
Di kediaman keluarga Wilson. Terlihat anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah, kecuali Darel. Darel berada di dalam kamarnya.
Raffa telah menceritakan kepada anggota keluarganya mengenai adiknya yang telah membuka hatinya untuk menerima kelima pemuda yang selama ini ingin menjadi sahabatnya. Mendengar cerita dari Raffa membuat anggota keluarganya tersenyum bahagia, terutama Arvind, Adelina dan para kakak-kakaknya.
Raffa tahu dari mana masalah tersebut. Raffa lah yang mengintip dan mendengar obrolan adiknya dengan sahabat baru adiknya di ruang kesehatan bersama Juan.
Raffa memang telah menceritakan tentang hubungan Darel dengan kelima sahabatnya. Tapi Raffa tidak menceritakan tentang kejadian penusukkan yang dilakukan oleh Nardy terhadap Darel.
Darel telah meminta padanya untuk merahasiakan masalah tersebut dari anggota keluarga, termasuk dari Davian dan Nevan. Kedua kakaknya itu tingkat emosi jauh diatas rata-rata dan tak terkendalikan. Itu menurut Raffa dan Darel.
"Mama senang mendengar bahwa Darel mau membuka hatinya untuk sahabat-sahabat barunya. Setidaknya kesedihan Darel sejenak hilang jika bersama dengan mereka. Apalagi selama di Kampus." Adelina berbicara dengan senyuman manis di bibirnya. Adelina benar-benar bahagia melihat perubahan dari putra bungsunya.
"Iya. Kau benar sayang. Aku juga sangat-sangat bahagia melihat perubahan dari putra bungsu kita," sahut Arvind.
"Kak Davian," panggil Ghali.
Davian melihat kearah Ghali, adik keduanya. "Ada apa Ghali?" tanya Davian.
"Apa kita akan membiarkan Darel dan para tangan kanannya untuk menyelamatkan Kenzo dan Gavin? Aku tidak mau terjadi sesuatu terhadap Darel apalagi dengan para tangan kanannya. Sebisa mungkin mereka semua selamat dan tidak ada yang terluka."
"Ghali benar. Kita harus membantu para tangan kanannya Darel untuk menghancurkan kelompok yang sudah menahan Kenzo dan Gavin," sela Nevan.
"Kalian tidak perlu khawatir. Kakak sudah memikirkan masalah ini dari jauh-jauh hari. Mana mungkin kakak tega membiarkan Darel dan para tangan kanannya bekerja sendiri."
"Apa yang akan kakak lakukan?" tanya Elvan.
"Kakak sudah menghubungi salah satu sahabat kakak dan kakak sudah menceritakan semua pada sahabat kakak itu. Apa yang disampaikan oleh Darel kepada kita, itu juga yang kakak sampaikan kepada sahabat kakak itu." Davian menjawab pertanyaan dari Elvan.
"Memangnya siapa nama sahabat kakak itu?" tanya Daffa.
"Arjuna. Arjuna Mondella," jawab Davian.
"Maksud kak Davian. Arjuna ketua dari kelompok mafia DARKNESS itu?" tanya Nevan.
"Iya," jawab Davian.
"Kamu kenal Nevan?" tanya Arvind.
"Kenal secara dekat sih nggak, Pa! Tapi semua orang tahu siapa Arjuna itu. Arjuna dan kelompoknya terkenal kejam dan tanpa ampun. Kelompok mafianya itu terkenal nomor dua di dunia. Kelompok itu kejam hanya kepada orang-orang yang kejam juga. Orang-orang yang selalu meresahkan masyarakat. Tapi tidak berlaku untuk orang-orang terdekatnya. Kelompok itu berubah menjadi sosok malaikat jika sudah bersama dengan orang-orang terdekatnya." Nevan menjelaskan tentang kelompok DARKNESS kepada anggota keluarganya.
"Kekejaman kelompok itu akan bertambah menjadi dua kali lipat jika ada yang berani bahkan sampai menyakiti salah satu anggota keluarganya," ucap Nevan lagi.
Mendengar cerita dari Nevan. Davian hanya tersenyum. Anggota keluarganya belum mengetahui ketua asli dari kelompok Mafia DARKNESS tersebut.
"Eheemm." Davian berdehem.
Mendengar deheman Davian. Mereka semua melihat kearah Davian.
"Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Arvind.
"Sebelumnya aku mau minta maaf kepada kalian semua, terutama kepada Papa dan Mama."
"Ada apa sayang? Kenapa kamu kamu minta maaf, hum?" tanya Adelina lembut.
