Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Farraz dan keempat Adiknya


__ADS_3

Mereka semua yang mendengar teriakan Dirga dari lantai atas terkejut. Dan mereka semua melihat kearah atas. Dapat mereka lihat Dirga sedang berdiri bertumpu dengan tatapan menatap ke bawah.


"Dirga. Apa maksudmu, Nak?!" teriak William dari bawah.


"Maaf sebelumnya Mamaku sayang. Kali ini putramu ini tidak membelamu. Tapi justru putramu ini membela para musuh-musuhmu!" teriak Dirga dan hal itu sukses membuat Salma, Evita, Sandy dan Daksa tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum mengejek untuk Agatha.


"Dan untuk Papaku yang tersayang. Apa yang dialami oleh istri kesayangan Papa itu. Itu adalah sebuah karma untuknya. Mama yang terlebih dahulu yang sudah berani membangunkan dua ekor singa yang sedang tidur," sindir Dirga.


"Apa maksudmu sayang? Jangan membuat Papa bingung." William benar-benar bingung.


"Yang jelas disini ini Mama yang salah. Mama yang terlebih dahulu menyerang Darel. Mama dengan tega memukul kepalanya Darel dengan vas bunga. Dan hal itu membuat Alvaro dan Axel murka, lalu mereka berdua menyerang Mama dengan mencekik leher Mama. Tapi untungnya Mama tidak mati karena Alvaro dan Axel melepaskan cekikikan mereka saat melihat Darel yang jatuh pingsan!" teriak Dirga dari atas.


"Apaaa?!" teriak para kakak-kakaknya Darel, lalu mereka menatap tajam kearah Agatha.


"Tidak ada waktu untuk berdebat dengan Bibi kalian itu. Lebih baik kalian ke rumah sakit sekarang. Mungkin saat ini Alvaro dan Axel sedang ketakutan. Perangnya nanti saja kalian lanjutkan lagi kalau adik kelinci kalian sudah dalam keadaan baik-baik saja!" teriak Dirga.


Setelah mengatakan hal itu, Dirga langsung pergi menuju kamarnya.


"Dasar anak kurang ajar," batin Agatha.


Mereka yang mendengar penuturan dari Dirga pun menurut.


Davian menghubungi salah satu adiknya. Panggilan pun tersambung!


"Hallo, Kak Davian."


"Hallo, Axel. Kau ada di rumah sakit mana?"


"Rumah sakit biasa tempat Darel dirawat."


"Bagaimana keadaan Darel?"


"Lebih baik Kakak kesini saja. Aku takut Kak."


"Baiklah. Kakak dan yang lainnya kesana sekarang. Kau tenanglah. Darel akan baik-baik saja."


PIP!


"Ayo, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!" Davian berseru.


Mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman Wilson menuju rumah sakit. Mereka saat ini benar-benar sangat mengkhawatirkan Darel, terutama Adelina dan putra-putranya.


***


Saat ini Alvaro dan Axel menunggu dengan cemas di depan UGD. Mereka benar-benar khawatir akan kondisi adik bungsu kesayangan mereka. Baru beberapa hari adik mereka itu keluar dari rumah sakit, sekarang adik mereka harus masuk lagi.


"Aish. Kenapa lama sekali, sih?" kesal Alvaro yang sedari tadi mondar mandir di depan pintu UGD.


"Sabarlah, Alvaro. Semoga Darel baik-baik saja," ucap Axel.


Di dalam hatinya, Axel juga sangat khawatir akan adiknya. Tapi Axel berusaha untuk tetap tenang.


Selang beberapa detik kemudian, terdengar suara seseorang yang memanggil mereka berdua.


"Alvaro, Axel."


Axel dan Alvaro melihat kearah orang yang memanggil mereka.


"Mama. Kakak." Axel dan Alvaro berucap secara bersamaan.


"Bagaimana, Darel?" tanya Adelina.


"Masih di dalam, Ma." Alvaro yang menjawabnya.


"Tuhan. Selamatkan putra bungsuku. Semoga tidak terjadi sesuatu padanya," batin Adelina.


CKLEK!

__ADS_1


Pintu di buka. Dan keluarlah seorang Dokter dan juga perawat dari ruang UGD.


"Paman Fayyadh. Bagaimana Darel? Darel baik-baik sajakan? Darel tidak terluka parahkan?" tanya Axel dan Alvaro secara bersamaan.


Dokter Fayyadh yang mendengar bertubi-tubi pertanyaan dari Alvaro dan Axel hanya tersenyum gemas.


PUK!


