelum menikah dengan William Wilson, Pamanku. Nama suamimu adalah Mathew Wilson. Dan kau memiliki lima orang putra, lalu kau menukarnya dengan kelima putra dari William Willson. Hanya Dirga Wilson dan Marcel Wilson yang kau dan suamimu pertahanankan agar kau bisa leluasa menguasai harta kakek. Kau dan suamimu jugalah yang telah menyebabkan kecelakaan yang menimpaku, kakek dan Papa. Dan dengan kejinya, pria brengsek itu membunuh kakekku, padahal saat itu kakek dalam keadaan selamat sama sepertiku. Dan satu lagi yang harus kau ketahui Nyonya. Seluruh harta kekayaan Antony Wilson sudah aku alihkan kepada yayasan. Dan hal itu sudah diketahui oleh pihak hukum, termasuk pihak kepolisian. Jadi, kalau seandainya saja kau dan suamimu berhasil menguasai hartanya kakek, tapi kau dan suamimu tidak bisa memindahkan atas namamu ataupun suamimu. Kalau sampai hal itu terjadi, bersiap-siap kalian berdua berurusan dengan hukum."


FLASHBACK OFF


"Bagaimana, Nyonya? Apakah sudah ingat? Jadi, perkataanku barusan benarkan? Kalau kau dan kelima putra-putramu itu hanya penipu ulung yang masuk ke dalam keluarga ini?"


Semua anggota keluarganya tampak terkejut apa yang barusan mereka dengar dari Darel. Mereka mendengar dengan sangat jelas. Darel mengatakan bahwa mereka adalah penipu. Darel mengatakan bahwa Rayyan, Kevin, Dzaky, Caleb dan Aldan bukan cucu kandung Antony Wilson.


"Darel. Apa maksud dari perkataanmu itu? Kenapa kau bisa berbicara begitu pada istri Paman dan putra-putra Paman?" tanya William.


Darel menatap wajah Pamannya itu. "Apa Paman benar-benar ingin tahu? Apa Paman yakin akan mempercayaiku jika aku mengatakan yang sebenarnya?"


William tidak menjawabnya. Dirinya hanya bisa diam. Melihat sang Paman hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan darinya. Darel hanya tersenyum.


"Sudah kuduga. Paman tidak akan percaya padaku. Paman terlalu mencintai perempuan ini sehingga membuat hati dan pikiran Paman tertutup rapat. Jadi, Paman tidak bisa melihat mana orang yang berkata jujur dan mana orang yang berkata bohong. Dan aku juga tidak tahu pelet apa yang telah perempuan ini gunakan sehingga membuat Paman cinta mati padanya. Aku kasihan padamu Paman. Jangan sampai Paman menyesal nantinya. Aku seperti ini karena aku sayang dan peduli pada Paman. Paman adalah adik kesayangan Papa. Kalau Papa ada disini, Papa akan mengatakan hal yang sama pada Paman. Lebih tepatnya, Papa akan menyuruh Paman untuk segera menceraikan perempuan ini."


Darel mengalihkan pandangannya melihat kearah Mathew. "Oh iya, tuan Mathew. Kalau anda masih punya rasa malu. Silahkan tinggalkan rumah ini. Rumah ini bukan tempat penampungan. Anda masih punya rumahkan? Jadi, kembalilah keasalmu sekarang." Darel berucap dingin.


BRAAKK!


Mathew tiba-tiba menggebrak meja. Lalu dirinya berdiri dari duduknya dan menatap tajam kearah Darel.


"Aku sudah cukup sabar menghadapi sikapmu, Darel Wilson! Tapi sikapmu beberapa hari ini menunjukkan sikap tak baik kepadaku!" bentak Mathew.

__ADS_1


"Lalu kau mau apa? Apa aku harus bersikap manis padamu?" tanya Darel yang tak kalah menatap tajam kearah Mathew.


"Setidaknya kau menghormatiku, Darel. Bagaimana pun aku adalah adik sepupu Papamu? Dan aku adalah Pamanmu juga."


"Kalau aku tidak mau kau mau apa? Atau kau ingin membunuhku seperti yang kau lakukan pada..." Darel sengaja menghentikan ucapannya hanya sekedar ingin melihat reaksi Mthew. Semua anggota keluarga menatap keduanya.


"Apa yang disembunyikan oleh Darel? Kenapa wajah Mathew begitu tegang?" batin Sandy, Evita, Daksa, Salma dan Adelina.


"Sudahlah, Rel. Jangan disimpan lagi rahasia itu. Mumpung semuannya berkumpul disini. Bongkar saja semuanya. Beritahu pada semuanya, terutama Paman William siapa istrinya dan siapa kelima putra-putranya itu," sela Evan.


DEG!


Mereka semua terkejut mendengar penuturan dari Evan. Dan mereka menatap kearah Evan.


"Evan," panggil para kakaknya.


"Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui, Evan?" tanya Davian.


"Iya," jawab Evan santai.


"Katakan pada kami. Rahasia apa yang tidak kami ketahui selama ini." Itu Steven, putra sulung Sandy.


"Aku minta maaf. Itu haknya Darel. Kalau kalian ingin tahu secara detailnya. Tanyakan saja pada Darel. Darel tahu semuanya. Sedangkan aku hanya tahu sebagiannya saja," jawab Evan.


Mereka semua menatap wajah Darel. Darel pun balik menatap satu persatu wajah-wajah anggota keluarganya. Lalu Darel pun tersenyum.


"Kalian tidak perlu khawatir. Tunggu sebentar lagi. Aku hanya ingin memberikan kesempatan perempuan itu untuk berkata jujur. Siapa tahu perempuan itu berubah pikiran," sahut Darel.


"Darel," panggil Raffa.


Raffa menghampiri Darel. Lalu memegang kedua bahu adik kelincinya itu. "Apa benar yang Darel katakan barusan kalau mereka..." tunjuk Raffa kearah Rayyan, Kevin, Dzaky, Caleb dan Aldan. "Kalau mereka bukan cucu kandung Kakek?" tanya Raffa.


"Menurut Kakak, bagaimana?" tanya Darel balik.


Raffa menatap lekat manik coklat sang adik. Dapat dilihat olehnya sebuah kejujuran disana.


"Kakak percaya."


Darel tersenyum mendengar jawaban dari kakak aliennya itu. "Terima kasih, Kak Raffa. Kakak tenang saja. Ada waktunya nanti. Semuannya akan terbongkar. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan besar untuk perempuan iblis itu dimana perempuan iblis itu tidak akan bisa berkutik lagi."


"Baiklah," sahut Raffa.

__ADS_1


__ADS_2