Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kembalinya Ingatan Kenzo Dan Tewasnya Lian


__ADS_3

Davian saat ini berada di markas DARKNESS. Saat ini Davian dan Arjuna sedang berada di Aula. Davian dan Arjuna sedang membahas penyerangan terhadap kelompok LOS ZETAS yang ingin masuk dan meyerang kota Hamburg dari berbagai lokasi.


Di markas itu juga ada Nevan dan Ghali. Kedua minta ikut dan ingin membantu Davian dan kelomponya. Mereka tidak rela dan tidak mengizinkan sang Kakak untuk melakukan pekerjaannya dengan sendirian. Jadi mereka memutuskan untuk ikut bersama Davian.


"Bagaimana?" tanya Davian.


"Sesuai rencana. Semua anggota kita sudah bergerak ke lokasi penyerangan itu dengan jumlah anggota lebih banyak dari pihak kita," jawab Arjuna.


"Bagaimana dengan Kampus tempat adik-adik kami kuliah?" tanya Nevan.


Nevan tidak ingin terjadi sesuatu dengan adik-adiknya. Baik itu ketiga adik kandungnya mau pun keempat adik sepupunya.


"Pokoknya semuanya sudah beres. Sesuai perintah dari Davian, aku memerintahkan 100 orang anggota untuk menjaga dan mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan. Yang mengawasi bagian luar Kampus 50 orang. Dan yang mengawasi bagian dalam Kampus juga 50 orang."


Arjuna menatap wajah Davian, Nevan dan Ghali. "Ada sekitar 2000 anggota yang katanya dari kelompok BLACK SHARK dan BLACK EUGLE. Kalau aku boleh tahu siapa yang mengirim mereka?" tanya Arjuna.


Davian hanya tahu dengan kelompok BLACK SHARK karena Davian secara tidak sengaja mendengar pembicaraan adik bungsunya ketika sedang berbicara di telepon.


"BLACK SHARK itu kelompok dari adik bungsuku, Darel! Tapi aku tidak tahu yang kelompok BLACK EUGLE," jawab Davian.


"Waw! Adikmu juga seorang mafia juga Davian?" tanya Arjuna dengan wajah terkejutnya.


"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya dua kelompok itu bekerja untuk adikku," jawab Davian.


"Kok bisa?" tanya Arjuna lagi.


"Ini semua karena Kakek. Orang-orang yang bekerja dengan adikku dulunya bekerja dengan Kakek. Dan kemungkinan besar Kakek sudah menceritakan semuanya kepada Darel." Nevan yang menjawab pertanyaan dari Arjuna.


"Aku curiga pasti Kakek kalian seorang mafia juga. Kalau Kakek kalian hanya orang biasa. Tidak mungkin Kakek kalian memiliki sebuah kelompok yang mana kelompoknya berada diurutan nomor satu di dunia," ucap Arjuna.


Davian, Nevan dan Ghali mengangguk setuju akan ucapan dari Arjuna. Sudah terlihat jelas bagaimana kerja keras para tangan kanan adik bungsunya selalu membuahkan hasil selama ini. Semua bukti-bukti yang mereka dapatkan hanya butuh satu minggu. Jika orang lain atau pihak kepolisian. Mungkin butuh berbulan-bulan mendapatkannya.


"Jika kalian tidak ingin mati penasaran. Tidak ada salahnya jika kalian bertanya kepada adik manis kalian itu," usul Arjuna.


Davian, Nevan dan Ghali saling melirik satu sama lainnya. Lalu detik kemudian mereka tersenyum.


"Baiklah," jawab mereka secara bersamaan.


"Ya sudah kalau begitu. Kita bersiap sekarang!" seru Arjuna. Davian, Nevan dan Ghali mengangguk.


***


Gavin sudah berada di Kantin bersama Kenzo dan para anggotanya. Hatinya sangat senang bisa meluapkan semua kerinduannya terhadap sahabat kelincinya itu. Yang membuat Gavin lebih bahagia lagi ternyata saat dirinya dan Kenzo hilang dalam kecelakaan tersebut. Sahabat kelincinya itu menyuruh salah satu tangan kanannya untuk mencarinya dan Kenzo. Sahabat kelincinya itu sudah mengetahui semuanya.


"Sebentar lagi. Sebentar lagi aku dan Kenzo akan lepas dari kedua bajingan itu. Aku sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan Papi, Mami dan kedua kakak-kakakku. Begitu juga dengan Kenzo."


Gavin berbicara dalam hatinya sambil menatap wajah Kenzo. Gavin tersenyum menatap wajah Kenzo. Dirinya merasa bersyukur karena Kenzo mengorbankan dirinya untuk berusaha menolongnya walau endingnya mereka berdua harus jatuh keluar dari dalam mobil.


"Sebentar lagi Gerald!" seru Kendrick memberitahu Gerald akan rencana penyerangan tersebut.


"Iya. Aku tahu," jawab Gerald.


Lima belas menit kemudian, terdengar suara bell menandakan bahwa para mahasiswa dan mahasiswi sudah menyelesaikan materi kuliah masing-masing.


