
Darel sudah berada di lapangan bersama dengan teman-teman kampusnya dan sahabat-sahabatnya. Darel saat berdiri tepat di depan sang Dosen baru yang tengah menatap dirinya.
"Dari mana saja kamu? Ini sudah jam berapa?!" bentak Luan Malachi.
Mendengar perkataan kasar dan juga bentakan dari Dosen tersebut membuat Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon mengepal kuat tangannya.
Tak jauh beda dengan sahabat-sahabatnya Darel. Kedua kakaknya Evan dan Raffa serta keempat kakak sepupunya Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan juga saat ini mengepalkan kuat tangannya ketika mendengar ucapan kasar dan juga bentakan yang diberikan oleh dosen itu.
Darel tidak langsung menjawab pertanyaan dari Dosennya itu, namun Darel menatap tajam kearah Dosen tersebut.
"Kenapa memangnya? Apa ada masalah jika saya datang terlambat?" tanya Darel balik.
Mendengar pertanyaan yang tak mengenakkan dari salah satu mahasiswanya membuat Luan makin menatap tajam kearah Darel.
"Berani kamu sama saya, hah?!" bentak Luan.
"Kenapa saya harus takut pada anda. Pertama, saya tidak terlambat sama sekali karena jadwal kuliah dimulai masih sekitar 10 menit lagi. Kedua, saya mendapatkan kebebasan dari pemilik kampus ini untuk datang sesuka hati saya. Begitu juga dengan sahabat-sahabat saya. Ketiga, saya adalah ketua SENAT dengan kata lain, posisi saya diatas anda. Jika saya mau hari ini juga saya bisa keluarkan anda dari kampus ini."
Darel berucap sembari tersenyum manis menatap wajah super tak mengenakkan dari Dosennya. Sedangkan sang Dosen mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel.
"Brengsek!" batin Luan.
Sementara para sahabat-sahabat, para kakak-kakaknya tersenyum bahagia ketika melihat tatapan mata Darel dan mendengar ucapan demi ucapan dari Darel ketika berhadapan dengan sang Dosen baru. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Mereka semua tidak menyangka jika Darel berani melawan dosen tersebut.
"Bagus, Rel!" batin Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon.
"Kakak bangga sama kamu. Jangan pernah takut ketika kamu dibentak atau dikasari. Jangan perlihatkan rasa takutmu pada musuh-musuh kamu," batin Raffa.
"Kakak senang lihat kamu yang berani melawan Dosen baru itu Rel! Selama kamu nggak salah. Kamu berhak untuk melawan. Jangan pernah takut akan hal apapun," batin Evan.
Darel dan Luan masih memberikan tatapan mematikannya masing-masing. Lalu detik kemudian, Darel melihat kearah teman-temannya yang berdiri berbaris di hadapannya.
Darel kembali menatap wajah Dosen barunya itu dengan tatapan penuh menantang.
"Anda marah pada saya karena saya datang terlambat. Apakah anda sudah pasti tidak ada mahasiswa atau mahasiswi yang berbaris di lapangan itu yang terlambat? Apa semuanya sudah hadir? Coba anda cek ulang!"
Setelah mengatakan itu, Darel kembali menatap semua teman-teman kampusnya termasuk para sahabat-sahabatnya yang juga ada di lapangan itu.
"Sekarang aku mau satu dari kalian perjurusan untuk menghitung kembali jumlah teman-teman kalian."
Mendengar perkataan dari Darel, beberapa mahasiswa dan mahasiswi langsung bergerak untuk menghitung jumlah teman-teman sekelasnya atau satu jurusan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian..
"Rel!" seru salah satu mahasiswa.
"Ya!"
"Di kelas Sastra. Ada dua yang belum hadir."
"Siapa mereka?" tanya Darel.
"Zamy Riffat dan Arman Vedat!"
"Oke! Terima kasih."
Darel kembali menatap wajah Dosen barunya itu. "Bagaimana Dosen Luan Malachi yang terhormat? Dua mahasiswa anda belum datang. Kenapa sejak tadi anda diam saja dan tidak melakukan pengecekan? Kenapa anda justru hanya fokus ke saya? Apa anda punya dendam pribadi dengan saya, hum?"
Luan makin menatap wajah Darel dengan tangannya yang mengepal di samping tubuhnya.
"Seharusnya anda marah karena dua mahasiswa anda belum datang. Bukankah prinsip anda bahwa anda tidak ingin ada mahasiswa atau mahasiswi datang terlambat di jam kuliah anda, bukan? Sekarang buktikan kepada saya. Cari mereka dan berikan hukuman kepada mereka."