PUK!


Dokter Fayyadh menepuk pelan bahu Alvaro dan Axel. "Kalian tidak perlu khawatir. Adik kalian itu kuat. Kepalanya sedikit robek. Tapi Paman sudah menjahitnya. Kalian tidak perlu khawatir."


Lalu kemudian Dokter Fayyadh itu melihat satu persatu anggota keluarga Wilson yang hadir saat ini di rumah sakit.


"Satu hal yang aku takutkan tentang kondisi Darel," ucap Dokter Fayyadh.


"Apa yang terjadi pada putra bungsuku, Fayyadh?" tanya Adelina.


"Kondisi Darel tidak bisa dikatakan dengan kata baik. Di depan kita Darel terlihat baik dan kuat. Tapi kita tidak tahu saat di belakang kita. Darel juga mengalami sedikit trauma. Trauma akan kecelakaan itu. Tadi saat aku memeriksanya, Darel menyebut-nyebut nama Arvind dan tuan Antony."


"Lalu apa yang harus kami lakukan, Paman?" tanya Davian.


"Turuti apa yang diinginkannya. Ajaklah Darel bicara dan jangan biarkan Darel sendirian. Ketika Darel sedang marah, biarkan saja. Jangan dilarang. Itu hanya pengalihan pikirannya saja. Aku tahu hari-hari Darel sangat buruk kalau sudah berada di rumah. Arvind sudah cerita padaku. Selama ada kalian. Selama kalian bersamanya, Darel bisa melewati semuanya."


"Baik, Paman." Davian dan adik-adiknya mengangguk.


"Apa sudah dapat kabar dari Arvind, Adelina?" tanya Dokter Fayyadh.


"Belum, Fayyadh. Bahkan kepolisian dan tim Sars belum memberikan kabar pada kami," jawab Adelina.


"Bersabarlah. Semoga Arvind selamat dan dalam keadaan baik-baik saja," ucap Dokter Fayyadh.


"Ya, sudah. Kalau begitu aku permisi dulu. Oh, iya! Darel tidak perlu di rawat dan dia boleh pulang. Darel sudah tidak apa-apa. Nanti obatnya aku kirim ke rumah. Karena obatnya tidak ada di apotek rumah sakit."


"Baiklah," jawab mereka.


Mereka semua sudah berada di ruang UGD. Saat mereka masuk Darel masih belum sadar.


Adelina mendekati ranjang Darel, lalu memberikan kecupan sayang di kepala putranya yang yang dililit perban.


"Papa.. Kakek." Darel mengigau.


Mereka yang mendengar igauan Darel menangis. Mereka benar-benar tidak tega melihat Darel seperti ini.


"Sayang. Ini Mama, Nak! Bukalah matamu," ucap Adelina lembut. Tangannya bermain-main di kepalanya. Dan tangannya yang satunya lagi mencium telapak tangannya.


Berlahan Darel membuka kedua matanya. Dan dapat melihat ibunya dan kakak-kakaknya berada di hadapannya.


"Mama. Kakak," lirih Darel. Mereka semua tersenyum bahagia melihatnya.


"Apa kepalanya Darel masih sakit?" tanya Ghali.


"Tidak, Kak." Darel menjawab dengan gelengan kepala. Darel menatap wajah cantik ibunya.


"Ma."


"Iya, sayang. Ada apa, hum?"


"Pulang. Aku mau pulang dan aku gak mau dirawat," lirih Darel. Mereka memberikan senyuman manis padanya.


"Darel itu sakit dan baru sadar. Jadi, Darel itu harus dirawat beberapa hari di rumah sakit," ucap Raffa yang sengaja menjahili adiknya.


"Aish, Kak Raffa. Kenapa Kakak suka sekali melihatku berada disini? Tempat ini sangat menyeramkan tahu, Kak." Darel berbicara dengan mempoutkan bibirnya.


Mereka tersenyum mendengar penuturan dari Darel. Adelina menyentil hidup mancung putra bungsunya itu.


"Kamu ada-ada saja, sayang. Ini rumah sakit bukan rumah hantu," ucap Adelina.

__ADS_1


"Boleh ya, Ma. Aku mau pulang."


"Iya, iya! Darel memang boleh pulang kok. Kakak Raffa hanya menjahili Darel saja tadi," jawab Adelina.


Darel menatap horor pada Raffa. "Dasar Kakak Raffa alien, marmut, muka kadal, bodoh." Darel mengumpati kakaknya itu.


