
KAMAR DAREL
Darel berada di kamarnya saat ini. Darek duduk di lantai dan bersandar di samping tempat tidurnya sembari memegang bingkai foto di tangannya. Dua bingkai foto yang dipegang oleh Darrl. Satu bingkai foto Kakeknya dan yang satu lagi bingkai foto ketujuh sahabatnya beserta dirinya.
Darel menangis saat melihat wajah-wajah Kakeknya dan ketujuh sahabatnya yang sedang tersenyum. Di bingkai foto yang pertama, Darel dirangkul oleh kedua sahabat anehnya yaitu sitiang listrik dan sibibir tebal. Dua julukan aneh itu dirinya lah yang memberikan untuk kedua sahabatnya itu.
"Hiks.. hiks.. kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel, Kenzo, Gavin.. hiks.."
"Kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel.. hiks. Kemarin aku bertemu dengan Kenzo dan Gavin. Aku sudah bertemu dengan mereka. Apa kalian tahu bagaimana perasaanku ketika bertemu dengan mereka? Hatiku benar-benar hancur, kak. Kenzo dan Gavin sama sekali tidak mengenaliku. Apalagi Kenzo! Aku melihat dari tatapan matanya. Tatapan matanya sungguh berbeda. Tidak seperti biasanya."
FLASBACK ON
DUAGH..
Darel memberikan tendangan kuat dipunggung pemuda itu sehingga membuat pemuda itu terhuyung ke depan. Pemuda itu dengan lihai menahan bobot tubuhnya.
Darel melihat kearah pria tua itu. "Paman tidak apa-apa?" tanya Darel.
"Iya, nak! Paman tidak apa-apa," jawab pria tua itu.
Darel membantu pria tua itu berdiri dan langsung menyuruhnya pergi, namun seketika Darel mendengar suara teriakan dari pemuda yang tadi ditendang olehnya.
"Brengsek. Siapa kau? Berani sekali kau mengganggu pekerjaanku." teriak pemuda itu.
DEG..
Tubuh Darel seketika menegang saat mendengar suara itu. Suara yang sangat Darel hafal. Suara yang sangat Darel rindukan.
Darel berlahan membalikkan badannya untuk melihat pemilik dari suara itu. Seketika mata Darel membelalak, tubuhnya yang bergetar, mata yang memerah saat melihat wajah orang yang ada di hadapannya kini.
"Ke-kenzo." lirih Darel.
"Kendrick, ayo buruan! Kita harus pergi dari sini!" teriak seseorang.
"Ya, Gerald. Tunggu sebentar." teriak Kendrick.
"Ge-gerald," lirih Darel saat melihat kearah pemuda yang berteriak memanggil temannya.
Kendrick menatap tajam kearah Darel. "Hari ini nasibmu beruntung. Tapi lain kali, jika kita bertemu lagi, mungkin kau tidak akan seberuntung ini. Aku pasti akan membunuhmu."
Setelah mengatakan hal itu, Kendrick dan Gerald pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara Darel tidak bisa membendung tangisannya.
"Hiks.. hiks.. Kenzo.. Gavin.. hiks.."
FLASBACK OFF
"Kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano, kak Farrel. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mereka kembali padaku. Aku ingin mereka tetap menjadi Kenzo dan Gavin yang dulu, bukan Kenzo dan Gavin yang sekarang."
"Hiks.. kakak. Aku merindukan kalian."
Darel mengalihkan pandangannya melihat ke arah bingkai foto yang kedua. Bingkai foto kedua adalah foto Kakeknya.
"Hiks.. Kakek.. hiks.. aku merindukanmu. Kek, jika Kakek bertemu dengan kelima sahabatku di atas sana. Tolong katakan pada mereka untuk datang mengunjungi di mimpiku. Sekalian dengan Kakek juga.. hiks.. katakan juga pada mereka bahwa aku sudah bertemu dengan Kenzo dan Gavin. Bilang pada mereka bahwa Kenzo dan Gavin nakal padaku. Mereka berdua melupakanku."
__ADS_1
RUANG TENGAH
Anggota keluarga Wilson berkumpul di ruang tengah, kecuali Darel. Mereka semua sama ini tengah memikirkan keadaan Darel ketika pulang dari Kampus kemarin, terutama kedua orang tuanya dan kakak-kakak kandungnya. Mereka semua tampak khawatir akan kondisi Darel saat ini. Sepulang dari Kampus, Darel tidak keluar dari kamar. Bahkan bicara pun enggan.
FLASBACK ON
Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya kini tengah bersantai di ruang tengah sembari menunggu kepulangan sibungsu kesayangan keluarga Wilson.
Mereka bercerita dan juga bersenda gurau satu sama lainnya. Begitu juga dengan Mirza. Mirza sudah dekat dengan kakak-kakak sepupunya.
"Ini sudah pukul 4 Sore. Kenapa Darel belum pulang juga?" tanya Ghali.
"Aish. Coba saja ponsel Darel tidak dibanting. Pasti kita sudah menghubunginya!" ucap Andre.
"Sudah, sudah. Jangan terlalu khawatir begitu. Kita berdoa saja semoga saja Darel baik-baik saja diluar sana," ucap Arvind.
"Darel. Semoga kamu baik-baik saja ya, sayang." batin Arvind dan Adelina.
"Darel. Cepatlah pulang," batin Davian dan adik-adiknya
Di saat orang tuanya, Paman dan Bibinya dan para kaka-kakaknya tengah mengkhawatirkan sikelinci kesayangannya, tiba-tiba mereka mendengar suara motor di luar rumah.
Terlihat seorang pelayan berlari untuk membukakan pintu.
