Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Tatapan Tajam Darel Terhadap Luan


__ADS_3

Plak..


"Aakkhhh!"


"Darel!" teriak Kenzo, Gavin Samuel Razig Juan Zelig Lucas Charlie dan Devon bersamaan ketika melihat Darel yang ditampar oleh Dosen Luan.


Mereka seketika berdiri dari duduknya ketika Dosen baru itu menampar pipi Darel.


Darel yang mendapatkan tamparan keras oleh Luan seketika menatap nyalang kearah Luan. Saat ini Darel, sahabatnya berada di kelas.


"Apa-apaan anda berani menampar saya! Memangnya salah saya apa?" tanya Darel menantang Dosen baru itu.


"Berani kamu melawan saya, hah?!"


"Anda pikir saya takut, hah?! Saya sama sekali tidak takut sama anda. Selama saya benar. Selama itu pula saya nggak pernah takut sama siapa pun. Termasuk anda!" bentak Darel dengan menatap tajam kearah Luan sang dosen.


Sementara para sahabat-sahabatnya tersenyum penuh kebahagiaan ketika melihat Darel yang berani melawan sang dosen.


"Anda dosen baru di kampus ini. Tapi gaya anda sudah seperti senior saja. Apa begini cara mengajar anda ketika di kampus lama anda? Sudah berapa banyak mahasiswa dan mahasiswi yang anda tampar, pukul bahkan anda kasari? Pasti sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi korban kekerasan anda."


Luan mengepalkan kuat tangannya ketika mendengar ucapan dari Darel. Dirinya tidak menyangka jika Darel berani padanya.


"Tahu apa kau tentangku, hah?!" bentak Luan.


"Hahahaha." Darel seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari Luan. "Apa yang tidak saya ketahui tentang anda. Warna pakaian dalam anda sekarang ini saya juga tahu," sahut Darel sembari tersenyum mengejek.


"Anda memakai pakaian dalam berwarna merah, bukan?" Darel berucap dengan menatap ke bawah.


Mendengar perkataan dari Darel sontak membuat semua seisi kelas tertawa.


"Hahahahaha."


Luan makin mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan dari Darel. Ditambah lagi suara tawa dari semua mahasiswa dan mahasiswinya.


"Kau berani menantangku!" bentak Luan.


"Kalau iya, kenapa?" tantang Darel balik.


"Kau...."


Luan langsung melayangkan tamparan keduanya ke wajah Darel. Namun dengan gerakan cepat, Darel menendang masa depan sang Dosen tersebut sehingga membuat sang dosen meringis kesakitan sambil memegangi pusaka berharganya bersamaan dirinya melompat-lompat.


Darel seketika tersenyum bahagia melihat kesakitan Dosennya itu. Begitu para sahabat-sahabatnya dan teman-teman sekelasnya


"Cih! Mau mencoba menamparku untuk yang kedua kalinya. Jangan harap kau bisa melakukan itu," sahut Darel.


Setelah mengatakan itu, Darel pergi begitu saja meninggalkan kelas. Dirinya tidak akan fokus mengikuti kelas, apalagi yang mengajar di kelas itu adalah Luan.


Melihat Darel yang pergi membawa Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon seketika berdiri dari duduknya. Mereka mengambil tasnya masing-masing lalu berlari mengejar Darel.


"Kalian jika ingin bolos hari ini. Mending bolos sekarang!" seru Juan.


"Apa kalian betah dan sanggup tetap mengikuti kelas. Sementara yang jadi pengajarnya adalah orang gila!" seru Zelig.


Mendengar seruan dari Juan dan Zelig membuat semua mahasiswa dan mahasiswi berdiri dengan memegang tas masing-masing.

__ADS_1


Setelah itu, mereka semua pun pergi dari kelas. Dan mengikuti Darel dan sahabat-sahabatnya.


^^^


Aldan saat ini baru selesai urusannya di toilet. Ketika Aldan melangkahkan kakinya hendak menuju kelas. Matanya tak sengaja melihat adik sepupunya Darel.


Aldan melihat Darel yang saat ini duduk di lapangan basket sembari memegang pipi kirinya.


Dikarenakan rasa penasarannya, Aldan pun memutuskan untuk menghampiri adik sepupunya itu.


Kini Aldan sudah berada di belakang adiknya. Dia tidak langsung menyapa adiknya. Justru tatapan matanya melihat kearah pipi kiri Darel.


Seketika mata Aldan membesar ketika melihat ada bekas merah di pipi Darel. Aldan meyakini bahwa bekas merah di pipi Darel adalah bekas tamparan.


Setelah puas melihat pipi Darel. Aldan pun memutuskan untuk duduk di samping Darel. Dan itu membuat Darel seketika terkejut.


"Aish! Bisa tidak kalau muncul itu jangan seperti hantu. Kaget tahu," ucap Darel kesal.


