Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
S2. Kekesalan Darel Terhadap Davian


__ADS_3

Bugh.. Bugh..


Duagh..


Brukk..


Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon secara membabi-buta menyerang lawan-lawannya. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada musuh-musuh untuk memberikan pembalasan.


Sekitar 12 orang kelompok geng motor tersebut tersungkur di aspal akibat pukulan dan tendangan tak main-main dari Darel dan kesembilan sahabatnya.


Tak jauh beda dengan Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bertarung melawan musuh-musuhnya. Brian, Azri, Damian, Evano, Farrel dan dua tangan kanannya Darel yaitu Zayan dan Kenzi juga menyerang musuh-musuhnya secara membabi-buta dan tanpa ampun. Begitu juga para anggotanya.


Bugh.. Bugh..


Duagh..


Krett..


Brukk..


Sekitar 8 orang kelompok geng motor tersungkur di aspal dalam keadaan tak baik-baik saja.


Damian melihat kearah Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon dengan tatapan khawatirnya.


"Kalian baik-baik saja?!" tanya Damian dengan teriakannya.


Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon melihat kearah Damian. Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing. Mereka melihat kedatangan kelima sahabatnya, dua tangan Darel dan beberapa anggotanya.


"Kami baik-baik saja!" jawab Darel, Kenzo, Gavin, Samuel, Razig, Juan, Zelig, Lucas, Charlie dan Devon bersamaan.


"Bos, apakah anda baik-baik saja?" tanya Zayan.


"Iya, Zayan. Aku baik-baik saja. Terima kasih."


Setelah itu, mereka kembali bertarung melawan para musuh-musuhnya. Musuh-musuhnya saat ini masih kuat untuk bertarung, walau sudah beberapa kali mendapatkan pukulan dan tendangan dari Darel, sahabat-sahabatnya, dua tangan kanannya dan para anggotanya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30. Di kediaman Utama Wilson terlihat anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.


"Kenapa Darel belum pulang? Ini sudah pukul setengah sembilan," ucap dan tanya Evita yang menyadari bahwa keponakan manisnya belum pulang.


Mendengar perkataan sekaligus pertanyaan dari Evita seketika membuat Arvind, Adelina, putra-putranya dan anggota keluarga lainnya tersadar bahwa Darel belum pulang.


"Eh, iya! Ini sudah setengah sembilan. Darel belum juga kembali," ucap Salma.


"Aku akan menghubungi Darel," ucap Davian.


"Di loudspeaker panggilannya, nak!"


"Baik, Ma!"


Davian menjawab bersamaan dengan tangannya mengambil ponselnya yang ada di saku. Dirinya akan menghubungi adiknya itu. Rasa takut seketika menggerogoti tubuhnya.


Setelah mendapatkan nama kontak adik bungsunya, Davian pun langsung


menekan nomor adiknya itu. Terdengar nada dering di seberang telepon.


"Hallo."


Seketika Davian membelalakkan matanya ketika mendengar nada ketus dari adiknya itu.

__ADS_1


"Kok gitu jawabnya?"


"Terus kakak maunya aku jawab kayak apa?"


"Setidaknya yang lembut dong."


"Males. Kalau sama Papa dan Mama, aku ngomongnya baru lemah lembut. Kalau sama kakak dan semua anggota keluarga Wilson. Ogah ngomong lemah lembut!"


Mendengar jawaban dari Darel seketika membuat semuanya kecuali Arvind dan Adelina membelalakkan matanya masing-masing.


"Dasar siluman rubah busuk!" teriak semua kakak-kakak sepupunya.


"Terima kasih atas pujiannya kakak-kakakku yang paling jelek di keluarga Wilson!"


Mendengar perkataan kejam dari Darel membuat para kakak-kakak sepupunya hanya bisa geleng-geleng kepala dan juga menghela nafas pasrahnya.


Mereka memilih diam dan tidak melanjutkan untuk menjawab setiap perkataan dari Darel. Yang ada mereka yang akan kalah dengan setiap jawaban-jawaban yang diberikan oleh Darel.


"Darel, sekarang jawab kakak! Kamu dimana? Dan kenapa belum pulang?"


"Hah!" terdengar helaan nafas Darel di seberang telepon sehingga membuat mereka semua tersenyum.


"Aish! Kau ini sudah seperti Mama saja kak! Kenapa kakak tidak berganti peran dengan Mama?"


"Hahahahaha!"


Daffa dan adiknya seketika tertawa ketika mendengar perkataan dari Darel. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang lain.


Sedangkan Davian seketika mendengus kesal akan perkataan dari adik bungsunya itu.


Davian hendak membalas perkataan dari adiknya itu. Dia juga ingin membuat adiknya itu kesal padanya.


Namun ketika Davian hendak membuka mulutnya hendak membalas perkataan adiknya itu, adiknya sudah terlebih dulu memotong perkataannya.


Darel menyerang Davian dengan beberapa pertanyaan sehingga membuat Davian melongo tak percaya. Begitu juga dengan anggota keluarganya.


Mereka semua bingung, dari mana Darel tahu jika Davian hendak mengeluarkan kata-kata indahnya untuk Darel. Padahal Darel tidak ada disini.


Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa seketika langsung melihat kearah jendela. Mereka berpikir jika adik bungsunya itu sudah pulang sejak tadi, namun adiknya itu tidak langsung masuk ke dalam rumah.


Arvind, Adelina, Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga seketika melihat kearah Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua penasaran kenapa Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa melihat kearah jendela.


