Permata Keluarga Wilson

Permata Keluarga Wilson
Darel Yang Bermulut Pedas


__ADS_3

Di lokasi yang berbeda namun di waktu yang sama dimana ketiga gadis cantik sedang menikmati kesehariannya dengan jalan-jalan. Ketiga gadis itu adalah Mika Bailey, Richard Dawson dan Laudya Martin. Mereka begitu tampak bahagia.


Setelah dua jam ketiga gadis itu mengelilingi kota Hamburg dan setelah puas mengunjungi beberapa mall sehingga memborong beberapa barang-barang mahal. Ketiga gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumah.


Dan saat ini mereka berada di dalam perjalanan menuju pulang ke rumah masing-masing menggunakan mobil tanpa menggunakan sopir pribadi yang biasa.


Baik Mika, Marnella maupun Laudya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan tatapan matanya fokus menatap ke depan.


Ketika ketiganya fokus mengendarai mobilnya masing-masing, tiba-tiba dari arah depan dan juga arah belakang. Kedua mobil itu menabrak mobil yang dikendarai oleh Mika, Marnella dan Laudya sehingga membuat ketiga gadis itu tidak bisa melakukan apapun di dalam mobil.


Mobil depan dan mobil belakang saling menabrakkan mobilnya pada mobil milik Mika, Marnella dan Laudya sehingga membuat ketiga gadis yang berbeda lokasi itu berteriak ketakutan.


"Aakkhhh!"


Kedua mobil tersebut masih terus menabrakkan mobilnya ke mobil targetnya. Mobil yang di belakang menabrak kuat mobil targetnya sehingga membuat mobil targetnya itu, sedangkan mobil di depan sudah mundur beberapa meter.


Mobil di belakang mendorong kuat mobil sang target menuju arah tiang listrik yang ada di seberang jalan sehingga membuat mobil tersebut menghantam tiang listrik dengan keras.


(Anggap saja Mika, Marnella dan Laudya yang berada di lokasi yang berbeda yang dijegat dua mobil ditengah jalan sama-sama endingnya di tiang listrik ya)


Braakk..


Braakk..


Braakk..


Mobil yang dikendarai Mika, Marnella dan Laudya hancur bagian depannya sementara ketiganya tak sadarkan diri.


Selesai melakukan tugasnya di lokasi yang berbeda, keenam mobil yang mencegat mobil Mika, Marnella dan Laudya pergi meninggalkan lokasi.


***


Di kediaman utama keluarga Wilson tampak ramai dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah. Hanya Darel saja yang belum pulang dari kegiatannya diluar.


"Bagaimana perjalanan bisnis yang kakak Arvind dan kakak Adelina lakukan beberapa hari kemarin?" tanya Evita.


"Sangat menyenangkan. Kakak mendapatkan banyak kenalan-kenalan yang bidang pekerjaannya sama seperti kakak," jawab Arvind.


Mendengar jawaban dari Arvind membuat Evita tersenyum. Dirinya benar-benar bangga akan kakak laki-laki tertuanya itu. Begitu juga dengan Sandy, William dan anggota keluarga lainnya.


"Oh, iya! Bagaimana rencana kalian untuk ketiga gadis itu?" tanya Arvind kepada Nevan, Steven dan Marcel.


"Sudah berjalan tiga hari Paman," jawab Marcel.


"Benarkah?" tanya Arvind tak percaya.

__ADS_1


"Iya, Paman!" jawab Marcel lagi.


"Apa yang telah dilakukan oleh ketiga gadis itu?" tanya Adelina.


"Seperti orang pacaran pada umumnya, Ma! Mereka nempel seperti lem."


"Udah seperti wanita murahan saja," ucap Steven.


"Paman mau tahu tidak ketika ketiga gadis menjijikan itu dekat-dekatan dengan kak Nevan, kak Steven dan kak Marcel Darel selalu berhasil membuat ketiganya kesal!" seru Deon.


"Jangan bilang kalau ketiga gadis itu datang ke rumah ini?" tanya Arvind.


"Memang mereka datang kesini. Kak Nevan, kak Steven dan kak Marcel mengajak mereka ke ruang tengah dimana para orang tua sering berkumpul," sahut Melvin.


"Apa yang dilakukan Darel, adik kalian itu?" tanya Adelina.


"Parah bi! Ketiga gadis itu tak berkutik ketika mendengar setiap ucapan kejam dari Darel. Apa Bibi mau denger apa kata-kata Darel untuk ketiga gadis menjijikan itu?" ucap dan tanya Rendra.


