
Darel berada di kamarnya. Semenjak pulang dari Hotel bersama ketiga kakaknya. Darel tidak keluar dari kamarnya. Darel lebih memilih mengurung dirinya di sana.
Darel saat ini sedang tiduran di atas tempat tidur. Dirinya tidak berniat untuk keluar dari kamarnya.
Sementara anggota keluarganya tengah berada di ruang tengah. Ada sedikit kelegaan di hati mereka disaat Davian, Nevan dan Ghali berhasil membujuk Darel untuk pulang.
Namun rasa takut mereka masih ada di dalam diri mereka semua. Mereka takut jika Darel tidak akan mau bicara atau dengan kata lain mogok bicara.
"Papa, Mama. Kita harus ke kamar Darel sekarang. Kita harus jelaskan semuanya sama Darel alasan kita menyembunyikan masalah ini. Kita tidak bisa membiarkan Darel mengurung diri di kamar." Raffa berbicara sambil menatap wajah kedua orang tuanya.
"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Raffa. Sebaiknya kita langsung menjelaskannya sama Darel. Jangan membuat Darel makin marah dan kecewa dengan kita. Itu tidak baik untuk kesehatannya." Sandy ikut menyuarakan pendapatnya
"Aku juga setuju. Lebih cepat lebih baik," ucap Daksa.
"Baiklah. Kita akan menjelaskan alasan kita menyembunyikan masalah ini dari Darel," sahut Arvind. Mereka semuanya mengangguk.
Setelah itu, mereka semua beranjak dari duduknya dan langsung menuju kamarnya Darel yang ada di lantai dua.
^^^
CKLEK!
Pintu kamar Darel dibuka oleh Arvind. Setelah pintu dibuka mereka semua pun melangkah masuk ke dalam kamar Darel
Ketika mereka semua sudah berada di dalam kamar Darel. Mereka melihat Darel yang sedang tiduran di atas tempat tidur. Mereka semua tersenyum ketika melihat Darel yang sedang tiduran di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap.
"Darel, sayang." Arvind memanggil Darel dengan begitu lembutnya. Namun yang dipanggil tidak memberikan respon apapun.
Arvind berjalan mendekati ranjang putra bungsunya. Setelah berada di dekat tempat tidur putranya, Arvind pun duduk di samping ranjang putra bungsunya itu. Tangannya terangkat untuk membelai kepala putra manisnya.
Darel seketika terkejut ketika merasakan sentuhan di kepalanya. Arvind yang melihat putranya terkejut merasa bersalah.
Darel melepaskan earphone yang terpasang di telinganya, lalu melihat kearah ayahnya. Baik Arvind maupun anggota keluarga lain senyum senyum sendiri ketika melihat Darel yang melepaskan earphone dari telinganya. Itulah kenapa Darel tidak mendengar ketika Arvind memanggilnya.
Setelah melihat wajah ayahnya, Darel kembali ke posisi awalnya. "Lebih baik Papa keluar dari kamarku. Mereka juga. Untuk saat ini aku tidak ingin melihat kalian." Setelah mengatakan itu, Darel kembali memasang earphone di telinganya.
Baik Arvind, Adelina dan anggota keluarga lainnya merasakan sesak di dada mereka masing-masing ketika mendengar ucapan dari Darel.
Seketika air mata Arvind dan Adelina jatuh membasahi wajahnya. Baru kali ini mereka ditolak oleh putra bungsunya.
Raffa yang melihat kedua orang tuanya menangis langsung naik ke atas tempat tidur adiknya. Setelah itu, Raffa dengan kasar melepaskan earphone yang ada di telinga adiknya itu sehingga membuat adiknya sedikit meringis.
Darel bangkit dari posisi tidurannya. Setelah itu, Darel menatap tajam kearah Raffa. "Kembali earphoneku!" bentak Darel.
Raffa yang mendapatkan bentakkan dari adiknya merasakan sesak di dadanya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua terkejut ketika mendengar Darel yang membentak Raffa.
"Kakak tidak akan mengembalikan earphone kamu sebelum kamu minta maaf sama Papa dan Mama. Lihat mereka. Mereka menangis gara-gara kamu!" Raffa balik membentak Darel.
__ADS_1
Darel melihat kearah kedua orang tuanya. Dan benar! Kedua orang tuanya menangis. Setelah itu, Darel kembali menatap kearah Raffa.
"Kembalikan earphone ku!" teriak Darel.
Sedangkan Raffa sama sekali tidak menghiraukan teriakan dari adiknya itu.
"Kau dengar aku, Raffa Wilson! Kembalikan earphone milikku!" teriak Darel.
Lagi-lagi mereka semua terkejut ketika mendengar teriakan Darel. Dan kali ini mereka terkejut karena Darel tidak memanggil raffa dengan panggilan kakak.
"Kamu mau earphone ini. Tidak akan. Kakak tidak akan mengembalikan earphone kamu ini." Raffa kemudian menarik kuat earphone tersebut sehingga earphone itu putus.
Darel yang melihat apa yang dilakukan oleh Raffa seketika meneteskan air matanya. Lalu detik kemudian, Darel menatap tajam Raffa.
BUGH!
Darel memberikan pukulan keras tepat di wajah Raffa sehingga membuat sudut bibirnya Raffa berdarah.
"Darel... Tidak!" teriak mereka semua.
