
Brian dan Damian sudah berada di rumah mereka masing-masing. Setelah tiba di rumahnya, baik Brian maupun Damian langsung mencari keberadaan sang ayah.
Di tempat yang berbeda, namun di waktu yang sama. Brian dan Damian menceritakan semuanya kepada ayahnya tentang apa yang dikatakan oleh Arkan tangan kanannya Darel. Mereka berkumpul di ruang tengah.
"Papa, aku mohon. Ketika kerja sama besok. Papa jangan dulu menandatangani berkas apapun. Papa tunggu selama 3 jam. Setelah tiga jam, Papa cek kembali semua berkas-berkas yang ada sama Papa. Cek satu-satu. Dari sana nanti Papa tahu mana yang rekan kerja Papa yang jujur dan penipu."
Mendengar perkataan dari Brian dan Damian membuat Rainart dan Lucio terkejut. Mereka tidak menyangka jika ada salah satu rekan kerjanya bermain curang dengan cara menipunya dengan memberikan berkas kerja sama palsu.
"Jangan sampai Papa menyesal. Aku mengatakan hal ini kepada Papa karena aku diberitahu oleh tangan kanannya Darel. Tangan kanannya Darel mengatakan bahwa ada salah satu rekan kerjanya Papa memberikan berkas palsu."
"Baiklah sayang. Papa akan mengikuti saran dari kamu."
Baik Rainart dan Lucio di tempat yang berbeda langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh putranya. Mereka juga tidak menginginkan sesuatu terjadi terhadap perusahaan miliknya.
***
Di rumah sakit kini terlihat beberapa anggota keluarga tengah mengajak Darel berbicara. Mereka adalah Alvaro, Axel, Evan, Raffa, Dhafin, Rendra, Tristan, Dylan, Satya Melvin, Dzaky, Aldan.
Sementara anggota keluarga lainnya berada di tempat kerja masing-masing. Mereka akan datang ke rumah sakit setelah selesai dengan pekerjaannya.
"Rel, kapan bangun sayang? Kakak kangen sapaan kamu," ucap Raffa dengan suara lirihnya.
Alvaro yang kebetulan berdiri di belakang adiknya itu langsung mengusap lembut kepalanya.
"Adik kita kuat Raffa. Kakak yakin sebentar lagi Darel pasti akan bangun. Sabar ya," ucap Alvaro menenangkan adiknya.
Mereka semua berharap Darel membuka matanya setelah beberapa jam tertidur.
Dan benar saja, setelah Alvaro mengatakan hal itu kepada Raffa. Seketika Darel membuka kedua matanya.
"Rel," panggil mereka dengan kompak.
Mereka semua tampak bahagia ketika melihat Darel yang membuka kedua matanya setelah tertutup beberapa jam. Yang paling bahagia disini adalah Alvaro, Axel, Evan dan Raffa.
"Sayang," Alvaro, Axel, Evan dan Raffa berucap bersamaan sembari memberikan kecupan sayang di kening Darel secara bergantian.
"Kakak Alvaro, kakak Axel, kakak Evan, kakak Raffa." Darel memanggil kakaknya satu persatu.
Mendengar panggilan dari Darel membuat Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tersenyum.
"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Axel sembari mengusap lembut kepala adiknya.
"Sedikit," jawab Darel. "Kakak," panggil Darel.
"Iya, ada apa?" jawab Alvaro, Axel, Evan dan Raffa bersamaan.
"Haus," jawab Darel.
Axel langsung mengambil gelas yang berisi air putih yang ada di atas meja di samping ranjang Darel.
Setelah mendapatkannya, Axel pun memberikan kepada adiknya dan dibantu oleh Raffa.
Setelah itu, Darel pun langsung meminum air tersebut dengan tandas. Sedangkan Alvaro, Axel, Evan, Raffa, Dhafin, Rendra, Tristan, Dylan, Satya Melvin, Dzaky, Aldan tersenyum melihat Darel yang benar-benar haus.
"Ternyata adiknya kakak haus ya," goda Axel.
Setelah adiknya selesai, Axel kembali meletakkan gelas yang sudah kosong itu kembali ke tempatnya.
"Kakak, bantu aku duduk!"
Tanpa diminta dua kali. Alvaro, Axel, Evan dan Raffa langsung membantu adiknya untuk duduk.