"Apa? Katakan! Bibi jadi kepo," ucap Adelina.


"Paman juga," sela Arvind.


"Kami juga ingin tahu karena kami tidak ada di rumah saat itu!" seru William.


"Ayo buruan! Cerita!" seru Daksa.


"Darel ngomong begitu?" tanya Arvind tak menyangka.


"Iya," jawab Dhafin.


"Bahkan ketiga gadis itu marah akan perkataan Darel. Ketiganya langsung memberikan tatapan tajam kearah Darel. Mendalam tatapan tajam dari ketiga gadis itu, Darel langsung membalas dengan mengatakan 'Jangan tatap aku seperti itu. Aku tidak takut sama sekali dengan tatapan kalian itu."


Mendengar cerita dari keponakan dan putranya tentang perkataan kejam putra bungsunya untuk ketiga gadis yang mendekati putra keduanya dan kedua keponakannya membuat Arvind dan Adelina tersenyum dan geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan Sandy, Salma, William, Evita, Daksa.


Arvind dan Adelina sangat tahu sifat dan karakter putra bungsunya itu. Apalagi kalau berbicara. Putra bungsunya itu kalau berbicara tidak pernah disaring. Asal keluar dan nyelekit.


"Bahkan Darel terang-terangan menyuruh ketiga gadis itu pulang," sahut Dylan.


"Darel mengatakan apa untuk ketiga gadis itu?" tanya William penasaran.


"Begini, sudahlah. Lebih baik kalian pulang. Kalian sudah cukup lama disini. Jika tidak salah , kalian disini sudah dua jam. Itu adalah waktu terlama kalian bertamu. Kalian masih ingatkan pintu keluarnya dimana? Jika kalian ingin berkunjung lagi, kalian boleh datang lagi. Tapi ingat! Waktu kunjungannya hanya satu jam. Lewat dari itu, kalian akan diusir secara paksa." Dylan berucap sembari menceritakan ketika Darel menyuruh Mika, Marnella dan Laudya untuk pulang.


"Darel berbicara seperti itu?" tanya William.


"Iya!" jawab Dylan dan diangguki oleh yang lainnya.

__ADS_1


Mendengar cerita dari anak-anaknya dan Keponakan-keponakannya membuat para orang tua tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Ngomong-ngomong soal Darel. Ini sudah pukul 4 sore. Kenapa Darel belum pulang juga?" tanya Salma yang menyadari bahwa keponakan manisnya tidak terlihat.


Mendengar perkataan dari Salma seketika membuat semua anggota keluarga terkejut dan menyadari bahwa Darel belum kembali.


"Iya, ya! Ini sudah pukul 4 sore. Tapi kenapa Darel belum pulang?" tanya Arvind yang mulai khawatir akan putra bungsunya.


"Aku akan menghubungi Darel, sekarang!" seru Elvan.


Elvan langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Kemudian Elvan mencari nama adik bungsunya. Setelah itu, Elvan pun meredial nomor kontak adiknya.


Beberapa detik kemudian...


[Nomor yang anda hubungi sedang berada diluar service area. Cobalah beberapa saat lagi]


"Aish! Ponselnya Darel tidak aktif," ucap Elvan.


"Semoga kamu baik-baik saja sayang," batin Arvind dan Adelina.


"Rel," batin para kakak-kakaknya termasuk kakak-kakak sepupunya.


"Darel sayang!" ucap para Paman dan Bibinya.


Ketika mereka semua sedang memikirkan dan mengkhawatirkan Darel, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan bunyi bantingan pintu yang cukup keras.


Blaamm..


"Eh, itu siapa?" tanya Evita.


Terlihat seorang pelayan wanita berlari menuju ruang tamu.


Beberapa detik kemudian...


"Siapa, Bi?" tanya Adelina.


"Tuan muda Darel, nyonya!"


"Terus dimana Darel nya?" tanya Daffa.


"Di ruang tamu, tuan muda Daffa. Sepertinya tuan muda Darel kelelahan."


"Baiklah, Bi! Tolong buatkan susu hangat untuk Darel ya, Bi!"


"Baik, nyonya!"

__ADS_1


Setelah itu, pelayan tersebut langsung pergi ke dapur. Sementara anggota keluarga semuanya pergi menuju ruang tamu untuk menemui kesayangannya.


__ADS_2