Raffa melotot mendengar beberapa umpatan yang diberikan oleh adiknya untuknya. Sedangkan yang lainnya tersenyum bahagia melihat Darel yang memberikan umpatan untuk Raffa.


"Sudah, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang. Apa Darel mau lama-lama disini, hum?" tanya Davian yang menakut-nakuti adiknya.


"Tidaaakkk." Darel menggelengkan kepalanya cepat.


***


Di sebuah Apartemen BENSIMON Apartments Prenzlauer Berg tinggal lima pemuda tampan. Mereka lima bersaudara. Dari kecil mereka sudah tinggal bersama tanpa kedua orang tua. Yang mereka tahu bahwa kedua orang tua mereka telah meninggal. Mereka selama ini hidup dipanti asuhan. Setelah mereka tumbuh dewasa, Farraz sebagai saudara tertua membawa keempat adik-adik pergi meninggalkan panti asuhan tersebut. Berkat kegigihan dan semangat Farraz, hidup mereka kini telah bisa dibilang cukup dan tidak kurang dari satu apapun.


"Kakak. Hari ini aku bolos aja ya!" seru Dylan, sang bungsu.


Sontak membuat keempat kakaknya terkejut. Dan mereka semua menatap Dylan, adik bungsunya.


"Yak, Kakak! Jangan menatapku seperti itu. Akukan baru kali ini bolosnya. Itupun akunya kan baru ngomong dan belum ngelakuin," ucap Dylan sembari mempoutkan bibirnya dan menunduk. Dylan takut menatap wajah kakak-kakaknya itu.


Farraz mendekati adik bungsunya itu, lalu detik kemudian...


GREP!


Farraz memeluk sang adik. "Hiks.. Kakak maaf. Aku janji tidak akan bolos sekolah.. hiks."


Farraz yang mendengar isakkan dari adik bungsunya menjadi tidak tega. Lalu dirinya melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan sang adik.


Farraz menghapus air mata adiknya itu. Baik Farraz maupun yang lainnya tidak akan pernah memarahinya. Mereka sangat menyayangi Dylan. Mereka tadi hanya mengerjainya saja.


"Kenapa Dylan menangis?" tanya Farraz.


"Kitakan tidak ada yang memarahi kamu," kata Deon.


"Aku hanya takut kalau kakak marah," jawab Dylan pelan.


"Hei, siapa yang marah sama kamu. Kita semua gak marah sama kamu," ucap Tristan.


"Benarkah?" tanya Dylan.


"Hmm," jawab Farraz dan diangguki oleh yang lainnya


"Memangnya apa alasan kamu ingin bolos hari ini?" tanya Farraz.


"Aku ingin bantu Kakak kerja. Aku kasihan sama kakak Farraz yang kerja sendiri. Aku gak mau kakak Farraz sakit."


Farraz tiba-tiba menangis saat mendengar penuturan dari adik bungsunya itu. Farraz benar-benar terharu mendengarnya. Begitu juga dengan adik-adiknya yang lain. Deon, Keenan dan Tristan membenarkan apa yang dikatakan oleh Dylan. Selama ini hanya Farraz yang bekerja keras untuk mereka semua.


"Kakak Farraz.. hiks." mereka semua menangis.


GREP!


Mereka semua memeluk Farraz dan menangis dalam pelukan Farraz.


"Hei, kenapa kalian pada kompak begini nangisnya? Apa ini sudah kalian rencanakan, hum.?" goda Farraz.


"Kakak.. hiks.." mereka makin terisak


"Oke... Oke! Maafkan Kakak." Farraz melepaskan pelukannya dan menatap satu persatu wajah tampan adik-adiknya. "Dengarkan Kakak. Kakak ikhlas dan tulus melakukan semua ini untuk kalian. Kalian adalah adik-adiknya Kakak. Kalian adalah keluarga Kakak. Hanya kalian yang Kakak miliki sekarang ini. Kita tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kalau kalian sayang sama Kakak. Kalian harus rajin belajarnya. Jangan pernah membolos. Jangan pernah melakukan hal-hal buruk yang bisa merugikan diri sendiri."


"Pokoknya tahun ini, kalian semua harus menyelesaikan pendidikan kalian. Deon dan Keenan harus meraih gelar sarjana dan wisuda tahun ini. Untuk Tristan dan Dylan harus lulus dari SMA."


"Baik, Kak Farraz. Kami berjanji padamu. Kami tidak akan mengecewakanmu," ucap mereka bersamaan.


Farraz tersenyum bahagia mendengar jawaban kompak dari adik-adiknya.

__ADS_1


__ADS_2