"Aku hanya ingin memberitahu sesuatu rahasia yang aku sembunyikan dari kalian semua. Dan mungkin kalian pasti akan terkejut bahkan akan membenciku."
"Katakan sayang. Apapun itu Papa tidak akan pernah membencimu. Kau putra Papa. Darah daging Papa. Tidak ada seorang Ayah yang membenci putranya sendiri hanya karena putranya menyembunyikan sesuatu."
Mendengar ucapan dari ayahnya membuat hati Davian menghangat. Sejujurnya, Davian sangat yakin jika kedua orang tuanya tidak akan membenci dirinya atau pun membenci adik-adiknya jika melakukan kesalahan atau pun menyembunyikan sesuatu. Kedua orang tuanya itu sangat-sangat menyayanginya dan juga adik-adiknya.
"Katakan sayang," ucap Adelina lembut.
"Sebenarnya ketua dari kelompok mafia DARKNESS yang sesungguhnya adalah... adalah aku." Davian menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Mereka semua masih belum mencerna perkataan Davian.
__ADS_1
Disaat anggota keluarganya masih berusaha mencerna perkataannya, tiba-tiba terdengar seruan dari seseorang.
"Sudah kuduga. Ternyata benar selama ini kalau kakak Davian itu adalah seorang ketua mafia DARKNESS!"
Baik Davian maupun anggota keluarga lainnya melihat kearah Darel yang kini sedang berjalan menuju kearah mereka semua.
Setelah berada di ruang tengah. Darel langsung duduk di samping sang Kakak. Dan jangan lupa senyuman manisnya yang mengembang di bibirnya. Mereka yang melihat senyuman Darel merasakan kehangatan di hati masing-masing.
"Jadi itu benar Davian?" tanya Adelina
"Iya, Ma!"
"Tapi kenapa kamu merahasiakan tentang hal itu kepada kami, hum?" tanya Arvind.
"Aku tidak mau kalian semua kecewa memiliki putra, keponakan, kakak seorang mafia."
GREP!
Darel memeluk tubuh kakaknya. "Kenapa kami harus kecewa. Seharusnya kami bangga memiliki kakak sepertimu. Dengan kami memiliki kakak seorang ketua mafia. Setidaknya itu untuk melindungi keluarga dari orang-orang jahat diluar sana. Lagian kan kelompoknya kakak tidak pernah meresahkan masyarakat-masyarakat diluar sana. Tidak menyakiti orang-orang lemah. Justru kelompok mafia kakak sering membantu jika ada masyarakat yang diganggu oleh kelompok lain."
Mendengar penuturan dari Darel. Mereka semua tersenyum bangga. Mereka semua tahu bahwa Darel sangat menghargai apa saja yang dikerjakan oleh anggota keluarganya. Selama yang dikerjakan oleh anggota keluarganya itu tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti orang lain dan didapat dengan cara halal Darel akan selalu memberikan dukungan kepada keluarganya.
Darel mengecup pucuk kepala adiknya. Dirinya benar-benar bangga akan adik bungsunya ini.
"Terima kasih sayangnya kakak," ucap Davian.
"Sama-sama kakaknya Darel yang paling tampan," balas Darel.
Davian melepaskan pelukan adiknya, lalu menatap wajah tampannya. "Sekarang katakan pada kakak. Sejak kapan kamu tahu kalau kakak ini adalah ketua mafia DARKNESS?"
"Eem! Awal mulanya aku tahu saat aku yang tidak sengaja mendengar perkataan kakak ketika sedang menelpon seseorang di kamarnya kakak. Saat itu aku ingin menemui kakak untuk menagih janji kakak mau ajak aku jalan-jalan dan kebetulan pintu kamarnya kakak tidak dikunci. Hehehehe!"
Mendengar jawaban dari Darel. Mereka semua hanya tersenyum gemas dan juga geleng-geleng kepala.
Lagi-lagi mereka semua tersenyum gemas dan juga bangga akan jalan pikiran Darel. Darel memang dikenal ingin tahu banyak hal.
"Dasar licik kamu," ledek Andre.
"Belajar dari siapa dulu," sindir Darel dengan menatap wajah Ayah dan para kakak-kakaknya.
Ketika mereka tengah asyik menatap Darel yang bagi mereka semua begitu menggemaskan ketika berbicara. Apalagi Darel saat ini dalam mode manja dan wajahnya seperti seorang anak laki-laki berusia 4 tahun, tiba-tiba seorang pelayan datang.
"Maaf tuan, nyonya, tuan muda."
"Iya, Bi. Ada apa?" tanya Evita.
"Itu ada tamu untuk tuan muda Darel."
"Siapa, Bi?" tanya Darel.
