
Davian, Nevan, Ghali dan Andre sudah berada di markas. Dan kini mereka berada di ruang penyiksaan bersama Arjuna dan dua puluh anggota mafia Davian.
"Mereka yang telah berhasil menyakiti Darel dan menyuntikkan sesuatu ke leher Darel," ucap Arjuna.
Davian, Nevan, Ghali dan Andre menatap tajam kedua pria itu. Mereka menatap dengan penuh amarah.
Davian mendekati kedua pria itu, lalu kemudian...
DUAAGGHH!
"Aakkhhh!" teriak salah satu pria itu yang mendapatkan tendangan keras di perutnya dari Davian.
"Siapa yang menyuruh kalian dan berasal dari kelompok mana kalian, hah?!" bentak Davian.
Kedua pria itu tetap diam dan enggan untuk berbicara. Keduanya memilih untuk diam.
Melihat keterdiaman kedua pria yang ada di hadapannya. Hal itu sukses membuat Arjuna, Davian, Nevan, Ghali dan Andre bertambah emosi.
"Jika kalian tidak mau mengaku. Jangan salahkan kami jika kami akan melibatkan anggota keluarga kalian. Aku tahu kalau kalian itu melakukan pekerjaan ini karena sedang butuh uang. Dan aku juga tahu kalau kalian itu bukan anggota tetap dari kelompok yang menyuruh kalian. Kalian berdua akan dibayar dengan jumlah besar jika kalian berhasil melakukan pekerjaan kalian. Bahkan kalian berdua akan diangkat menjadi anggota tetap oleh kelompok itu. Dan sebagai jaminannya kalian sudah menerima bayaran sebagai dpnya." Arjuna berbicara dengan nada dingin dengan mata yang menatap tajam kedua pria itu.
Kedua pria itu terkejut mendengar perkataan dari Arjuna. Keduanya tidak menyangka jika Arjuna mengetahui alasan mereka melakukan pekerjaan ini.
"Katakan sekarang atau aku benar-benar akan menghabisi seluruh anggota keluarga kalian berdua," ucap Davian dengan penuh amarah.
"Diego, perlihatkan video itu kepada mereka berdua." Arjuna memerintahkan tangan kanannya.
"Baik, Bos!"
Diego langsung memperlihatkan video kepada kedua pria itu. Video itu berisi tentang anggota keluarga dari kedua pria itu. Dalam video itu terlihat sekitar masing-masing lima puluh para mafioso sudah berada di sekitar rumah anggota keluarga dari kedua pria itu lengkap dengan senjata di tangan. Dan kapan saja siap menembakkan pelurunya kearah para anggota keluarga dari kedua pria itu.
Kedua pria itu membelalakkan matanya ketika melihat video itu. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika Arjuna benar-benar melakukannya. Keduanya berpikir bahwa Arjuna dan Davian hanya asal bicara dan juga hanya sekedar mengancam.
"Bagaimana? Sudah lihat video nya? Kalian pilih mana? Nyawa anggota keluarga kalian ada ditangan kalian. Satu pertanyaan dari kami tidak kalian jawab maka satu nyawa melayang," sahut Davian.
"Baik. Kami mengaku. Tapi jangan sakiti keluarga kami," sahut salah satunya.
__ADS_1
"Sudah kukatakan. Nyawa keluarga kalian ada ditangan kalian. Kalian yang menentukannya," jawab Davian.
"Katakan sekarang!" teriak Nevan.
"Untuk obat yang kami suntikan itu akan bereaksi tiga hari lagi. Reaksinya adalah di bagian lehernya akan merasakan panas dan juga rasa sakit yang begitu menyakitkan sehingga sulit untuk bernafas. Jika tidak segera mendapatkan penawarnya maka dia akan mati dengan leher berwarna keunguan."
Mendengar perkataan dari salah satu pria itu membuat Davian, Nevan, Ghali dan Andre benar-benar terkejut. Mereka tidak menyangka jika efek obat itu akan membahayakan adik kesayangan mereka.
"Kami menyuntikkan obat itu empat hari yang lalu. Sementara dia sudah berada di rumah selama tiga hari. Hari ini adalah hari rabu. Berarti obat itu akan bereaksi di hari sabtu. Sebelum hari sabtu, obat itu akan bereaksi ke otaknya dan menekan titik emosinya. Sebelum kalian mendapatkan penawarnya, satu-satunya cara untuk membuatnya tidak kesakitan adalah dengan cara menjaga emosinya agar tidak keluar. Jangan buat dia marah atau pun kesal. Seperti yang kalian lihat tiga hari ini setelah dia pulang dari hotel itu."
"Katakan apa saja efek dari obat itu sialan!" bentak Andre.