"Itu pasti Darel!" seru Daffa dan Vano bersamaan
Selang beberapa detik kemudian, terlihat seorang pemuda tampan, manis dan juga menggemaskan melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Lebih tepatnya bukan ke ruang tengah, melainkan untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Darel sama sekali tidak mendengar panggilan dari kakak tertuanya itu. Dirinya terus melangkahkan kakinya tanpa mengindahkan panggilan dan tatapan anggota keluarganya. Darel saat ini dalam keadaan kacau. Pikirannya masih tertuju dengan dua pemuda yang begitu di rindukannya.
"Darel." kini Evan dan Raffa yang memanggilnya secara bersamaan.
Namun tetap sama. Darel tidak mendengar panggilan dari kedua kakaknya itu.
Davian berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Nevan, Ghali Elvan, Andre, Arga dan yang lainnya. Mereka menghampiri Darel yang saat ini melangkah menaiki anak tangga.
"Darel." Davian berhasil mencekal tangan adiknya.
Sementara Darel masih berdiri dengan posisinya membelakangi anggota keluarganya. Dirinya tidak ada niatan sama sekali untuk menatap wajah anggota keluarganya.
Davian berlahan menarik pelan tangan adiknya agar dirinya dan anggota keluarga lainnya bisa melihat wajahnya.
DEG..
Mereka semua terkejut saat melihat wajah Darel yang pucat. Mata yang sembab dan keadaannya yang juga tampak kacau.
"Darek. Kau kenapa? Ada apa, hum? Apa yang terjadi?" tanya Davian sembari tangannya mengelus lembut pipi adiknya
Darel hanya diam. Tatapan matanya yang sayu dan juga sendu. Mereka yang melihatnya merasakan sesak di dada masing-masing. Dan rasa takut mereka menjalar kemana-mana.
"Darel. Ayolah, sayang. Bicaralah. Apa yang terjadi padamu?" Adelina mengelus lembut kedua pipi putra bungsunya. Adelina menangis melihat putra bungsunya saat ini
__ADS_1
"Darel. Kakak mohon," ucap Nevan.
Tetap sama. Darel masih setia menutup mulutnya. Bahkan pandangannya hanya tertuju satu arah yaitu ke depan. Pikirannya masih tertuju pada dua pemuda yang ditemuinya.
"Brengsek. Siapa kau? Berani sekali kau mengganggu pekerjaanku." teriak pemuda itu.
DEG..
Tubuh Darel seketika menegang saat mendengar suara itu. Suara yang sangat Darel hafal. Suara yang sangat Darel rindukan.
Darel berlahan membalikkan badannya untuk melihat pemilik dari suara itu. Seketika mata Darel membelalak, tubuhnya yang bergetar, mata yang memerah saat melihat wajah orang yang ada di hadapannya kini.
"Kenzooo." lirih Darel.
"Kendrick, ayo, buruan. Kita harus pergi dari sini!" teriak seseorang.
"Ya, Gerald. Tunggu sebentar!" teriak Kendrick.
"Gavin," lirih Darel saat melihat kearah pemuda yang berteriak memanggil temannya.
Kendrick menatap tajam kearah Darel. "Hari ini nasibmu beruntung. Tapi lain kali, jika kita bertemu lagi, mungkin kau tidak akan seberuntung ini. Aku pasti akan membunuhmu."
Setelah mengatakan hal itu, Kendrick dan Gerald pergi meninggalkan tempat tersebut. Sementara Darel tidak bisa membendung tangisannya.
Arvind akhirnya turun tangan. Dirinya benar-benar sudah tidak tahan melihat keadaan putra bungsunya saat ini.
Arvind mengambil alih tubuh putra bungsunya dari Davian lalu kemudian Arvind menarik putra bungsunya itu ke dalam pelukannya.
"Hiks.. hiks.. hiks.." Seketika tangis Darel pun pecah.
Mereka yang mendengar tangisan disertai isakan dari Darel membuat mereka semua merasakan iba dan juga ikut menangis.
Arvind makin mengeratkan pelukannya disaat mendengar tangisan putra bungsunya. Tangannya mengusap-usap punggung putranya. Dapat Arvind rasakan tubuh putra yang bergetar. Arvind berulang kali memberikan kecupan di pucuk kepalanya.
Namun tiba-tiba, Arvind merasakan tubuh putranya berlahan melemah dan kemudian merosot ke bawah.
"Darek!" teriak mereka semua disaat melihat Darel yang sudah tidak sadarkan diri.
Davian dan Nevan berhasil menahan tubuh adiknya sehingga tidak terjatuh ke lantai.
"Naikkan Darel ke punggung kakak," ucap Davian.
Nevan dan Ghali mengangkat tubuh Darel dan dinaikkan ke atas punggung Davian.
Setelah dipastikan nyaman, Davian membawa adiknya menuju kamarnya di lantai dua.
FLASBACK OFF
"Pa, Ma! Aku benar-benar khawatir dengan Darel. Kita harus ajak Darel bicara. Kita tidak bisa membiarkan Darel seperti ini. Mau sampai kapan?" Raffa sudah menangis saat memikirkan kondisi adiknya
"Padahal saat Darek pamit sama aku dan Raffa untuk membeli ponsel baru. Wajah Darel keliatan tampak begitu ceria dan juga bahagia. Tanpa dibuat-buat. Walau ada sedikit masalah di Kampus karena Darel bertemu dengan teman-teman masa SMA nya. Bisa dibilang para musuh-musuhnya Darel ketika di SMA dulu." Evan berbicara sembari menjelaskan apa yang dialami adiknya selama di Kampus kemarin
"Aku akan ke kamar Darel. Aku sudah tidak tahan melihat Darel seperti ini dari kemarin!" seru Andre.
__ADS_1
Andre bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Darel di lantai dua. Melihat Andre yang pergi menuju kamar Darel di lantai dua, mereka semua pun menyusul Andre.