***
Azri, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon sudah kembali ke Kampus. Mereka semua kembali ke kampus karena mendapatkan pesan grup sekolah yang katanya akan kedatangan Dosen baru yang mana Dosen itu akan mengajar tiga jurusan. Dosen itu terkenal galak dan juga kejam terhadap orang yang tidak mematuhi perintahnya. Dan lebih parahnya lagi, Dosen itu tak segan-segan untuk memberikan hukuman kepada mahasiswa dan mahasiswi jika mahasiswa dan mahasiswi tidak mengerti materi yang dia berikan.
"Gue dengar dosen baru ini galak," Devon.
"Galaknya dosen itu bukan galak pada umumnya. Tapi ini udah masuk dalam kategori seperti pembullyan," ucap Charlie.
"Wah! Parah kalau seperti itu. Jika mahasiswa dan mahasiswi nya tak sengaja melakukan kesalahan. Pasti tuh Dosen akan memberikan hukuman berat," ucap Juan.
"Kalau memang seperti itu sifat dari dosen baru kita. Aku Samuel Ramero tidak akan membiarkan dia semena-mena di kampus ini. Aku akan membahas masalah ini sama Papa."
__ADS_1
Samuel tidak akan tinggal diam jika dosen baru tersebut bersikap semena-mena kepada teman-teman kampusnya termasuk sahabat-sahabatnya. Dia akan melindungi teman-teman kampusnya dan sahabat-sahabatnya dari Dosen tersebut.
Tak jauh dari Samuel. Azri, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Razig, Juan, Zelig Lucas, Charlie dan Devon. Mereka juga tidak akan tinggal diam jika teman-teman Kampusnya dan sahabat-sahabatnya disakiti. Mereka akan memberikan balasan langsung terhadap Dosen tersebut jika hal itu terjadi. Termasuk jika dirinya merasa menjadi korbannya.
"Aku mikirin Darel!" seru Lucas.
Samuel, Azri, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Razig, Juan, Zelig, Charlie dan Devon melihat kearah Lucas.
"Kenapa?" tanya Farrel kepada adik sepupunya.
"Darel pasti nggak akan masuk untuk beberapa hari karena ulahnya ibunya Yagar. Takutnya pas Darel masuk. Dosen itu akan menjadikan Darel sasaran empunya karena Darel nggak ngikutin kelasnya beberapa hari," jawab Lucas.
Puk..
Farrel menepuk pelan bahu adiknya itu untuk sekedar memberikan ketenangan padanya.
"Kau tidak perlu khawatir masalah itu. Kita akan membahas masalah ini langsung dengan Darel. Begitu juga dengan Brian, Damian dan para kakak-kakaknya Darel. Jadi dengan begitu mereka tahu apa yang akan mereka lakukan jika nantinya hal itu benar-benar terjadi," ucap Farrel.
Mendengar perkataan dari Farrel membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka semua akan membahas masalah dosen tersebut bersama dengan Darel, Brian, Damian dan para kakak-kakaknya Darel
"Bagaimana? Sudah tenang sekarang, hum?" tanya Farrel dengan mengusap lembut kepala adiknya itu.
"Untuk hari ini sudah tenang. Nggak tahu nanti ketika melihat dosen itu dan melihat sifat aslinya ketika mengajar. Apalagi ketika mengajar di kelas kami," sahut Lucas.
"Kita akan menghadapi dosen monster itu bersama-sama jika dia macam-macam dengan kita," sahut Zelig.
"Dia ingin bermain-main dengan kita, maka dengan senang hati kita akan melayaninya!" sahut Razig.
"Intinya disini! Jangan biarkan dia membentak kita. Apalagi sampai memukul kita. Itu saja!" seru Evano.
"Hm!" Azri dan Farrel berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Oh iya! Kita jadikan ke rumah sakit jenguk Darel?" tanya Evano.
"Iya, jadilah!" Azri, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.
Drtt..
Drtt..
Kenzo yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.
Setelah ponselnya di tangannya, Kenzo melihat nama 'Darel' di layar ponselnya.
"Darel! Ini benaran Darel? Apa Darel sudah sadar?" batin Kenzo.