Baik Daffa, Vano maupun Alvaro, Axel, Evan dan Raffa saling memberikan tatapan matanya, kemudian tersenyum.


Setelah itu, mereka berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ruang tamu.


Melihat keenam adik-adiknya tiba-tiba pergi meninggalkan ruang tengah dan menuju ruang tamu membuat Davian penasaran. Begitu juga dengan Nevan, Ghali, Elvan, Andre dan Arga. Kemudian mereka pun pergi menyusul keenam adik-adiknya itu.


^^^


"Kamu dimana sekarang? Jawab kakak, Darel Wilson!"


"Aku ada di hatimu, Davian Wilson!"


Mendengar jawaban dari Darel membuat semua kakak-kakaknya tertawa pelan sembariĀ  geleng-geleng kepala.


Sementara Davian menatap kesal kearah adiknya yang saat ini berdiri bersandar di dekat jendela dengan sesekali tatapan matanya mengintip kearah jendela. Nggak terlalu sering. Kini tatapan matanya Darel fokus melihat ke depan.


Yah! Davian, Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa sudah berada di luar rumah.


Mereka tersenyum sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik bungsunya yang masih berbicara dengan kakak tertuanya. Sedangkan kakak tertuanya ada di belakangnya.

__ADS_1


"Ini sudah jam berapa? Mau pulang jam berapa kamu, hah? Dikasih kebebasan malah kebablasan. Di kasih hati minta jantung. Dikasih..."


"Nggak usah marah-marah. Ntar cepat tua loh. Ingat, kak! Kakak belum nikah dan kakak belum punya istri dan anak. Apa kakak mau mati sebelum merasakan menjadi suami dan ayah? Bagaimana pun aku ingin punya kakak ipar yang cantik dan baik hati. Jadi nanti aku bisa minta disayang-sayang dan dimanja sama kakak ipar aku itu. Sedangkan kakak, jika udah nggak sayang lagi sama aku. Aku nya nggak apa-apa. Kan udah ada penggantinya!"


"Hahahahaha!"


Seketika Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tertawa keras ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darel.


Sementara Davian seketika mendengus ketika mendengar ucapan demi ucapan dari adiknya yang menyebalkan menurutnya.


Davian kemudian melangkahkan kakinya menghampiri adiknya yang saat ini masih belum sadar akan keberadaan dirinya dan adik-adiknya yang lain.


Kini Davian sudah berdiri di belakang adiknya itu dengan menatap super kesalnya.


Dan detik kemudian...


"Aakkhhh!"


Seketika Darel berteriak karena merasakan sakit di bagian telinganya.


Davian menarik di telinga Darel sedikit kuat, tapi tidak terlalu kuat karena Davian tidak ingin menyakiti adik kesayangannya itu.


"Udah berani ya sekarang," ucap Davian dengan tangannya yang masih di telinga adiknya.


Sementara Darel terkejut ketika mendengar suara kakak tertuanya itu. Dan mengetahui tersangka yang menarik telinganya.


Kini posisi Darel sudah berdiri dan menatap wajah kakaknya dengan wajah merengutnya.


"Ih, kakak! Sakit tahu. Lepasin kenapa!"


Davian berusaha mati-matian untuk tidak tersenyum ketika mendengar ucapan dari adik bungsunya. Apalagi ketika melihat wajah memelas adiknya itu.


"Kenapa? Oh, kakak tahu! Kamu mau kakak menarik telinga kamu makin kuat ya? Baiklah!"


Ketika Davian hendak menarik telinga Darel. Sang empunya sudah terlebih dulu berteriak.


"Kakak, jangan!" Darel merengut kesal.


Nevan, Ghali, Elvan, Andre, Arga, Daffa, Vano, Alvaro, Axel, Evan dan Raffa tersenyum gemas ketika melihat wajah merengut adik bungsunya ketika telinganya di tarik oleh kakak tertuanya.


Davian menarik telinga Darel sembari membawa masuk adiknya ke dalam rumah. Dan diikuti oleh yang lainnya di belakang sambil tersenyum.


"Kakak, lepasin! Masa aku ditarik seperti ini masuk ke dalam rumah?"


"Diam! Jangan protes!"


Seketika Darel mengatub bibirnya rapat-rapat ketika mendengar ucapan serta tatapan mata kakak tertuanya itu.


Sementara Davian seketika tersenyum gemas ketika melihat wajah pasrah adiknya yang menurut begitu saja. Begitu juga dengan yang lainnya.


Sesampainya di dalam rumah, semua anggota keluarganya tersenyum ketika melihat Davian yang menarik telinga adiknya dan melihat Darel yang pasrah begitu saja.


"Kakak lepasin ah. Mau sampai kapan telingaku ditarik-tarik seperti ini. Kalau telingaku sampai panjang bagaimana?"


"Ya, bagus dong kalau panjang. Berarti wujud asli kamu terbongkar," jawab Davian.


"Maksud kakak apa?" tanya Darel bingung.


"Sifat asli kamu itu kan seekor kelinci. Jadi jika nanti telinga kamu panjang karena kakak menariknya terus. Kamu akan berubah wujud menjadi seekor kelinci yang manis."


Mendengar jawaban seenaknya dari kakak tertuanya itu membuat Darel membelalakkan matanya.

__ADS_1


Sementara Davian dan anggota keluarganya tersenyum kemenangan ketika melihat wajah kesal Darel yang menurut mereka terlihat lucu seperti anak kecil.


__ADS_2