"Katanya Mikko."
"Langsung suruh kemari, Bi!"
"Baik tuan muda."
Pelayan itu pun langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, terlihat seorang pemuda yang melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
"Maaf, Bos. Saya terlambat datang." Mikko membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa Mikko. Silahkan duduk," jawab Darel.
__ADS_1
"Pa, Ma, Kakak! Ini yang namanya Mikko." Darel memperkenalkan Mikko kepada anggota keluarganya.
"Selamat datang di kediaman keluarga Wilson," ucap Arvind ramah.
"Terima kasih tuan," balas Mikko.
"Bos. Ini berkas yang saya maksud itu." Mikko memberikan dua map kepada Darel.
Darel mengambil map tersebut, lalu membuka dan membacanya. Terlihat di berkas tersebut bahwa seluruh kekayaan milik keluarga Madhavi telah kembali kepada pemiliknya yaitu Pingkan Robert dan Kayana Robert.
"Bibi Pingkan," panggil Darel.
"Iya, sayang!"
"Ini lihatlah." Darel memberikan map tersebut kepada Pingkan.
Pingkan mengambil map itu. Setelah itu, Pingkan membukanya dan membacanya. Detik kemudian, tanpa diminta liquit bening mengalir membasahi wajah cantiknya.
Pingkan melihat kearah Darel. "Darel. Apa ini benar sayang?" tanya Pingkan.
"Seperti yang telah Bibi lihat dan Bibi baca," jawab Darel. "Dan ini satu lagi." Darel memberikan map yang kedua kepada Pingkan.
Pingkan menerima map yang kedua. Pingkan membuka dan kembali membacanya. Dan lagi-lagi air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Darel. Ini... Hiks...," isak Pingkan.
"Iya, Bi! Semua kekayaan keluarga Madhavi dan keluarga Robert telah kembali kepada Bibi dan Bibi Kayana. Baik Bibi maupun Bibi Kayana masing-masing mendapatkan lima puluh persen dari kekayaan tersebut. Dikarenakan Bibi Kayana sudah tidak ada. Maka akan langsung diberikan kepada kakak Dirga dan keenam adiknya."
"Untuk mantan suami Bibi dan wanita murahan itu..." Darel menghentikan perkataannya sejenak lalu melihat kearah Mikko.
Mikko yang paham langsung memberikan map berikutnya.
"Ini Bos."
Darel menerima map itu. Kemudian Darel membukanya dan membacanya. Setelah selesai, Darel memberikannya kepada Pingkan agar Pingkan tahu kebenarannya.
"Ini Bi. Lihatlah sendiri," ucap Darel dengan memberikan map tersebut.
"Dasar laki-laki brengsek!" Pingkan benar-benar marah karena selama ini telah ditipu dan dimanfaatkan oleh seorang Leonard.
"Bibi akan lebih terkejut lagi jika mengetahui fakta yang sesungguhnya mengenai suami pertama Bibi yang tak lain adalah Ayah kandung Mirza. Suami Bibi tidak bersalah. Ini semua rencana dari Leonard. Bajingan itu yang sudah membuat suami pertama Bibi terlihat buruk di depan Bibi."
Darel melihat kearah Mikko dan Mikko langsung memberikan map terakhir. Map yang berisi tentang kejahatan Leonard disaat menjebak suami pertama Pingkan.
"Di dalam map ini adalah bukti-bukti tertulis tentang apa yang telah dilakukan oleh Leonard terhadap suami pertama Bibi. Dan untuk bukti berupa videonya akan diperlihatkan ketika sidang nanti."
Pingkan membuka map tersebut dan membacanya secara seksama. Pingkan kembali menangis ketika mengetahui fakta bahwa suaminya rela melakukan semuanya untuk menyelamatkan dirinya dan kandungannya. Bahkan suaminya harus kehilangan adik perempuannya atas ulah Leonard.
"Hisk... Jose... Hisk," isak Pingkan.
"Mama," lirih Mirza dan langsung memeluk tubuh ibunya.
"Nyonya Pingkan," panggil Mikko.
"Iya," jawab Pingkan.
"Persidangan tiga hari lagi. Apa nyonya bersedia menjadi saksi di pengadilan nanti?"
"Saya bersedia," jawab Pingkan.
"Baiklah. Persiapkan diri nyonya untuk tiga hari ke depan."
Setelah semuanya selesai. Mikko pun pamit untuk menuju markasnya karena Mikko mendapatkan telepon dari salah satu anggotanya.
__ADS_1
Sementara untuk Pingkan, Mirza dan anggota keluarga Wilson merasakan kelegaan karena satu permasalahan telah selesai.