Setelah berpikir tentang siapa yang menghubunginya. Apakah benar-benar Darel atau salah satu kakak-kakaknya Darel. Kenzo pun memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Rel!"
Mendengar Kenzo menyebut nama Darel. Baik Azri, Evano, Farrel, Gavin maupun Razig, Juan, Zelig Lucas, Charlie dan Devon langsung melihat kearah Kenzo.
"Hallo Kenzo. Kamu dan yang lainnya kemana? Kenapa nggak ada disini?"
"R-rel! Ini benaran lo?"
"Iya, ini gue. Gue udah sadar."
"Gue senang dengarnya."
"Lo dimana. Yang lainnya juga dimana?"
"Gue sama yang lainnya balik ke kampus. Kita dapat pesan dari grup kampus dan mengatakan bahwa ada Dosen baru."
"Apa lo sama yang lainnya nggak akan kesini?"
Kenzo tersenyum ketika mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Darel. Terdengar sedikit suara lirih dari Darel.
"Gue dan yang lainnya akan datang jenguk lo kok. Lo nggak usah khawatir, oke!"
Mendengar jawaban dari Kenzo seketika Darel di seberang telepon tersenyum.
"Benaran?"
__ADS_1
"Iya, Rel!"
"Jam berapa?"
"Habis kita kuliah, kita semua akan langsung ke rumah sakit. "
"Baik, gue tunggu! Jangan sampai ngaret!"
"Iya."
"Oh iy! Nzo, bawakan aku susu pisang ya."
Mendengar permintaan Darel, seketika membuat Kenzo kembali tersenyum.
"Sesuai keinginan tuan Darel."
"Terima kasih tuan Kenzo Roberto."
"Sama-sama tuan Darel Wilson."
Detik kemudian...
"Hahahaha!"
Darel dan Kenzo tertawa ketika memanggil nama disertai gelar dan marga.
"Ya, sudah. Aku tutup teleponnya."
Setelah mengatakan itu, Darel langsung mematikan panggilannya lalu disusul oleh Kenzo.
"Darel ngomong apa?" tanya Gavin.
"Darel tanya, apa kita nggak datang jenguk dia di rumah sakit. Lalu aku jawab, kita akan datang." Kenzo menjawab pertanyaan dari Gavin.
"Teru apa lagi?" tanya Azri.
"Darel minta dibawakan susu pisang," jawab Kenzo.
Mendengar perkataan dari Kenzo membuat mereka semua tersenyum, terutama Azri, Evano dan Farrel. Ketiganya tahu tentang kesukaan Darel terhadap susu pisang.
***
Di kediaman utama Wilson terlihat ramai dimana beberapa anggota keluarga sudah kembali dari aktivitas diluar rumah. Mereka adalah Fathir dan Nashita, Sandy dan Salma berserta anak-anaknya.
Sementara untuk anggota keluarga lainnya masih diluar. Sekitar dua jam lagi baru mereka akan kembali.
Saat ini mereka tengah bersiap-siap untuk ke rumah sakit mengunjungi kesayangannya yang sudah bangun dari tidurnya beberapa jam.
Mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah. Dan hendak pergi, namun datang seorang penjaga menghampiri mereka.
"Maaf tuan Arvind!"
"Iya, ada apa?"
"Diluar ada beberapa orang ingin bertemu dengan tuan muda Darel."
"Siapa?" tanya Ghali.
"Dia mengatakan bahwa namanya adalah Kenzi."
Mendengar nama Kenzi disebut, seketika membuat Arvind dan anggota keluarganya langsung ingat dengan dua pemuda yang saat itu datang ke rumah sakit membawa penawar untuk putrany/adiknya/keponakannya.
"Suruh masuk!" seru Arvind.
"Baik, tuan!"
Setelah mengatakan itu, penjaga itu pun pergi untuk menemui Kenzi dan orang-orangnya yang menunggu diluar.
Beberapa detik kemudian...
"Selamat sore tuan Arvind, nyonya Nashita!" sapa Kenzi.
"Selamat sore nak Kenzi," jawab Arvind dan Nashita bersamaan.
__ADS_1
"Ayo kemarilah. Silahkan duduk!"
Kenzi dan Neylan pun langsung menduduki pantatnya di sofa. Sementara anggota-anggotanya Kenzi menunggu diluar.