Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S3. Merencanakan Untuk Penjebakan


__ADS_3

"Ada apa ini, Daffa?" tanya Arvind pada putra ketujuhnya saat melihat salah satu tangan kanan putra bungsunya yaitu Zayan bersama 10 anggotanya di ruang rawat.


Daffa tidak langsung menjawab pertanyaan dari ayahnya itu. Justru Daffa menatap nyalang dua perawat tersebut yang mana satunya sudah diamankan oleh dua anggota Black Shark. Begitu juga dengan Vano, Axel, Alvaro, Evan dan Raffa. Mereka tak kalah tajam menatap dua perawat tersebut.


Di dalam ruang rawat Darel bukan hanya ada semua anggota keluarga Darel (baik dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya). Di dalam ruang rawat tersebut sudah ada Fayyadh yang tak lain Dokter pribadi keluarga Wilson sekaligus ayah kandung Kenzo.


Kenzo menatap kearah ayahnya. Dirinya meminta ayahnya untuk mengumpulkan semua tim medis, baik berstatus sebagai Dokter maupun sebagai perawat.


"Papa."


Fayyadh langsung melihat kearah putra bungsunya. Dan dapat dilihat oleh Fayyadh bahwa putranya itu ingin mengatakan sesuatu.


"Apa, Sayang?"


"Aku mau sekarang juga Papa kumpulkan semua tim medis. Baik itu berstatus sebagai Dokter maupun sebagai perawat. Kumpulkan mereka di lobi depan rumah sakit."


Seketika Fayyadh terkejut akan permintaan dari putra bungsunya itu. Fayyadh dibuat bingung atas permintaan tersebut.


"Ada apa, Sayang? Kenapa......?"


"Nanti Papa akan tahu alasanku meminta Papa mengumpulkan semua tim medis yang bekerja di rumah sakit ini," sahut Kenzo.


"Baiklah, Sayang."


Setelah itu, Fayyadh pun langsung pergi meninggalkan ruang rawat Darel untuk memenuhi permintaan dari putra bungsunya.


Arvind, putra-putra tertuanya dan anggota keluarga lainnya menatap satu persatu kearah Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan, Raffa, Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Juan, Lucas, Zelig, Razig, Charlie dan Devon bergantian. Bahkan mereka juga menatap kearah Zayan dan para anggotanya.


"Daffa! Vano! Alvaro! Axel! Evan! Raffa! Katakan pada Papa, ada apa? Jangan diam seperti ini!"


"Ada yang ingin membunuh Darel!" Raffa yang menjawab pertanyaan dari ayahnya tanpa mengalihkan pandangannya kearah dua perawat palsu itu.


Deg..


Seketika Arvind, Adelina, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga terkejut mendengar jawaban dari Raffa. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Raffa!" panggil Davian dan Nevan bersamaan.

__ADS_1


Raffa melihat kearah kedua kakak tertuanya. Setelah itu, Raffa kembali menatap dua perawat tersebut.


"Mereka adalah perawat palsu. Mereka bisa berada di ruang rawat Darel atas perintah seseorang. Dan mereka bisa masuk karena ada yang membantu mereka masuk kesini. Itulah alasannya kenapa Kenzo meminta ayahnya untuk mengumpulkan semua tim medis di lobi depan rumah sakit."


Seketika Arvind, Adelina, putra-putranya dan semua anggota keluarganya membelalakkan matanya terkejut.


"Raffa, kamu tahu dari.....?" perkataan Sandy terhenti karena Gavin langsung bersuara.


"Aku yang memberitahu kabar ini kepada kak Daffa, kak Vano, kak Alvaro, kak Axel, kak Evan dan kak Raffa. Aku memberitahu kabar ini karena aku mendengar langsung pembicaraan orang itu dengan seseorang di telepon ketika aku, kak Brian, kak Azri, kak Damian, kak Evano dan kak Farrel berada di Cafe."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Gavin membuat Arvind, Adelina, putra-putra tertuanya dan semua anggota keluarga langsung melihat kearah Gavin.


"Apa kau melihat wajah orang itu?" kini Ghali yang bertanya.


"Ya. Aku sempat melihat wajah laki-laki itu. Dia seumuran dengan kak Ghali," jawab Gavin.