Dan terlihat pada mahasiswa dan mahasiswi keluar dari kelas masing-masing. Yang tadinya suasana Kampus tampak sunyi dan hening. Sekarang berubah ramai.


Darel dan kelima sahabat barunya sudah berada di luar kelas. Darel sudah menceritakan kepada para kakak-kakaknya, baik kedua kakak kandung maupun keempat kakak sepupunya bahwa akan ada yang menyerang Kampus. Darel meminta pada kakak-kakaknya untuk menyelamatkan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya.


"Untuk kalian." Darel melihat kearah Samuel, Lucas, Zelig, Razig dan Juan. "Kalian pergilah ke ruangan Rektor dan ke ruangan para Dosen. Selamatkan mereka dan bawa mereka keluar dari perkarangan Kampus. Jauhkan mereka dari para kelompok itu."


"Baik, Rel!" seru Samuel, Lucas, Zelig, Razig dan Juan.


"Hati-hati. Kalian jangan sampai terluka," ucap Darel.


"Hm." Samuel, Lucas, Zelig, Razig dan Juan mengangguk mengerti.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan Darel sendirian.

__ADS_1


Darel melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor Kampus. Dan kini langkah kakinya terhenti di lapangan. Dan di lapangan itu sudah menunggu beberapa orang dan salah satunya adalah orang yang Darel kenal.


"Kenzo." Darel berbicara dengan lantangnya.


Mendengar Darel yang memanggilnya dengan sebutan Kenzo membuat Kendrick tersenyum. Kendrick menatap Darel tepat di manik coklatnya. Kendrick sangat tahu arti dari tatapan mata itu.


"Siapa yang kau panggil dengan sebutan Kenzo? Aku bukan Kenzo. Aku Kendrick," jawab Kendrick ketus.


"Kau adalah Kenzo. Kenzo sahabatku. Seribu kali pun kau mengatakan bahwa kau bukanlah Kenzo. Tapi bagiku kau adalah Kenzo. Kenzo Roberto. Putra dari Fayyadh Roberto." Darel berbicara berucap dengan penuh penekanan di setiap kata. Dan tatapan matanya menatap penuh kerinduan terhadap Kenzo.


"Aakkhh!" teriak Kendrick sembari menatap tajam Darel. " Banyak omong lo." Kendrick langsung menyerang Darel.


Dan terjadilah perkelahian antara Darel dan Kendrick. Kendrick sangat agresif dan bersemangat menyerang Darel. Dirinya memberikan pukulan dan tendangan kearah Darel.


Sementara Darel sama sekali tidak membalas serangan dari Kendrick. Darel hanya menghindar dari serangan yang diberikan oleh Kendrick secara brutal, walau beberapa kali Darel mendapatkan pukulan dan tendangan dari Kenzo. Namun Darel tetap tidak membalasnya.


"Aku tidak akan menyakiti sahabatku sendiri," batin Darel.


"Kenzo," lirih Darel.


Darel menangis dengan matanya tidak terlepas menatap wajah Kenzo. Melihat Darel yang menangis. Reflek Kendrick menghentikan tangannya yang hendak memukul wajah Darel. Seketika terlintas bayangan di kepala Kenzo disertai dengan suara teriakan seseorang.


FLASHBACK ON


Darel mengejar Kenzo yang saat ini sedang tertawa mengejeknya. Darel habis menolong seseorang. Darel mengira orang yang ditolongnya itu seorang perempuan. Dan ternyata seorang waria alias laki-laki yang berpenampilan perempuan. Dan endingnya waria itu dengan beraninya mencium pipi Darel. Dan hal itu membuat Darel benar-benar malu total.


Melihat kejadian itu, Kenzo berstatus sebagai sahabatnya bukannya membantu atau sekedar menghibur. Namun justru Kenzo menertawainya.


"Hahahahahaha."


Mendengar tawa Kenzo yang begitu keras membuat Darel menatap tajam Kenzo. Dan mulutnya mengeluarkan sumpah serapah untuk sahabatnya itu.


"Dasar tiang listrik sialan, bodoh, gila, manusia sipanse."


Mendengar deretan umpatan dan hinaan dari Darel tidak membuat Kenzo marah. Justru membuat Kenzo makin tertawa keras.


Setelah mengatakan itu, Kenzo berlari. Dirinya tidak ingin dapat amukan dari siluman kelincinya itu.


"Yak, Kenzo! Awas kau sialan!" teriak Darel.


Darel melepaskan sebelah sepatunya, lalu melemparkan sepatunya kearah Kenzo. Tepat sasaran. Sepatu tersebut mendarat sempurna di kepala belakang Kenzo.


"Rasain!" teriak Darel.


FLASHBACK OFF


Seketika Kendrick merasakan sakit di kepalanya. Kendrick meremat kuat rambutnya.


Darel yang melihat Kenzo yang kesakitan langsung mendekati Kenzo. Namun seketika langkahnya terhenti kala mendengar suara seseorang.


"Wah, lagi reunian ya!"


Darel melihat keasal suara. Seketika matanya membelalak saat melihat orang itu.