Sementara Aldan seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Darel. Apalagi ketika melihat wajah kesal Darel akan ulahnya.


"Kenapa disini? Bukannya kamu ada materi kuliah hari ini. Kenapa keluar?" tanya Aldan.


"Males," jawab Darel singkat.


"Tumben.  Biasa semangat empat lima kalau udah masalah kampus."


"Ya, hari ini lagi males aja."


"Males karena dosen baru itu ngajar di kelas kamu, hum?!"


"Ada apa? Cerita sama kakak."


Darel langsung kembali melihat kearah Aldan yang juga sedang melihat kearah dirinya.


"Maksud kakak Aldan apa?"


Aldan tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Darel. Lalu tangannya mengusap lembut pipi kiri Darel.


"Ini bekas tamparan, bukan?"


Deg..


Darel terkejut ketika mendengar ucapan dari Aldan. Dirinya tidak menyangka jika tamparan Dosen gila itu meninggalkan bekas di pipinya.


Darel kembali menatap ke depan. Hatinya terasa sakit ada orang lain yang berani menampar wajahnya.


"Siapa yang melakukannya? Katakan pada kakak, Rel!"


Hening..


Darel masih belum mengatakan orang yang sudah menampar wajahnya.


"Rel."


"Dosen gila itu yang sudah menampar Darel, kak Aldan!" seru Gavin yang datang bersama sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


Mendengar seruan dari Gavin. Aldan langsung melihat keasal suara. Dan dapat dilihat oleh Aldan kesembilan sahabat-sahabatnya Darel datang menghampiri Darel.


Kini Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon sudah berada di hadapan dan juga di samping Darel.  Mereka menatap kearah Darel, lebih tepatnya menatap pipi kiri Darel. Mereka melihat ada bekas tamparan dari Dosen gila itu.


"Gavin," panggil Aldan.


"Iya, kak!"


"Tadi kamu bilang dosen gila itu yang sudah menampar pipi Darel. Maksud kamu apa?"


"Dosen gila yang aku maksud adalah Dosen baru itu, Luan Malachi!"


"Jadi dia yang sudah menampar Darel?"


"Iya, kak!" jawab kompak Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.


"Kenapa dia berani menampar Darel? Apa salah Darel?"


"Darel terlambat masuk ke kelas. Keterlambatan Darel juga adalah alasannya karena Darel habis menyelesaikan tugas dari rektor yang tak lain ayahnya Samuel," jawab Devon.


"Apa Dosen itu nggak tahu atau..."


"Kita-kita sudah kasih tahu dia kok. Bahkan satu kelas juga udah bilang kalau Darel akan terlambat masuk. Dasar dianya aja yang nggak ada hati," sahut Kenzo.


"Padahal keterlambatan Darel nggak nyampe 1 jam. Hanya 15 detik doang," sela Lucas.


Aldan menatap kearah Darel yang saat ini hanya diam. Dirinya meyakini bahwa saat ini Darel dalam keadaan tak baik-baik saja.


Satu hal yang diketahui oleh Aldan tentang Darel. Darel sosok yang tidak bisa dikerasi dan dikasari. Bahkan tidak bisa dipukul. Jika semua itu terjadi pada dirinya, maka tubuhnya seketika akan bereaksi. Salah satunya adalah Darel akan demam. Aldan meyakini sebentar lagi Darel pasti akan merasakan pusing di kepalanya.


Aldan berlahan mengusap lembut kepala belakang Darel sehingga membuat Darel tersadar.


"Kita ke ruangan kesehatan ya. Kakak sangat yakin pasti sebentar lagi kamu tidak baik-baik saja. Tuh wajah kamu sudah mulai kelihatan kalau kamu tidak baik-baik saja," sahut Aldan.


"Aku baik-baik saja, kak Aldan! Aku nggak kenapa-kenapa," jawab Darel.


"Sekarang kamu memang tidak kenapa-kenapa. Tapi nanti sebentar lagi kamu bakal tumbang. Dari pada tumbang disini. Mending tumbangnya di ruang kesehatan saja. Jadi bisa sekalian tidur."


"Aish! Apaan sih kak. Nggak lucu tahu."


"Yang bilang lucu siapa? Kakak nggak bilang lucu. Justru kakak dari tadi ngomong serius."


"Ach, terserah kakak Aldan saja."


Setelah mengatakan itu, Darel pergi begitu saja meninggalkan Aldan dan para sahabat-sahabatnya.


Mendengar perkataan dan melihat wajah kesal adik sepupunya itu seketika Aldan tersenyum. Begitu juga dengan Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.


"Mau kemana?!" tanya Aldan sembari teriak.


"Mau menghadap Tuhan!" teriak Darel asal.


"Darel!" teriak marah Aldan, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie, dan Devon bersamaan. Mereka tidak suka ketika Darel mengatakan hal itu.


Setelah itu, mereka semua menyusul Darel. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darel.

__ADS_1


__ADS_2