Gavin menatap kearah Ghali. Begitu juga dengan Ghali. Bahkan semua anggota keluarga Darel menatap kearah Gavin.


"Boleh aku bertanya?" tanya Gavin kepada Ghali.


"Tentu. Kau mau menanyakan apa sama kakak?" jawab dan tanya Ghali.


Mendapatkan pertanyaan dari Gavin ditambah lagi dengan tatapan matanya membuat Ghali dan semua anggota keluarganya terdiam sejenak. Mereka berpikir apakah mereka benar-benar sudah melakukan pekerjaannya dengan sempurna dan rapi atau justru ada yang terlupakan oleh mereka.


Melihat keterdiaman keluarga besar dari sahabat kelincinya membuat Gavin menjadi tak tega. Dan pada akhirnya, Gavin pun mengatakan yang sebenarnya.


"Ada satu anggota keluarga Rocio yang masih hidup. Aku juga tidak yakin apakah dia berasal dari keluarga Rocio atau berasal dari keluarga lain," ucap Gavin.


"Katakan? Siapa dia?" tanya Ghali.


"Dia adalah sepupu dari Paula Rocio. Dia juga yang menjadi tersangka dalam kecelakaan yang menimpa Darel beberapa minggu yang lalu atas perintah dari Paula. Dan kemungkinan Darel sempat melihat wajah laki-laki itu sebelum kesadaran mengambil alih tubuhnya," sahut Gavin.


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Gavin membuat Ghali mengepal kuat tangannya. Begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain, termasuk kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya dan para sepupu-sepupunya.


"Apa kau yakin dia adalah sepupu wanita murahan itu?" tanya Elvan.


"Sangat yakin karena aku mendengar dengan jelas yang dia bicarakan dengan seseorang di telepon. Dia ingin membalas dendam atas semua anggota keluarga yang tewas.

__ADS_1


"Apa yang akan dia rencanakan?" tanya Nevan.


"Seperti yang kalian dengar dari mulut kak Raffa bahwa ada yang ingin membunuh Darel. Laki-laki itu ingin membunuh Darel untuk membalaskan kematian semua anggota keluarga Rocio," ucap Gavin.


"Kapan bajingan itu melakukannya?" kini Arvind yang bertanya.


"Kemungkinan nanti malam, tapi aku tidak tahu pasti pukul berapa. Dia akan langsung turun tangan untuk membunuh Darel."


"Baiklah!" seru Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga bersamaan.


Setelah itu, mereka semua berdiskusi untuk membuat jebakan untuk orang yang hendak membunuh Darel.


***


[Markas Black Shark]


Zayan sudah menceritakan apa yang dia dengar dari salah satu sahabat dari Bosnya yaitu Gavin kepada Hyun Woo dan Lucky. Dan saat ini Zayan bersama Hyun Woo dan Lucky di Aula, lengkap dengan anggotanya masing-masing. Mereka tengah membahas tentang orang yang hendak membunuh sang Bos di rumah sakit.


Dan Zayan juga memberitahu kepada Hyun Woo dan Lucky bahwa orang tersebut akan datang ke rumah sakit pada malam hari untuk membunuh Darel. Untuk waktunya, Zayan tidak tahu karena Gavin juga tidak mengetahui hal tersebut.


"Dengarkan aku!" seru Hyun Woo kepada para anggotanya. "Persiapkan diri kalian sekarang juga. Berjaga-jagalah di sekitaran rumah sakit, terutama di sekitar ruangan rawat Bos!"


"Baik!" seru semua para anggota.


"Aku sangat yakin jika bajingan itu tidak datang sendirian. Dia pasti membawa beberapa orang. Dan orang-orangnya itu akan membuat anggota keluarga Bos terlihat sibuk sehingga tidak fokus menjaga Bos!" ucap Zayan.


"Kami mengerti!" seru semua para anggota.


"Jika ada yang mencurigakan, langsung saja bunuh!" seru Lucky.


"Siap!"


Zayan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Setelah itu, Zayan pun bersuara.


"Ini sudah pukul 8 malam. Kalian bersiap-siaplah," perintah Hyun Woo.


"Baik, ketua!"

__ADS_1


Setelah itu, semua anggota pun bersiap-siap untuk melakukan tugasnya malam ini.


__ADS_2