Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Wajah Bersalah Dan Takut Darel


__ADS_3

[MARKAS RED BULL


Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa sudah berada di dalam. Setengah jam yang lalu mereka tiba di Markas tersebut. Saat mereka datang, mereka tidak menemukan keberadaan Darel. Mereka saat ini tengah mengkhawatirkan Darel.


"Kak Vano, bagaimana ini? Darel dimana kaka?" tanya Raffa khawatir.


"Raf, tenanglah!" ucap Evan yang berusaha menenangkan Raffa.


"Rel, kau ada dimana sekarang?" batin Vano.


"Aish. Ponselnya Darel tidak aktif lagi," kesal Daffa.


Saat mereka tengah memikirkan Darel, tiba-tiba ponsel milik Daffa berbunyi. Dan hal itu sukses membuat Dafta terkejut dan juga takut.


"Kak Daffa. Siapa yang menelpon?" tanya Alvaro.


"Ka-kakak Davian," jawab Daffa gugup.


Mereka saling melirik satu sama lainnya. Saat ini mereka benar-benar takut.


"Apa yang harus kita katakan pada kakak Davian? Kak Davian pasti akan marah jika mengetahui Darel hilang," ucap Axel.


"Bukan kak Davian doang yang akan marah. Kak Nevan dan kak Ghali juga akan marah. Mereka bertiga kalau sudah marah sangat amat mengerikan," sahut Raffa.


"Ya, sudah kak Daffa. Angkat telepon dari kak Davian. Jangan buat kak Davian marah karena kelamaan mengangkat teleponnya," pungkas Evan.


Davian pun mengangguk. "Baiklah."


***


[KEDIAMAN UTAMA WILSON]


Seluruh anggota keluarga, termasuk Rayyan dan keempat adiknya masih berada di ruang tengah. Mereka saat ini sedang menunggu kepulangan Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan, Raffa dan Darel.


Davian saat ini tengah menghubungi Daffa. Sedangkan anggota keluarga lainnya fokus mendengarkan. Panggilan tersebut di loundspeaker oleh Davian.


"Hallo, kak Davian!"


"Hallo, Daffa. Kenapa lama sekali menjawab panggilan dari kakak?"


"Ach, itu anu......"


"Itu anu apa, Daffa? Bicara yang benar."


"Maaf, kakak Davian. Darel..."


"Darel kenapa, Daffa?" tanya Arvind.


"Saat kami tiba di Markas milik Darel. Kami tidak menemukan Darel, Pa!"


"Apa?!" teriak Arvind dan putra-putranya yang lainnya.


"Maafkan kami, Pa! Kami sudah mencarinya. Tapi kami tidak menemukan Darel. Bahkan kami juga sudah berulang kali menghubungi ponselnya. Tapi ponselnya Darel tidak aktif."


"Kirimkan alamat Markasnya Darel. Sekarang!"


"Ba-baik kak."


PIP


TING


Satu pesan masuk ke ponsel Davian. Dan Davian langsung membuka dan membacanya.


To : Jin


1-92, 2 Cendrawasih

__ADS_1


Setelah mendapatkan alamat tempat Markas adik bungsunya, Davian pun langsung pergi.


"Kak Davian. Kami ikut!" seru Nevan dan Ghali bersamaan.


"Ayo," ajak Davian.


Setelah mengatakan hal itu, mereka bertiga pun langsung pergi meninggalkan Kediaman Utama Wilson.


"Darel. Semoga kamu baik-baik saja sayang." Davian berucap di dalam hatinya.


***


[DI SEBUAH GANG]


Darel bersama dengan pemuda yang sangat menyebalkan menurutnya sedang bersembunyi di sebuah gang. Keduanya masih terus bersitegang dan beradu mulut. Keduanya tidak ada yang mau mengalah dan saling menyalahkan.


"Yak, lepaskan tanganku!" teriak Darel.


Pemuda tersebut langsung melepaskan tangan Darel.


"Sorry," jawab pemuda itu.


"Memangnya kau siapa? Kenapa mereka mengejar-ngejar kamu? Apa kamu habis melakukan kejahatan? Atau kau merampok atau kau....."


"Yak! Bisa diam tidak. Kenapa kau berubah menjadi cerewet begini?" kesal pemuda itu.


"Kenapa juga kau menjadi emosi seperti ini? Aku kan cuma bertanya. Kalau kau tidak mau menjawabnya, ya sudah. Aku juga tidak memaksa." Darel menjawab dengan nada ketus.


"Dasar aneh," gumam Darel.


"Apa kau bilang?" tanya pemuda itu yang menatap horor Darel.


"Aku tidak bilang apa-apa. Telingamu saja yang sensitif," jawab Jungkook asal.


"Dasar idiot," gumam pemuda itu.


"Aku tidak bilang apa-apa. Telingamu saja yang sensitif," jawab pemuda itu.


"Hei, itu kata-kataku!" protes Darel.


"Memangnya ada masalah?" tanya pemuda itu.


"Iya, iyalah! Kau itu sudah melanggar hak cipta seseorang," jawab Darel.


"Lebay," sahut Pemuda itu.


Darel melangkah sedikit menjauh dari pemuda itu hanya untuk mengintip. Dirinya ingin memastikan apa orang-orang itu masih mengejar dirinya dan orang aneh yang bersama dengannya.


Setelah dipastikan orang-orang itu tidak terlihat. Darel pun memutuskan untuk pergi.


"Sepertinya mereka sudah tidak mengejar kita. Ach, maaf. Bukan kita, tapi kau orang aneh. Jadi, sebaiknya aku pergi dari sini. Aku tidak mau membuat kakakku terlalu lama menungguku di rumah," ucap Darel.


Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung pergi meninggalkan pemuda itu sendirian.


"Hei, lalu aku bagaimana?!" teriak pemuda itu.


"Bodo amat. Urusi saja dirimu sendiri?" teriak Darel balik.


Pemuda itu mendengus kesal mendengar penuturan dari Darel.


"Aish, siluman kelinci sialan." Pemuda itu berucap kesal sambil mengumpat.


***


[MARKAS RED BULL]


Davian, Nevan dan Ghali sudah berada di Markas Darel. Mereka sekarang berada di ruang tengah.

__ADS_1


"Kalian mencari Darel dimana saja?" tanya Davian.


"Kita mencari Darel dari mulai mengitari sekitar Markas ini sampai kita keluar, kak Davian!" Daffa menjawab pertanyaan dari kakak tertuanya itu.


"Kita juga berulang kali menghubungi Darel. Tapi ponselnya tidak aktif," ujar Axel.


"Padahal aku sudah mengatakan pada Darel untuk tidak kemana-mana. Tetap di Markas ini," tutur Vano.


Saat mereka semua tengah memikirkan dimana keberadaan adik bungsu kesayangan mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang yang mereka khawatirkan.


"Kakak Vano, aku pulang. Maafkan ak........" Perkataan Darel terhenti saat melihat di ruang tengah ada sembilan kakaknya, termasuk kakak tertuanya.


"Kakak," ucap Darel dengan suara gugup.


Davian menghampiri adik bungsunya. Sedangkan Darel yang melihat kakak tertuanya itu menghampirinya hanya bisa diam mematung. Dalam hatinya saat ini, Darel benar-benar takut jika kakak tertuanya itu marah padanya.


"Ka-kakak." Darel berucap dengan suara sedikit bergetar.


GREP


Davian langsung memeluk tubuh adiknya. Dirinya merasakan kelegaan saat melihat adiknya kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Kakak," panggil Darel.


Davian melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan adiknya itu. Lalu kemudian memberikan kecupan sayang di keningnya.


"Kamu dari mana, hum? Kami semua mengkhawatirkan kamu loh," ucap dan tanya Davian lembut.


"Maafkan aku kak. Aku sudah membuat kalian khawatir," jawab Darel dengan menatap kakak-kakaknya dengan tatapan takut.


Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa menghampiri Darel. Mereka semua tersenyum bahagia karena melihat adik bungsunya pulang dengan selamat.


Darel menatap wajah Vano. Lalu kemudian Darel menghambur ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku, kakak Vano. Maafkan aku yang tidak mendengar perkataanmu," lirih Darel.


Vano tersenyum bahagia mendengar ucapan maaf dari adik bungsunya itu. Sebenarnya Vano tidak marah. Hanya saja Vano benar-benar khawatir akan dirinya. Itu saja. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka juga tidak marah terhadap Darel. Mereka hanya khawatir akan dirinya.


Setelah puas memeluk kakak pucatnya itu, Darel pun melepaskan pelukannya tersebut. Mereka semua menatap wajah sedih dan wajah merasa bersalah sang adik.


"Sudah tidak apa-apa. Kamu tidak perlu merasa bersalah, oke!" ucap Nevan, lalu mengusap lembut rambut adiknya bungsunya itu dan tak lupa mencium keningnya.


"Kami semua tidak marah kok sama kamu. Jadi kamu tidak perlu takut begitu," ucap Ghali lembut. Lalu Ghali mencium kening adiknya itu.


"Iya, Rel. Kami tidak marah sama kamu," kata Raffa.


"Memangnya kamu dari mana?" tanya Daffa.


"Tadi saat aku berada di balkon. Aku melihat seorang pemuda yang usianya jauh lebih muda dariku. Pemuda itu tengah mengais makanan dari tempat sampah yang ada di depan Markas. Aku yang melihatnya menjadi tidak tega, kak! Ya, udah! Aku keluar lalu membawanya ke cafe dan mentraktirnya makan disana. Saat aku tengah mengobrol dengannya, aku baru sadar, jika kak Vano akan datang pukul 11. Lalu aku pamit pada pemuda itu untuk pulang. Tapi saat aku berlari aku tidak sengaja menabrak seseorang yang orang itu juga berlari. Kita saling menabrak dan jatuh di aspal." Darel menjelaskan kepada kakak-kakaknya kenapa dirinya tidak berada di markas.


"Tapi kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ghali.


"Aku tidak apa-apa, kak! Hanya saja pantatku masih sedikit sakit. Habisnya saat jatuh tadi, pantatku duluan yang mencium aspal," jawab Darel.


Mereka semua tersenyum mendengar penuturan dari Darel.


Lalu Evan tidak sengaja melirik kearah pergelangan kiri Darel. Dapat dilihat oleh Evan, pergelangan kiri adiknya itu terluka.


"Rel. Itu pergelangan kiri kamu terluka!" seru Evan.


Darel yang tidak menyadari bahwa pergelangan kirinya terluka, kemudian mengangkat pergelangan kirinya itu untuk melihatnya. Dan benar, pergelangan kirinya itu benar-benar terluka.


"Aku tidak menyadarinya, kakak Evan!" jawab Darel.


Mereka semua hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Darel.


"Ya, sudah. Nanti kakak obati. Lebih baik sekarang kita pulang. Papa dan Mama sudah khawatir di rumah," ucap Davian.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Davian langsung merangkul adik bungsunya itu untuk menuju mobil. Dan mereka semua bergegas untuk pulang ke rumah.


__ADS_2