"Apa yang kau lakukan, hah?! Kau tahu tidak earphone itu... Hiks... earphone itu hadiah ulang tahun aku dari kakak Brian. Dan kau... Kau seenaknya merusakinya. Aku benci kau. Aku benci kau. Mulai detik kau bukan lagi kakakku dan aku bukan lagi adikmu. Aku tidak sudi memiliki kakak sepertimu!"
"Darel!" bentak Andre.
PLAAKK!
"Andre!" teriak Arvind dan Adelina bersamaan.
Darel menyentuh wajahnya dengan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya tampannya. Sembari menyentuh wajahnya, Darel menatap tajam seluruh anggota keluarganya yang saat ini berada di dalam kamarnya.
"Sudah ada perubahan ternyata. Dua diantara kalian sudah berani main tangan. Apa tidak cukup saudara Davian menamparku ketika di Hotel kemarin. Sekarang aku mendapatkan tamparan lagi dari saudara Andre. Ayo, siapa yang berikutnya? Siapa lagi yang ingin menamparku? Mumpung kalian masih punya waktu untuk menamparku." Darel menatap anggota keluarganya dengan air matanya yang terus mengalir.
Sementara Arvind, Adelina dan semua anggota keluarga terkejut akan perkataan dari Darel. Mereka semua menangis melihat keadaan Darel saat ini. Hati mereka benar-benar hancur, terutama Davian dan Andre.
"Aku benci kalian semua. Kalian mengajari untuk tidak berbohong. Kalian memintaku tidak menyembunyikan apapun dari kalian. Dan apa yang kalian perintahkan, aku sudah menuruti semuanya. Selama ini aku sudah bersikap baik dan tidak pernah mempermalukan kalian. Selama ini aku sudah menjad putra yang baik, adik baik, keponakan yang baik untuk kalian. Tapi apa yang aku dapatkan. Kalian semua membohongiku!" teriak Darel.
"Sayang... Hiks," isak Adelina.
Darel turun dari tempat tidurnya. Kemudian berlari ke kamar mandi. Setelah berada di dalam kamar mandi. Darel mengunci pintu kamar mandi tersebut lalu kunci tersebut dibuang dalam selokan air.
"AARRRGGGHHH!" Dar berteriak sekencang-kencangnya.
PRANG!
BAGH! BUGH!
BAGH! BUGH!
__ADS_1
Darel memukul-mukul apa saja yang ada di dalam kamar mandi. Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya menjadi panik dan juga ketakutan saat mendengar teriakan Darel dan benda-benda yang dihancurkan oleh Darel.
"Sayang. Lakukan sesuatu. Itu Darel di dalam. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Darel." Adelina sudah merasakan ketakutan yang teramat dalam dirinya akan putra bungsunya.
TOK! TOK! TOK!
Andre dan Davian berulang kali mengetuk pintu kamar mandi agar Darel mau membukanya.
"Rel. Buka pintunya sayang. Maafkan kakak. Kakak tidak sengaja menamparmu tadi. Rel, kakak mohon. Keluarlah!" Andre sudah menangis ketika mendengar teriakan Darel dan juga beberapa benda.
Darel mengambil pecahan kaca yang sedikit lagi akan jatuh ke lantai. Setelah pecahan kaca itu berada di tangannya.
"Aku benci kalian. Aku benci kalian. Aku benci kalian." Air mata Darel masih terus mengalir membasahi wajahnya.
Darel menatap pergelangan kirinya, lalu mengarahkan pecahan kaca itu ke urat nadinya. Kini pecahan kaca itu sudah menyentuh permukaan kulit tangannya.
Dan ketika Darel ingin menyayatnya, tiba-tiba Nevan dan Vano masuk tepat waktu.
Davian, Ghali dan Daffa berhasil membuka pintu kamar mandi adiknya dengan cara mendobraknya. Ketika pintu terbuka, Nevan dan Vano langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi adiknya.
"Darel... Tidak!" teriak Nevan dan Vano.
BRUUKKK!
PRAANNGG!
Nevan dan Vano langsung mendorong tubuh adiknya sehingga pecahan kaca yang dipegang oleh adiknya itu terlepas dan jatuh ke lantai.
"Apa yang kamu lakukan, hah?! Apa kamu berniat ingin meninggalkan kakak? Apa kamu sudah tidak sayang kakak lagi?"
Adelina sudah tidak bisa membendung tangisannya. Dirinya menangis di pelukan suaminya. Sama halnya dengan Adelina. Arvind juga menangis ketika melihat putra bungsunya yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Darel menatap kosong ke depan. "Aku benci kalian. Aku benci kalian. Aku benci kalian. Kakek jemput aku."
Kata-kata itu yang terus keluar dari mulut Darel. Mereka semua menangis melihat kondisi Darel saat ini. Ditambah lagi ketika mendengar perkataan terakhir dari Darel.
GREP!
Nevan menarik pelan tubuh adiknya ke dalam pelukannya. Hati Nevan benar-benar hancur saat ini. Nevan menangis. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Aku benci kalian. Aku benci kalian." Seketika tubuh Darel melemah. Dan beberapa detik kemudian, kesadaran mengambil alih tubuhnya.
Nevan yang merasakan tubuh adiknya memberat menyadarinya bahwa adiknya saat ini pingsan.
"Bantu aku. Darel pingsan!"
"Naikkan Darel ke punggung kakak," ucap Davian.
__ADS_1
Andre, Vano dan Elvan mengangkat tubuh Darel dan menaikkannya di atas punggung Davian.
Setelah itu, Davian membawa adiknya kembali ke tempat tidur.