Setelah mengatakan itu, Darel pergi begitu saja meninggalkan Luan Malachi yang saat ini menatap dirinya penuh amarah.
"Kalian semua! Kembalilah ke kelas kalian masing-masing. Nggak ada gunanya masih disini. Lagian Dosen itu tidak memberikan pengumuman apapun kepada kalian!" seru Darel.
Sementara Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon menghampiri Darel yang juga melangkah menghampiri sahabat-sahabatnya.
Melihat adiknya yang sudah bersama dengan para sahabat-sahabatnya. Evan, Raffa dan keempat sepupunya memutuskan untuk menghampiri adiknya itu.
"Wah, Rel! Gue suka gaya lo ketika berbicara di hadapan Dosen songong itu," sahut Zelig.
"Gue puas banget lihat wajah kesal bercampur marah dia ketika mendengar ucapan demi ucapan dari lo," sahut Charlie.
"Mungkin seumur-umur tuh Dosen merasa bangga karena nggak ada yang berani melawan dia. Nah, ketika mendapatkan mahasiswa yang berani melawan dia, seketika dianya syok setengah mati." seru Devon.
"Ini syok terapi pertama dia dari Darel. Belum syok terapi dari kita-kita," sela Lucas.
"Mungkin Dosen gila itu berpikir kita mahasiswa-mahasiswa lemah," ucap Juan.
"Rel," panggil Kenzo dan Gavin bersamaan.
Darel langsung melihat kearah Kenzo dan Gavin. Dapat dilihat oleh Darel kedua sahabatnya itu menatap dirinya khawatir.
__ADS_1
"Lo nggak apa-apa kan ketika Dosen gila itu membentak lo?" tanya Kenzo.
"Gue nggak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir."
"Yakin?" tanya Gavin memastikan.
"Iya, yakin!"
Ketika Darel tengah bersama dengan sahabat-sahabatnya, tiba-tiba kakak-kakaknya datang.
"Darel," panggil Evan dan Raffa.
Darel melihat kedatangan kedua kakaknya bersama dengan keempat kakak sepupunya. Begitu juga dengan para sahabat-sahabatnya.
"Kakak."
Evan, Raffa, Rendra, Melvin, Dylan dan Aldan tersenyum ketika mendengar sapaan dari Darel.
Evan mengusap lembut kepala Darel. Begitu juga dengan Raffa. Keduanya menatap khawatir adiknya itu.
"Kita tadi lihat bagaimana Dosen itu bicara kasar sama kamu," ucap Raffa.
"Bahkan Dosen itu juga bentak kamu. Kamu nggak apa-apa kan?" ucap dan tanya Evan.
Darel tersenyum ketika mendengar perkataan dari kedua kakaknya. Apalagi ketika melihat tatapan khawatir dari kakaknya itu.
"Aku nggak apa-apa, kak! Aku sudah bertekad untuk melawan rasa takut aku ketika berhadapan dengan orang lain. Salah satu ketika aku dibentak. Aku tidak akan takut dikasari, dibentak dan dimaki serta dihina. Aku akan lawan mereka."
"Beda jika yang bersikap kasar dan membentak aku itu adalah kalian. Jika hal itu terjadi. Aku nggak tahu, apakah aku akan bisa semangat lagi, bisa ceria lagi, bisa menerima kalian lagi dan bisa mempercayai kalian lagi apa nggak. Karena ketika setelah kalian melakukan hal itu padaku, maka aku akan benar-benar hancur."
Darel menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya dan wajah sahabat-sahabatnya.
"Kalian semua dan anggota keluarga Wilson adalah semangat hidup aku dan penopang hidup aku. Jika sedikit saja kalian menyakitiku dan juga membentakku. Apalagi kalian melakukan itu demi orang lain yang baru kalian kenal, maka sudah dipastikan aku tidak akan mau hidup lagi di dunia ini. Aku akan benar-benar pergi meninggalkan kalian semua!"
Deg..
Mereka semua terkejut dan juga syok ketika mendengar perkataan dari Darel. Mereka tidak menyangka jika Darel akan mengatakan hal itu.
Grep..
"Kakak akan berusaha menjadi kakak yang terbaik untuk kamu. Itu janji kakak," ucap Evan.
__ADS_1
"Kakak juga. Selama kakak masih bernafas, selama itu pula kakak nggak akan menyia-nyiakan kamu. Selamanya kamu adalah tanggung jawab kakak. Sekali pun nanti kakak sudah punya keluarga sendiri," ucap Raffa tulus sembari tangannya mengusap lembut kepala belakang adiknya.
"Aku percaya dengan kak Evan dan kak Raffa. Begitu juga dengan kakak-kakak yang lainnya," jawab Darel.