Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Telepon Dari Mirza


__ADS_3

Naufal dan Steven menatap horor pada Darel. Mereka berdua mendengus kesal akan ucapan dari Darel. Sedangkan yang lainnya hanya diam menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Apa yang kamu bilang barusan?" tanya Naufal dengan menatap horor adik sepupunya itu.


"Apa telinga kakak Naufal budek ya? Aku barusan bilang kalau kalian berdua itu cemen. Kakak Naufal dan kakak Steven harus belajar lebih giat lagi biar menjadi orang yang sabar dalam menghadapi masalah. Masa kalah sama bocah ingusan sepertiku. Atau kalau kakak Naufal dan kakak Steven mau. Aku bisa ajarkan bagaimana caranya menghadapi kehidupan yang sesungguhnya." Darel berbicara dengan bangga penuh kebanggaan serta senyuman manisnya menatap kedua kakak sepupunya itu.


Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung melangkah menuju dapur. Naufal dan Steven seketika membelalakkan matanya saat mendengar penuturan dari Darel. Mereka benar-benar tidak menyangka jika seorang Darel bisa berkata seperti itu.


Sedangkan anggota keluarga yang lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala akan sikap Darel yang seenaknya pada kedua kakak sepupunya.


"Aish. Dasar siluman kelinci kurap. Nyesel banget muji dia tadi," sahut Naufal kesal.


"Bibi Evita benar. Darel itu manusia yang sangat licik. Buktinya.. datang tak diundang, sekarang pergi sesuka hatinya," ucap kesal Steven.


"Jadi maksud kak Steven. Darel itu sudah sama seperti jelangkung gitu?" tanya Evan kesal.


"Kakak tidak bilang begitu. Kau saja yang mengartikannya seperti itu. Berarti kau yang mengatakan Darek itu jelangkung," sahut Steven menjahili Evan.


"Wah, Van! Parah.. Parah! Adek sendiri disamakan dengan jelangkung. Kalau Darel dengar. Bagaimana ya nasib seorang Evan Wilson ya?" seru Keenan ikut menjahili Evan.


"Yak! Kenapa malah aku yang disalahkan disini?!" kesal Evan.


"Hahahaha." Mereka semua tertawa.


"Sudah.. Sudah! Lebih baik kita ke ruang makan sekarang. Kita sarapan pagi dulu," sela William.


Dan pada akhirnya, mereka semua memutuskan untuk pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi.


^^^


Saat sampai di ruang makan. Mereka melihat Darel yang sudah duduk manis di kursinya lengkap dengan tiga botol susu pisang kesukaannya. Dan dua botol sudah terlihat kosong, sisa satu botol lagi. Mereka yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


"Astaga, sayang! Kamu banyak sekali minum susu pisangnya. Kan kamu belum sarapan," ucap Adelina.


Mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing.


"Ini juga salah kalian," jawab Darel.


Mereka saling lirik satu sama lain. Lalu kembali menatap wajah Darel.


"Kok salah kita.?" tanya Daffa.


"Aish." Darel mendengus kesal mendengar pertanyaan dari Daffa. Bahkan bibirnya sudah berkomat-kamit mengeluarkan seluruh umpatan yang ada di otaknya untuk anggota keluarganya.


"Kalian katanya mau sarapan. Tapi sampai waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan, kalian semua masih saja menggosip di ruang tengah. Bahkan Mama atau salah satu kakak yang biasanya ngebangunin aku, tapi nggak menampakkan batang hidungnya di kamarku atau sekedar mendengar suaranya. Ditambah lagi saat aku turun, kalian semua nggak menyadarinya. Justru kalian makin asyik bergosip. Bahkan yang menjadi topik gosip kalian itu aku." Darel berbicara dengan mempoutkan bibirnya kesal.


Mereka yang mendengar penjelasan dari Darel merasa bersalah karena sudah membiarkan kesayangan mereka menunggu di meja makan sendirian. Mereka akhirnya sadar karena waktu sarapan pagi mereka sudah terbuang setengah jam. Biasanya mereka sarapan pagi mulai pukul setengah tujuh. Paling tidak pukul 7 semuanya sudah berkumpul di meja makan.


"Maafkan Kami, Rel!" sahut Davian mewakili yang lainnya.


"Lanjut saja sarapannya. Aku sudah lapar," balas Darel


Mereka hanya bisa pasrah dan mulai sarapan pagi mereka.


"Mama ambilkan sarapan untuk kamu ya," ucap Adelina lembut.


"Hm." Darel berdehem sambil menganggukkan kepalanya.


Adelina pun mengambilkan sarapan pagi untuk putra bungsunya itu.


"Ini sayang." Adelina memberikan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayuran.


Darek pun menerimanya dengan lembut. Lalu kemudian mulai memakan sarapannya. Mereka semua sarapan dengan nikmat, walau sesekali mereka menatap kearah Darel.

__ADS_1


"Pa, Ma!" Darel memanggil kedua orang tuanya.


"Iya, sayang!" Arvind dan Adelina menjawab panggilan dari putra bungsunya itu sembari menatap kearah putranya bungsunya.


Darel menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Setelah itu kembali menatap wajah kedua orang tuanya.


"Besok aku mulai kuliah," ucap Darel.


Setelah mengatakan hal itu, Darel kembali melanjutkan sarapannya.


Mereka yang mendengar Darel yang mengatakan mau kuliah menjadi senang. Itu tandanya, kesedihan dari kesayangan mereka itu sedikit berkurang. Paling tidak dengan kesayangan mereka itu kuliah dan memiliki kesibukan, pikirannya bisa teralihkan.