"Lian Jevera," ucap Darel.


"Hei, Rel! Lama tidak bertemu? Apa kau tidak merindukanku, hum?" ucap dan tanya Lian dengan menatap tajam Darel.


Lian melihat kearah Kenzo. "Wah! Jadi kau telah bertemu dengan sahabatmu ya. Kok hanya satu. Yang satunya lagi mana?" tanya Lian dengan mengarah senjatanya kearah Kenzo.


"Apa yang akan kau lakukan Lian?!" bentak Darel ketika melihat Lian yang mengarahkan senjatanya kearah Kenzo.


"Bagaimana jika aku membunuhnya? Jadi dengan begitu kita bisa menyelesaikan urusan kita berdua tanpa ada yang mengganggu," ucap Lian dengan menatap remeh Darel.


"Jangan gila kau. Sudah cukup sekali kau memisahkan aku dengan sahabat-sahabatku. Dan aku tidak akan membiarkanmu untuk melakukannya lagi!" bentak Darel.


"Begitukah," sahut Lian. "Kita lihat. Apa yang akan kau lakukan untuk menyelamatkan sahabatmu itu?"

__ADS_1


Lian langsung menembakkan peluruhnya kearah Kenzo tanpa mendengarkan teriakan Darel.


DOR!


BRUUKK!


"Da-darel!" teriak Kenzo ketika tubuh Darel jatuh tepat di hadapannya dan Kenzo dengan cepat menahan tubuhnya dan tubuh Darel.


"Sial," batin Lian.


Darel yang mendengar Kenzo yang berteriak memanggil namanya seketika menangis. Dirinya benar-benar bahagia sahabat telah kembali padanya.


"Ken-kenzo," lirih Darel.


"Hiks... Rel... Hiks," isak Kenzo.


Darel tersenyum kala mendengar suara sahabatnya yang memanggil namanya.


"Ken-kenzo... Kau kembali. Aku bahagia kau kembali padaku," ucap Darek lirih dan juga terbata-bata.


"Darel." Kenzo mengusap lembut air mata Darel dan memberikan kecupan di kening Darel.


"A-ku merindukanmu Kenzo. Aku sangat merindukanmu," lirih Darel.


"Aku juga merindukanmu. Hiks... Maafkan aku yang telah pergi meninggalkanmu. Maafkan aku yang telah melupakanmu... Hiks," ucap Kenzo disela-sela isakannya.


"Kau tidak salah karena kau adalah sahabat terbaikku," jawab Darel.


Tanpa disadari oleh Kenzo yang kini tengah memeluk tubuh Darel dan tangannya menekan luka tembak di dada kanan Darel. Lian mengarahkan senjatanya kearah Kenzo. Dirinya benar-benar ingin membunuh Kenzo dan Darel.


"Ucapkan selamat tinggal Kenzo, Darel!" Lian berucap pelan disertai senyuman di sudut bibirnya.


DOR!


DOR!


DOR!


DOR!


DOR!


BRUUKKK!


Kenzo melihat ke asal suara tembakkan itu. Dan dapat dilihat oleh Kenzo. Lian yang sudah tergeletak di tanah dengan tubuh berlumuran darah dengan luka tembak di seluruh tubuhnya. Mulai dari kepala, dada kiri, perut kedua paha dan kedua tangannya.


Kenzo melihat kearah orang-orang yang sebagai pelaku penembakan itu. Ada delapan orang yang menembak Lian. Dua dari delapan orang itu tak lain adalah sahabatnya dan saudara sepupunya. Dan seketika air mata Kenzo mengalir membasahi wajah tampannya


"Gavin... Hiks," isak Kenzo.


Gavin tersenyum kemudian memeluk tubuh bergetar Kenzo. "Semuanya sudah selesai Zo. Kita bebas. Setelah ini kita bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga kita."


Gavin melepaskan pelukannya dan melihat kearah Darel. Gavin menggenggam tangan Darel dengan kuat.


"Rel. Aku dan Kenzo sudah kembali. Jadi aku mohon padamu bertahanlah. Jangan coba-coba kau berniat untuk balas dendam padaku dan Kenzo," ucap Gavin menatap memohon kepada Darel.


Darel tersenyum menatap Gavin. Dirinya tahu maksud dari perkataan Gavin barusan. Darel tiba-tiba bangun dari tidurnya di paha Kenzo.


Melihat Darel yang bangun begitu saja membuat mereka semua terkejut.


"Aku baik-baik saja. Dan aku tidak terluka sama sekali." Darel membuka kancing ke mejanya dan memperlihatkan sesuatu di dalam bajunya itu.


Mereka yang melihat hal itu sontak membelalakkan kedua matanya. Dan detik kemudian, mereka semua akhirnya bisa bernafas lega.


"Bagaimana bisa?" tanya Kenzo.


"Nanti saja aku ceritakan. Sekarang bantu aku berdiri. Dadaku benar-benar sakit sekarang."

__ADS_1


Gavin dan Samuel menarik tangan Darel pelan dan membawa Darel untuk berdiri.


__ADS_2