"Obat itu bisa membuat seseorang yang dulu hanya memendam perasaannya dengan mudah mengungkapkannya. Seseorang yang dulunya tidak pernah bersikap kasar berubah menjadi kasar. Seseorang yang dulu berbicara dengan lembut berubah menjadi kasar. Seseorang yang dulu bisa menahan amarah dan juga sabar akan berubah menjadi orang yang begitu kasar dan emosi pun meluap-luap. Obat itu bekerja tepat di otaknya dan membuatnya melakukan hal-hal diluar nalar."
"Dan adikku sudah melakukannya, Brengsek! Bahkan sudah dua kali adikku melakukan hal itu!" bentak Ghali.
DUUAAGGHH..
DUUAAGGHH..
BUUGGHH..
BUUGGHH..
Andre memberikan pukulan keras di wajah keduanya. "Jika adik bungsuku tidak sembuh dan kembali seperti sedia kala. Maka aku akan benar-benar menghabisi seluruh anggota keluarga kalian. Ingat itu!"
"Apa tujuan kalian melakukan hal ini kepada adikku? Setahuku adikku tidak pernah menyakiti siapa pun termasuk kalian ataupun kelompok kalian?" tanya Davian.
"Ada dua orang pria yang mendatangi markas kami. Dua orang itu meminta kepada ketua kami untuk menghancurkan keluarga Wilson. Kalau tidak salah. Salah satu pria itu menyebut nama putra sulung dari keluarga Wilson."
Davian, Nevan, Ghali dan Andre terkejut. Davian melirik kearah tiga adiknya. Begitu juga ketiga adiknya. Kemudian mereka kembali menatap kedua pria itu.
"Arvind Wilson," Davian, Nevan, Ghali dan Andre berucap bersamaan.
"Iya. Salah satu pria itu menyebut nama Arvind Wilson. Maksud dari kedua orang itu meminta ketua kami untuk menghancurkan keluarga Wilson adalah dengan menyakiti salah satu putra dari Arvind Wilson. Dua orang itu sudah mengetahui bagaimana sayangnya Arvind Wilson dengan semua putra-putranya, salah satunya adalah putra bungsunya. Kedua orang itu juga tahu kelemahan terbesar Arvind Wilson adalah terletak pada putra bungsunya. Makanya kenapa kedua orang itu mengincar putra bungsu dari Arvind Wilson."
__ADS_1
"Bukan itu saja. Salah satu pria itu ingin membalaskan dendamnya kepada putra bungsu Arvind Wilson."
Mendengar perkataan dari salah satu pria itu membuat Davian, Nevan, Ghali dan Andre terkejut dan juga marah.
"Tidak salah lagi. Pasti kedua orang itu saingan bisnis Papa. Mereka marah dan tidak terima akan keberhasilan dan kesuksesan Papa selama ini," ucap Andre.
"Apa kalian tahu siapa mereka?" tanya Ghali.
"Kami tidak tahu nama dan wajah mereka seperti apa. Tapi kami sempat mendengar sedikit pembicaraan mereka dengan ketua. Kami mendengar kedua pria itu menyebutkan nama Perusahaannya."
Mendengar ucapan dari pria itu, baik Arjuna maupun Davian, Nevan, Ghali dan Andre tersenyum menyeringai.
"Katakan. Apa nama Perusahaan mereka?" tanya Davian.
"Nama Perusahaan mereka adalah STATE GRID dan SINOPEC GROUP."
Seketika terukir senyuman di bibir Davian, Nevan, Ghali dan Andre. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.
"Serahkan padaku. Aku akan melacak dan mencari tahu siapa pemilik dua Perusahaan itu. Aku juga akan mencari tahu tentang keluarga mereka," sahut Nevan dengan wajah dingin.
"Baiklah," jawab Davian.
Kedua pria yang kini tengah dalam keadaan terikat dan juga luka-luka menyesal telah mengusik salah satu anggota keluarga Wilson. Dan mereka baru menyadari satu hal bahwa keluarga Wilson bukan keluarga sembarangan. Mereka sangat mengerikan jika sudah dalam mode amarahnya.
***
Di kediaman Alaois terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk santai di sofa yang ada di ruang kerjanya sembari menikmati segelas wine kesukaannya.
Pria itu saat ini tengah bahagia karena mendapatkan kabar terbaru mengenai kondisi Darel putra dari saingan bisnisnya sekaligus teman dari keponakannya. Nyawa putra saingannya itu berada di genggamannya.
"Darel, inilah hukuman untukmu. Dikarenakan kau telah membunuh keponakan kesayanganku. Maka kau juga harus pergi dari dunia ini."
"Tapi kau tenang saja, Darel! Kau tidak akan sendirian. Setelah kau pergi dari dunia ini. Kesembilan sahabatmu akan segera menyusulmu, karena mereka juga ikut andil dalam membunuh keponakanku."
Pria itu berbicara dengan senyuman di sudut bibirnya. Setelah itu, pria itu meneguk habis wine yang ada di dalam gelasnya.
__ADS_1