"Darel yakin?" tanya Arvind lembut dan juga hati-hati. Dirinya tidak mau salah bicara didepan putra bungsunya itu.


Darel menatap manik mata Ayahnya. "Aku yakin, Pa!"


Arvind dapat melihat tatapan mata putra bungsunya itu. Ada keyakinan dan kesungguhan terpancar disana.


"Baiklah, sayang. Nanti kakak-kakaknya kamu yang akan mengurusnya," balas Arvind.


"Baiklah," jawab Darel.


"Nanti di Kampus kakak akan urus semuanya," ujar Evan.


"Jadi kamu bersiap-siap saja besok," sela Raffa.


"Baiklah," jawab Darel lagi.


Setelah mengatakan hal itu, mereka kembali melanjutkan sarapan dengan diam. Hanya dentingan sendok yang berbunyi. Lalu detik kemudian, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering.


"Maaf. Ini suara ponselku," ucap Darel.


Darel mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya. Darel mengerutkan kedua alisnya saat melihat nomor tidak dikenal.


"Nomor siapa ini?" tanya Darel pada dirinya sendiri di dalam hatinya.


"Nggak tahu kak Vano. Nomornya nggak aku kenal," jawab Darel.


Darel tidak menjawab panggilan tersebut sehingga panggilan tersebut terputus.


Lalu beberapa detik kemudian. Ponsel Darel kembali berbunyi. Saat Darel melihatnya, nomor yang sama.


"Nomor ini lagi," batin Darel.


"Angkat saja, Rel! Siapa tahu penting," usul Elvan.


Akhirnya Darel pun menjawab panggilan tersebut. Saat Darel ingin bicara, orang di seberang telepon sudah terlebih dahulu berbicara.


"Kakak Darel... hiks... tolong aku," ucap dan isakan dari orang di seberang telepon tersebut.


Darel kembali dibuat bingung saat mendengar suara seorang pemuda, ditambah lagi pemuda tersebut sedang terisak. Anggota keluarganya yang memperhatikannya menjadi sedikit khawatir.


"Kakak Darel," batin Darel. Darel berusaha untuk mengingatnya.


"Maaf, kak. Kalau aku boleh tahu. Nama kakak siapa?"


"Darel. Darel Wilson."


"Apa aku boleh memanggil kakak dengan sebutan kakak Darel?"


"Boleh," jawab Darel tersenyum.


"Terima kasih, kak!"

__ADS_1


Darel seketika membelalakkan matanya saat dirinya sudah ingat dengan si penelpon tersebut.


"Mirza. Kau Mirza ya!" seru Darel.


"Mirza? Siapa Mirza?" batin para anggota keluarganya.


"Hiks.. Iya.. ini aku, kak! Tolong aku Kakak Darel... hiks."


"Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Mam..hiks... Mama.."


"Mama? Kenapa dengan Mama kamu, Mirza? Kalau bicara itu yang jelas. Jangan buat kakak tambah bingung."


"Mamam pingsan di kamar mandi, kakak Darel. Kepalanya Mama banyak mengeluarkan darah. Aku takut kak. Aku sudah berteriak minta tolong pada orang-orang. Tapi tidak ada satu pun yang mau menolongku, kak."


Darel yang mendengar penuturan dari Mirza, tiba-tiba saja meneteskan air matanya. Bahkan Darel menyumpahi orang-orang yang tidak mau menolong Mirza dan Ibunya mati dengan mengenaskan.


"Kakak akan segera kesana. Kau jangan khawatir. Semoga Mama kamu baik-baik saja. Kau ada dimana sekarang?"


"Aku menunggu kakak di tempat Cafe yang kemarin."


"Baiklah. Tunggu kakak disana."


"Baik, kak."


Setelah mengatakan hal itu, Darel langsung mematikan panggilan tersebut.


"Darel sayang. Ada apa, nak?" tanya Arvind khawatir.


"Pa! Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Nanti saja ya," sahut Darel, lalu menatap wajah Nevan.


"Kakak Nevan. Antarkan aku ke Cafe PLATTE. Sekarang!" mohon Darel.


"Baiklah," jawab Nevan.


"Kakak akan mengambil kunci mobil." Nevan pergi menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya.


Sembari menunggu kakaknya itu, Darel memutuskan untuk menghubungi Dokter Fayyadh yang tak lain adalah Ayah dari sahabatnya Kenzo.


"Hallo, Darel."


"Hallo, Paman Fayyadh. Apa Paman sibuk hari ini?"


"Tidak terlalu. Memang kenapa?"


"Paman. Aku butuh bantuanmu."


"Ada apa, sayang? Katakan! Apa yang bisa Paman lakukan untukmu?"


"Paman, tolong kirimkan ambulance ke lokasi Cafe PLATTE. Paman tahukan letak Cafe itu?"


"Iya. Paman tahu. Kenapa?"


"Ada temanku, Ibunya jatuh di kamar mandi. Lalu kepalanya banyak mengeluarkan darah. Dan tidak ada satu pun dari orang-orang disana yang mau membantu temanku itu. Dan temanku itu sedang menunggu di depan Cafe itu. Namanya Mirza."


"Baiklah, sayang. Paman akan segera mengirimkan ambulance. Dan Paman juga akan ikut kesana."


"Terima kasih, Paman."


"Sama-sama, sayang."


Setelah selesai berbicara dengan Ayahnya Kenzo. Darel pun mematikan panggilan tersebut. Dan tak lama kemudian, Nevan datang.

__ADS_1


Darel yang melihat kedatangan Nevan langsung menarik tangan kakaknya itu agar segera pergi.


"Ayo, kakak."


__ADS_2